Sabtu, 28 Agustus 2010

Jejoongwon (Episode 2)

So Geun Gae sangat terkejut melihat mayat temannya ada dihadapannya dengan keadaan tanpa kepala.

"Bedah mayat itu." kata Baek Do Yang.

"Be.. bedah?" tanya So Geun Gae shock. "Tu.. tuan.. a.. aku tidak.. bisa... Walaupun aku hanya rakyat rendahan, tapi bagaimana bisa kau menyuruhku membedah mayat? Kita harus menghormati orang yang sudah mati."

So Geun Gae mencoba kabur, namun Kepala Polisi Jung Po Gyo mendorongnya hingga jatuh. Ia mengarahkan pedang yang dibawanya pada So Geun Gae.

"Pria ini... adalah temanku.." kata So Geun Gae, menangis. "Ambil saja nyawaku."

"Jadi kau lebih memilih ke kantor polisi dan dieksekusi?" ancam Do Yang. "Cepat ambil pisau itu!"

So Geun Gae menangis dan mengambil pisau dengan tangan gemetaran.Ia tidak sanggup melakukannya. Ia mencoba kabur lagi, namun Po Gyo dengan mudah menjatuhkannya. Ia mengeluarkan pedangnya dan ingin membunuh So Geun Gae.

"Ampuni aku! Ampuni aku!" teriak So Geun Gae ketakutan.

"Jadi kau akan melakukannya?" tanya Do Yang.

So Geun Gae teringat ibunya. Benar, ia harus tetap hidup untuk menyelamatkan ibunya. "Aku akan melakukannya."akhirnya So Geun Gae berkata.

Dengan sangat terpaksa, ia mengambil kembali pisau dan membedah mayat Enam Jari.

Do Yang melihat pembedahan itu dengan penuh perhatian.

So Geun Gae memotong bagian dada dan perut mayat itu dengan cekatan. Di keluarkannya organ dalam di mayat, seperti jantung, paru-paru, hati, ginjal, usus. Dia mengeluarkan semuanya tanpa ada satu pun organ yang rusak.

"Apa kau sudah selesai?" tanya Do Yang. Ia keluar dari balik tirai bambu dan berjalan mendekati. Ia membuka buku yang dipegangnya. Buku tersebut adalah sebuah buku yang berisi gambar-gambar dan keterangan tentang organ dalam manusia.

Do Yang membandingkan gambar dalam buku tersebut dengan organ dalam asli yang dikeluarkan oleh So Geun Gae.

So Geun Gae melihat Do Yang. Ia terkejut, mengingat bahwa Tuan Muda itu adalah orang yang datang ke perjamuan di rumah Tuan Yoo.

"Hmm.." Do Yang mengamati organ tersebut. "Ini pelajaran yang bagus."

"Kau bilang pelajaran?" tanya So Geun Gae, merasakan kemarahan.

Do Yang menoleh pada Po Gyo. "Aku harus pergi. Kubur mayat itu di suatu tempat."

"Ya, Tuan Muda." kata Po Gyo.

"Tunggu." panggil So Geun Gae. "Aku tidak bisa membiarkan dia dikubur dalam kondisi perut yang terbuka seperti itu. Tolongizinkan aku menjahitnya kembali."

"Biarkan dia." ujar Do Yang mengizinkan.

Po Gyo memberikan jarum dan benang pada So Geun Gae agar ia bisa menjahit perut temannya. Setelah itu, So Geun Gae menguburkan mayat tersebut.

"Apa kau sudah selesai?" tanya Po Go. Tiba-tiba ia mengarahkan pedang ke leher So Geun Gae. Karena So Geun Gae sudah selesai mengubur mayat itu, maka Po Gyo hendak membunuhnya untuk menghilangkan jejak. Ia tidak bisa mengambil resiko. So Geun Gae mungkin saja akan melaporkan hal ini pada pihak berwajib.

So Geun Gae ketakutan. Dengan diam-diam, ia mengambil sebuah batu dan memukulkannya di kaki Po Gyo, kemudian berlari kabur.

So Geun Gae sampai di Kedutaan Jepang saat hari subuh. Ia berlari untuk untuk melihat ibunya, namun ibunya sudah tidak ada di sana.

"Ia meninggal tidak lama setelah kau pergi." kata Suzuki.

So Geun Gae tidak percaya dan masuk ke kamar tempat ibunya dibaringkan kemarin. Di sana hanya ada seprei putih yang terkena banyak darah.

Watanabe keluar sambil menguap. "Huaah... Kondisinya terlalu parah. Kami tidak bisa berbuat banyak." katanya acuh.

So Geun Gae segera perlari pulang.

Di rumah, ia menemukan ibunya sudah meninggal. Ayah So Geun Gae berteriak memarahinya.

"Mereka bilang bisa menyembuhkanmu, ayo kita pergi." kata So Geun Gae, tidak mau mengakui bahwa ibunya sudah meninggal.

"So Geun Gae, apa yang kau lakukan?" tanya Ayahnya.

"So Geun Gae, jangan seperti ini!" seru Jak Dae khawatir.

"Kenapa?" tanya So Geun Gae. "Kau pikir aku tidak punya uang?" Ia mengeluarkan uang yang diperolehnya. "Lihat! Aku punya uang. Mereka akan merawatnya jika kita membawa uang. Kau dengar mereka juga kan?"

"Darimana kau dapat uang itu?!" tanya Ayahnya.

So Geun Gae tidak menjawab.

"So Geun Gae, jangan lakukan ini! Ibumu sudah meninggal." kata Jak Dae.

"Tidak! Tidak!" teriak So Geun Gae. Ia menggendong ibunya dipunggung, kemudian keluar dari rumah. Hujan turun dengan lebat.

"Lakukan sesuatu!" kata Ayah So Geun Gae. Ia dan Jak Dae bingung apa yang harus mereka lakukan.

So Geun Gae menggendong ibunya ditengah hujan. Ia berjalan perlahan, namun kemudian terpeleset dan jatuh. Dilihatnya wajah ibunya yang tidak bergerak dengan sedih.

So Geun Gae memeluk ibunya dan menangis.

Raja Gojong berkeliling untuk melakukan survei pada rakyatnya. Ia ditemani oleh Kim Ok Gyun dan Hong Young Shik.

Kim Ok Gyun dan Hong Young Shik adalah orang-orang yang tergabung dalam Organisasti Reformasi untuk modernisasi Chosun. Permaisuri menaruh curiga pada mereka.

Raja Gojong sangat sedih melihat rakyatnya yang sakit tidak mendapat perawatan. Ia ingin segera membangun sebuah rumah sakit untuk mereka, namun sebelumnya ia harus mencari seorang dokter.

Kim Ok Gyun dan Hong Young Shik menyarankan agar Raja menerima bantuan Imperial Jepang, namun Raja masih ragu-ragu.

Jung Po Gyo bekerja di kantor polisi. Tiba-tiba ia melihat beberapa polisi datang dengan ribut-ribut. Ternyata mereka menemukan sebuah mayat di hutan. Organ dalam mayat tersebut telah dikeluarkan, kemudian dijahit kembali.

"Ini adalah pekerjaan tukang jagal." kata Kepala Polisi, melihat baik-baik sobekan di perut mayat. Ia menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki perihal masalah ini dan menangkap orang yang bertangung jawab.

Po Gyo menjadi khawatir.

So Geun Gae dan beberapa warga desa pergi untuk memakamkan ibu So Geun Gae.

Sepulangnya dari pemakaman, mereka melihat beberapa polisi memeriksa rumahnya. Begitu melihat So Geun Gae, Po Gyo langsung memerintahkan anak buahnya menangkap So Geun Gae.

So Geun Gae melarikan diri. Para polisi mengejarnya, namun So Geun Gae berhasil melarikan diri.

Ayah So Geun Gae bertanya pada Go Pyo apa yang telah dilakukan putranya. Go Pyyo menjawab bahwa So Geun Gae telah melakukan pemotongan ilegal. Ayah So Geun Gae sangat terkejut dan sedih. Ia berlari dan memukulkan kepalanya sendiri ke dinding.

"Aku pantas mati! Aku pantas mati!" teriaknya.

Baek Do Yang dipergoki keluar diam-diam dari asrama sekolah dan membaca buku ilegal.

Ia dihakimi dan akan dikeluarkan dari sekolah.

Do Yang tidak merasa bahwa dirinya bersalah. Dengan angkuh dia berkata, "Chosun sedang berada diambang kehancuran karena perubahan zaman. Seorang pelajar akan dikeluarkan dari sekolah jika orang-orang tidak setuju dengan pemikirannya." Ia membuka topi dan membuangnya ke tanah, kemudian berjalan pergi.

Ayahnya sangat marah ketika mengetahu bahwa Do Yang dikeluarkan dari sekolah karena membaca buku kedokteran ilegal. Ia memukul putranya itu, kemudian membakar semua buku milik Do Yang.

Do Yang tetap merasa tidak bersalah. Ia mengambil salah satu buku yang terbakar.

Ia mengakatakan pada ayahnya bahwa Chosun takut dengan perubahan dan perkembangan zaman karena para penguasa takut akan kehilangan kekuasaan mereka. Termasuk ayahnya.

"Usir saja aku!" tantang Do Yang. "Sama seperti yang kau lakukan pada ibu. Kau mengusir ibu karena ia mempelajari ilmu barat. Aku masih ingat dengan jelas saat itu. Keangkuhanmulah yang menyebabkan penderitaan dan kematian ibu. Aku tidak akan membiarkan ayah menghancurkan hidupku juga."

Do Yang bersujud pada ayahnya untuk memberi hormat, kemudian berjalan pergi.

Jak Dae tahu dimana So Geun Gae bersembunyi. Diam-diam ia menemui So Geun Gae dan mengajaknya untuk melihat keadaan ayahnya dari jauh.

So Geun Gae mengintip dari balik pepohonan. Ia melihat ayahnya berlutut dan memohon-mohon pada para polisi.

So Geun Gae sangat sedih. "Ayah, maafkan aku.." gumamnya.

Ia berniat akan pergi meninggalkan kota. Jak Dae memutuskan untuk ikut bersamanya.

Dengan penampilan seperti itu, akan sangat mudah bagi para polisi untuk melihat dan menangkap mereka. Oleh karena itulah, So Geun Gae merampok seorang bangsawan dan pelayannya ketika mereka melintas melewati hutan. Bukan merampok sebenarnya, karena So Geun Gae memberi uang yang ia miliki kepada bangsawan tersebut sebagai pembayaran atas pakaian dan barang yang mereka ambil.

"Kita butuh uang itu untuk pergi ke Jaemulpo!" protes Jak Dae, tapi So Geun Gae menyuruhnya diam.

So Geun Gae mengenakan pakaian si pria bangsawan, sementara Jak Dae mengenakan pakaian si pelayan.

Jak Dae melihat papan nama si pelayan dan menyuruh So Geun Gae membacakan untuknya, karena dia tidak bisa membaca. "Lee Gwak." kata So Geun Gae, membaca papan tersebut.

"Nama yang bagus." ujar Jak Dae. "Apa arti nama ini?"

"Artinya gastroenteritis." jawab So Geun Gae.

"Apa itu?"

So Geun Gae berpikir bagaimana cara menjelaskan pada Jak Dae. "Apa kau ingat saat kau makan makanan beracun dan bocor atas bawah? Itu gastroenteritis."

"Nama macam apa ini?!" kata Jak Dae. "Tapi lebih baik daripada Jak Dae (kegagalan). Kalau kau, siapa namamu?" Jak Dae menunjukkan papan lain milik si bangsawan.

"Hwang Jung." kata So Geun Gae, membaca papan nama itu.

**Mulai sekarang, aku akan mengubah nama So Geun Gae menjadi Hwang Jung.

Hwang Jung menjual buku yang diambilnya dari bangsawan ke sebuah toko buku. Si penjual buku berkata walaupun buku-buku tersebut masih dalam kondisi yang sangat baik, namun permintaan akan buku tersebut jarang, jadi ia tidak bisa membeli dengan harga tinggi.

"Bisa kulihat buku itu?" terdengar suara seorang pria dari belakang mereka. Itu adalah Baek Do Yang.

Ia masuk ke dalam toko dan tersenyum pada Hwang Jung.

Hwang Jung menoleh dan terkejut melihat Do yang. Ia menunduk, takut kalau-kalau Do Yang mengetahui identitasnya.

Do Yang menyerahkan buku yang terbakar kepada si penjual buku untuk diperbaiki. Setelah itu, ia melihat-lihat buku Hwang Jung.

"Sepertinya kau tertarik pada ilmu barat?" tanya Do Yang.

"Aku tertarik, tapi tidak terlalu mengerti." jawab Hwang Jung.

"Ini buku tentang organ manusia?" tanya si penjual buku, melihat buku Do Yang. "Kudengar polisi menemukan sebuah mayat. Seseorang mengeluarkan organ dalam mayat tersebut dan menjahitnya kembali. Saat ini polisi sedang mencari tahu siapa pelakunya."

Hwang Jung dan Do Yang sangat terkejut.

Do Yang memohon diri dan pergi, sementara Hwang Jung meminta uang pembelian bukunya dan terburu-buru pergi.

Hwang Jung asli dan Lee Gwak asli melaporkan pada polisi bahwa mereka telah dirampok. Polisi menggambar wajah para perampok berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan oleh mereka. Jung Po Gyo melihat gambar itu.

"Kudengar mereka akan pergi ke Jaemulpo." kata Hwang Jung asli pada Po Gyo.

Seorang penjaga memanggil Po Gyo karena Do Yang datang menemuinya.

Po Gyo mengatakan bahwa tadi malam ia gagal So Geun Gae. Namun ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari keberadaan So Geun Gae dan membunuhnya.

"Kau harus menemukan dia apapun yang terjadi." kata Do Yang. "Aku akan menunggumu di gubuk. Dengarkan kata-kataku baik-baik, aku tidak terlibat dalam masalah ini."

"Tentu, Tuan."

Po Gyo bersiap-siap pergi. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak, sebuah pistol.

Hwang Jung dan Lee Gwak menuju dermaga untuk pergi dari kota itu. Di sana, ia melihat Seok Ran dan ayahnya sedang duduk, menunggu seseorang.

"Dia sangat cantik." gumam Lee Gwak. Hwang Jung tidak berkata apa-apa dan menariknya pergi.

Seok Ran sedang menunggu seorang dokter bernama Horace Allen. Dokter itu datang dari Amerika.

Dokter Allen berada di sebuah kapal menuju ke Chosun. Orang-orang melihatnya dengan pandangan aneh, karena dia adalah orang bule.

Seorang wanita tiba-tiba berteriak panik karena putranya seperti sedang kesakitan.

Dokter Allen berlari menuju mereka. "Aku bisa membantumu." katanya dalam bahasa Inggris.

Si wanita tidak mengerti dan malah ketakutan. Seorang pria datang ingin menolong si wanita, namun Allen memukulnya hingga jatuh. Di raihnya tangan si anak dan perut anak itu di tekan. Dari mulut si anak, keluar sebuah roti besar. Rupanya ia tersedak.

"Terima kasih, Tuan." kata wanita itu.

Allen berpaling pada pria yang tadi dipukulnya. Pria itu terluka. "Maafkan aku." kata Allen. Ia mengambil peralatan medisnya dan mengobati si pria.

Ia menjadi pusat perhatian. Orang-orang yang menumpang di kapal itu satu per satu meminta diobati.

Allen akhirnya sampai di dermaga. Seok Ran dan ayahnya menyambut Allen dengan hangat, kemudian mengajak Allen menginap di kediaman keluarga Yoo.

Ketika berjalan pulang, mereka melewati Hwang Jung.

Pelayan wanita Seok Ran menatap Hwang Jung. "Nona, aku tidak tahu siapa bangsawan itu, tapi dia sangat tampan." katanya.

Seok Ran penasaran dan menoleh untuk melihat.

Hwang Jung pergi ingin menaiki sebuah kapal, namun tidak ada kapal lagi hari itu karena sudah terlalu sore. Kapal akan berlayar lagi besok pagi.

Hwang Jung terpaksa menginap di penginapan terdekat malam ini.

Allen menginap di rumah keluarga Yoo. Ia memberikan sebuah payung pada Nyonya Yoo dan sekotak kembang api untuk Seok Ran.

Seok Ran sangat senang. Saat hari sudah malam, ia berniat menyalakan kembang api itu.

Jung Po Gyo mencari-cari Hwang Jung kemana-mana dan memeriksa setiap penginapan satu per satu. Akhirnya ia berhasil menemukan Hwang Jung di sebuah penginapan. Ia mengikat Hwang Jung dan membawanya ke pinggir sungai untuk dibunuh. Lee Gwak mengikuti mereka dari belakang secara diam-diam.

Po Gyo menyuruh Hwang Jung memasukkan batu dan tanah ke dalam sebuah karung. Setelah itu, mereka menaiki kapal ke tengah sungai. Po Gyo mengarahkan pistol ke arah Hwang Jung dan memerintahkan agar Hwang Jung mengikat tali karung ke kakinya. Ia berniat membuat Hwang Jung tenggelam di sungai.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan kembang api. Po Gyo menoleh.

Hwang Jung memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri dengan mencebur ke sungai.

Po Gyo menembakkan pistol ke dalam sungai secara membabi buta.

Dua buah peluru mengenai pinggang dan lengan Hwang Jung. Hwang Jung pingsan.

Jung Po Gyo menemui Do Yang di gubuk dan menginformasikan mengenai kematian So Geun Gae.

Seok Ran dan pelayannya bermain kembang api di tepi sungai.

"Nona, kau dengar itu?" tanya pelayan Seok Ran, mendengar suara tembakan.

Seok Ran berjalan ke arah sungai untuk melihat apa yang terjadi. Di dekat jembatan, ia melihat seorang pria terkapar. Tubuhnya dipenuhi banyak darah. Dengan hati-hati dan takut-takut, Seok Ran mendekati pria itu, ingin melihat apakah ia masih hidup atau sudah mati.

"Dia masih bernafas!" seru Seok Ran, terkejut. "Dia adalah bangsawan yang tadi sore!"

"To... Tolong.."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar