Sabtu, 28 Agustus 2010

Jejoongwon (Episode 10)

Seok Ran sangat terpukul melihat Hwang Jung mengemis-ngemis di kaki Chung Hwan agar diizinkan tinggal di Jejoongwon.

Tanpa berkata apa-apa. Hwang Jung berjalan pergi.

Seok Ran hendak mengejar, namun Do Yang menahannya, kemudian mengajaknya bicara.

"Kenapa kau menyamar menjadi laki-laki?" tanya Do Yang. "Apakah kata-kataku saat itu begitu membuatmu kesal?"

"Itu memang salah satu penyebab." jawab Seok Ran jujur. "Tapi yang lebih penting, aku ingin menguji kemampuanku."

"Peringkat tertinggi?" tanya Do Yang, tersenyum. "Kau benar-benar berusaha dengan baik pada ujian."

"Itu bukan sepenuhnya kemampuanku." kata Seok Ran sedih. "Aku bisa lolos karena berada satu kelompok dengan Tuan Hwang."

Do Yang kelihatan tidak senang mendengar Seok Ran menyebut nama Hwang Jung. "Aku ingin minta maaf atas apa yang aku katakan padamu saat itu. Aku meremehkanmu."

"Tidak apa-apa."

"Tidak. Maafkan aku." kata Do Yang, membuat Seok Ran tersenyum tipis. "Mulai sekarang, aku akan bertanya padamu jika menemui kesulitan."

"Aku tidak cukup baik."

"Kau cukup baik. Seribu kali lebih baik daripada Hwang." kata Do Yang sinis. "Sebagai pelajar, ia seharusnya menerima kegagalannya dengan hormat. Tapi dia menunjukkan sisi yang mengecewakan."

Seok Ran hampir menangis. "Apakah ia memohon pada Tuan Oh karena ia gagal dalam ujian?" tanya Seok Ran merasa bersalah.

"Itu karena ia tidak lagi punya hak tinggal di Jejoongwon."

Seok Ran menemui Dokter Allen dan menyatakan persetujuannya untuk menjadi perawat wanita. Allen senang sekali mendengarnya.

"Apa.. yang akan terjadi pada Tuan Hwang?" tanya Seok Ran.

"Ia harus pergi besok, setelah pelantikan selesai." kata Allen. "Aku ingin membantunya, tapi tidak ada yang bisa kulakukan."

Seok Ran mencari-cari Hwang Jung, dan menemukannya sedang duduk seorang diri dengan sedih. Seok Ran pergi tanpa menemui Hwang Jung.

Seok Ran pulang ke rumahnya. Disana, ia membuka kotak stetoskop yang hendak diberikannya pada Hwang Jung.

Pikiran berkelibat di kepalanya. Akhirnya, Seok Ran memutuskan mengaku pada ayahnya.

Ayahnya sangat terkejut dan marah.

Seok Ran menyatakan keinginannya untuk mengaku agar Hwang Jung bisa lolos. Namun Tuan Yoo melarangnya, takut anaknya akan dihukum.

"Jika ayah menjadi aku, apa yang akan ayah lakukan?" tanya Seok Ran sedih.

"Kau tidak boleh ikut campur dalam masalah ini." Tuan Yoo bersikeras, dan tidak mengizinkan Seok Ran datang ke Jejoongwon besok.

Seok Ran menangis.

Gwak mencoba menghibur Hwang Jung dengan membawakan arak dan makanan.

Gwak bercerita bahwa Ma Dang Gae menganggap Hwang Jung sudah meninggal.

"Apakah aku harus mengatakan padanya bahwa kau masih hidup, tapi aku tidak tahu dimana kau?" tanya Gwak.

"Tidak." jawab Hwang Jung. "Jangan mengatakan apapun. Aku sudah mati untuknya, walaupun aku masih hidup."

"Benar." Gwak sependapat. "So Geun Gae sudah mati."

Hwang Jung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.

"Kau tidak akan meninggalkan aku lagi kan?" tanya Gwak khawatir.

"Aku tidak akan melarikan diri lagi." kata Hwang Jung.

Hwang Jung berjalan keluar, memandang Jejoongwon dengan seksama seakan ia tidak akan pernah melihat Jejoongwon lagi.

Keesokkan harinya, Gwak berlari-lari mencari Hwang Jung karena Hwang Jung tiba-tiba menghilang. Ia bertanya pada Allen.

Hwang Jung ternyata tidak melarikan diri. Ia sedang ada di belakang untuk merendam peralatan medis di dalam air panas agar steril. Ia kemudian membawa peralatan medis tersebut ke ruangan Allen dan meletakkannya di atas meja.

Hwang Jung melepas perban di tangannya. Kini tangannya sudah pulih.

Hwang Jung mengambil kotak sampah di ruangan Allen dan membuangnya di belakang.

Baek Kyu Hyun datang dan menendang tempat sampah tersebut, membuat isinya berceceran di tanah.

"Kenapa kau masih ada di sini?" tanya Kyu Hyun.

"Aku masih asisten di Jejoongwon." jawab Hwang Jung sabar.

"Begitukah? Kau harus pergi setelah pelantikan." kata Kyu Hyun kasar. "Oh iya, jangan lupa meninggalkan pakaian ini disini. Pakaian itu milik Jejoongwon."

Gwak dan Allen muncul.

Hwang Jung tersenyum pada Gwak dan membereskan sampah-sampah yang berceceran.

Allen melihatnya dengan sedih.

Tuan Yoo mendampingi arak-arakan pengantar Raja Gojong dan Ratu untuk pergi ke Jejoongwon.

Di sisi lain, Seok Ran sudah menyamar menjadi laki-laki dan berjalan menuju Jejoongwon.

Min Young Ik sudah tiba di Jejoongwon. Ia memerintahkan para peserta untuk bersiap-siap karena Raja dan Ratu akan segera tiba.

Baek Kyu Hyun mencari Yoo Seok Hwan.

"Aku Yoo Seok Hwan." kata Seok Ran, muncul dari belakang.

Kyu Hyun mengajak Seok Ran masuk. Di sana, ia bertemu dengan Hwang Jung. Seok Ran memberi isyarat agar Hwang Jung diam. Hwang Jung berjalan pergi.

Dokter Allen dan Young Ik berjalan ke arah mereka. Kyu Hyun memperkenalkan Seok Hwan pada mereka.

Kyu Hyun kemudian memanggil Do Yang dan Chung Hwan.

"Maafkan aku, aku tidak bisa ikut dalam pelantikan." kata Seok Ran.

"Apa maksudmu?" tanya Young Ik.

Mendadak Do Yang, Chung Hwan dan Kyu Hyun datang. Do Yang melihat Seok Ran dengan cemas.

"Ia baru saja mengatakan padaku bahwa ia tidak bisa ikut dalam pelantikan." kata Young Ik.

"Apa?! Apa maksudmu?" tanya Chung Hwan.

"Ibuku sedang sakit dan aku harus menjaganya." kata Seok Ran berbohong. "Aku tidak bisa masuk ke sekolah."

"Apakah kau bawa surat pengunduran diri?" tanya Chung Hwan.

Seok Ran mengangguk dan menyerahkan sebuah surat.

"Tanganmu seperti perempuan." kata Chung Hwan, menerima surat Seok Ran.

Kyu Hyun melihat Seok Ran baik-baik, dan ingin mendekat untuk melihat lebih jelas. "Kau..."

Do Yang menghalangi Kyu Hyun mendekati Seok Ran. "Ayo kita mulai pelantikan.." kata Do Yang.

Kyu Hyun mendorong Do Yang dan membuka kacamata dan kumis palsu Seok Ran.

"Nona Yoo?" tanya Allen.

"Bukankah kau putri Tuan Yoo?" tanya Young Ik.

"Maafkan aku." Seok Ra bergumam takut.

Seok Ran dibawa ke sebuah ruangan. Mereka berunding.

Chung Hwan menyarankan pada Young Ik agar membawa Seok Ran ke polisi.

"Dia sudah mengakui kesalahannya dan datang untuk mengundurkan diri." bela Allen. "Maafkan dia."

"Memaafkan dia?" tanya Chung Hwan. "Apa kau lupa perintah yang diberikan Yang Mulia tentang peserta yang tidak jujur? Kejahatan ini tidak hanya menjadi tanggung jawabnya seorang, tapi juga tanggung jawab keluarganya!"

Seok Ran menangis dan bersujud di depan mereka. "Aku telah melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Tapi... tolong jangan hukum orang tuaku. Aku hanya ingin menguji kemampuanku."

"Menguji kemampuanmu?" tanya Young Ik. "Lalu, untuk apa kau datang kemari dan mengundurkan diri?"

"Jika aku tidak mengatakan hal yang sebenarnya, maka seseorang tidak akan bisa masuk Jejoongwon karena kesalahanku." ujar Seok Ran, menangis.

"Ya, kau benar." kata Young Ik. Ia menoleh pada Chung Hwan. "Siapa kandidat selanjutnya? Kau seharusnya memiliki peringkat selanjutnya."

Kyu Hyun menyembunyikan perkamennya. Young Ik memaksanya menyerahkan perkamen tersebut.

Saat itu, Hwang Jung sedang mencuri dengar pembicaraan mereka dari luar.

"Hwang Jung. Dia adalah kandidat selanjutnya." kata Young Ik.

Do Yang menatap Seok Ran. "Apa?!"

"Oh, jadi kau berkomplot dengan Hwang!" kata Kyu Hyun. Ia bangkit dan menarik Seok Ran. "Aku tidak bisa melepaskan masalah ini. Ayo, ikut aku ke kantor polisi!"

"Jangan lakukan itu!" seru Hwang Jung, tiba-tiba menyerbu masuk ke dalam. "Ini bukan seperti yang kalian kira. Dia melakukan ini karena dia tahu aku ingin tinggal di Jejoongwon. Tolong maafkan dia dan hukum aku."

Kyu Hyun terus-menerus mengomel dan memprovokasi. Chung Hwan menyarankan pada Young Ik agar menunda masalah ini sampai pelantikan selesai. Dia ingin mengurangi peserta yang lolos menjadi 11 orang.

"Tunggu! Aku ingin menyelesaikan hak ini." kata Young Ik. "Peringkat tertinggi, Yoo Seok Hwan... Maksudku, Yoo Seok Ran... akan didiskualifikasi karena melakukan kecurangan. Sebagai gantinya, kami akan mengizinkan kandidat ke 13, Hwang Jung, untuk masuk menggantikannya."

Seok Ran dan Hwang Jung terkejut, namun merasa lega. Dokter Allen tersenyum senang. Do Yang menatap dengan pandangan benci, namun tidak mengatakan apapun.

"Aku akan membawamu ke kantor polisi! Tunggu saja!" kata Kyu Hyun mengancam Seok Ran.

"Aku belum selesai!" seru Young Ik kesal. "Aku memerintahkan pada kalian agar bersikap seolah masalah ini tidak pernah terjadi. Ayo kita mempersiapkan pelantikan."

Chung Hwang protes. "Ini melanggar peraturan! Bagaimana bisa kau membiarkan masalah ini selesai tanpa memberikan hukuman?"

"Apa kau ingin semua orang tahu bahwa seorang wanita mengalahkan semua peserta laki-laki?" tanya Young Ik menusuk.

Chung Hwan dan Kyu Hyun terpaksa diam. Di luar, pengawal berteriak Raja sudah datang.

Mereka semua berjalan keluar, kecuali Hwang Jung dan Seok Ran.

"Nona... Terima kasih." kata Hwang Jung.

"Akulah yang seharusnya berterima kasih." balas Seok Ran.

Young Ik menyambut Raja dan Ratu.

Tuan Yoo mendekati Young Ik. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." katanya. "Aku tidak tahu apakah ini sudah terlambat atau belum, tapi ada seorang kandidat yang tidak jujur."

Young Ik tersenyum. "Lalu?"

"Kau harus mengeluarkan dia dan membiarkan orang lain menggantikan tempatnya."

"Maksudmu, aku harus mengeluarkan Yoo Seok Hwan dan menggantikannya dengan Hwang Jung?" tanya Young Ik. Tuan Yoo bingung. Young Ik menjelaskan, "Yoo Seok Hwan datang untuk mengundurkan diri dan aku menerimanya."

Tuan Yoo tersenyum lega.

Di tempat lain, tepatnya di rumah bordir, beberapa pengawal datang dan menanyakan siapa diantara pada wanita penghibur yang bersedia menjadi perawat di Jejoongwon. Dengan berbagai fasilitas dan keuntungan yang diberikan, ada tiga orang yang bersedia menjadi perawat, termasuk Miryung.

Pelantikan dimulai.

Do Yang naik menjadi peringkat pertama. Ia menggantikan Seok Ran untuk membawa stempel.

Setelah itu, Dokter Allen meletakkan lambang murid Jejoongwon di pakaian para kandidat.

"Selamat, Tuan Hwang." kata Allen ketika mengenakan lambang tersebut pada Hwang Jung.

Seok Ran tersenyum melihatnya.

Gwak dan Mong Chong juga menjadi pegawai di Jejoongwon. Anak-anak jalanan yang dipimpin Mong Chong juga ikut ke Jejoongwon.

Murid-murid memperlakukan Hwang Jung dengan buruk dan menghinanya habis-habisan. Hwang Jung hanya menanggapi mereka dengan diam. Hanya Go Jang Geun yang bersikap baik padanya.

Dokter Allen mengantarkan para murid Jejoongwon ke kelas, kemudian ke laboratorium, ke perpustakaan, dan ke kamar. Hwang Jung satu kamar dengan Go Jang Geun. Do yang satu kamar dengan Je Wook.

Keesokkan harinya, para murid makan bersama. Menu mereka kali adalah sup ayam. Dokter Allen meminta mereka menyisihkan tulang ayam.

Hwang Jung menoleh ke arah Do Yang, yang menyisihkan dan mengatur tulang ayamnya sedemikian rupa.

Saat di kelas, Dokter Allen meminta murid-murid menyusun tulang ayam menjadi kerangka ayam yang utuh.

Do Yang sudah menyiapkan itu dengan menngatur tulang ayam sehingga ia tahu bagian-bagiannya. Sementara Hwang Jung, tidak mengatur seperti Do Yang. Namun ia bisa menyusun kerangka dengan baik.

Do Yang berhasil menyelesaikan kerangkanya lebih dulu dibanding teman-temannya.

Tiba-tiba Seok Ran datang dan mengatakan bahwa sedang ada pasien sekarat.

"Baik, aku mengerti." kata Allen, ia menoleh pada Hwang Jung. "Tuan Hwang."

Hwang Jung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.

"Tuan Baek." Allen memanggil Do Yang.

"Ya." jawab Do Yang berharap.

"Ambil alih kelas selama aku keluar." kata Allen.

Do Yang kecewa.

Dokter Allen melakukan operasi pada pasien. Hwang Jung dan Seok Ran membantunya.

Murid-murid di kelas keluar, ingin melihat jalannya operasi.

Dengan diam-diam, Je Wook menjatuhkan kerangka ayah Hwang Jung dan menginjaknya hingga hancur. Kim Don hanya melihat sikap mereka dengan tertawa sinis.

Anak-anak mengintip ruang operasi.

Dokter Allen menyuruh Hwang Jung menjahit luka pasien.

"Tapi aku belum mempelajari itu, Dokter." kata Hwang Jung ragu.

Dokter Allen meyakinkannya. "Sebelum kau menjadi murid kedokteran, kau sudah menjadi asistenku. Lagipula, aku sudah mengetahui kemampuanmu dalam menjahit luka."

Seok Ran menyerahkan peralatan operasi pada Hwang Jung.

Hwang Jung melaksanakan tugasnya.

Operasi selesai. Allen heran melihat murid-muridnya ada di depan ruang operasi. "Ada apa ini?" tanyanya.

"Kami sudah menyelesaikan tugas kami dan datang untuk melihat operasi." kata Do Yang angkuh. "Bukankah itu bisa membantu mempelajari operasi?"

"Ya, benar." kata Allen.

"Kami bermain dengan tulang ayah sementara seseorang mengobati pasien." kata seorang murid. ""Itu sangat tidak adil."

"Kau menyukai murid terburuk disini." kata murid yang lain.

"Kalau begitu, lebih baik aku menjadi peringkat terakhir."

"Do Yang menyelesaikan tugasnya lebih dulu, tapi kau membawa murid paling buruk." kata Je Wook.

"Tuan Hwang adalah asisten di Jejoongwon sebelumnya." kata Seok Ran membela Hwang Jung.

"Aku mengerti apa yang kalian katakan." kata Allen. "Tapi kalian belum siap mengobati pasien."

Para perawat baru yang diambil dari rumah bordir tiba di Jejoongwon.

"Namaku Miryung." kata Miryung memperkenalkan diri seraya berlutut memberi hormat.

"Namaku Chungji." kata yang lain memberi hormat.

"Namaku Allen dari Jejoongwon." Allen ikut berlutut, namun Seok Ran membantunya berdiri. Laki-laki tidak perlu melakukannya.

Dokter Allen meminta Seok Ran mengajari para perawat.

Tiba-tiba Chung Hwan datang. Ia meminta Allen dan Seok Ran masuk ke sebuah ruangan bersamanya.

Chung Hwan mengatakan bahwa kondisi keuangan Jejoongwon sedang kritis, jadi mereka harus memotong pengeluaran. Chung Hwan memecat Seok Ran.

Allen mencoba menentang, tapi Chung Hwan bersikeras.

Seok Ran sangat terpukul mendengarnya. Matanya berkaca-kaca.

Do Yang-lah yang menyuruh Chung Hwan memecat Seok Ran untuk suatu alasan.

Di pihak lain, Ma Dang Gae mendapat pelanggan baru yang memesan daging darinya. Pelanggan tersebut tidak lain adalah Jejoongwon.

Malamnya, Seok Ran makan malam bersama keluarganya.

Nyonya Yoo senang karena Seok Ran keluar dari Jejoongwon, sementara Tuan Yoo menghibur Seok Ran.

"Seok Ran, jangan bersedih." kata Tuan Yoo. "Kesempatan pasti akan datang lagi. Kau harus bersabar."

"Ya, Ayah." kata Seok Ran, tersenyum.

Di Jejoongwon, Hwang Jung mengeluarkan hiasan yang diberikan Seok Ran untuknya. Kebetulan Go Jang Geun masuk setelah mandi dan hendak melihat hiasan yang dipegangnya, namun Hwang Jung melarangnya.

Tiba-tiba Do Yang memanggil Hwang Jung dan mengajaknya bicara.

"Seok Ran tidak bisa lagi menjadi perawat wanita di Jejoongwon." kata Do Yang pada Hwang Jung. "Dia berada dalam bahaya saat berusaha membuatmu bersekolah di sini. Tidakkah kau mengkhawatirkannya?"

"Kenapa? Kenapa dia keluar? Bukankah dia suka bekerja disini?" tanya Hwang Jung.

"Dia tidak keluar. Dia dipecat." kata Do Yang. "Dengan tiga perawat disini, keuangan Jejoongwon tidak akan cukup."

"Itu konyol." kata Hwang Jung. "Pekerjaan Nona Seok Ran dan para perawat berbeda."

"Itulah yang kumaksudkan." kata Do Yang. "Tidakkah kau mengerti? Seok Ran dipecat karena memasukkanmu ke Jejoongwon. Kau telah membuatnya kehilangan kesempatan mempelajari kedokteran sebagai seorang wanita."

Do Yang terus-menerus menyalahkan dan menekan Hwang Jung. Ia meminta Hwang Jung menjauhi Seok Ran agarhidup Seok Ran tidak lagi berada dalam bahaya.

Hwang Jung masuk kembali ke kamarnya dan berpikir. Memang benar, ia sudah sering membuat Seok Ran berada dalam bahaya.

Hwang Jung pergi ke rumah keluarga Yoo untuk menemui Seok Ran.

"Kudengar kau meninggalkan Jejoongwon." kata Hwang Jung.

Seok Ran tersenyum. "Aku tidak apa-apa." jawabnya. "Apa kau datang kesini hanya untuk menanyakan itu? Kau pasti lapar, bagaimana jika kau menemui ayahku dan makan bersama kami? Bukankah kau ingin melanjutkan belajar bahasa Inggris?"

"Nona, kurasa aku sudah bisa belajar bahasa Inggris sendiri sekarang." kata Hwang Jung.

"Benar. Jejoongwon akan mengajarimu." kata Seok Ran, tersenyum.

Hwang Jung mengeluarkan hiasan milik Seok Ran. "Aku ingin mengembalikannya padamu. Hiasan ini bukan milikku."

"Tapi kau tidak perlu..."

"Tidak!" seru Hwang Jung cepat. Ia menyerahkan hiasan itu pada Seok Ran.

Seok Ran kelihatan terpukul dan sedih, namun menerima hiasan itu dari Hwang Jung.

"Sekarang, karena kau sudah meninggalkan Jejoongwon, maka kurasa kita tidak akan bisa bertemu lagi." kata Hwang Jung, memaksakan untuk tersenyum.

Mata Seok Ran berkaca-kaca. "Kau benar. Tapi, aku akan sering mengunjungi Jejoongwon untuk melihatmu." katanya. "Kau kelihatan pucat. Ada ada sesuatu yang terjadi?"

"Tidak. Tidak ada apa-apa." jawab Hwang Jung. "Aku pergi dulu."

Hwang Jung membungkuk, memberi hormat pada Seok Ran, kemudian tersenyum dan berjalan pergi.

Seok Ran melihat kepergian Hwang Jung dengan perasaan sedih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar