Kamis, 02 September 2010

Jejoongwon (Episode 17)

Do Yang membantu Dr. Heron melakukan operasi. Setelah memotong usus buntu Mong Chong, Do Yang menjahit bekas operasi.

Dr Allen keluar dari ruang operasi itu. Hwang Jung mengikuti.

"Aku butuh istirahat." kata Allen.

Hwang Jung berbalik dan melihat Seok Ran menunggunya di sana.

Seok Ran dan Hwang Jung berbincang di luar.

"Ambillah ini." kata Seok Ran, menyerahkan bungkusan yang dibawanya. "Ayah memesan supply medis dan datang dengan membawa ini." Seok Ran berbohong.

"Karena itu kau datang pada larut malam?" tanya Hwang Jung.

"Itu bukan satu-satunya alasan. Aku punya urusan lain disini."

Hwang Jung membuka bungkusan dan kotak pemberian Seok Ran. Isinya stetoskop.

"Kau akan segera lulus dan menjadi Dokter. Kupikir kau pasti membutuhkan ini. Ambillah."

"Aku tidak pantas menerimanya." kata Hwang Jung menolak.

"Tidak, ambillah." Seok Ran besikeras. "Kau sungguh pantas mendapatkannya." Seok Ran memasang stetoskop di telinga Hwang Jung kemudian bicara, "Ketika kau sudah menjadi dokter, gunakan ini."

"Terima kasih."

Seok Ran hendak pulang, dan Hwang Jung mengantarnnya.

"Apa kau ingat saat kau mengantarku pulang?" tanya Seok Ran.

"Maksudmu saat kudeta? Ketika Tuan Min terluka?" tanya Hwang Jung. "Apa kau ingat apa yang kaukatakan padaku saat itu?"

Seok Ran berpikir dan mengingat-ingat. Saat itu, Seok Ran berkata pada Hwang Jung bahwa seorang tukang jagal bisa menjadi dokter.

Mereka sudah sampai di depan rumah keluarga Yoo.

"Cerita saat itu... mengubah hidupku." kata Hwang Jung.

"Benarkah?"

Hwang Jung diam sesaat, kemudian tersenyum. "Ini sudah malam. Masuklah."

Seok Ran mengulurkan tangannya pada Hwang Jung untuk berjabat tangan. Hwang Jung membalasnya.

"Sekarang tanganku hangat, bukan?" tanya Seok Ran, mengangkat tangan yang satunya lagi untuk menggenggam tangan Hwang Jung. "Karena kau... tanganku hangat lagi."

Seok Ran melepaskan tangan Hwang Jung dan berjalan menuju gerbang rumahnya.

Hwang Jung terpukul. Ia teringat ketika Seok Ran sedang tidak sadarkan diri, Hwang Jung berkata, "Tanganmu dingin." Ia curiga bahwa saat ia berkata waktu itu, Seok Ran sebenarnya sudah sadar.

Hwang Jung kembali ke Jejoongwon. Ia menuju ke ruang operasi dan menemukan Nang Rang sedang membersihkan peralatan operasi yang baru saja dipakai.

"Sepertinya tadi Nona Seok Ran kemari." kata Nang Rang. "Apa itu hadiah darinya? Biar aku lihat."

Nang Rang membuka kotak tersebut dan sangat antusias melihat stetoskop itu.

Dengan diam-diam, Do Yang melihat mereka dari luar.

Ia kembali ke kamarnya dan membanting stetoskop pemberian Seok Ran.

Keesokkan harinya, kabar mengenai Dr. Allen salah mendiagnosis tersebar si antara para murid. Para murid sarapan bersama.

"Kau harus mencoba untuk mewarisi otak si Heron itu." kata salah seorang murid yang bernama Ui Saeng pada Hwang Jung. "Jadi, jika kau menjadi Direktur suatu saat nanti, kau akan mengajarkan semuanya pada kami."

"Jangan berkata seperti itu." kata Hwang Jung.

"Semua orang berpikir kau kau pantas menjadi calon Dikrektur." kata murid yang lain. "Jangan menyangkalnya."

"Tidak, jangan berkata hal seperti itu." kata Hwang Jung lagi.

"Jangan terlalu rendah hati. Saat ini Jejoongwon berhasil semua berkat kau." kata Ui Saeng.

Do Yang mendengar pembicaraan mereka dari seberang meja.

"Ngomong-ngomong, aku ingin minta maaf karena bersikap kasar padamu." kata Ui Saeng.

"Aku minta maaf telah meremehkanmu karena kau adalah murid pengganti." kata murid kedua.

Mendadak Je Wook masuk. "Teman-teman dengar!" serunya. "Apa kalian sudah dengar? Mulai saat ini, Dr. Allen akan dipecat dan Heron menjadi Direktur!"

Di istana, Allen dan Heron menemui Raja. Raja mengatakan bahwa ia akan membuat kedutaan Amerika di Korea dan akan mengirimkan seorang Duta ke Amerika.

"Karena kau sudah sangat mengerti tentang budaya dan kebijakan kami, aku sangat berharap kau mau menemani Duta Korea yang baru sebagai penasehatnya." kata Raja pada Allen. "Kuharap kau tidak menolak permintaanku."

Allen terihat sangat terkejut. "Ya, Yang Mulia." jawab Allen. "Aku akan melaksanakan perintahmu."

"Dan kau adalah Heron?" tanya Raja pada Heron.

"Benar, Yang Mulia." jawab Heron.

"Aku berharap kau akan mengambil alih posisi Allen sebagai Direktur di Jejoongwon." kata Raja. "

"Baik, Yang Mulia."

Di Jejoongwon, Do Yang, Kyu Hyun, dan Chung Hwang berbincang.

Chung Hwan berkata bahwa ia telah memberitahu pada Heron mengenai perbuatan Hwang Jung pada ayah Do Yang.

"Benar!" seru Kyu Hyun. "Allen melindunginya, tapi Heron tidak akan membiarkan kejadian semacam itu!"

"Kelihatannya hari-hari baik Hwang akan berakhir." Chung Hwan berkata penuh kemenangan.

Allen merasa sangat bersalah pada Mong Chong dan datang menjenguknya.

"Maafkan aku, Mong Chong." kata Allen. "Aku salah mendiagnosis dan membuatmu menderita."

"Tolong jangan berkata bergitu." kata Mong Chong.

"Akulah yang bersalah." kata Allen. "Aku mungkin mendiagnolis radang usus besar karena aku tidak tahu bagaimana cara melakukan pembedahan usus buntu. Seorang dokter seharusnya tidak boleh berpikiran sempit, namun aku melakukannya. Kuharap kau lekas sembuh."

"Direktur, terima kasih banyak karena sudah menjaga aku dan anak-anak." kata Mong Chong. "

Allen tersenyum dan mengangguk.

Di luar Jejoongwon, ada perayaan musik untuk membawa keberuntungan setiap tahun baru. Seok Ran, Dr. Horton dan murid-murid yang lain menonton.

"Kuharap mereka membawa keberuntungan untukku juga." kata Allen. "Kuharap semua staf dan pasien Jejoongwon akan diberi keberuntungan."

Dr. Horton menarik Seok Ran untuk menari bersama.

Allen tersenyum. "Seok Ran adalah gadis yang baik." katanya pada Hwang Jung. "Tuan Hwang, kau harus terus membantunya."

"Ya, Dokter."

Hwang Jung menemani Allen melihat-lihat Jejoongwon (seperti ia tidak akan kembali ke Jejoongwon lagi untuk selamanya). Mata Allen berkaca-kaca.

Para murid dan perawat mengajak Allen dan Hwang Jung menari. Allen meneteskan air mata.

Dr. Heron memeriksa laporan keuangan Jejoongwon, yang menurutnya kacau balau. "Katakan pada pemusik itu agar mereka jangan datang lagi." kata Heron.

"Mereka tidak akan datang lagi tahun ini." kata Kyu Hyun.

"Kelihatannya murid-murid akan segera menyelesaikan pendidikan." kata Heron. "Kita harus menilai murid-murid berdasarkan ranking. Tapi sebelum itu, aku akan memilih seorang asisten medis."

Do Yang tersenyum, sangat percaya diri kalau Heron akan memilihnya.

"Kau harus memilik murid yang pintar dan berdedikasi." kata Chung Hwan.

"Ya, ya, benar." kata Kyu Hyun menyetujui. "Jejoongwon sekarat karena asisten saat ini. Kau harus memilih asisten yang cocok dan pantas."

Heron mengangguk.

Hwang Jung datang ke ruangan Allen untuk membantu membereskan barang-barang. Allen menyerahkan sebuah buku padanya.

"Ini adalah jurnal medisku saat aku di Jejoongwon." kata Allen. "Aku menuliskan semua pengalamanku bersama rumah sakit ini. Aku menulisnya agar bisa membantu dalam mengobati pasien. Aku ingin memberinya padamu."

"Direktur..." Hwang Jung menerima buku tersebut.

Allen kemudian memberikan sebuah foto pada Hwang Jung. "Tolong berikan ini pada Seok Ran. Aku memotretnya beberapa waktu yang lalu, tapi aku lupa memberikan ini padanya.

Hwang Jung melihat foto Seok Ran.

Keesokkan harinya, Allen bersiap berangkat.

"Nona Yoo, aku akan merindukanmu." kata Allen menggunakan Bahasa Inggris.

Seok Ran tersenyum, meneteskan air mata. "Aku juga akan merindukanmu." balasnya dalam Bahasa Inggris.

Hwang Jung, Seok Ran Chil Bok, dan Gwak mengantar kepergian Allen.

Hwang Jung diam, tidak mengatakan apapun. Bayangan kenangan bersama Allen terlintas dipikirannya.

"Selamat tinggal!" teriak Seok Ran.

Allen berbalik, tersenyum, dan melambaikan tangannya. Matanya berkaca-kaca.

"Hati-hati di perjalanan." kata Gwak dan Chil Bok.

Hwang Jung hanya diam dan bersedih, memandang kepergian Allen.

Dalam perjalanan kembali ke Jejoongwon.

"Nona, aku seharusnya sudah memberitahumu sejak awal." kata Hwang Jung tiba-tiba. "Aku..."

"Kau..." Seok Ran memotong perkataannya. "Kau tidak perlu mengatakan apa-apa." Seok Ran tersenyum kemudian melanjutkan. "Apakah kau senggang setelah bekerja?"

Chung Hwan, Kyu Hyun dan dua orang perawat sakit setelah minum-minum tadi malam.

Dr. Heron, Do Yang dan murid-murid masuk.

"Ada apa?" tanya Do Yang.

Dr. Heron memeriksa mereka.

"Kami mencampur teh ginseng dengan etanol." kata seorang perawat.

Dr. Heron melihat botol yang dimaksud. "Ini bukan etanol, tapi metanol." katanya. "Jika kau meminum ini, bahan akan berubah menjadi formaldehid dan bisa membuat seluruh badan menjadi kaku. Akibat yang lebih parah adalah bisa menyebabkan kebutaan dan kematian."

"Formaldehid?" tanya Do Yang. "Bukankah bahan itu digunakan untuk mengawetkan organ?"

"Benar." jawab Heron.

"Kita harus menghilangkan kekakuan mereka." kata Do Yang. "Nang Rang, pergi dan ambilkan basin!"

"Jangan!" larang Heron. "Bawakan aku etanol."

Miryung memberikan etanol.

"Minumkan ini pada mereka." kata Heron.

"Kenapa kau memberikan alkohol lagi?" tanya Do Yang.

"Ini bisa menetralkan formaldehid." jawab Heron seraya meminumkan etanol pada Chung Hwan.

"Kita harus mengguncang-guncangkan tubuh mereka agar etanol cepat tercampur!" kata Park So Sa (wanita (tercampakkan) yang dulu dibawa Kyu Hyun dan Chung Hwang).

Miryung dan Nang Rang ikut menggoncang-goncangkan tubuh kedua pasien.

Heron melihat mereka dengan bingung.

Heron mengajak Miryung, Park So Sa dan Nang Rang untuk membawa kedua perawat, Kyu Hyun dan Chung Hwan ke kamar pasien. Beberapa saat kemudian, ia bangkit. "Aku kita ke lapangan." katanya pada Do Yang dan Je Wook. "Biarkan perawat yang menyelesaikan tugas disini."

"Aku bukan perawat." kata Park So Sa.

"Aku juga bukan." kata Nang Rang.

"Mulai saat ini, kalian bertiga akan menjadi perawat." ujar Heron memerintahkan.

"Lalu bagaimana dengan Shil Hwa dan Chun Shim?" tanya Miryung.

"Mereka menggunakan bahan medis tanpa persetujuan." kata Heron. "Mereka harus pergi dari sini setelah sembuh."

Heron mengumpulkan para murid di lapangan.

"Kalian harus mengabdikan diri pada pasien. Jika kalian tidak bisa melakukannya, kalian harus pergi saat ini juga atau aku yang akan menyuruh kalian pergi." Heron memperingatkan.

Saat itu, Seok Ran dan Hwang Jung baru datang setelah mengantarkan kepergian Allen.

"Ini adalah pertemuan pertama denganku sebagai Direktur baru." kata Heron pada mereka berdua. "Dari mana kalian?"

"Maafkan kami." kata Hwang Jung. "Kami mengantarkan Dr. Allen.

"Apakah itu penting?" tanya Heron. "Cukup penting untuk melewati pertemuan pertama?"

"Maafkan aku." kata Hwang Jung lagi.

"Semua murid akan melakukan tugas perputaran malam." kata Heron. "Pasien bisa jatuh sakit kapanpun. Jadi, pasien akan datang kemari untuk mendapatkan pengobatan. Kalian harus selalu siap."

Para murid mengeluh dalam hati.

Duta Jepang datang ke desa untuk memotret rakyat-rakyat miskin, termasuk anak-anak jalanan, Ma Dang Gae, dan tetua desa tukang jagal. Hal ini bisa memperlihatkan bahwa Raja Chosun adalah seorang Raja yang tidak kompeten.

Malam itu, Hwang Jung berjaga malam. Sudah waktunya untuk bertukar jaga, namun Jang Geun tidak juga datang. Hwang Jung kesal karena ia sudah ada janji dengan Seok Ran.

"Maaf aku terlambat!" seru Jang Geun, masuk ke dalam ruangan. "Kembalilah dan beristirahat."

"Tuan Go... aku harus pergi ke suatu tempat." kata Hwang Jung.

"Kemana?" tanya Jang Geum. "Dr. Allen menyuruh kita melaporkan kemana saja kita pergi."

Hwang Jung ragu. "Itu..."

"Kau sangat naif!" seru Jang Geun. "Katakan saja kau akan ke rumah seorang teman." Jang Geun duduk. "Bagaimana kau bisa mendapatkan Seok Ran?"

"Aku tidak..." Hwang Jung hampir berteriak. "Bukan seperti itu!"

"Sudahlah. Cepat pergi saja." kata Jang Geun perngertian.

"Terima kasih.. Maksudku, aku pergi dulu." ujar Hwang Jung.

"Tidak perlu berterima kasih padaku. Undang saja aku ke pernikahanmu." Jang Geun meledek Hwang Jung.

"Kubilang bukan seperti itu!" seru Hwang Jung.

"Cinta, cinta... Oh cintaku.." Jang Geun tidak mau mendengar Hwang Jung memberi alasan dan menyuruhnya cepat pergi.

Seok Ran dan Hwang Jung pergi ke tepi sungai. Seok Ran membawa kembang api pemberian Allen yang masih tersisa.

"Ketika Dr. Allen pertama kali tiba, ia memberiku kembang api ini sebagai hadiah." kata Seok Ran.

"Kembang api?" tanya Hwang jung.

"Jika kau membakar sumbunya dengan api, maka langit akan diterangi bintang-bintang." Seok Ran menjelaskan. "Mungkin kau tidak akan percaya, tapi karena kembang api inilah, aku bisa menemukanmu di tepi sungai."

Hwang Jung mengangguk. "Itu berarti kembang api ini telah menyelamatkan aku." kata Hwang Jung.

Seok Ran tertawa. "Benar."

"Tapi kenapa kita..."

"Tiba-tiba aku teringat kembang api ini saat mengantar kepergian Dr. Allen. Jadi aku ingin kita menyalakannya bersama. Mungkin saat itu kembang api ini tidak mau menyala agar kita bisa menyalakannya bersama malam ini."

"Buat perrmintaan." kata Seok Ran.

Tapi kembang api tidak mau menyala. Seok Ran menyentuh kembang api itu dan mendadak kembang api melejit ke atas dan meledak di langit.

"Cantik sekali." ujar Seok Ran.

Hwang Jung menoleh ke arah Seok Ran, kemudian melihat tangannya. Secara tidak sadar, Seok Ran menggenggam tangan Hwang Jung.

"Maafkan aku." kata Seok Ran, buru-buru melepaskan tangan Hwang Jung, tapi Hwang Jung menangkap tangannya, dan menggenggamnya erat.

Ia mendekatkan kepalanya ke arah Seok Ran, seperti hendak menciumnya. Seok Ran diam.

Hwang Jung memejamkan matanya dan berbisik di telinga Seok Ran. "Di sini dingin."

"Benar." kata Seok Ran.

Hwang Jung bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangan ke arah Seok Ran. "Kau mau berjabat tangan?" tanya Hwang Jung.

Seok Ran menerima uluran tangannya dan tersenyum.

Mereka berdua berjalan pulang.

"Kau membuat permohonan?" tanya Seok Ran.

"Aku tidak memohon saat kembang api pertama karena kembang api itu mengejutkan aku." kata Hwang Jung. "Tapi saat kembang api kedua, aku membuat permohonan."

"Apa permohonanmu?" tanya Seok Ran, tersenyum. "Beritahu aku. Aku juga akan memberitahukan permohonanku padamu."

"Apa kau tahu, saat aku ingin mengatakan suatu hal padamu?" tanya Hwang Jung.

"Ya."

"Aku memohon agar hal itu menjadi rahasia untuk selamanya." kata Hwang Jung. "Mungkin aku terlalu tamak dan tidak pantas mendapatkannya."

'Tidak." kata Seok Ran. "Permohonanku sama denganmu."

Jejoongwon kedatangan pasien baru. Mereka adalah dua kelompok orang asing yang bertengkar, yakni kelompok orang dari Cing (China) dan kelompok orang dari Jepang.

Do Yang memerintahkan agar pasien yang sedang berada di kamar pasien dipindahkan agar ruangan tersebut ditempati oleh pasien yang baru.

"Perintahkan semua murid yang mengerti cara menjahit untuk pergi ke ruang operasi." kata Heron pada Do Yang.

Di ruang operasi, lagi-lagi para orang asing itu mau bertengkar

"Jika kalian menyebabkan masalah lagi, maka kalian akan kami usir." kata Do Yang mengancam.

Heron menatap Do Yang.

Watanabe datang ke Jejoongwon bersama Suzuki, perawatnya, untuk merawat pasien Jepang.

Ia menatap Gwak, yang menjaga pintu gerbang, dengan pandangan aneh. Di ruang operasi, ia menatap Hwang Jung dan teringat So Geun Gae. Suzuki curiga.

Jejoongwon kehabisan supply obat-obatan. Watanabe memerintahkan orang untuk membawa pasien Jepang ke RS Jepang.

Setelah selesai, Watanabe pulang.

"Dokter, sepertinya aku mengenal seseorang disini." kata Suzuki pada Watanabe.

Watanabe menyuruhnya diam.

Gwak mendengar perkataannya dan menjadi cemas.

Jejoongwon kehabisan supply obat-obatan. Heron mengadakan rapat dengan Dr. Horton, Seok Ran, Kyu Hyun, Chung Hwan, Hwang Jung dan Do Yang.

"Ayah mengatakan butuh waktu 2 minggu sebelum supply medis datang." kata Seok Ran.

"Bukankah seharusnya ada orang yang memesan obat-obatan sebelum habis?" tanya Heron. "Bukankah itu pekerjaan kalian, Pengelola?" Heron menoleh ke arah Chung Hwan dan Kyu Hyun.

"Ini bukan saatnya menuduh orang, Dokter." kata Chung Hwan. "Cing membina hubungan yang sangat dekat dengan keponakan Ratu, Tuan Min. Jika kita memulangkan mereka tanpa perawatan, itu tidak akan baik."

"Aku... kurasa aku punya ide." kata Hwang Jung. "Dr. Allen... Dia menulis di jurnalnya tentang cara mengatasi masalah seperti ini. Seorang Dokter Inggris pernah melihat orang Afrika meletakkan tanah pada luka, dan ia mencoba melakukan hal yang sama."

"Tanah?" tanya Chung Hwan. "Kau mau meletakkan tanah di luka prajurit Cing? Apa kau ingin melihat Jejoongwon hancur?"

"Kurasa itu bukan ide yang bagus." kata Do Yang.

"Tidak, aku pernah menulis tesis tentang mencampurkan tanah dengan obat-obatan." kata Heron. "Ada pengaruh yang bagus jika kita mengobati luka dengan menggunakan tanah."

"Tapi, apakah kita bisa menggunakan sembarang tanah?" tanya Do Yang. "Kita tidak tahu apakah tanah disini bisa digunakan."

"Kita bisa menggunakan tanah kuning!" kata Hwang Jung cepat. "Aku pernah melihat seseorang memberikan tanah di tubuh binatang untuk mengobatinya. Ada banyak jenis tanah kuning, tapi kudengar tanah Donghwang sangat baik digunakan untuk menyembuhkan luka. Jadi, kenapa tidak mencari tahu dimana bisa mendapatkan tanah Donghwang?"

"Apa kau menyarankan kita menggunakan tanah yang digunakan pada binatang untuk mengobati luka orang?" tanya Chung Hwan. Sebel banget ih sama ini orang.

Hwang Jung terdiam.

"Direktur, maafkan kami karena memiliki standar yang rendah untuk murid Jejoongwon." kata Kyu Hyun, menghina Hwang Jung.

"Aku yakin rumah sakit Jepang akan memberikan aku sedikit obat-obatan." kata Do Yang.

"Watanabe sudah melihat situasi kita disini, aku yakin ia akan membantu." kata Heron. "Tuan Baek, pergi dan minta obat-obatan pada mereka."

"Baik, Direktur."

"Tuan Baek, maafkan kami karena menyusahkanmu." kata Kyu Hyun. "Tuan Hwang, lebih baik kau diam saja."

"Tidak." bantah Heron. "Kita juga harus mencoba untuk mendapatkan tanah itu."

"Baik, Direktur." kata Hwang Jung bersemangat.

Di rumah sakit Jepang, Suzuki memberitahukan Watanabe mengenai Hwang Jung dan Gwak. "Mereka adalah tukang jagal." katanya.

"Pantas saja, wajah Hwang jung itu sepertinya tidak asing lagi." kata Watanabe.

Hwang Jung, Seok Ran dan Gwak mencari tanah yang tanah Donghwang.

Mereka menggali tanah dan mendapatkan tanah kuning yang dimaksud.

Do Yang menemui Watanabe untuk meminta obat-obatan, namun Watanabe berkata bahwa ia juga kehabisan obat-obatan.

"Hwang Jung itu.. apa kau tahu tentang dia?" tanya Watanabe.

"Kenapa tiba-tiba kau bertanya mengenai dia?" tanya Do Yang.

"Tidak apa-apa. Aku hanya baru menyadari bahwa kemampuannya meningkat." kata Watanabe, tertawa.

Do Yang terlihat kesal. (mungkin dalam hatinya dia bilang, 'kenapa sih semua orang merhatiin Hwang Jung tapi aku dicuekin?')

Do Yang kembali ke Jejoongwon untuk memberitahu bahwa ia gagal mendapatkan obat-obatan. Ia menawarkan diri pergi ke Jaemulpo untuk mencari obat-obatan tersebut.

Tidak lama kemudian Hwang Jung datang sambil membawa tanah. Chung Hwan dan Kyu Hyun meragukan usaha Hwang Jung akan berhasil.

Hwang Jung mencampur tanah tersebut dengan air. Seok Ran membantunya.

"Nona, aku bisa mengerjakannya sendiri." kata Hwang Jung, melarang Seok Ran ikut mencampurkan.

"Kau ingin bersenang-senang sendirian?" tanya Seok Ran. "Jangan egois."

Hwang Jung tertawa.

Ketika sedang mencampur tanah, wajah Seok Ran terciprat. Dengan spontan, Hwang Jung ingin menghapus cipratan tanah basah dari wajah Seok Ran. Bukannya hilang, wajah Seok Ran malah lebih banyak terkena tanah.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Seok Ran kesal.

"Maafkan aku."

Seok Ran kemudian membalas mengotori wajah Hwang Jung dengan tanah basah. Mereka tertawa. Do Yang masuk dan melihat mereka, tapi tidak berkata apa-apa.

Setelah tanah tersebut selesai, mereka mengoleskannya pada luka pasien.

"Kalian yakin itu bukan tanah lumpur?" tanya seorang pejabat Cing.

'Tentu saja bukan." kata Chung Hwan. "Ini adalah obat khusus untuk para prajurit."

"Apa nama obat ini?" tanya pejabat Cing.

"Itu..." Chung Hwan menoleh pada Hwang Jung.

"Obat ini disebut Tera Firma." jawab Hwang Jung. "Dr. Allen menyebutnya seperti itu."

Do Yang menatap Hwang Jung dengan kesal (atau cemburu? atau iri?).

"Benar. Namanya Tera..." Chung Hwan sulit menyebutnya.

"Namanya Tera Firma." bantu Dr. Heron. "Obat ini bisa menyerap nanah dan membuang toksin."

Pejabat Cing berterima kasih.

"Tuan Hwang." Heron memanggil. "Kau melakukan kerja bagus telah mendapatkan Tera Firma."

Hwang Jung tersenyum. Seok Ran memuji Hwang Jung. Do Yang bertambah kesal.

Seminggu kemudian, Dr. Heron ingin memilih seorang murid sebagai asistennya.

Do Yang tersenyum percaya diri.

"Ini adalah penilaian Dr. Allen mengenai murid-murid." kata Dr. Heron. "Disini dituliskan mengenai alasan kenapa kalian masuk ke Jejoongwon, juga tentang penilaiannya pada kemampuan kalian. Aku sudah memutuskan untuk memilih asisten berdasarkan penilaian ini, serta penilaianku sendiri selama beberapa hari ini."

"Tidak diragukan lagi, pasti Tuan Hwang." kata Ui Saeng.

"Sudah pasti." kata murid yang lain menanggapi.

"Kau sangat beruntung." kata Jang Geun berbisik. "Penilaian terhadapmu pasti yang terbaik."

"Tidak." balas Hwang Jung.

Do Yang mulai kesal lagi.

Saat kelas dibubarkan, Do Yang mengejar Dr. Horton. "Direkur Horton!" panggilnya. "Aku ingin menjadi asistenmu."

"Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku akan memilih kandidat yang paling baik." kata Dr. Heron.

"Dan aku mengatakan bahwa aku bisa melakukannya. Aku bisa melakukan pekerjaan dengan baik." ujar Do Yang memaksa.

"Aku sama sekali tidak punya keinginan untuk menjadikanmu asistenku." kata Dr. Heron, menolak mentah-mentah. Ia beranjak pergi.

"Tunggu!" panggil Do Yang lagi. "Aku tahu penilaian Dr. Allen padaku tidak terlalu bagus. Itu akan membuatmu..."

"Tidak!" seru Dr. Heron cepat. "Penilaian Dr. Allen padamu sangat baik. Tapi, aku merasa berbeda."

"Apa maksudmu?"

"Tuan Baek, kau adalah seorang bangsawan. Itu ada di dalam darahmu." Dr. Heron berkata menjelaskan. "Seseorang sepertimu tidak akan bisa mendedikasikan diri untuk rumah sakit ini dan untuk para pasien. Aku sudah melakukan penilaian padamu satu minggu terakhir ini. Kau sangat luar biasa dalam banyak hal. Tapi, kau selalu menempatkan dirimu di atas rumah sakit dan pasienmu. Jika orang seperti itu menjadi asisten, akan ada banyak orang yang menderita."

"Aku akan berubah."

"Kau lahir dalam keluarga bangsawan. Kau tidak akan bisa berubah dengan mudah." Dr. Heron tetap menolak Do Yang.

"Aku akan berubah." janji Do Yang. "Tolong beri aku waktu. Aku akan berubah sedikit demi sedikit."

"Kenapa aku harus menunggumu sampai kau berubah?" tanya Dr. Heron. "Aku akan mulai mengobati pasien mulai besok dan aku butuh seorang asisten yang membantuku." Dr. Heron berjalan pergi, meninggalkan Do Yang.

Malamnya, setelah berdoa di depan papan orang tuanya, Do Yang membawa sebuah pisau menuju depan kamar Dr. Heron.

"Dr. Heron!" panggil Do Yang. "Aku Baek Do Yang."

Dr. Heron keluar dari kamarnya.

Do Yang melepaskan topinya, kemudian memotong rambutnya. Ini pertanda bahwa ia melepaskan gelar bangsawannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar