Sabtu, 28 Agustus 2010

Jejoongwon (Episode 7)

Dokter Allen memberi Hwang Jung seragam untuk staff Jejoongwon. Hwang Jung sangat senang menerimanya.

Di kota, Kim Don (pihak Jepang) menyebarkan desas-desus miring mengenai orang asing yang mencuri jiwa anak-anak dan kemudian memakannya. Diam-diam, ia menempel pengumuman di dinding kota agar semua warga bisa melihat.

Hari pembukaan Jejoongwon.

Dokter Allen, Hwang Jung, Young Ik, Tuan Yoo dan beberapa orang yang lain hadir dalam pembukaan itu. Setelah Dokter Allen memberikan sedikit pidato, mereka hendak membuka gerbang Jejoongwon.

"Buka pintu!" kata Allen bersemangat.

"Sekarang, kita akan menerima pasien Jejoongwon yang pertama." kata Hwang Jung.

Gwak membuka pintu.

Para warga sudah menunggu di depan gerbang dan membawa peralatan perang, seperti penggorengan, spatula, golok, sabit, cangkul, dan alat-alat lain.

"Setan asing!" teriak warga marah, seraya melempari batu ke dalam Jejoongwon.

Kepala Dokter Allen terkena batu dan berdarah. Hwang Jung menutup pintu gerbang dan Gwak membantu Allen menyelamatkan diri.

Do Yang dan Je Wook melihat kericuhan itu dari jauh. Mereka bingung.

Hwang Jung marah. Ia keluar dan menghadapi para warga.

"Hentikan ini!" teriaknya. "Dr. Allen tidak seperti yang kalian kira! Tempat ini untuk mengobati pasien, bukan untuk memasak anak kecil!"

"Jangan bohong pada kami!" seru salah satu warga.

"Orang ini yang ada di gambar!" teriak warga yang lain.

Para warga melempari Hwang Jung dengan batu. Ketua pengemis menyelamatkannya.

"Apa kau ingin mati?!" teriak ketua pengemis. Masih ingat kan sama ketua pengemis anak-anak? Ga enak ya, nyebut ketua pengemis. Sebenarnya sampe episode ini belum dikasih tahu nama si ketua pengemis. Tapi aku mau nyebut namanya aja deh. Namanya Mong Chong.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Hwang Jung.

"Keadaan sangat gila di luar sana!" kata Mong Chong. Ia menunjukkan kertas desas-desus yang disebarkan di seluruh penjuru kota. "Kertas ini sudah di tempel dimana-mana!"

Hwang Jung membacanya. "Jejoongwon akan dijadikan tempat memasak anak kecil. Bagaimana kita bisa menerima ini? Semua itu harus dihentikan dengan membunuh semua orang asing dan orang-orang yang bekerja untuk mereka."

Warga memanjat dinding pagar dan mendobrak pintu, memaksa masuk.

"Rakyat jelata yang bodoh!" hina Do Yang. "Je Wook, cepat panggil polisi!"

"Tapi menyenangkan menonton ini." kata Je Wook. "Jika Jejoongwon jatuh, maka si Hwang itu juga akan hancur."

Do Yang menatap Je Wook tajam. "Rumah sakit ini dibangun oleh pemerintah! Cepat pergi!"

"Iya, iya!" kata Je Wook.

Do Yang bergegas menuju Jejoongwon dan masuk kesana dengan diam-diam.

Hwang Jung dan Mong Chong berlari masuk dan menemui Allen, Young Ik dan yang lainnya.

"Dokter, kau tidak apa-apa?" tanya Hwang Jung.

"Ya, aku baik-baik saja." jawab Allen, memegangi kepalanya yang berdarah.

"Kita harus lari. Orang-orang sudah masuk kemari!" kata Hwang Jung.

Do Yang tiba-tiba berlari datang. Ia menyarankan agar mereka lari dari pintu belakang.

Young Ik dan Tuan Yoo mengajak Allen pergi.

"Aku tidak bisa pergi." kata Allen. "Semua perlengkapan medisku ada di dalam. Aku tidak akan bisa mengobati orang lagi jika perlengkapan medisku tidak ada."

Do Yang memaksa Allen untuk pergi, namun Allen bersikeras. Ia berlari ke ruangan dimana semua perlengkapan medisnya disimpan. Hwang Jung mengikutinya. Mong Chong dan Gwak terpaksa ikut juga.

Di tempat lain, Seok Ran membeli sebuah stetoskop untuk Do Yang.

"Pilihlah satu." kata si penjual.

"Aku ambil yang ini." Seok Ran berkata seraya menunjuk salah satu stetoskop. Si penjual membawa stetoskop yang satunya. "Tunggu! Aku mau membeli dua-duanya."

Mak Saeng berpikir. "Aah.. Yang satu lagi untuk Tuan Hwang, bukan?"

"Tidak." jawab Seok Ran, berbohong, salah tingkah.

Seok Ran dan Mak Saeng berjalan pulang. Di tengah perjalanan, mereka melihat kertas pengumuman tentang Jejoongwon memakan orang. Seok Ran panik.

Dokter Allen, Hwang Jung, Mong Chong dan Gwak membereskan perlengkapan medis ke dalam peti.

"Cepat!" kata Mong Chong.

Setelah dengan terburu-buru memasukkan perlengkapan ke dalam peti, mereka keluar. Namun tidak jauh dari ruangan itu, para warga telah sampai dan mengejar-ngejar mereka.

Hwang Jung dan yang lainnya terpaksa kembali ke ruang perlengkapan dan berlindung di sana, mengganjal pintu dengan meja.

"Ini semua karena aku." kata Allen sedih.

"Tidak, Dokter." kata Hwang Jung. "Mereka hanya bingung."

Di luar, para polisi telah tiba. Mereka memukuli para warga yang menyerang Jejoongwon.

Seok Ran mencemaskan ayahnya. Dengan diam-diam, ia masuk ke dalam Jejoongwon.

Di dalam, ia bertemu dengan beberapa warga pria.

"Apa dilakukan seorang gadis di sini?" tanya salah satu warga.

"Lihat bagaimana dia berpakaian." kata warga yang lain. "Dia pasti salah satu teman si setan asing."

Seok Ran dikepung, ia ketakutan. Salah satu warga menyentuh lengan Seok Ran.

"Beraninya kau!" seru Seok Ran, menghempaskan tangan si warga. "Ini rumah sakit untuk mengobati orang, bukan untuk memasak anak kecil! Tinggalkan tempat ini!"

"Dia dipengaruhi pemikiran barat. Kata-kata tidak akan mempan untuknya."

"Jangan lakukan ini!" seru Seok Ran. "Aku.. aku akan berteriak!"

Warga tertawa. "Berteriaklah! Berteriak yang keras!"

Seok Ran mengambil sebuah batu untuk melindungi diri. Tiba-tiba Do Yang datang dan menolongnya.

Do Yang dikeroyok. Seok Ran, dengan takut-takut, mengambil sebatang tongkat dan memukul warga yang mengeroyok Do Yang.

"Kenapa kau masuk ke sini?!" bentak Do Yang.

"Aku mengkhawatirkan ayah." jawab Seok Ran. "Apa kau melihatnya?"

"Dia ada di tempat yang aman. Ayo pergi!" Do Yang hendak menggandeng tangan Seok Ran, namun Seok Ran menahan.

"Bagaimana dengan Tuan Hwang?" tanyanya. "Apakah Dr. Allen selamat juga? Apa yang terjadi pada mereka?"

Do Yang kesal karena Seok Ran mencemaskan Hwang Jung. "Mereka ada di ruang operasi, mengambil perlengkapan medis mereka."

"Ruang operasi?" gumam Seok Ran seraya berjalan menuju ruang operasi.

Hwang Jung, Allen, Gwak dan Mong Chong terjebak dalam ruang operasi.

Hwang Jung mengobati luka Allen.

Gwak negdumel sendiri. Ia baru sadar kalau Mong Chong ada bersama mereka. "Siapa kau? Kenapa kau disini?"

"Aku.. aku mengkhawatirkan Tuan Hwang." jawab Mong Chong.

"Kenapa kau mengkhawatirkannya?" tanya Gwak lagi. "Beraninya kau datang kemari. Cepat pergi!"

"Bagaimana aku bisa pergi?!" seru Mong Chong. "Tunggu! Sepertinya diluar sepi."

"Apa kalian di dalam?" terdengar suara Seok Ran dari luar. "Tuan Hwang!"

Hwang Jung mengintip lewat jendela. "Nona Seok Ran!"

Mereka semua keluar.

"Para warga sudah ditangkap." kata Do Yang.

Dr. Allen, Young Shik, Tuan Yoo, kepala polisi, Do Yang, Seok Ran dan Hwang Jung berunding. Mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

"Kami akan menyelidiki akar masalah ini." janji kepala polisi.

"Tidak akan mudah." kata Do Yang. "Warga sudah terlanjur percaya pada kebohongan ini. Pasien tidak akan ada yang datang."

"Aku akan pergi dan mengatakan pada mereka bahwa semua ini hanya kebohongan." kata Allen.

"Itu terlalu berbahaya." kata Hwang Jung. "Jika ini terus terjadi, apa yang akan terjadi?"

"Kita harus menutup rumah sakit ini." kata Allen sedih.

Setelah perundingan, mereka mengobati orang-orang yang terluka dan membenahi segala sesuatu yang hancur dan berantakan.

"Aku tidak mau diobati oleh setan asing!" kata salah satu warga yang terluka.

"Kalau begitu keluar dari sini!" kata aparat polisi yang terluka. "Kami akan melemparmu ke dalam penjara!"

"Mereka bilang setan asing memakan orang!" kata warga lagi.

"Mereka akan memakan orang yang tidak mau diobati! Jadi diam!" kata polisi.

"Jangan berkata begitu." kata Allen. "Kami hanya ingin mengobati mereka."

"Jangan khawatir." Hwang Jung mendekati si warga, tersenyum dan menenangkan. "Kami akan mengobati lukamu. Semua akan baik-baik saja."

Do Yang dan Je Wook melihat dari jauh.

"Aku heran kenapa mereka mengobati warga-warga itu." kata Je Wook. "Warga itu harusnya dikurung dalam penjara!"

Gwak dan Mong Chong mencelupkan kain/perban dalam air panas agar steril.

Seok Ran dan Mak Saeng membawa makanan ke Jejoongwon. Dokter Allen dan yang lainnya belum sempat makan sejak pagi.

Mulanya penjaga tidak mengizinkan mereka masuk, namun tiba-tiba Gwak keluar dan mengajak mereka masuk.

"Ayo kita bentuk nasinya sebelum mengeras." kata Seok Ran pada Mak Saeng.

Ketika Hwang Jung dan Allen sedang merawat pasien, tiba-tiba ada satu pasien yang terlihat sangat kesakitan. Bagian pantatnya berdarah.

"Dia berdarah dari dalam." kata Do Yang.

Hwang Jung membuka celana si pasien.

"Itu menjijikkan!" kata Je Wook. "Bagaimana bisa ikut melakukan kerusuhan dengan kondisi begitu?"

Allen memasukkan dua jarinya ke sela-sela pantat pasien.

"Dia terkena fistula dubur." kata Allen. "Tumbuh di saluran dubur."

"Fistula dubur adalah kondisi dimana tubuh lubang di saluran dubur."

"Kau pasti sangat kesakitan." kata Hwang Jung prihatin. "Sejak kapan kau mulai sakit seperti ini?"

"Itu..."

"Cepat bicara! Kau akan mati jika tidak diobati!" kata Do Yang kejam.

Allen menatap Do Yang tajam.

"Mati?" gumam si pasien ketakutan.

Hwang Jung tersenyum menenangkan. "Tidak apa-apa. Katakan saja pada kami."

"Sudah... sudah setahun yang lalu." jawab si pasien kesakitan.

"Dia demam tinggi." kata Allen. "Kita harus melakukan operasi secepatnya."

"Aku akan mempersiapkan semuanya di ruang operasi." kata Hwang Jung seraya beranjak pergi.

Dokter Allen beranjak dan berjalan ke kantornya.

Do Yang menyuruh Je Wook tetap disitum kemudian mengikuti Allen. Ia bertanya pada Allen bagaimana cara menyembuhkan penyakit itu. Ia ingin sekali melihatnya.

Seok Ran membantu Mak Saeng membentik bola-bola nasi. Mak Saeng tertawa melihat kerjaan Seok Ran tidak benar.

"Siapa yang mau makan benda jelek ini?" tanya Mak Saeng menunjukkan bola nasi buatan Seok Ran.

"Siapa yang peduli dengan penampilannya?" tanya Seok Ran kesal. Seok Ran memang tidak bisa memasak.

Hwang Jung mencuci tangannya di sumur di dekat dapur. Melihat suara Seok Ran yang ribut-ribut, Hwang Jung mengintip.

"Tuan Hwang!" panggil Seok Ran. Ia menyembunyikan bola-bola nasi buatannya dan mengambil bola nasi buatan Mak Saeng. "Apa kau ingin mencicipi ini? Aku membuatnya sendiri."

Mak Saeng tersenyum.

"Tidak, tidak perlu." tolak Hwang Jung. "Aku akan makan setelah Dokter Allen makan." Hwang Jung membungkuk untuk memberi hormat kemudian berjalan keluar.

Seok Ran mengikutinya, kemudian memaksanya makan.

Hwang Jung menerima bola nasi tersebut dan memakannya. "Ini lezat." katanya.

Seok Ran tertawa senang.

Tiba-tiba Do Yang dan Allen muncul.

Do Yang marah karena Seok Ran datang lagi ke Jejoongwon. "Aku ingin bicara denganmu!" kata Do Yang.

Seok Ran mengikuti Do Yang.

"Kenapa kau datang kesini lagi?" tanya Do Yang, membentak Seok Ran.

"Aku khawatir orang-orang disini belum makan." jawab Seok Ran sabar.

"Seharusnya kau mengirim pelayan! Sebenarnya, saat kau melepaskan Hwang, aku mengirim polisi Jung untuk mencarinya." kata Do Yang.

"Polisi yang kepalanya dioperasi?" tanya Seok Ran.

"Benar. Ketika dia terluka, dia ingin memberitahu sesuatu mengenai Hwang. Tapi begitu dia sadar, dia malah menghilang. Pasti ada sesuatu dibalik menghilangnya polisi Jung. Dengan kata lain, Hwang bukanlah seseorang yang harus kau tolong. Dia berbahaya!"

"Sepertinya kau yang berbahaya." ujar Seok Ran. "Aku datang lagi ke sini bukan karena Tuan Hwang. Aku datang untuk membantu semua orang. Kau berubah. Kau yang aku kenal adalah seseorang yang akan dekat dengan Tuan Hwang karena kesukaannya pada kedokteran. Kau yang aku kenal adalah seseorang yang mau menerima bahwa kamatian ayahnya bukan karena Tuan Hwang. Kecurigaanmu pada orang lain membuatmu berbahaya. Aku akan pergi sekarang."

Do Yang menahan lengan Seok Ran. "Hal yang membuatku gugup bukanlah karena kecurigaanku, melainkan aku benci melihatmu bersamanya."

Seok Ran tidak berkata apapun, kemudian berjalan pergi.

Ternyata Hwang Jung mendengar semua pembicaraan mereka. Seok Ran melihatnya ketika hendak kembali ke dapur.

"Tolong maafkan aku karena mengatakan ini." ujar Hwang Jung. "Kau tidak perlu bersikap sangat baik padaku."

"Aku tidak mengerti."

"Aku takut, kebaikanmu padaku akan membuat orang lain salah paham. Seperti hari ini."

"Aku tidak peduli apakah orang lain salah paham pada kita." ujar Seok Ran. "Jika membantu orang lain, kesalahpahaman pasti selalu mengikuti. Apakah ini karena Tuan Muda Do Yang? Jangan dipikirkan. Kami memang selalu seperti ini selama 10 tahun."

"Aku tidak bermaksud mencuri dengar." kata Hwang Jung buru-buru.

"Kadang kau membuatku cemas. Jangan mengatakan hal seperti itu lagi padaku!"

Para polisi mencari orang yang menyebarkan desas-desus bohong soal Jejoongwon. Para saksi yang melihat, semuanya menyatakan bahwa orang tersebut menggunakan topi jerami dan wajahnya ditutupi.

Polisi akhirnya menangkap semua orang yang memakai topi jerami untuk diinterogasi. Tapi semua orang yang ditangkap salah. Pelaku sebenarnya berhasil lolos.

Duta Besar Jepang berusaha meyakinkan Raja agar menyerahkan Jejoongwon dibawah pimpinan pihak Jepang.

"Akar masalah ini adalah Dr. Allen." kata Duta Besar. "Untuk menyelesaikan masalah ini, kita harus mengganti dokter Jejoongwon. Bagaimana dengan Watanabe-san? Dia adalah hipokrat Jepang."

Raja dan Young Ik mendengar celotehan Duta Besar Jepang dengan kesal.

"Pikirkanlah baik-baik." kata Duta Besar.

Je Wook menakut-nakuti para pasien dengan mengatakan kalau Allen akan menusuk pantat si pasien dengan tusukan. Para pasien takut dan kabur.

Begitu Allen datang dan melihat pasien yang terkena fistula dubur sudah menghilang, ia khawatir dan berniat datang ke rumah si pasien untuk mengobatinya. Mulanya Do Yang menolak mentah-mentah keinginan Allen, namun pada akhirnya terpaksa menuruti Allen.

Hwang Jung meminta Mong Chong untuk mencarikan rumah si pasien.

Hwang Jung, Allen, Do Yang, Mong Chong, Gwak dan dua pelayan lain berjalan ke rumah pasien. Kepala polisi menawarkan agar Allen dikawal oleh anak buahnya, namun Allen menolak. Ia ingin datang dengan baik-baik dan damai.

Allen dan yang lainnya sampai ke rumah pasien. Pasien tersebut sekarat, tidak mampu bergerak. Istri pasien itu berteriak ketika melihat Allen. "Itu setan asing!" jeritnya. "Setan asing!"

Warga berdatangan dengan senjata siap di tangan.

Mereka di kepung oleh warga.

Do Yang mengeluarkan pistol yang dibawanya dan mengancam mereka dengan menembakkan peluru ke atas. "Aku tidak akan menembak ke arah langit lagi! Siapa yang berani melawan kami?"

"Kau bahkan tidak mengisi peluru lagi!" kata warga.

"Pistol ini memiliki 6 peluru." kata Gwak. "Itu artinya masih ada 5 peluru lagi!"

"Tembak aku! Ayo tembak aku!" tantang warga.

Do Yang hendak menembakkan peluru ke atas lagi untuk menakut-nakuti, tapi peluru ternyata sudah habis.

"Tangkap mereka!" teriak warga.

Hwang Jung dan yang lainnya diikat oleh warga.

"Kalian mencari masalah!" seru Do Yang. "Lepaskan kami sekrang!"

"Jika kami tidak mau?"

"Kau akan melakukan kejahatan serius dan akan mendapat hukuman yang setimpal untuk ini!" seru Do Yang.

"Ahh, aku akan mati!" terdengar rintihan pasien dari dalam.

"Kita harus melakukan operasi!" kata Allen cemas.

"Bagaimana kau bisa bicara soal operasi pada saat seperti ini?!" tanya Do Yang.

"Nyonya, izinkan kami mengobati suamimu!" teriak Hwang Jung.

"Tidak akan!" kata warga. "Kami tidak akan membiarkan kalian memakannya!"

Istri pasien keluar dari dalam rumah sambil menangis. "Suamiku akan mati!" jeritnya. "Suamiku ingin setan asing masuk. Dia tidak peduli setan mana, yang penting dia diobati!"

"Dia akan mati jika kita membuang-buang waktu!" seru Hwang Jung. "Berilah kami kesempatan! Bagaimana kami bisa memakannya ketika kalian semua melihat kami?!"

"Cepat lakukan sesuatu!" teriak istri pasien panik, kemudian masuk lagi ke dalam rumah.

"Bagaimana jika kauu tidak bisa menyelamatkannya?" tanya warga. "Apakah kau mau mengorbankan nyawamu?"

"Aku tidak akan bertaruh dengan nyawa!" kata Allen tegas.

"Kalau begitu, bertaruhlah dengan tanganmu."

"Aku tidak bisa melakukannya." kata Allen lagi.

Warga tertawa meledek. "Bagaimana denganmu?" tanyanya pada Do Yang. Do Yang tidak menjawab. "Kau tidak mau? Kalian bahkan tidak percaya pada diri kalian sendiri!"

"Inikah yang kau lakukan pada orang yang datang untuk menolong?" tanya Do Yang, masih tetap angkuh.

Hwang Jung berdiri. "Aku akan mempertaruhkan tanganku!" katanya.

"Kau tidak boleh melakukannya!" seru Allen.

"Aku percaya padamu, Dr. Allen." kata Hwang Jung yakin. "Jika kau berhasil mengobati orang itu, maka desas-desus bohong mengenai Jejoongwon akan selesai."

"Bagaimana jika Dr. Allen gagal?" tanya Do Yang. "Apa yang akan kau lakukan."

"Dr. Allen akan mengobatinya." Hwang Jung berkata tegas.

Allen akhirnya setuju dan masuk ke dalam rumah untuk mengoperasi pasien. Do Yang menggantikan Hwang Jung menjadi asisten Allen.

Setelah membius pasien, Allen melakukan operasi.

Do Yang membantu Allen dengan jijik-jijik, karena memang bagian yang dioperasi adalah bagian yang vital.

Warga yang menonton banyak yang mual dan keluar untuk muntah.

Operasi selesai saat hari sudah siang, namun si pasien belum juga tersadar dari tidurnya karena pengaruh obat bius.

Allen mencoba membangunkan pasien dengan menusuk telapak kaki, namun usaha tersebut gagal.

"Mungkin dia mati." kata warga.

"Tidakkah kau lihat bahwa ia masih bernafas?" protes Do Yang kesal.

"Ini hampir sore, tapi dia belum sadar." kata warga. "Bukankah sama saja dengan dia mati?"

Do Yang berbisik pada Allen. "Apa mungkin dia tidak akan sadar."

"Dia akan sadar." jawab Allen. Do Yang lega. "Tapi bisa juga tidak." tambah Allen.

"Apa?!"

"Hanya Tuhan yang tahu kapan dia akan sadar." kata Allen. "Tuan Baek, cubit putingnya. Kita harus melakukan itu agar pasien bangun."

Do Yang ragu dan dengan sangat terpaksa membuka baju pasien untuk mencubit putingnya. Namun istri si pasien tidak mengizinkannya. "Biar aku saja yang melakukannya."

Istri si pasien mencubit puting suaminya kuat-kuat.

Warga mulai ragu. "Kau gagal!"

"Tidak!" bantah Allen.

"Kami butuh sedikit waktu lagi!" kata Do Yang.

Warga menggeleng. Ia mengajak teman-temannya keluar untuk menghancurkan tangan Hwang Jung.

"Beri kami sedikit waktu lagi!" kata Hwang Jung.

Di dalam, Do Yang berteriak-teriak pada istri si pasien. "Cubit lebih keras lagi!" serunya.

Warga menarik Hwang Jung dan meletakkan tangan Hwang Jung di sebuah tempat penumbuk padi.

Salah seorang warga memegangi tangan Hwang Jung, sementara yang lainnya mengangkat kayu penumbuk.

Tangan Hwang Jung akan hancur!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar