Sabtu, 28 Agustus 2010

Jejoongwon (Episode 4)

"Kau tidak akan pergi!" kata Do Yang seraya mengarahkan pedangnya ke leher ayahnya.

"Seperti inikah modernisasi yang kau maksud?" tanya Tae Hyun. "Bunuh saja aku!"

"Aku sedang mencoba menyelamatkan nyawamu!" teriak Do Yang.

Baek Tae Hyun menyingkirkan pedang yang dipegang Do Yang kemudian berjalan ke istana.

Kim Ok Gyun memerintahkan pasukannya untuk membunuh semua pejabat istana yang mentang modernisasi bawaan Jepang.

Di rumah Tuan Mok, para tabib bangsawan mencoba mengobati Min Young Ik dengan cara tradisional, yaitu mengoleskan tubuh Young Ik dengan lumpur sulfur. Para tabib itu percaya bahwa metode yang mereka gunakan akan bisa menghentikan darah dari tubuh Young Ik.

"Bukankah seharusnya darahnya sudah berhenti?" tanya Tuan Yoo. "Dokter sebentar lagi akan..."

"Beraninya kau menganggap bahwa orang asing bisa mengobati orang Korea?" tanya salah seorang tabib. "Kalian semua mengganggu. Keluar dari ruangan ini."

"Tapi..." Tuan Yoo hendak protes, namun seorang tabib sudah mendorongnya keluar.

Beberapa saat kemudian, Dokter Allen tiba. ia bergegas masuk ke dalam ruangan untuk mengobati Young Ik.

"Kau tidak akan mengobati dia!" seru seorang tabib begitu melihat Allen. "Pergi!"

"Waktu kita sempit!" kata Allen. "Kita harus segera menolongnya!"

Tabib menghalangi jalan masuk Allen.

"Kalian pikir orang asing ini bisa menyembuhkan dia?!" tanya seorang tabib. "Aku tidak mempercayainya!"

"Aku akan membuatmu mempercayainya!" kata Hwang Jung, maju untuk bicara.

"Apa yang ingin kau tunjukkan? Apa orang asing ini menyelamatkan nyawamu atau semacamnya?"

"Ya!" jawab Hwang Jung. Ia membuka pakaiannya dan memperlihatkan bekas jahitan operasi yang ada ditubuhnya. "Beberapa waktu yang lalu, aku hampir mati karena tembakan. Tapi Dokter Allen mengobati aku."

Tabib itu tetap mencari-cari alasan. "Dokter yang benar tidak akan menjahit tubuh manusia." katanya. "Jika begitu, apa bedanya dokter dengan pembuat sepatu kulit?"

"Kurasa ini bukan waktunya berbincang tentang hal seperti itu." kata Hwang Jung, mengenakan pakaiannya kembali. "Biarkan kami menyelamatkan nyawa pria itu terlebih dahulu!"

"Apa yang ia katakan benar." kata Tuan Yoo.

"Jadi maksudmu kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya?" tanya tabib itu, masih ngotot.

"Bukan begitu. Yang kami coba katakan adalah bahwa ilmu kedokteran barat dengan ilmu kedokteran Korea berbeda." Tuan Yoo mencoba menjelaskan. "Dan untuk saat ini, ilmu kedokteran barat akan lebih baik."

"Kita harus mengoperasi dia secepatnya." kata Allen.

"Jika terjadi sesuatu pada Tuan Min, kami akan bertanggung jawab. Serangkan semuanya pada Dokter Allen. Kalian dipersilahkan kembali ke rumah."

Tabib-tabib itu masih mencoba protes. Namun seorang tabib tua berseru, "Pasien menolak pengobatan kita. Kenapa kita harus membuang-buang waktu disini?"

Para tabib itu pergi sambil marah-marah.

Seok Ran ingin pergi ke rumah Tuan Mok untuk melihat keadaan, namun ibunya tidak mengizinkan. Ia kembali ke kamarnya. Tiba-tiba ia teringat Dokter Allen berkata bahwa obat-obatan yang ia bawa mungkin tidak akan cukup.

Dengan diam-diam, Seok Ran mengambil obat-obatan tersebut dan mengantarnya ke rumah Tuan Mok seorang diri.

Seseorang memberi tahu Watanabe bahwa Min Young Ik masih hidup. Hal tersebut bisa berbahaya. Ia memerintahkan Watanabe untuk menngurus hal ini a.k.a membunuh Min Young Ik.

Dokter Allen membius Young Ik.

"Apa yang kalian lakukan?" tanya Hwang Jung penasaran.

"Kami membiusnya." jawab Tuan Yoo.

"Ya, kami melakukannya agar pasien tidak terlalu merasakan sakit." kata Allen.

"Kalau begitu, seharusnya kalian menggunakan tetesan itu lebih banyak agar ia tidak merasakan sakit." kata Hwang Jung.

"Tidak bisa." Tuan Yoo berkata. "Terlalu banyak tetesan pembius bisa menyebabkan kematian pasien."

Hwang Jung mengangguk.

"Pertama, gunakan 20 tetes. Setelah itu 40. Lalu 60." Dokter Allen bergumam seraya meneteskan obat bius pada Young Ik.

"Kita harus menemukan urat pembuluh darah." kata Allen. "Mr. Hwang, tolong bantu aku membersihkan darah."

"Ya, Dokter." kata Hwang Jung. Ia mengambil lap untuk membersihkan darah Young Ik yang mengalir keluar.

"Aku menemukannya." kata Dokter Allen seraya menarik sesuatu seperti benang, itulah urat pembuluh darah yang dimaksudkan tadi. "Aku butuh air panas."

"Ya." Hwang Jung bangkit dari duduknya untuk mengambil air panas. Tiba-tiba terdengar seseorang berkata dari luar bahwa Dokter Watanabe dari Kedutaan Jepang datang. Hwang Jung terkejut.

Tuan Yoo bangkit untuk menyambut Watanabe. Hwang Jung mengikuti dibelakangnya.

Watanabe berkata pada Tuan Yoo bahwa datang untuk 'mengobati' Young Ik. Namun Tuan Yoo mengatakan bahwa Dokter Allen sudah merawat Young Ik.

"Tapi bukankah dua dokter lebih baik?" tanya Watanabe. "Aku yakin aku bisa membantu."

Tuan Yoo tidak menjawab lagi. Watanabe berjalan masuk ke dalam rumah, tidak mengenali Hwang Jung.

Di dalam, Dokter Allen sedang menjahit bekas operasi di leher Young Ik.

"Apakah ia punya kesempatan untuk selamat?" tanya Watanabe.

"Walaupun berat, tapi ia masih muda." jawab Allen. "Masih ada harapan. Siapakah orang ini?" tanyanya pada Tuan Yoo.

Tuan Yoo memperkenalkan Watanabe.

Hwang Jung menatap Watanabe dengan pandangan curiga dan benci.

"Apakah kau punya morfin?" tanya Allen pada Watanabe.

"Morfin? Aku tidak..." Wanatabe hendak menjawab, namun tiba-tiba merubah ucapannya. "Ya, aku punya."

Hwang Jung curiga.

"Bagus sekali." kata Allen. "Dia akan kesakitan setelah sadar nanti. Tolong berikan sedikit morfin."

"Ya." Watanabe menjawab.

Watanabe meminta izin keluar. Di luar, ia memasukkan suatu cairan ke dalam suntikan. Hwang Jung datang dan merebut botol dan suntikan yang dipegang Watanabe.

"Obat bius?" tanya Hwang Jung, membaca tulisan di botol tersebut.

"Kembalikan!" Watanabe berusaha mengambil botol itu, namun Hwang Jung mengelak.

"Dia sudah diberikan obat bius. Apa kau berniat membutuh Tuan Min?" tanya Hwang Jung.

"Oh.. apakah itu obat bius?" Watanabe berpura-pura tidak tahu. "Ah, aku melakukan kesalahan."

Watanabe berusaha merebut botol dari Hwang Jung, namun Hwang Jung memojokkan dan mengancamnya dengan suntikan obat bius.

"apa yang kau lakukan?" tanya Watanabe ketakutan.

"Baginikah kau selalu merawat pasienmu?" tanya Hwang Jung. "Kenapa kau tidak mencoba untuk menyelamatkan pasienmu?"

"Ini... Ini kesalahpahaman." kata Watanabe.

Tiba-tiba Tuan Yoo memanggil Watanabe.

"Mereka memanggilku! Mereka butuh bantuanku!" kata Watanabe.

"Aku akan ada di belakangmu. Jika kau membuat sesuatu yang salah, kau akan mati." kata Hwang Jung mengancam. "Kau dengar aku?!"

Watanabe masuk ke dalam rumah. Dari belakangnya, Hwang Jung mengancamnya dengan suntikan agar ia tidak berani macam-macam.

"Apakah kau membawa morfinnya?" tanya Tuan Yoo.

"Aku.. Aku..." Watanabe hendak menjawab, Hwang Jung menusukkan sedikit jarum suntik ke punggung Watanabe. "Kupikir... Kupikir tadi aku membawanya, tapi ternyata tidak."

Dokter Allen kecewa. Ia kemudian berkata, "Bisakah kau menjahit luka itu?"

Watanabe menggeleng, tapi Hwang Jung menusukkan jarum suntik ke punggungnya. Watanabe kesakitan dan menjahit luka Young Ik.

Hwang Jung melihat mereka menjahit dengan seksama. Tanpa sadar, tangannya bergerak mengikuti cara menjahit kedua dokter itu. Ia mampu mempelajari sesuatu hanya dengan sekali lihat. Itulah yang nanti membuatnya menjadi seorang dokter jenius.

Kim Ok Gyun dan Young Shik berusaha meyakinkan Raja.

"Apa katamu?!" tanya Raja pada Ok Gyun. "Semua yang terjadi hari ini disebabkan oleh Cing China?"

"Benar. Bukan hanya menyebabkan kebakaran, mereka juga membunuh para pejabat." kata Ok Gyun.

"Bagaimana dengan Tuan Min? Apakah mereka membunuh keponakanku juga?" tanya Ratu.

"Aku menyesal." kata Ok Gyun, berpura-pura.

"Tidak mungkin!" seru Ratu. "Young Ik punya hubugan yang dekat dengan Cing. Yang Mulia, pasti ini adalah konspirasi. Aku yakin!"

"Yang Mulia. Jangan cemas. Pasukan Jepang sedang berjaga untuk keselamatanmu." kata Ok Gyun. "Yang Mulia harus berusaha membangun lagi pemerintahan yang stabil."

Ok Gyun memberi Raja selembar kertas berisi nama-nama orang yang ia rekomendasikan menjadi pejabat pemerintahan.

"Semua orang itu dari kelompok medernisasimu!" kata Ratu.

Ratu memandangnya dengan pandangan curiga.

Do Yang mengikuti ayahnya ke Istana Kunghyu.

Baek Tae Hyun berseru pada penjaga agar diizinkan masuk.

"Jika Anda ingin masuk, Anda harus meninggalkan pengawalmu disini." kata penjaga.

"Baiklah! Sekarang buka gerbangnya!" kata Baek Tae Hyun. Ia berjalan masuk melewati gerbang.

Diam-diam, Do Yang menyusup masuk ke istana itu.

"Kubilang aku ingiin bertemu Yang Mulia! Kemana kau membawaku?!" Do Yang mendengar ayahnya marah-marah pada penjaga.

"Aku akan membawamu bertemu dengan Raja di dunia yang lain!" kata penjaga itu. Ia mengeluarkan pedangnya dan menebas tubuh Tae Hyun.

"Jangan! Jangan!" teriak Do Yang. Ia maju dan menyerang penjaga itu, memukulinya hingga babak belur. "Ayah! Ayah, apa kau tidak apa-apa?"

Dari belakang, penjaga itu menusuk lengan Do Yang. Do Yang mengelak dan memukul penjaga itu, kemudian menusuknya dengan pedang hingga mati.

Do Yang menggendong ayahnya di punggung. Di jalan, Do Yang bertemu dengan Jak Dae dan meminta pertolongannya.

Di rumah Tuan Mok, Dokter Allen dan Watanabe sudah selesai mengoperasi dan menjahit luka Young Ik. Watanabe memohon diri pamit, seraya memegangi punggungnya yang kesakitan.

Dokter Allen berkata bahwa ia membutuhkan alkohol agar luka Young Ik tidak infeksi. Sayang sekali alkoholnya sudah habis.

Tiba-tiba Seok Ran datang dan membawakan bahan-bahan yang dibutuhkan Allen. Tuan Yoo memarahinya.

Hwang Jung meminta izin mengantarkan Seok Ran pulang.

"Nona, ayahmu sangat mengkhawatirkanmu." kata Hwang Jung, berjalan bersama Seok Ran.

"Dia mungkin marah, tapi dia juga bangga padaku." kata Seok Ran. "Dia berpikir bahwa aku mandiri seperti laki-laki. Lagipula kalian membutuhkan obat-obatan. Jika bukan karena aku, kalian mungkin akan ada dalam masalah. Ayah tidak akan marah terlalu lama."

"Ya, kau benar." kata Hwang Jung, tersenyum, "Tapi kau tetap saja harus berhati-hati."

Seok Ran marah-marah. "Aku ini bukan bantal. Perempuan juga punya otak. Aku mengkhawatirkan ayahku."

Hwang Jung menunduk. "Ya, kau benar. Maafkan aku. Maafkan aku." Hwang Jung membungkuk untuk minta maaf.

"Kau tidak perlu minta maaf." kata Seok Ran, tertawa. "Kau mengingatkan aku pada Chil Bok."

"Chi.. Oh, Chil Bok!" kata Hwang Jung tertawa aneh. Chil Bok adalah pelayan Seok Ran yang sering bertingkah konyol.

Seok Ran bertanya kenapa Hwang Jung tiba-tiba pergi dari rumah. Hwang Jung menjawab bahwa ia takut menjadi beban bagi keluarga Seok Ran.

"Kau telah menyelamatkan ayahku." kata Seok Ran, Ia membungkuk pada Hwang Jung. "Terima kasih."

Hwang Jung ikut membungkuk. "Tidak, tidak apa-apa."

"Aku tidak salah menilai orang." kata Seok Ran, tersenyum. "Aku tahu kau pasti bukan orang jahat."

Hwang Jung dan Seok Ran berjalan lagi, menuju rumah.

"Apa rakyat kecil juga bisa menjadi dokter?" tanya Hwang Jung.

"Tentu saja. Jika ia terbiasa dengan pisau." jawab Seok Ran. "Kalau disini, mungkin... tukang jagal!"

"Tu.. tukan jagal?" tanya Hwang Jung, dalam hati muncul sedikit harapan dan terhibur. "Tapi.. bu.. bukankah itu terlalu berlebihan?"

"Tukang jagal pandai menggunakan pisau dan mereka juga membuat sepatu kulit. Jadi mungkin mereka juga bisa menjahit." kata Seok Ran.

Seok Ran sampai di rumah. "Terima kasih karena sudah mengantarku." kata Seok Ran.

"Seok Ran!" Do Yang berteriak, berlari-lari. "Sok Ran, ayahku terluka."

"Jak.. Gwak!" seru Hwang Jung begitu melihat Jak Dae a.k.a Lee Gwak.

"So Geun... Tuan!" seru Gwak.

"Kita tidak punya waktu lagi! Cepat bawa ayahku ke dalam!" seru Do Yang.

Gwak membaringkan Baek Tae Hyun di tempat tidur.

"Kita butuh Dokter Watanabe." kata Do Yang.

"Kurasa itu bukan ide yang bagus." kata Hwang Jung. "Watanabe mencoba membunuh Min Young Ik. Itu cerita yang panjang, tapi kau harus mempercayaiku. Aku melihatnya sendiri dengan mataku. Mungkin lebih baik jika kita menjemput Dokter Allen. Aku akan menjemputnya."

"Biar aku ambilkan kuda!" kata Seok Ran.

"Kuda?" tanya Gwak. "Tuanku tidak bisa mengendarai kuda."

"Aku.. aku pernah jatuh dari kuda ketika aku masih kecil." kata Hwang Jung berbohong. "Maafkan aku."

"Kalau begitu biar aku saja yang pergi!" kata Seok Ran

"Tidak." bantah Do Yang. "Tidak aman diluar sana. Aku saja yang pergi. Ayah, kau harus bertahan sampai aku kembali."

Do Yang pergi, sementara Seok Ran menyiapkan segala sesuatu untuk Dokter Allen begitu Dokter Allen tiba nanti.

Hwang Jung membersihkan darah yang terus-menerus keluar dari luka Baek Tae Hyun. Gwak menemaninya.

"Kau masih hidup." kata Gwak senang. "Kupikir kau sudah mati."

"Itu cerita yang panjang. Aku akan mengatakan padamu nanti." kata Hwang Jung, cemas menatap Tae Hyun.

Perut Gwak mendadak berbunyi. "Aku belum makan beberapa hari. Mungkin aku akan mati sebelum pria itu."

Gwang Jung menyuruh Gwak mencari makanan di belakang.

Do Yang telah sampai ke rumah Tuan Mok dan menjemput Dokter Allen.

Hwang Jung bingung apa yang harus dilakukan. Darah yang keluar dari tubuh Tae Hyun tidak juga berhenti.

"Kakak! Kakak!" tiba-tiba seorang pria datang dan berteriak-teriak panik. Ia adalah adik Baek Tae Hyun, Baek Kyu Hyun. "Kakak!!" teriaknya histeris. "Ini Kyu Hyun! Apa yang terjadi padamu?!"

Kyu Hyun melihat peralatan kedokteran yang ada di hadapan Seok Ran. "Apa kau dokter?!" tanyanya pada Hwang Jung. "Apa yang kau lakukan? Cepat lakukan sesuatu!"

"Tuan Muda Do Yang sedang menjemput Dokter." kata Seok Ran.

"Ya." kata Hwang Jung. "Dokter akan datang sebentar lagi untuk menghentikan pendarahan dan menjahit..."

"Luka." bantu Seok Ran.

"Maksudmu dokter asing?" tanya Kyu Hyun, panik bukan main.. "Baik, baik, aku tidak peduli siapa. Yang penting bawa seseorang untuk mengobatinya!"

Do Yang dan Dokter Allen dalam perjalanan.

"Dimana dokternya?" tanya Kyu Hyun.

Tae Hyun sadar. "Kyu.. Kyu Hyun... Dimana Do Yang?"

"Dia.. dia sedang menjemput dokter." jawab Kyu Hyun. "Dia akan datang sebentar lagi. Bertahanlah. Kenapa kau tidak mendengarkan Do Yang? Kenapa kau biarkan hal ini terjadi padamu?"

"Dia punya hati yang baik." kata Tae Hyun. "Do Yang-ku... Do Yang-ku..."

Tae Hyun tidak sadarkan diri lagi.

"Dia pasti akan mati jika kita melakukan sesuatu!" seru Kyu Hyun. "Kau! Lakukan sesuatu!"

Hwang Jung bingung.

"Kau sudah pernah melihat saat dokter melakukan perawatan kan? Itu artinya kau bisa melakukannya!" kata Kyu Hyun.

"Tapi.. tapi aku bukan dokter." kata Hwang Jung menolak.

"Ini bukan saatnya memikirkan itu!" paksa Kyu Hyun. "Jika kita tidak melakukan sesuatu, dia pasti mati!"

"Kita tidak tahu apakah ia masih hidup saat dokter sampai." Seok Ran berkata.

"Aku mohon padamu. Tolong lakukan apa yang dilakukan dokter!" Kyu Hyun memohon-mohon. "Kita tidak bisa membiarkannya mati."

Hwang Jung ragu dan menatap Tae Hyun yang sedang sekarat. Ia teringat ibunya.

Hwang Jung lalu melepas topinya.

"Tuan..." Seok Ran terkejut.

"Ia benar. Kita tidak bisa membiarkannya mati." kata Hwang Jung.

"Benar, benar!" Kyun Hyun sependapat.

Seok Ran ragu sesaat. "Aku akan membantu." katanya akhirnya.

"Kita akan membiusnya terlebih dahulu." kata Hwang Jung. Ia mengambil botol obat bius.

"Pertama 20 tetes." Hwang Jung teringat Dokter Allen berkata. Ia melakukan apa yang dikatakan Allen. "Setelah itu 40, lalu 60 tetes."

"Terlalu banyak obat bius bisa membunuh pasien." teringat Tuan Yoo pernah berkata.

Hwang Jung berpikir. Ia menghentikan tetesan obat bius itu.

"Kurasa itu tidak cukup." ujar Seok Ran.

"Dia sudah tua, jadi kurasa dia tidak membutuhkan obat bius terlalu banyak." ujar Hwang Jung. Betul sekali.

Hwang Jung mencuci tangannya.

"Kita harus menemukan urat pembuluh darah." Ia teringat Dokter Allen berkata.

Hwang Jung membuka sedikit sobekan luka di tubuh Tae Hyun, dan memasukkan tangannya ke dalam luka itu. Seok Ran memalingkan wajah.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Kyu Hyun.

Hwang Jung mencari urat pembuluh darah dan menemukannya. Setelah itu, ia menjahit di sana, seperti yang pernah dilakukan Dokter Allen. Apa yang dilakukan Hwang Jung persis sama dengan apa yang dilakukan Dokter Allen.

Pelayan Seok Ran, Chil Bok, mengintip mereka dan berteriak ketakutan, memanggil Nyonya Yoo dan Mak Saeng. Ia memberi tahu bahwa Seok Ran dan Hwang Jung melakukan sesuatu pada Tae Hyun.

Nyonya Han dan Mak Saeng masuk. Lalu berteriak karena melihat banyak darah.

Seok Ran mendorong ibunya agar keluar.

Hwang Jung menjahit luka Tae Hyun. Tiba-tiba ia berhenti, menyadari ada sesuatu yang aneh.

"Ada apa?" tanya Kyu Hyun. "Kenapa kau berhenti?"

"Ada yang aneh." kata Hwang Jung.

"Apa?" tanya Seok Ran.

"Pendarahannya berhenti."

"Bukankah itu karena kau menutup urat pembuluh darah?" tanya Seok Ran, cemas.

"Tidak, pendarahan dari lukanya berhenti." kata Hwang Jung. Ia memeriksa nadi Tae Hyun.

"Jadi..." Seok Ran berkata panik seraya mengambil sesobek kertas kecil. Tidak ada napas. Baek Tae Hyun telah meninggal dunia.

"Kakak!" teriak Kyu Hyun menangis.

Nyonya Yoo dan pelayannya ketakutan.

"Habislah keluarga kita!" kata Nyonya Yoo.

"Kenapa mereka harus menyentuhnya?!" seru pelayan keluarga Yoo.

"Dia sudah setengah mati ketika aku membawanya kemari!" bela Lee Gwak.

Beberapa saat kemudian Do Yang dan Dokter Allen tiba sambil berlari-lari.

Do Yang segera berlari masuk ke ruangan tempat ayahnnya berbaring.

"Ayah!" seru Do Yang.

Dokter Allen langsung memeriksa Tae Hyun.

Hwang Jung duduk di pojok ruangan dengan wajah pasrah dan bersalah. Tidak bergerak dan berkata apapun.

"Dia meninggal." kata Dokter Allen.

Do Yang shock. Kyu Hyun menangis dan berteriak-teriak disampingnya, "Kakak! Kenapa kau tidak menunggu Do Yang?"

Dokter Allen melihat jahitan di luka Tae Hyun. "Ini. Siapa yang melakukan ini?" tanyanya.

Do Yang melihat jahitan tersebut. "Siapa yang melakukan ini?" tanyanya marah. "Siapa yang berani menyentuh tubuh ayahku?!"

Kyu Hyun menunjuk Hwang Jung. "Dia! Dia yang memaksa ingin melakukannya!"

Do Yang menatap Hwang Jung dengan pandangan kemarahan. "Kau! Apa yang kau tahu?!"

"Tuan Muda, saat itu keadaan sedang darurat." Seok Ran mencoba membela Hwang Jung. "Karena itu..."

Do Yang mendorong Seok Ran ke pinggir dan menarik kerah baju Hwang Jung. "Beraninya kau!"

Hwang Jung tidak bergeming sama sekali.

Do Yang menangis. Ia menarik Hwang Jung keluar dan mendorongnya hingga jatuh ke tanah.

"Tuan Muda!" teriak Seok Ran, menghalangi Do Yang. Tapi ibunya menarik Seok Ran menjauh.

"Aku akan membunuhmu!" teriak Do Yang. "Kau seharusnya menunggu sampai aku datang! Segawat apapun keadaannya! Aku juga tahu bagaimana membius dan mengoperasi pasien, tapi aku tidak melakukannya karena aku bukan dokter! Tapi kau... beraninya kau menyebabkan ayahku mati!"

Do yang mencekik leher Hwang Jung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar