Sabtu, 28 Agustus 2010

Jejoongwon (Episode 9)

Hwang Jung dan Lee Gwak asli menyeret Hwang Jung pergi dan memukulinya. Mereka berniat membawa Hwang Jung ke kantor polisi, namun Hwang Jung memohon padanya.

"Aku akan mengikuti ujian untukmu." katanya. "Aku akan mengikuti ujian sebagai ganti kejahatan yang sudah kulakukan. Jika aku lolos, maka kau bisa masuk ke sekolah kedokteran."

"Kau akan mengikuti ujian untukku?"

"Benar." kata Hwang Jung."Jika aku lolos, kau harus memaafkan aku. Berikan aku kesempatan. Aku sudah belajar keras. Aku pasti akan lolos."

Baik. Jika kau lolos, aku akan melepaskanmu. Jangan berani melarikan diri. Jika tidak, aku akan memasang gambarmu diseluruh penjuru kota. Tidak akan ada tempat untukmu bersembunyi."

"Aku harus menjadi dokter. Aku lebih baik mati daripada bersembunyi dan tidak bisa menjadi dokter!"

Hwang Jung berlari kembali untuk mengikuti ujian.

"Ada 1476 orang yang mendaftarkan diri menjadi peserta." kata Choong Hwan memulai. "Kami sudah menyaring berdasarkan umur dan persyaratan lain. Hari ini, tersisa 198 peserta. Kami akan memilih 12 kandidat berdasarkan hasil ujian. Pertama, kalian akan menjalani tes mata. Barang siapa yang gagal, kami akan memulangkan dia. Buat barisan!"

Orang-orang berbaris. Seok Ran senang melihat Yang Jung dan berbaris di belakangnya.

Satu per satu peserta melakukan tes mata. Hwang Jung lolos, begitu juga Do Yang dan Seok Ran.

Tes kedua adalah tes kesehatan tubuh. Hwang Jung dinyatakan gagal karena tangan kanannya terluka. Ia mengeluarkan sebuah surat dari Dokter Allen yang menyatakan tentang cedera tangannya.

"Dokter Allen mengatakan bahwa cederaku tidak permanen." kata Hwang Jung menjelaskan.

Pengawas ujian tidak mengerti tulisan yang ditulis Allen. "Bagaimana aku bisa tahu itu?"

"Aku bisa membacanya." Seok Ran tiba-tiba maju, dan membaca surat Dokter Allen. Ia membaca dengan lancar dan membuat Do Yang melihatnya tajam.

Akhirnya pengawas ujian menyatakan bahwa Hwang Jung lolos.

Hwang Jung asli mengatakan pada Gwak asli bahwa jika Hwang Jung berhasil lolos ujian, maka mereka harus membunuhnya dengan segera.

Ujian selanjutnya adalah tes bahasa Inggris.

Seok Ran dan Do Yang mengerjakan ujiannya dengan lancar. Seok Ran melirik Hwang Jung, yang sedang mengerjakan ujian dengan serius. Beberapa orang yang ketahuan mencontek dikeluarkan.

Je Wook mencontek, namun Kyu Hyun malah menutupinya agar tidak kelihatan. Ck ck ck..

Di Jejoongwon, Dokter Allen sedang ribut dengan seorang gadis penghibur yang disukai Watanabe. Gadis itu bernama Miryung. Miryung tidak mau giginya dicabut dan mendorong-dorong Allen.

Pelayan Miryung yang bernama Nang Rang, memeganginya dari belakang. Mong Chong dan Gwak memegangi kedua tangannya. Allen membuka mulut Miryung dan memaksa mencabut giginya. Akhirnya berhasil.

Setelah selesai tes bahasa Inggris, peserta ujian diizinkan beristirahat dan makan siang. Seok Ran bangkit, hendak membagi makan siangnya dengan Hwang Jung, tapi tiba-tiba Do Yang mendekatinya.

"Bisakah aku bicara denganmu sebentar?" tanya Do Yang.

"Aku sedikit sibuk." kata Seok Ran, berusaha memberatkan suaranya.

"Hanya sebentar." kata Do Yang.

Seok Ran terpaksa mengikuti Do Yang.

"Sepertinya kau sangat pandai bahasa Inggris. Darimana kau belajar?" tanya Do Yang.

"Di Institusi Internasional." jawab Seok Ran.

"Apa kau tahu Tuan Yoo Hee Suh?"

"Ya, dia guruku." jawab Seok Ran, menunduk. "Kenapa kau ingin bicara denganku?"

"Aku ingin bertanya tentang soal ujian. Apa bentuk past tense dari kata 'must'? Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu." kata Do Yang.

"'Must' sama dengan ' have to'." kata Seok Ran. "Jadi bentuk past tensenya adalah 'had to'."

"Terima kasih." kata Do Yang, tersenyum. "Aku harap kita bisa bertemu lagi di Jejoongwon."

Do Yang pergi. Seok Ran menarik napas lega.

Seok Ran mencari Hwang Jung, dan menemukannya sedang minum di sumur. Hwang Jung berterima kasih karena sudah membacakan surat Dokter Allen padanya. Seok Ran kemudian mengajaknya makan.

"Sepertinya kau tidak membawa makan siang." kata Seok Ran.

"Aku tidak sempat." jawab Hwang Jung.

"Apa ada hal yang terjadi?" tanya Seok Ran.

"Itu tidak penting." kata Hwang Jung.

Seok Ran menunjukkan bekal makan siangnya. "Aku punya kue beras. Ambillah."

"Tidak usah."

"Aku bawa terlalu banyak." kata Seok Ran memaksa.

"Aku tidak lapar." Hwang Jung mencoba menolak. Seok Ran terus memaksa, dan tanpa sengaja Hwang Jung menjatuhkan makanan itu.

Dengan spontan, Seok Ran berkata dengan suara normal, "Tidak apa-apa, biar aku saja."

Hwang Jung terdiam. "Nona?"

"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Hwang Jung.

"Aku ingin mengetahui kemampuanku." jawab Seok Ran. "Aku tahu, aku tidak akan bisa bersekolah walaupun aku lolos. Tapi aku hanya ingin menguji pengetahuanku. Tuan Hwang, kau harus berusaha keras. Aku juga akan berusaha keras."

Di istana, Dokter Allen sedang memerika kesehatan Raja.

Raja memerintahkan Young Ik untuk memastikan tidak ada yang berbuat curang dalam ujian. Karena ujian ini adalah untuk memilih orang yang nantinya menggenggam nyawa banyak orang di tangan mereka.

"Tangkap semua yang berbuat curang dan hukum mereka." kata Raja.

Dokter Allen mengatakan bahwa Jejoongwon sedang membutuhkan beberapa perawat. Raja berpikir dimana mereka bisa menemukan wanita seperti itu karena adat Korea tidak mengizinkan.

Saat berjalan pulang, Dokter Allen mengatakan pada Tuan Yoo bahwa ia telah meminta Seok Ran menjadi perawat wanita. Tuan Yoo menjawab bahwa semua keputusan itu ada di tangan Seok Ran. Ia akan menyetujui apapun yang diputuskan Seok Ran.

Kepala polisi memberitahukan pengawas ujian bahwa ia ingin menyampaikan titah raja pada para peserta ujian. Titah Raja tersebut mengatakan bahwa barang siapa yang melakukan kecurangan, maka ia akan dijatuhi hukuman 70 pukulan dan dikurung dalam penjara. Selain itu, mereka juga tidak diizinkan lagi mengikuti ujian yang diadakan oleh negara.

Hwang Jung menatap Seok Ran dengan pandangan khawatir.

"Jika ada yang berbuat kecurangan, mundurlah sekarang. Kami tidak akan memberikan hukuman." kata Kepala Polisi.

Beberapa Orang berjalan keluar. Seok Ran tetap bertahan.

Pengawas ujian memerintahkan para peserta membuat kelompok berisi tiga orang. Hwang Jung meminta Seok Ran satu kelompok dengannya. Partner mereka adalah seorang pria aneh bernama Go Jang Geun, yang suka pura-pura memakan sesuatu dari telapak tangannya yang kosong. Ia mengajarkan kebiasaannya itu pada Seok Ran dan Hwang Jung. Mereka bertiga tertawa karena menganggap itu lucu.

Do Yang dan Je Wook mengegeleng-geleng. "Apa mereka sudah gila?" tanya Je Wook.

"Tidak usah memerhatikan mereka." kata Do Yang.

Do Yang dan Je Wook satu kelompok dengan Kim Don, si mata-mata Jepang.

Kelompok Do Yang dan kelompok Hwang Jung masuk ke sebuah ruangan. Rupanya ujian untuk mereka selanjutnya adalah pembedahan. Mereka ditugaskan membedah babi dan menggambar organ dalam babi tersebut tanpa kerusakan.

Seok Ran ketakutan, sedangkan Go Jang Geun ingin muntah. Jang Geun langsung menawarkan diri agar dialah yang menggambar.

Do Yang tersenyum, percaya diri.

Orang-orang dari kelompok sebelah pergi dengan marah-marah. "Kenapa kami harus melakukannya? Kami bukan tukang jagal!"

"Baiklah, waktu kalian 30 menit." kata pengawas ujian. "Dimulai dari sekarang."

Hwang Jung maju ingin membedah, namun Seok Ran terpaksa menawarkan diri, karena tangan kanan Hwang Jung sedang terrluka.

"Aku.. aku akan mencobanya." kata Seok Ran takut-takut.

"Aku bisa melakukannya. Dengan tangan kiriku." kata Hwang Jung.

"Tidak.. Biar aku yang melakukannya." kata Seok Ran bersikeras.

Dengan tangan gemetar, Seok Ran mengambil pisau, sementara Hwang Jung memegangi kaki babi. Seok Ran ketakutan, mencoba membedah babi, namun tiba-tiba pisau yang dipegangnya terjatuh karena Seok Ran sangat gemetaran.

Hwang Jung mengambil pisau itu. Pisau itu menjadi tumpul karena terjatuh.

"Scalpelnya rusak." kata Hwang Jung. "Tolong diganti."

"Itu melanggar aturan. Gunakan saja yang itu." kata Pengawas ujian.

Seok Ran merasa bersalah. Jang Geun menangis, kegagalan sudah di depan mata.

Di lain pihak, dengan percaya diri, Do Yang membedah babi itu. Sebelumnya, ia sudah pernah melihat So Geun Gae/Hwang Jung membedah mayat.

"Maafkan aku." kata Seok Ran. "Seharusnya aku lebih berhati-hati."

Hwang Jung berpikir. Ia kemudian memukulkan tangannya ke meja, berniat memecahkan gips yang menyangga tangannya yang terluka.

"Jangan lakukan itu! Kau bisa kehilangan tanganmu!" seru Seok Ran cemas.

"Yang paling penting saat ini bukanlah tanganku." kata Hwang Jung.

Hwang Jung menahan rasa sakitnya dan terus memukulkan tangannya ke meja sampai gips pecah. Ia mencoba memegang pisau dengan tangan kanannya, namun jari-jarinya tidak mau bergerak untuk menggenggam pisau. Hwang Jung mendapat ide. Ia membuka perban dan menggunakan perban tersebut untuk mengikatkan pisau ke tangannya. Hwang Jung berteriak kesakitan.

Lalu dengan perlahan dan dengan tangan yang gemetaran, Hwang Jung mulai membedah babi. Ia menguliti bagian perut babi agar organ-organ dalam babi tersebut terlihat. Ia melakukan itu tanpa menyebabkan kerusakan sedikitpun pada organ dalam.

Go Jang Geun menggambar organ babi tersebut dengan baik.

Do Yang melilik ke arah Hwang Jung, tersenyum merendahkan.

Kelompok Hwang Jung selesai terlebih dahulu, berikutnya adalah kelompok Do Yang.

Do Yang menatap Hwang Jung tajam. Hwang Jung berjalan keluar.

"Bagaimana jika dia lolos?" tanya Je Wook.

"Kemampuannya menggunakan pisau tidak seperti seorang pelajar yang menghabiskan seluruh hidupnya dengan membaca buku." kata Do Yang.

"Aku tahu." kata Je Wook. "Kelihatannya seperti ia sering berlatih. Aku penasaran apakah Dokter Allen juga mengajarkan itu padanya."

Do Yang berpikir.

Hwang Jung dan Seok Ran berjalan bersama beriringan. Namun Hwang Jung meminta Seok Ran pulang terlebih dahulu karena melihat Hwang Jung dan Gwak yang asli menunggu di depan gerbang.

Hwang Jung berkata pada Hwang Jung asli bahwa ia bisa mengerjakan soal-soal ujian dan yakin akan lolos.

Hwang Jung asli tertawa, kemudian mengajak Hwang Jung ke suatu tempat untuk minum bersama. Mereka berjalan melewati hutan.

"Tidak ada kedai di tempat seperti ini." kata Hwang Jung.

"Kenapa kau begitu curiga? Aku mengubur botol minum di sana!" kata Hwang Jung asli, kemudian memberi isyarat pada Gwak asli agar mengeluarkan pisau untuk membunuh Hwang Jung.

Hwang Jung membela diri. Dalam sekejap, ia bisa mengalahkan Hwang Jung asli dan Gwak asli.

"Kenapa? Kenapa kau ingin membunuhku?" tanya Hwang Jung.

"Siapa yang ingin membunuhmu? Aku ingin minum denganmu." kata Hwang Jung asli ketakutan.

"Aku.. aku melakukan seperti yang telah kita sepakati." kata Hwang Jung, mengarahkan pisau ke leher Hwang Jung asli. "Kenapa kau ingin membunuhku?"

"Untuk... untuk menghilangkan... saksi."

"Jadi, kau ingin membunuhku walaupun aku lolos atau tidak?" tanya Hwang Jung. "Beginikah sikap kalian para bangsawan? Apakah hidup kami tidak berarti apa-apa bagi kalian? Jika kau ingin menghilangkan saksi, maka yang harus aku lakukan adalah membunuhmu!"

"Tidak! Maafkah aku! Kami akan pergi. Kami akan meninggalkan tempat ini."

Hwang Jung menggeleng. "Kau akan pergi ke pihak berwajib dan melaporkan aku."

Hwang Jung mengakat pisaunya, hendak menusuk Hwang Jung asli, namun mengurungkan niatnya dengan menusuk tanah. "Kau harus ikut aku ke suatu tempat!"

Hwang Jung mengajak mereka ke kantor polisi. Di sana, beberapa orang sedang disiksa habis-habisan.

"Apa kau tahu kenapa mereka dipukuli?" tanya Hwang Jung. "Mereka adalah peserta ujian palsu dan orang-orang yang menyuruh mereka."

"A.. apa?! Be.. benarkah?"

"Yang Mulia memerintahkan agar semua peserta ujian yang tidak jujur diberi 70 pukulan dan dikurung dalam penjara." kata Hwang Jung. "Apa kau pernah dipukuli? 70 pukulan bisa membuatmu mati. Aku mungkin akan dihukum karena perbuatanku, tapi aku tidak takut. Aku sudah sering bertahan dari kematian dan tidak lagi takut mati. Apa kau mau tahu lagi? Para peserta yang berbuat curang tidak akan diizinkan lagi mengikuti ujian yang diadakan oleh negara." Hwang Jung melempar pisau. "Sekarang, aku akan melepaskanmu. Laporkan aku ke polisi."

Hwang Jung menyeret Hwang Jung asli masuk ke kantor polisi, namun Hwang Jung asli mengelak. Ia ketakutan, kemudian mengajak pelayannya untuk kembali ke kampung halaman mereka dan tidak akan pernah kembali.

Ma Dang Gae memberikan dua buah kaki sapi pada Tuan Yoo.

"Pakai ini untuk membuat sup." katanya pada Mak Saeng.

"Darimana kau akan mendapat keuntungan jika memberi begitu banyak?" tanya Nyonya Yoo.

"Ini untuk ulang tahun Tuan Yoo." kata Ma Dang Gae.

"Darimana kau tahu hari ulang tahunnya?" tanya Nyonya Yoo.

"Oh, karena hari ulang tahun Tuan Yoo sama dengan hari ulang tahun putraku."

"Lalu kenapa kau tidak bawa putramu kemari?" tanya Nyonya Yoo. Tuan Yoo sependapat.

Dengan wajah sedih, Ma Dang Gae menjawab bahwa putranya sudah meninggal.

Mak Saeng memergoki seorang laki-laki (Seok Ran) hendak masuk ke kamar Seok Ran. Mak Saeng berteriak, "Tolong!!"

Seok Ran buru-buru menutup mulutnya. "Ini aku, Seok Ran."

Mak Saeng terkejut. Seok Ran menceritakan segalanya pada Mak Saeng, membuat Mak Saeng shock setengah mati.

Dokter Allen mengobati kembali tangan Hwang Jung.

"Tuan Hwang, kau benar-benar tidak bisa menjaga badanmu." kata Allen cemas. "Aku mendengar dari pengawas ujian apa yang terjadi selama ujian anatomi. Dia mengatakan bahwa kelompokmu mendapatkan nilai tertinggi."

Hwang Jung tersenyum lega.

"Kau akan menjadi murid kedokteran. Ada anyak hal yang ingin kuajarkan padamu." kata Allen.

Tuan Yoo memeriksa ujian bahasa Inggris. Baek Kyu Hyun masuk dan bertanya pada Tuan Yoo mengenai hasil ujian.

"Ada seorang peserta yang mendapatkan nilai sempurna." kata Tuan Yoo. "Namanya adalah Yoo Seok Hwan." Yoo Seok Hwan adalah nama samaran Seok Ran.

Kyu Hyun bertanya apakah Tuan Yoo mengenal orang yang bernama Yoo Seok Hwan tersebut, karena nama keluarga mereka sama. Tuan Yoo menjawab bahwa ia tidak mengenal Seok Hwan.

"Bagaimana dengan nilai Do Yang?" tanya Kyu Hyun.

"Dia kedua terbaik setelah Yoo Seok Hwan. Dia mengerjakan dengan sangat baik." jawab Tuan Yoo.

Kyu Hyun tertawa senang. "Lalu bagaimana dengan Hwang Jung?" tanyanya dengan pandangan kesal.

"Aku belum memeriksanya."

Kyu Hyun mengangguk. Ia berpura-pura hendak keluar, kemudian dengan diam-diam mencari lembar jawaban Hwang Jung dan menukarnya dengan lembar jawaban yang lain yang sudah ia siapkan.

Kyu Hyun menemui Do Yang dan Je Wook. Ia mengeluarkan lembar jawaban Hwang Jung dan membakarnya.

Do Yang dan Je Wook tersenyum menang.

Hari pengumuman hasil ujian.

Seok Ran menduduki peringkat pertama. Do Yang menduduki peringkat kedua. Go Jang Geun dan Kim Don juga berhasil lolos. Dan Hwang Jung... gagal.

Hwang Jung sangat kecewa dan berjalan pergi dengan langkah gontai.

"Aku tidak ingin meninggalkan Jejoongwon." gumam Hwang Jung lemas. "Aku tidak bisa."

"Lalu bagaimana?" tanya Gwak.

"Aku tidak tahu. Tapi aku tidak bisa pergi seperti ini."

Do Yang dan kroni-kroni merayakan keberhasilan Do Yang dan Je Wook. Do Yang penasaran pada Yoo Seok Hwan, yang berhasil menduduki peringkat pertama mengalahkannya.

"Siapa Yoo Seok Hwan?" tanya Do Yang.

"Dia ada di kelompok yang sama dengan Hwang." jawab Oh Chung Hwan.

"Tuan Yoo berkata bahwa ia mendapat nilai sempurna dalam Bahasa Inggris." tambah Kyu Hyun.

"Apa? Tuan Yoo tidak berkata bahwa Seok Hwan muridnya?" tanya Do Yang.

"Tidak." jawab Kyu Hyun.

Do Yang berpikir. Ia mengingat-ingat Seok Hwan, dan teringat pada Seok Ran. Do Yang tertawa.

Miryung, gadis penghibur pemain musik yang disukai Watanabe, memainkan musik untuk Do Yang. Ia tertarik pada ketampanan Do Yang.

Tuan Yoo sangat penasaran pada orang yang bernama Yoo Seok Hwan ini. Apakah benar Yoo Seok Hwan memiliki hubungan saudara jauh dengannya atau tidak.

"Apa yang akan terjadi jika dia tidak datang?" tanya Seok Ran.

"Dia ada di peringkat pertama, kenapa ia tidak datang?" tanya Tuan Yoo.

"Tapi, apa yang akan terjadi bila ia tidak datang?" tanya Mak Saeng.

"Jika ia tidak datang, sama artinya dengan ia mundur." kata Tuan Yoo. "Itu artinya, hanya 11 orang murid yang akan ikut pelantikan."

"Mereka tidak akan memilih kandidat yang lain?" tanya Seok Ran.

"Jika dia datang dan mengutarakan alasannya untuk mundur sebelum pelantikan, maka mereka akan mengizinkan kandidat ke 13 untuk bersekolah di sana. Itu artinya.. Tuan Hwang akan diakui."

Seok Ran sangat terpukul mendengarnya.

"Seok Ran, aku ingin bicara denganmu setelah makan." kata Tuan Yoo.

Tuan Yoo bertanya pada Seok Ran apakah ia akan menerima permintaan Dokter Allen agar Seok Ran menjadi perawat wanita.

Seok Ran berkata bahwa ia ingin menerima permintaan Dokter Allen. Tuan Yoo mengizinkan.

Seok Ran menimbang-nimbang untuk mengaku agar Hwang Jung bisa lolos. "Jika bukan karena aku, Tuan Hwang akan lolos." katanya, merasa bersalah.

Mak Saeng melarangnya. "Jika mereka mengetahui bahwa kau adalah seorang wanita, maka mereka akan menghukummu. Terlebih lagi, keluargamu akan merasa malu."

Seok Ran ragu, ia berjalan menuju Jejoongwon.

Di Jejoongwon, Dokter Allen memohon pada Chung Hwan dan Kyu Hyun agar ia mengizinkan Hwang Jung tetap di Jejoongwon. Tentu saja mereka menolak, dengan alasan mereka tidak bisa melanggar aturan.

"Tidak apa-apa jika aku tidak bisa menjadi murid Jejoongwon." kata Hwang Jung memohon. "Aku hanya ingin menjadi asisten Dokter Allen. Akutidak butuh gaji. Tolong izinkan aku tinggal disini."

Chung Hwan dan Kyu Hyun menolak mentah-mentah.

"Jika kau memang perhatian pada Jejoongwon, maka tinggalkan tempat ini secepatnya." kata Chung Hwan, seraya berjalan keluar.

Hwang Jung mengikutinya. "Aku akan melakukan apapun."

"Benarkah?" tanya Chung Hwan. "Kalau begitu, tinggalkan tempat ini."

Hwang Jung berlutut dikaki Chung Hwan. "Tolonglah.. Tolong jangan usir aku. Biarkan aku tinggal."

Chung Hwan menendang Hwang Jung hingga jatuh.

Seok Ran datang dan melihat kejadian itu. Di saat yang sama, Do Yang juga berdiri di belakang Seok Ran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar