Sabtu, 28 Agustus 2010

Iljimae (Episode 10)

Ryung teringat informasi yang diberikan Shi Wan dan melakukan survei. "Ada sekitar 50 pengawal yang menjaga rumah Tuan Shim. Istana terlarang ada sekitar 30 pengawal. Para bandit tidak akan bisa melewati pagar tembok. Sebelum pesta, tidak ada satu orang pun dari luar yang diperbolehkan masuk. Anggota Jeonwoohoe akan ditemui dan diantar langsung oleh Tuan Shim."

"Woi, sedang apa kau?" tanya Ryung ketika ia melihat Bong Soon sedang mendandani seseorang. Ryung mengintip siapa nyonya yang sedang dimake-up oleh Bong Soon. Ryung shock setengah mati melihat nyonya itu mengedipkan mata padanya. Ia menangis memanggil ayahnya sambil menunjuk-nunjuk si nyonya. "Ayah! Ayah! Itu!"

Swe Dol melihat ke arah yang ditunjuk Ryung dan melompat kaget. Nyonya itu adalah Kong He.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Kong He, menyuruh Ryung dan Swe Dol menilai dandanannya.

"Tidak ada yang harus dibanggakan dengan penampilan seperti itu!" seru Ryung. "Apa kalian tidak hal lain yang bisa dikerjakan?"

Bong Soon berkata ia akan menjadi penata rias. "Selama menghasilkan uang, aku akan melakukan apapun." kata Bong Soon. Dengan diam-diam, Ryung mengambil salah satu alat make up Bong Soon dan menyembunyikannya di dalam baju. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu ada sesuatu yang hilang.

Bong Soon hendak pergi dan dengan kasar menarik rambut palsu yang sedang dikenakan Kong He.

"Gadis ini sangat kasar." gumam Swe Dol. "Ryung, jika suatu saat kau bilang ingin menikahi gadis ini, aku mungkin akan mencabut semua gigiku yang tersisa. Bahkan di dalam mimpi pun, jangan pernah berpikiran menikahi gadis ini." Swe Dol menoleh pada Ryung, namun Ryung sudah menghilang entah kemana.

Ryung baru sadar bahwa ia kehilangan perhiasan milik ayahnya. Ia menjadi sangat panik dan mencari perhiasan tersebut. Di saat yang sama, Bong Soon kembali lagi ke depan gerbang istana ntuk mencari pemilik perhiasan itu. Ia melihat Ryung disana, sedang bertanya-tanya pada orang-orang apakah mereka melihat perhiasan miliknya. Bong Soon terkejut dan perlahan mendekati Ryung.

"Apa kau mencari ini?" tanya Bong Soon hati-hati. "Ini milikmu, kan?"

"Kenapa bisa ada padamu?" tanya Ryung. Ryung kesal dan merebut perhiasan itu. "Aku menghabiskan banyak waktu untuk mencari ini. Kembalikan padaku!"

Bong Soon menggenggam perhiasan itu erat-erat. "Bagaimana perhiasan ini bisa menjadi milikmu?"

"Kenapa kau bertanya begitu? Dari awal ini memang milikku." Ryung mengambil perhiasan itu dan pergi meninggalkan Bong Soon.

Bong Soon menangis dan tertawa sekaligus. "Tidak, itu tidak benar. Tidak."

Setelah melihat Bong Soon mendandani Kong He, Swe Dol berniat membelikan Dan Ee sebuah lipstik. "Ini adalah lipstik." katanya. "Aku dengar, kau bisa memakainya di bibir."

"Dari mana kau mendapat benda yang berharga seperti ini?"

"Aku membelinya." jawab Swe Dol. "Apa kau meragukan aku?"

"Darimana kau dapat uang?"

"Kau benar-benar meragukan aku?" tanya Swe Dol sedih. "Kau tidak percaya padaku? Kau berpikir bahwa aku mencurinya?" Swe Dol menangis. "Aku hanya berpikir, jika Dan Ee-ku memakai lipstik itu, dia pasti akan kelihatan sangat cantik... jadi aku..." Swe Dol berbalik dan menangis dengan sangat sedih.

Dan Ee tidak tega melihatnya. "Aku mengerti. Terima kasih." katanya.

Swe Dol berbalik dan tertawa senang. "Pakailah."

"Aku akan memakainya nanti."

Ryung bermain ke tempat latihan Hee Bong. Di sana, ia berbincang dengan salah seorang anggota geng. "Aku bergabung dengan geng ini karena tahu tentang Pembunuh Legendaris."

"Pembunuh Legendaris?" tanya Ryung. "Siapa mereka?"

"Tidak ada yang tahu siapa mereka. Tapi yang kutahu, mereka bisa membuat anak yang menangis menjadi diam. Berdasarkan gosip yang kudengar, sekali mereka mengeluarkan pedang, semua musuh akan mati. Salah satu dari pembunuh itu ada di istana dan yang satu lagi lenyap entah kemana."

"Kenapa?" tanya Ryung menasaran.

"Aku tidak tahu. Mungkin ia ingin menyingkir dari kehidupan manusia agar bisa hidup dengan bebas."

Padahal, di saat yang sama, si Pembunuh Legendaris yang lenyap tersebut sedang makan banyak di kedai ibu angkat Dae Shi.

Seung Seung bertanya pada Eun Chae, apakah Eun Chae mengenal laki-laki yang menolong mereka dulu. "Aku rasa Nona dan laki-laki itu sudah pernah bertemu sebelumnya."

Eun Chae terlihat senang membicarakan Ryung. "Saat itu, aku sudah mengira bahwa dia masih hidup dan akan kembali kemari."

"Apa? Laki-laki itu?" tanya Seung Seung bingung. Ia berpikir sejenak. "Apa dia adalah Tuan Muda yang menjadi cinta pertama nona?"

"Aku sangat ingin bertemu dengannya lagi." kata Eun Chae. "Apakah dia akan datang ke sini lagi?"

Malam hari waktu dilangsungkan acara perpisahan Tuan Shim telah tiba. Para pejabat dan bangsawan berdatangan. Tuan Shim sendiri yang menyambut mereka.

"Aku Kim Moo Ryul, Hakim Pu Pyung." kata salah seorang bangsawan.

Tuan Shim melihat daftar tamunya. "Oh, Tuan Kim! Selamat datang. Silahkan masuk."

Semua tamu sudah berkumpul dan pintu gerbang ditutup.

Di dalam, Byun Shik menyombong-nyombongkan dirinya. Para pejabat berusaha mengalihkan pembicaraan. "Aku melihat banyak orang baru di sini."

"Benar." kata Byun Shik. "Selain sebagai acara perpisahan untu Tuan Shim, acara ini juga diadakan untuk menyambut anggota baru Jeonwoohoe."

Tuan Shim memperkenalkan anggota baru bernama Kim Moo Ryul, Hakim Pu Pyung. Kim Moo Ryul membungkuk, memberi hormat pada para tamu.

Flashback

Dae Shi memamerkan topeng terbarunya yang sangat mirip wajah manusia pada Ryung. "Aku menempelkan lapisan kulit babi ke topeng." kata Dae Shi, memeragakan cara membuat topeng. "Kemudian, aku mencampur kertas Han dan lem bersama-sama. Setelah itu, aku mengoleskannya pada topeng. Kelihatan seperti kulit manusia." "Tapi, apa semuanya lengket dengan kuat?" tanya Ryung. "Tentu saja." Ryung mengulurkan tangan hendak menyentuh topeng yang belum jadi. "Jangan sentuh itu! Hal yang buruk akan terjadi. Jika bahan itu lengket di kulit, satu jam kemudian, kulitmu akan bersatu dengan campuran adonan."

Ryung kemudian pergi ke tempat kerja pembuatan sepatu milik Heung Kyun. Ia mencuri satu lembar kulit babi yang digantung disana.

Flashback End

Tuan Shim memamerkan sebuah benda berharga miliknya berupa hiasan Kura-kura Emas pada para tamu. "Aku bisa menjadi duta besar di Cina, semuanya berkat Tuan Kim!" katanya senang.

Kim Moo Ryul melihat Kura-kura Emas tersebut dengan seksama. Setelah semua orang keluar, dengan diam-diam, ia membuka gembok dan menyusup masuk ke ruang penyimpanan barang berharga.

Semua pejabat dan bangsawan sedang minum dan makan-makan bersama. Tiba-tiba seseorang berteriak, "Pencuri! Ada Pencuri!"

Byun Shik memerintahkan semua pengawal agar menutup jalan masuk. "Pencurinya pasti masih ada di dalam." teriaknya. "Jangan biarkan siapapun keluar!"

Tuan Shim memeriksa barang apa yang hilang. "Kura-kura Emasku!" teriaknya shock. Kura-kura Emas tersebut sudah tidak ada, digantikan oleh sebuah kertas berlukiskan bunga Mae Hwa.

Para pengawal memeriksa tubuh pada pejabat dan bangsawan untuk mencari barang yang dicuri. Shi Wan memeriksa tubuh Kim Moo Ryul.

"Kenapa Anda banyak berkeringat, Tuan?" tanya Shi Wan. Shi Hoo menoleh dengan curiga. Setelah selesai memeriksa dan tidak menemukan apapun, Shi Wan mempersilakan Kim Moo Ryul lewat.

"Tunggu sebentar, Tuan!" panggil Shi Hoo. Shi Hoo berjalan perlahan mendekati Kim Moo Ryul dan mengamati wajahnya yang berkeringat (dan meleleh) baik-baik.

"Iljimae ada di sana!" teriak seseorang. Shi Hoo dan pengawal lain bergegas pergi ke arah yang dimaksud. Iljimae sedang berada di atas genting rumah.

Keributan tersebut dipergunakan oleh para bangsawan dan pejabat untuk melarikan diri. Kim Moo Ryul mengambil selembar kertas untuk menyerap keringat (lelehan) diwajahnya.

Para pengawal mengepung Iljimae dan mengarahkan panah padanya. Namun Iljimae tidak beranjak ataupun bergerak sama sekali. Byun Shik menyuruh Shi Hoo memanah. Shi Hoo mengarahkan panahnya pada tali yang menggantung di badan Iljimae. Iljimae terjatuh ke tanah.

Shi Wan melepas topeng yang dikenakan Iljimae. Ternyata itu hanyalah sebuah boneka jerami. Mereka ditipu mentah-mentah.

Di tempat yang lain, Kim Moo Ryul melepas topeng kulitnya dan tersenyum melihat para pengawal yang gagal menangkapnya.

Di saat yang bersamaan, namun ditempat yang berbeda, Moo Yi dan anak buahnya mengejar-ngejar seseorang. Orang yang dikejar tertangkap dan melemparkan suatu barang berbentuk tabung ke air terjun. Moo Yi marah dan menebas orang itu sampai mati.

Moo Yi mencari tabung tersebut di sekitar air terjun sampai pagi hari, namun hasilnya nihil. Ia tidak bisa menemukan apapun.

Ryung kembali ke tempatnya bersembunyi dan melepas semua perlengkapan menyamarnya. Ia mengeluarkan barang curian yang disembunyikan di perutnya. Tanpa sadar, ia masih saja memegang selembar kertas yang dibawanya dari rumah Tuan Shim. Ryung membaca tulisan di kertas itu. "Jeonwoohoe?" gumamnya.

Ryung teringat masa lalunya ketika di rumahnya diadakan sebuah acara. Ibunya berkata bahwa acara tersebut dihadiri oleh teman-teman baik ayahnya. Secara tidak sengaja, ia dan kakaknya, Yeon. melukis di sebuah kertas yang bertuliskan tentang Jeonwoohoe.

Ia juga teringat kata-kata Shim Ki Yoon, "Ayahmu dibunuh oleh orang-orangnya sendiri."

Ryung berpikir. "Benar. Musuhku ada di dalam Jeonwoohoe."

Raja berpikir soal perbincangannya dengan pejabat yang menemukan surat Kwon Do Hyun. "Orang yang ingin diberi surat oleh Kwon Do Hyun bukanlah putra Lee Won Ho, melainkan Kim Yi Hee." katanya. "Tebakanku salah."

"Yang Mulia!" seru Byun Shik. "Aku akan segera mengeksekusi mereka dengan tuduhan pemberontakan."

"Hentikan." kata Raja. "Kau tidak bisa selalu menggunakan tuduhan pemberontakan. Jika begitu, orang-orang akan curiga. Kasus pemberontakan Shim Ki Yoon adalah salah satu dari tuduhan itu, dan para pejabat sedang memperbincangkan masalah itu saat ini."

Bong Soon mengamati Swe Dol baik-baik. "Tidak mirip." gumamnya. "Sama sekali tidak mirip. Paman, Ryung bukan putra kandungmu, kan?"

"Apa?" tanya Swe Dol. "Ryung sama persis denganku! Apa kau tidak bisa melihat kesamaan kami? Coba teliti lagi, kami sangat mirip."

"Dari tinggi saja kalian tidak mirip." Bong Soon bersikeras.

"Dia putra kandungku!" seru Swe Dol mulai kesal.

Dae Shi bertanya ada Dan Ee apa itu lipstik. Bong Soon menuduh Dae Shi telah mencuri lipstik miliknya. Dan Ee terdiam, curiga pada Swe Dol.

Dan Ee mengembalikan lipstik yang diberikan Swe Dol dan meminta Swe Dol mengembalikan lipstik itu pada pemiliknya. Swe Dol bingung.

"Aku yang akan mengembalikannya sendiri." kata Dan Ee.

"Apa?" tanya Swe Dol sedih. "Kau mencurigai aku? Aku sudah berhenti mencuri sejak Ja Dol pergi. Kau juga tahu itu. Kenapa kau bersikap seperti ini padaku? Apa menurutmu aku tidak bisa marah? Kau tidak bisa menuduhku seperti ini. Kenapa kau sangat kejam padaku?" Swe Dol menangis dan pergi.

Swe Dol sangat sedih. Ayah Heung Kyun menemaninya. Ia tahu bahwa Dan Ee tidak mungkin memberikan hatinya untuk Swe Dol karena Dan Ee hanya mencintai Lee Won Ho. "Di hatinya hanya ada pria itu." kata Swe Dol putus asa. "Hari ini adalah hari kematian pria itu."

Di rumah, Dan Ee bersembahyang untuk Lee Won Ho.

Raja membersihkan pedang yang terukir lambangnya di sebuah sungai, tempat ia dan Lee Won Ho dulu pernah melakukan hal yang sama.

Dan Ee mengembalikan lipstik pemberian Swe Dol pada Bong Soon.

"Kau dapat ini dari mana, Bibi?" tanya Bong Soon. "Warnanya sangat bagus. Harganya pasti mahal."

"Itu bukan milikmu?" tanya Dan Ee.

"Aku sudah menemukan milikku." jawab Bong Soon. Dan Ee langsung mengambil kembali lipstik itu dari tangan Bong Soon.

Bong Soon datang lagi ke tempat kakaknya terbunuh. "Kakak... Aku menemukannya." kata Bong Soon. "Anak laki-laki yang melindungiku dan menggenggam erat tanganku... Dia masih hidup."

Tiba-tiba Bong Soon mendengar keributan dari pemukiman terdekat. Hee Bong mengajak Ryung ke pemukiman itu untuk melakukan keributan disana. Ia sengaja mengajak Ryung agar bisa melihat kekejaman gengnya dan agar Ryung memutuskan keluar. Ia lalu menyuruh Ryung memukuli seorang anak.

"Apa?"

"Ini memang pekerjaan kita." kata Hee Bong, memberi Ryung sebatang kayu. "Jika kau tidak mau melakukannya, keluar saja!"

Ryung mengambil kayu itu dan berjalan mendekati anak kecil yang ditunjuk Hee Bong.

"Sejahat apapun kita, kita tidak bisa memukuli anak kecil." kata salah satu anak buah Hee Bong.

"Jangan ikut campur." ujar Hee Bong santai. Ia yakin bahwa Ryung tidak akan mungkin memukul seorang anak. "Aku hanya ingin Ryung menyerah dan keluar."

Eun Chae sedang berada di tempat konstruksi. Tiba-tiba seorang anak memanggil ayahnya dan mengatakan kalau pemukiman mereka diserang oleh Geng Ajik. Mereka bergegas kesana. Eun Chae berlari mengikuti.

Ryung mengangkat batang kayu, hendak memukul anak itu. Dari belakang, Ryung memang terlihat sedang memukul si anak, namun pada kenyataannya Ryung memukul kakinya sendiri.

Eun Chae terkejut dan marah. "Hentikan!" teriaknya, seraya berlari ke arah si anak. "Kau tidak apa-apa?" Eun Chae mendongak menatap Ryung. "Kau... Kau bajingan."

Bong Soon mendekati Eun Chae. "Nona, kau bilang apa barusan?" tanyanya marah. "Bajingan?"

Eun Chae tidak memedulikan Bong Soon dan memarahi Hee Bong.

Hee Bong mengatakan bahwa mereka juga tidak suka melakukan hal ini. Mereka melakukan ini atas perintah Byun Shik, yang menyuruh mereka melenyapkan hal-hal yang bisa berdampak buruk pada penginapan yang sedang dibangun.

"Ayahku?" tanya Eun Chae. "Cepat pergi dari sini!"

Hee Bong menyuruh anak buahnya pergi. Ryung juga pergi tanpa mengatakan apa-apa, berjalan dengan terpincang-pincang.

Bong Soon memaksa untuk membantu memapah Ryung walaupun Ryung menolak mati-matian. "Lepaskan aku!"

"Aku menyuruhmu untuk memukul anak itu, bukan memukul kakimu sendiri!" kata Hee Bong. "Karena itulah aku mengatakan tidak semua orang bisa menjadi orang jahat dengan mudah."

Bong Soon marah-marah pada Hee Bong, membela Ryung.

Dan Ee membawakan makan siang untuk Swe Dol dan meminta maaf. Swe Dol mengatakan bahwa bisnis gemboknya sedang bagus berkat Iljimae. Swe Dol yang mulanya ngambek dengan mudah bisa luluh karena memakan masakan Dan Ee.

Ryung bermain ke rumah Shi Wan. Disana ia bertemu dengan Eun Chae, yang menatap Ryung dengan pandangan marah dan benci.

"Ini adalah adikku, Eun Chae." kata Shi Wan memperkenalkan Eun Chae.

"Aku bertemu dengannya beberapa kali." kata Ryung. "Mungkin kita memang ditakdirkan untuk bertemu. Apakah ini takdir atau semacamnya?"

Eun Chae berjalan pergi dengan marah. Ryung meneriakinya dari belakang. "Apa kau memang berhati dingin, Nona? Atau kau pemalu?" Ryung sengaja membuat Eun Chae tambah marah padanya.

Ryung berpura-pura sakit perut dan meminta izin ke toilet. Shi Wan menunjukkan letak toilet. Ryung memanfaatkan kesempatan ini untuk menyusup ke kamar Eun Chae. Ia mencari mantel Eun Chae dan mengambil kembali mutiara hitam yang sebelumnya disembunyikan. Di ruangan tersebut, Ryung melihat beberapa buah buku. Ia teringat Shi Wan pernah berkata, "Ayahku juga anggota Jeonwoohoe.".

Ryung membuka buku itu. Di sana terdapat nama-nama para anggota yang dicoret dengan tinta merah. Mereka adalah para anggota yang mati. Di sana Ryung melihat nama ayahnya, Lee Won Ho, seorang pemberontak, mati karena bunuh diri.

Ryung sangat terkejut. Tiba-tiba Eun Chae masuk ke ruangan dan mengusir Ryung keluar. "Aku hanya ingin mengembalikan ini." kata Ryung, mengeluarkan saputangan Eun Chae.

Eun Chae menerima saputangan itu dengan kasar. "Keluar sekarang juga!"

Eun Chae membawa beberapa buku, termasuk yang tadi dibaca oleh Ryung, keluar. Seung Seung memanggil Eun Chae dan menceritakan bahwa Iljimae muncul lagi. Eun Chae sangat senang mendengarnya. "Iljimae menyamar kali ini. Ia mencuri Kura-kura Emas di depan semua orang. Orang-orang itu tertipu olehnya." kata Seung Seung bercerita. "Dia juga memasang boneka palsu di atas genteng."

"Dia sangat pintar." ujar Eun Chae kagum. "Sepertinya dia bukan pencuri biasa."

"Benar. Aku juga dengar bahwa dia mengembalikan semua uang yang dicurinya pada pemilik yang sebenarnya."

Ryung mencuri dengar pembicaraan Eun Chae dan Seung Seung. Ia memikirkan sebuah rencana.

Ryung bertemu dengan Shi Hoo. "Kudengar beberapa waktu yang lalu kau melaporkan seorang budak pada polisi. Bukankah orang yang melapor akan mendapat hadiah? Melihat seragam ini, pasti kau belum mendapatkan hadiahnya." Ryung berkata sambil tertawa. Shi Hoo marah dan mendorong Ryung dengan kasar.

Ryung menemui Shi Wan lagi dan berusaha mengorek informasi darinya. "Apa ayahmu snagat menyayangi Eun Chae?" tanya Ryung.

"Bukan hanya menyayangi, Ayah juga memberi tanggung jawab pada Eun Chae untuk mengatur semua laporan rahasia milik Ayah." jawab Shi Wan.

"Laporan rahasia?"

Shi Wan berbisik. "Semua aset milik prajurit, strategi militer dan laporan korupsi."

Shi Wan minum-minum hingga mabuk. Ia tidak bisa melepaskan perasaan dan rasa bersalahnya karena telah menyebabkan kematian Yeon.

Nyonya Han melihat Shi Wan, kemudian duduk diluar, menatap langit. "Geom.. Yeon.. Apakah kalian masih hidup?"

Malam itu, Eun Chae pergi untuk membantu dan mengobati warga terlantai di pemukiman kumuh (yang tadi siang diserang oleh geng Ajik).

Ryung dengan pakaian hitamnya, menyelinap masuk ke kamar Eun Chae dan mencari buku yang tadi siang dilihatnya. Tapi ia tidak bisa menemukan buku tersebut.

Ryung mencari Eun Chae dan melihatnya berada di pemukiman kumuh. Tidak jauh darinya, ada tandu milik Eun Chae. Ia melakukan sesuatu pada tandu tersebut.

Byun Shik memerintahkan Hee Bong untuk menjemput Eun Chae pulang. Jika tidak bisa dengan cara baik-baik, Byun Shik menyuruh Hee Bong membawanya dengan paksa.

Di perjalanan pulang, Ryung mematikan lentera yang dipegang oleh Seung Seung sehingga keadaan menjadi gelap gulita. Ia melompat cepat ke arah tandu hingga tandu sedikit miring, dan kemudian lenyap lagi.

Hee Bong menyalakan lentera lagi. "Pegang yang betul!" omelnya pada Seung Seung.

Ryung menutup mulut Eun Chae dengan tangannya agar Eun Chae tidak bisa bersuara. Ketika para pengawal Eun Chae sudah pergi, perlahan Ryung melepaskan tangannya dari mulut Eun Chae.

Eun Chae menoleh dan terkejut melihat seorang pria berpakaian hitan serta menggunakan penutup wajah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar