Jumat, 03 September 2010

Jejoongwon (Episode 22)

Hwang Jung menarik gerobak kembali ke rumah mereka. Ma Dang Gae merasa ada sesuatu aneh.

"Jak Dae, apakah ada sesuatu yang terjadi antara So Geun Gae dan Nona Seok Ran?" tanya Ma Dang Gae.

"Aku akan menceritakannya nanti." jawab Gwak.

Mereka akhirnya tiba di desa tukang jagal. Ma Dang Gae menyuruh Hwang Jung pergi dan bersembunyi karena ia telah melakukan penjagalan ilegal.

"Aku tidak akan pergi kemana-mana." ujar Hwang Jung menolak.

"Aku sudah menyebabkan kau dikeluarkan dari Jejoongwon." kata Ma Dang Gae menyesal. "Apakah kau ingin aku membuatmu mati juga? Sudah cukup untukmu mengetahui bahwa kau masih hidup."

"Ayah, aku tidak akan pergi kemanapun." ujar Hwang Jung bersikeras. "Aku akan terus berada disisimu."

Hwang Jung menarik gerobak masuk ke desa.

"Apakah kau So Geun Gae?" tanya seorang warga desa. "Karena kau dan Enam Jari, polisi datang ke desa dan memukuli kami setiap hari!"

"Maafkan aku." ujar Hwang Jung.

"Maaf? Lebih baik kau segera pergi dari sini sebelum berakhir seperti anjing!" seru warga desa itu.

"Maafkan aku." kata Hwang Jung, dan terus melanjutkan perjalanannya ke rumah.

Gwak dan Ma Dang Gae memaksa Hwang Jung pergi, namun Hwang Jung menolak.

Hwang Jung pergi ke dapur untuk memasak sesuatu. Disana, ia menangis karena teringat Seok Ran.

Seok Ran menangis di kamarnya. Ia memakai kembali cincin pemberian Hwang Jung.

Warga desa datang ke rumah Hwang Jung, ingin menghakiminya atas penjagalan ilegal yang dilakukannya. Hwang Jung berlutut di depan warga.

"Dengarkan aku dulu!" teriak Ma Dang Gae, membela putranya.

"Akan sangat berat bagimu jika melihat." kata seorang warga. "Masuklah dan tutup pintu."

"Aku akan menerima hukumanku." kata Hwang Jung tenang. "Tapi tolong berikan aku sediki waktu. Kaki ayahku sedang terluka..."

Seorang warga menendang Hwang Jung hingga terjatuh.

"Tolong dengarkan aku!" pinta Hwang Jung.

"Tolong maafkan So Geun Gae!" teriak Ma Dang Gae panik.

'Tolong hentikan!" seru Gwak, berusaha menghentikan warga.

Warga desa membungkus Hwang Jung dengan tikar, kemudian memukulinya habis-habisan dengan tongkat kayu.

"Hentikan!" teriak Ma Dang Gae, menangis. "Tolong hentikan!"

"Ada apa ini?!" Tetua tiba-tiba datang dan menghentikan warga. "Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini tanpa izinku?!"

Gwak membuka tikar untuk menolong Hwang Jung.

"So Geun Gae?!" seru Tetua terkejut.

"Tetua Baekje." gumam Hwang Jung lemah.

"Jadi benar kau yang kulihat saat itu!" seru Tetua.

"Maafkan aku..." gumam Hwang Jung. "Aku... aku..." Mendadak Hwang Jung pingsan.

"So Geun Gae!" seru Gwak panik.

Dr. Horton berkunjung ke rumah keluarga Yoo untuk meminta Tuan Yoo mengizinkan Seok Ran bekerja di Jejoongwon lagi.

"Semua orang sudah tahu hubungan Seok Ran dengan orang rendah itu!" seru Nyonya Yoo. "Bagaimana mungkin bisa menunjukkan wajahnya?"

"Keadaan sudah cukup tenang di Jejoongwon." bujuk Dr. Horton.

"Seok Ran, aku tidak setuju kau kembali lagi ke Jejoongwon." kata Tuan Yoo. "Jika kau ingin bekerja, bagaimana jika kau mengajar Bahasa Inggris bersama Seung Yeon?"

"Ayah, aku ingin menjadi seorang ginekologis." ujar Seok Ran.

"Kubilang tidak!" seru Nyonya Yoo.

"Tuan Yoo, Tuan Hwang tidak akan datang ke Jejoongwon lagi." kata Dr. Horton berusaha membujuk.

Tuan Yoo bicara berdua dengan Seok Ran.

"Aku menganggap Hwang Jung adalah pemuda yang sangat luar biasa." kata Tuan Yoo. "Karena itulah aku menyetujui hubungan kalian. Tapi ia lahir di saat yang salah."

"Tapi waktu akan berubah." kata Seok Ran. "Ayah sendiri yang berkata begitu."

"Dunia tidak diciptakan hanya dalam waktu satu hari." ujar Tuan Yoo. "Waktu akan berlalu dengan cepat sebelum Hwang Jung bisa hidup sebagai orang normal."

"Tapi, saat itu pasti akan tiba." kata Seok Ran meyakinkan.

"Benar. Tapi hari ini bukan hari ini. Jangan bicarakan masalah ini lagi." kata Tuan Yoo. "Kau boleh kembali ke Jejoongwon. Aku memberi izin karena aku ingin kau mewujudkan cita-citamu menjadi seorang dokter."

"Ya, Ayah." ujar Seok Ran, menangis. "Terima kasih."

Hwang Jung belum juga sadar.

Gwak menceritakan segalanya mengenai Hwang Jung pada Ma Dang Gae dan Tetua Baekje. Ma Dang Gae merasa menyesal karena datang ke Jejoongwon sehingga menyebabkan putranya itu diusir. Tetua Baekje mencoba bicara dengan warga agar mereka memaafkan Hwang Jung.

Seok Ran pergi ke Jejoongwon bersama Dr. Horton. Tuan Yoo memerintahkan Chilbok untuk mengantar Seok Ran (sebagai mata-mata tepatnya). Namun Chilbok kelihatan tidak sehat dan tiba-tiba terjatuh. Mereka bergegas membawanya ke Jejoongwon.

Dr. Heron memeriksa Chilbok dan mengatakan bahwa Chilbok terkena kolera.

"Tidak! Aku akan mati!" seru Chilbok ketakutan. "Nona, aku akan mati!"

"Jangan berkata begitu." kata Seok Ran. "Kami akan mengobatimu."

"Kedua orang tuaku mati karena kolera." kata Chilbok menangis. "Penyakit itu tidak bisa disembuhkan!"

"Kolera sangat menular." kata Dr. Heron. "Tidak lama lagi kita akan memiliki banyak pasien kolera."

"Chilbok, belakangan ini kau pergi kemana?" tanya Seok Ran.

Chilbok mengingat-ingat. "Beberapa hari yang lalu, aku pergi ke Jaemulpo untuk mengambil barang-barang."

"Kau pergi dengan siapa?" tanya Dr. Heron.

"Dengan beberapa pekerja."

"Bawa Chilbok ke karantina. Kita harus memanggil para pekerja." perintah Dr. Heron.

Dr. Heron datang ke istana dan menemui Raja. Ia meminta Raja mengumumkan pada rakyat agar menjauhi makanan mentah dan memasak makanan yang mereka makan.

"Buah-buahan dan sayuran juga?" tanya Ratu.

"Ya, Yang Mulia." jawab Dr. Heron. "Begitu juga dengan air, harus direbus sebelum diminum."

"Apakah hal tersebut bisa mencegah penyebaran kolera?" tanya Raja.

"Ya, Yang Mulia. Pasien penderita kolera bisa dikurangi dan penyebaran kolera bisa dicegah. Tolong izinkan Jejoongwon untuk mengambil langkah pencegahan di Jaemulpo."

Dr. Heron mengumumkan kepada para murid Jejoongwon bahwa mereka harus segera pergi ke Jaemulpo.

Je Wook mengangkat tangan. "Apakah kolera lebih berbahaya dibandingkan cacar?" tanyanya. "7 dari 10 orang yang terkena akan mati. Aku tidak mau ikut."

"Aku anak tunggal di tiga generasi." ujar Ui Saeng cemas.

Jang Geun mengangkat tangan. "Apakah ada vaksin untuk kolera?" tanyanya. "Mungkin akan lebih baik jika kami diberi vaksin terlebih dahulu."

"Tidak ada vaksin." kata Dr. Heron. "Karena itulah kita harus lebih berhati-hati."

"Kami tidak akan pergi!" kata seorang murid. "Kenapa kita harus pergi untuk menjemput kematian?!"

"Jika kita merebus air dan memakan makanan matang, kita bisa mencegah penyebaran kolera." ujar Seok Ran menenangkan. "Kita juga menggunakan masker dan mencuci tangan kita."

"Bolehkah aku bertanya kenapa dia ada disini saat kita mengadakan pertemuan?" tanya Je Wook. "Kupikir kau akan lari bersama orang yang bernama So Geun Gae!"

"Je Wook!" Do Yang mencoba menghentikan Je Wook.

"Seok Ran memang bukan murid kelas ini." bela Dr. Horton. "Tapi ia adalah asistenku. Dia juga merupakan dokter pelatihan dan harus ikut dalam semua pertemuan."

"Aku ingin bertanya." kata seorang murid. "Nona Seok Ran menerima darah tukang jagal. Apakah itu membuatnya menjadi setengah tukang jagal?"

"Tuan Han!" panggil Dr. Heron menghentikan ucapan murid yang bernama Han itu. "Kenapa kau tidak menggunakan pikiranmu itu untuk belajar?"

Han terdiam.

Seok Ran menahan dirinya. Di dinding ada sebuah kertas yang tertulis, 'Setengah tukang jagal, Seok Ran, harus pergi.

Seok Ran hendak mencabut kertas tersebut, tapi Do Yang mendahuluinya.

"Ikut denganku." kata Do Yang.

Do Yang mengajak Seok Ran ke sebuah ruangan. "Kurasa kemunculanmu disini saat ini bukan waktu yang tepat." katanya. "Bagaimana jika kau berlibur untuk sementara?"

"Tidak." jawab Seok Ran cepat. "Kita sedang diserang kolera. Aku tidak bisa diam saja. Aku yakin mereka akan segera berhenti membicarakan masalah ini."

"Hukum dan teori mungkin akan berubah." ujar Do Yang. "Tapi pendapat orang tidak akan berubah dengan mudah."

"Tuan Hwang melakukannya." bantah Seok Ran. "Semua orang menghina dan bersikap jahat padanya, namun ia tetap sabar dan tabah."

"Ia mungkin melakukan itu agar identitasnya idak terbuka."

"Mungkin." kata Seok Ran mengangguk. "Tapi aku percaya bahwa dia melakukannya karena ingin menyelamatkan nyawa. Apa kau juga merasa bahwa Tuan Hwang tidak pantas untuk menjadi seorang dokter karena kelasnya?" Seok Ran mulai merasa marah.

"Tidak." jawab Do Yang. "Kemampuannya sangat luar biasa. Tapi kedudukan tidak bisa diubah dengan kemampuan."

"Kau melakukannya!" bantah Seok Ran dengan suara makin meninggi. "Kau memotong rambutmu dan menghapus kelasmu! Aku tidak akan pernah berhenti dari Jejoongwon!"

Hwang Jung pergi ke rumah seorang warga terkena kolera untuk memeriksanya. Hwang Jung mengatakan pada mereka agar meminum air matang dan memakan makanan matang. Warga itu meminta obat pada Hwang Jung. Hwang Jung mengatakan bahwa ia akan berusaha mendapatkan obat tersebut.

Sepulang dari rumah warga, Watanabe datang mencarinya.

"Tuan Hwang!" panggil Watanabe, berjalan mendekat bersama Suzuki. "Kau pasti sangat menderita! Seorang dokter seharusnya dinilai berdasarkan kemampuannya! Apakah perbedaan kelas begitu penting sehingga mereka mengeluarkan seorang yang jenius seperti dirimu?!"

"Kenapa kau datang ke tempat ini?" tanya Hwang Jung datar.

"Pemerintahan Jepang sudah menghapus perbedaan kelas sejak zaman Meiji. Mungkin Korea akan melakukan hal yang saja jika kudeta Gapsin saat itu berhasil. Aku ingin bertanya satu hal padamu. Tuan Hwang, kenapa kau tidak bekerja di rumah sakit kami? Kami akan sangat menerimamu. Kami lebih menghargai kemampuan dan karakter dibandingkan dengan kelas!"

"Tidak." jawab Hwang Jung sinis.

"Jika kau menolak kami karena ibumu, kau salah paham." kata Suzuki membujuk. "Aku akan menjelaskan segalanya."

"Aku sudah mendengar penjelasanmu." ujar Hwang Jung. "Kau meminta kami pergi jika kami tidak memiliki uang."

Watanabe mencoba menjelaskandan membujuk Hwang Jung, namun Hwang Jung tetap menolak. Tidak terbesit keinginan sedikitpun untuk bergabung dengan rumah sakit Watanabe. Hwang Jung berjalan pergi.

Watanabe dan Suzuki tidak menyerah. Mereka akan mencari cara agar bisa mengajak Hwang Jung.

Dr. Heron, Park So Sa dan murid-murid pergi ke Jaemulpo. Go Jang Geun, Nang Rang, Miryung, Dr. Horton dan Seok Ran tetap di Jejoongwon.

Dr. Heron dan Dr. Horton berniat untuk mendidik Seok Ran menjadi seorang dokter yang sesungguhnya. Mereka bahkan menyiapkan jadwal belajar Seok Ran. Seok Ran sangat senang.

Setelah itu, Seok Ran dan Dr. Horton membuka perban Nenek pasien katarak. Nang Rang dan Miryung ikut melihat.

"Aku merindukan Tuan Hwang." kata Nang Rang sedih. "Banyak pasien yang datang dan mencarinya. Banyak ruang kosong sejak kepergiannya."

Ekspresi Seok Ran berubah murung. Miryung menyenggol lengan Nang Rang untuk menyuruhnya diam.

Nenek membuka matanya. Akhirnya ia bisa melihat kembali.

Di rumahnya, Hwang Jung merawat ayahnya.

"Kudengar ayah Suetdong terkena kolera." ujar Ma Dang Gae.

"Ya, tapi ia sudah lebih baik." jawab Hwang Jung.

"Sangat luar biasa kau bisa menyembuhkannya!" seru Ma Dang Gae bangga seraya menepuk bahu putranya.

"Aku tidak melakukan apapun." kata Hwang Jung merendah. "Ia sembuh karena ia sehat."

"Aku tahu kau pasti melakukan sesuatu!" bantah Ma Dang Gae.

Hwang Jung tertawa. "Sepertinya kolera sedang menyebar. Kurasa aku akan mengumpulkan warga desa dan memberitahukan mengenai cara mencegah penyakit itu."

"Jangan! Mereka akan menghabisimu!" larang Ma Dang Gae. "Apa kau ingin mati?!"

"Tidak, sekarang sudah tidak begitu." ujar Hwang Jung menenangkan.

Gwak berkunjung ke Jejoongwon untuk menjenguk Chilbok. Disana, ia bertemu dengan Seok Ran.

"Bagaimana kabar Tuan Hwang?" tanya Seok Ran. "Apa yang ia lakukan?"

"Disana banyak orang sakit, jadi ia mengobati mereka." jawab Gwak.

Nang Rang mengintip lewat pintu dan tersenyum senang. Ia benar-benar menyayangi dan mengagumi Hwang Jung.

Seok Ran tersenyum lega. "Begitu."

"Ada beberapa masalah penyakit kolera di desa kami dan So Geun Gae... dia mengobati mereka." Gwak bercerita dengan bersemangat.

"Tapi dia tidak punya obat-obatan."

"Ya, dia sedikit kesulitan." kata Gwak.

"Aku tahu Tuan Hwang tidak akan menyerah karena obat!" seru Nang Rang ceria. "Apa yang bisa kulakukan? Haruskan aku membungkus beberapa obat?"

"Nang Rang, kita harus meminta izin Dr. Horton untuk meminta obat." kata Seok Ran.

"Kalau begitu aku akan meminta izinnya!" seru Nang Rang bersemangat. Sepertinya ia ingin sekali bertemu dan membantu Hwang Jung.

Di Jaemulpo, murid-murid Jejoongwon bekerja untuk mencegah penyebaran penyakit kolera. Mereka juga mengadakan penyuluhan mengenai pencegahan penyakit tersebut, serta mengobati pasien yang sudah terserang kolera.

Do Yang mengirim telegram ke Jejoongwon untuk meminta stok obat-obatan.

Di desa tukang jagal, Hwang Jung juga melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan murid-murid Jejoongwon. Hwang Jung mengumpulkan warga dan menjelaskan bagaimana cara mencegah kolera.

"Kalian harus mencuci tangan dengan bersih." kata Hwang Jung pada para warga. "Dan taburkan sedikit bubuk klorin di tempat kalian membuang air dan limbah."

"Kenapa klorin?" tanya seorang ibu penasaran.

"Karena klorin bisa mencegah penyebaran kolera." jawab Hwang Jung ramah.

"Oh, jadi setan kolera akan mati jika ia memakan bubuk klorin?" tanya ibu itu.

Hwnag Jung tertawa. "Ya, benar." Ia menoleh sedikit ke depan pagar dan melihat Gwak, Nang Rang dan Seok Ran berdiri di sana. Mereka kagum melihat Hwang Jung.

Seok Ran membantu Ma Dang Gae mengganti perban kakinya. Ma Dang Gae merasa segan dan tidak enak pada Seok Ran, namun Seok Ran menenangkannya.

Seok Ran memandang di dinding rumah itu. Banyak sekali tempelan-tempelan kertas. Ma Dang Gae berkata bahwa sejak putranya bisa membaca, ia selalu membaca apapun yang didapatnya walaupun Ma Dang Gae kerap kali memukulinya habis-habisan.

Seok Ran berjalan mendekati meja dan melihat jurnal Dr. Allen. Ia membukanya dan melihat fotonya di dalam jurnal tersebut. Seok Ran membalik-balikkan lembaran jurnal, dan menemukan awetan bunga azalea.

Seok Ran tersenyum. Itu artinya, Hwang Jung masih mencintainya walau Hwang Jung bersikap dingin dan menjauhinya.

Hwang Jung duduk di dapur bersama Gwak dan Nang Rang. Nang Rang menyiapkan makanan.

"Masuklah." bujuk Gwak, namun Hwang Jung diam saja, tidak menanggapinya.

Nang Rang bercerita pada Hwang Jung mengenai murid-murid Jejoongwon yang pergi ke Jaemulpo. Ia juga mengatakan bahwa Jejoongwon kedatangan banyak pasien kolera.

"Memang ada Dr. Horton." kata Nang Rang. "Tapi bila kau ada disana, aku pasti akan lebih tenang."

Nang Rang menyiapkan makanan di meja. Nang Rang, Seok Ran, Ma Dang Gae, Gwak dan Hwang Jung duduk mengelilingi meja.

Ma Dang Gae kelihatan sangat kaku dan kikuk.

"Makanlah terlebih dulu." kata Seok Ran pada Ma Dang Gae. Karena Ma Dang Gae adalah yang lebih tua, maka sudah seharusnya ia didahulukan.

"Ayolah makan, kami sudah kelaparan." ujar Nang Rang.

Ma Dang Gae merasa sangat tidak enak dan menolak untuk makan terlebih dulu.

"Makan saja." kata Hwang Jung dingin.

"Baiklah kalau begitu." ujar Ma Dang Gae menyerah. "Aku akan makan." Ia mengambil mangkuk dan meletakkannya dilantai.

"Makanlah disini." ujar Seok Ran seraya meletakkan mangkuk Ma Dang Gae di meja.

"Tidak, aku tidak bisa..." ujar Ma Dang Gae menolak. Ia menurunkan mangkuknya lagi ke lantai. Dengan kasar, Hwang Jung merebut mangkuk itu dan meletakkannya di meja dengan keras. Semua orang melirik ke arahnya.

Hwang Jung mengambil mangkuknya dan makan.

Ma Dang Gae terdiam dan makan di meja. Suasana di ruangan itu menjadi sangat sangat sangat dingin.

"Ini sangat enak bila dimakan dengan nasi." ujar Seok Ran, meletakkan lauk di mangkuk Ma Dang Gae.

"Bagaimana aku..." Ma Dang Gae hendak menolak, namun melirik takut-takut ke arah Hwang Jung. Ia akhirnya memakan lauk tersebut. "Rasanya seperti madu!"

"Ini adalah dedaunan yang direbus." kata Nang Rang, menyodorkan daun pada Ma Dang Gae. "Tolong jangan makan sayuran mentah. Ini."

Ma Dang Gae menerima daun dari Nang Rang. "Ini sangat enak." komentarnya. "Aku tidak pernah makan makanan seenak ini."

"Tuan Hwang, cobalah." Seok Ran menyodorkan daun pada Hwang Jung dan ingin menyuapinya.

Hwang Jung menunduk, diam.

Seok Ran tersenyum. "Cobalah."

"Tidak perlu." kata Hwang Jung dingin, tanpa menatap Seok Ran.

"Tanganku sudah lelah." kata Seok Ran. Hwang Jung tetap tidak bergeming.

"Ambillah." bisik Gwak.

"Itu sangat enak." ujar Nang Rang.

"So Geun Gae." bujuk Ma Dang Gae.

Hwang Jung diam, meneteskan air mata.

"Buka mulutmu." kata Seok Ran membujuk.

Hwang Jung menyingkirkan tangan Seok Ran dengan kasar hingga daun itu jatuh ke lantai. Ia membanting mangkuk di meja dan berjalan keluar.

Seok Ran tersenyum, sama sekali tidak kesal ataupun marah.

Seok Ran mengikuti Hwang Jung keluar.

"Tuan Hwang."

"Namaku So Geun Gae." kata Hwang Jung dingin, membelakangi Seok Ran.

"Aku merindukanmu." Perlahan, Seok Ran maju untuk mendekati Hwang Jung, namun Hwang Jung menghindarinya.

"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Hwang Jung sinis. "Apakah kau datang untuk memastikan bahwa aku adalah tukang jagal? Sekarang kau sudah memastikan, jadi kau boleh pulang."

"Bagiku, Tuan Hwang dan So Geun Gae adalah orang yang sama."

Hwang Jung berbalik, memandang Seok Ran. "Gunakan akal sehatmu!" ia membentak Seok Ran. "Kenapa kau melakukan ini?! Kenapa kau tidak bisa menggunakan akal sehatmu setelah aku menyebabkan banyak masalah untukmu?!"

Seok Ran diam, memandang Hwang Jung dengan mata berkaca-kaca.

"Jangan pandangi aku seperti itu." kata Hwang Jung sinis. "Aku tidak perlu dikasihani. Munkin aku memang orang rendah diluar sana. Tapi di desa ini, aku dihormati! Jangan pernah datang kesini lagi."

Hwang Jung berjalan pergi meninggalkan Seok Ran.

Dr. Horton menemui Raja dan Ratu untuk meminta sok obat-obatan dan bantuan di Jaemulpo karena kondisi disana sangat serius. Raja kemudian memerintahkan Menteri Keuangan dan Menteri Perang untuk datang ke istana. Menteri Keuangan memenuhi panggilan Raja namun Menteri Perang menolak.

"Kenapa?" tanya Raja.

"Putrinya sedang sakit parah." jawab utusan Raja.

"Horton, kenapa kau tidak datang untuk memeriksa keadaan putrinya?" pinta Ratu.

Dr. Horton pergi ke rumah Menteri Perang, namun ia diusir dan tidak diizinkan masuk.

Di salam rumah, Menteri tersebut sedang mengadakan upacara dengan dukun untuk mengusir setan jahat.

Kondisi kesehatan putri si Menteri sedang sangat buruk. Ia batuk-batuk parah.

Kekasihnya datang untuk menjenguk. "Young In.." panggilnya cemas.

"Tuan Muda."

"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Menteri.

"Aku menyesal mengatakan ini, tapi kalian harus bersiap-siap." jawab Tabib. "Maafkan aku, tapi ini diluar kemampuanku."

"Selamatkan putriku!" seru Menteri. "Jika tidak, aku akan membunuhmu!"

Kekasih Young In menyarankan agar mereka membawanya ke Jejoongwon, tapi Menteri menolak. Melihat bekas jahitan di leher Min Young Ik, membuatnya enggan. "Aku tidak ingin ada bekas luka di wajah putriku." katanya. "Kita harus memanggil dukun terbaik!"

Di Jaemulpo, murid-murid Jejoongwon kelelahan. Mereka tidur saling tumpuk.

Dr. Heron kelihatan sangat kelelahan juga. Hidungnya mimisan, tapi ia tetap siaga untuk menerima dan menjaga pasien.

"Aku tidak apa-apa." kata Dr. Heron ketika Do Yang memintanya beristirahat. "Tuan Baek, kau harus beristirahat. Aku akan beristirahat setelah Dr. Horton datang besok."

"Kau akan sakit!" seru Park So Sa khawatir.

"Aku tahu kondisi tubuhku." ujar Dr. Heron, bersikeras.

Keesokkan harinya, Seok Ran membantu Dr. Horton menyiapkan perlengkapan untuk dibawa ke Jaemulpo. Seok Ran dan Jang Geun bertugas untuk menjaga Jejoongwon.

"Bagaimana kalau ada pasien sekarat?" tanya Jang Geun cemas.

"Dr. Horton meminta kita untuk mengobati pasien sekarat dan mengirimkan telegram padanya." jawab Seok Ran menenangkan. "Dan kau adalah murid terbaik kedua!"

"Ah, aku tidak sebaik itu." kata Jang Geun malu. "Pasti akan lebih tenang jika Tuan Hwang ada disini. Bukankah begitu?"

Seok Ran menunduk.

Ma Dang Gae mengatakan pada Hwang Jung bahwa mereka tidak cukup baik untuk Seok Ran. "Melihatnya dari jauh sudah cukup." katanya. "Kau tahu gadis kecil yang satunya?"

"Nang Rang?" tanya Hwang Jung.

"Benar. Kau butuh seorang istri. Dia adalah pelayan seorang gadis penghibur, tapi apakah menurutmu ia mau menikahimu?" tanya Ma Dang Gae.

"Ah, kita kehabisan kayu bakar!" kata Hwang Jung, mengelak dari pembicaraan itu. "Aku akan mencari kayu bakar!"

Di Jejoongwon, beberapa orang datang dengan kasar.

"Tuan ini adalah putra kanselor!" kata pengawal.

"Selamat datang!" sapa Kyu Hyun ramah.

"Kau!" Chung Hwan terkejut melihat putra kanselor itu.

"Ah, guru! Disinikah kau bekerja?" tanya pria itu. "Aku datang karena mendengar bahwa Do Yang ada disini. Tunanganku sakit. Dimana Do Yang?"

"Mereka sedang berada di Jaemulpo karena kolera menyebar disana." jawab Chung Hwan.

Young In segera dibawa masuk ke kamar pasien. Beberapa saat kemudian Menteri Perang datang. Ia memarahi tunangan putrinya.

"Kubilang aku tidak ingin membawanya ke Jejoongwon!" seru Menteri.

"Tapi disini ada dokter wanita. Nyawa Young In sedang dalam bahaya!"

Seok Ran membantu Jang Geun memeriksa Young In. Seok Ran hendak memberikan saputangan yang terkena darah Young In pada Jang Geun agar Jang Geun bisa memeriksa. Tapi pelayan Young In melarang.

"Seorang pria tidak boleh menyentuh apapun milik Nona!" seru pelayan.

Jang Geun dan Seok Ran menjadi agak bingung.

"Nona Seok Ran.. apakah baunya seperti... yang diperkirakan?" tanya Jang Geun cemas.

"Ya."

Jang Geun menarik napas cemas. "Berarti ia terkena pleuritis. Kita harus segera melakukan thoracentesis padanya."

Tapi Seok Ran dan Jang Geun tidak bisa melakukan thoracentesis.

"Yang bisa melakukannya hanya Dr. Heron, Dr. Horon dan Tuan Baek." kata Jang Geun.

"Kalau begitu, kita harus segera mengirim telegram!" seru Kyu Hyun.

"Tapi akan terlalu terlambat!" ujar Seok Ran cemas. "Mereka membutuhkan waktu paling lambat setengah hari untuk tiba disini. Kurasa pasien tidak akan bisa bertahan sampai saat itu."

"Tidak, kita semua akan mati!" gumam Jang Geun panik. "Kita semua akan mati!"

"Apa kita tidak punya solusi lain?" tanya Chung Hwan. "Apa tidak ada orang lain yang tahu cara melakukan thoracentesis?"

"Itu... Tuan Hwang juga tahu cara melakukannya." jawab Jang Geun.

"Tuan Hwang?" tanya Seok Ran. "Tuan Hwang bisa datang dalam 1-2 jam!"

"Apa kau sudah gila?!" seru Kyu Hyun. "Mana mungkin tukang jagal mengobati seorang putri Menteri Perang?! Gadis itu adalah calon menantu kanselor!"

"Tuan Hwang bisa mengajarkan aku cara melakukannya." kata Seok Ran.

Kyu Hyun tetap bersikeras menolak. "Jaga dia!" perintahnya pada Jang Geun dan Seok Ran. "Jika gadis itu mati, kalian juga akan mati!" Kyu Hyun pergi untuk mengirim telegram.

Seok Ran berusaha membujuk Chung Hwan. Chung Hwan berpikir. Akhirnya ia setuju untuk memanggil Hwang Jung.

Seok Ran meniki sepedanya untuk menjemput Hwang Jung.

Di Jaemulpo, telegram Kyu Hyun tiba. Do Yang meminta izin Dr. Heron untuk kembali ke Jejoongwon. Do Yang pergi dengan menaiki kuda.

Park So Sa membaca telegram itu. "Pasien terkena pleuritis." bacanya. "Do Yang harus kembali. Hwang Jung diharapkan membantu."

"Tuan Hwang?" tanya Dr. Heron.

"Aku bukan lagi dokter pelatihan." jawab Hwang Jung dingin ketika Seok Ran memintanya datang ke Jejoongwon untuk mengobati pasien.

"Lalu kenapa kau mengobati warga disini?" tanya Seok Ran. "Kaulah satu-satunya yang mengetahui cara melakukan thoracentesis."

"Thoracentesis?" tanya Hwang Jung.

"Pasien itu terkena pleuritis. Paru-parunya penuh dengan nanah. Bukankah itu penyakit yang menyebabkan ibumu meninggal?"

"Pluritis?" Hwang Jung berpikir. "Jika aku masuk ke Jejoongwon, pasti akan menyebabkan masalah. Kau akan mendapat masalah, begitu juga aku. Mereka mengampuniku kemarin, tapi mereka pasti tidak akan mengampuniku lagi."

"Aku tahu. Tapi kau tidak pernah meninggalkan orang yang sedang sakit." bujuk Seok Ran.

"Beri aku waktu untuk berpikir."

"Maafkan aku, tapi pasien sudah sulit bernapas. Ia mungkin sudah mati begitu kita tiba di Jejoongwon."

Hwang Jung akhirnya setuju dan pergi ke Jejoongwon.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar