Sabtu, 28 Agustus 2010

Iljimae (Episode 3)

Shi Wan memukul kepala Ryung dengan keras sampai pingsan.

"Sepertinya dia mati." kata teman Shi Wan.

Shin Wan dan teman-teman bangsawannya membuah Ryung disebuah lubang di tengan hutan.

Guru tempat sekolah Ryung kemarin malam mabuk dan melakukan pelecehan seksual pada gadis-gadis, namun ia melemparkan kesalahan itu pada Swe Dol sehingga Swe Dol dipukuli dengan tongkat. Swe Dol meminta guru itu untuk membayarnya karena telah menyewakan badannya untuk dipukuli.

Dan Ee mengobati pantat Swe Dol yang kena pukul. Swe Dol bertanya-tanya kenapa Ryung belum juga pulang ke rumah.

"Jangan berharap ia akan jadi anak yang baik." kata Dan Ee sinis.

"Jangan bicara seperti itu." kata Swe Dol. "Bisakah kau bersikap sedikit baik padanya? Apa kau tahu betapa menderitanya dia?"

Swe Dol menemui Shi Wan. "Tuan Muda! Tuan Muda!" panggil Swe Dol. "Apa Tuan Muda Ryung masih di sekolah?"

"Dia sudah pergi beberapa waktu yang lalu." kata Shi Wan, berbohong.

"Ryung bukanlah anak yang pintar. Tolong berbaik hatilah padanya." kata Swe Dol. Ia melihat baju Shi Wan kotor terkena tanah. "Kenapa ada kotoran di pakaianmu yang bagus, Tuan Muda?" Swe Dol berkata seraya membersihkan pakaian Shi Wan.

Shi Wan menepiskan tangannya dan pergi dengan angkuh.

Ryung tersadar. Ia terkejut kenapa ia ada di dalam sebuah lubang. "Apa ada orang di atas sana?! Ayah!"

Ryung melihat sebuah sekop dan mencoba menggunakan cangkul itu untuk memanjat naik, namun ia gagal dan terjatuh lagi ke dalam lubang.

Ryung kemudian melihat seutas tali dan melemparkan tali itu ke atas. Gagal. Ia lalu mengikatkan bajunya di tali itu dan melemparnya lagi. Gagal. Akhirnya ia punya ide membungkus sebongkah batu pada bajunya dan diikat di tali itu. Ia melempar bungkusan batu itu dan berhasil tersangkut ke batang pohon. Ryung memanjat naik dan berhasil, namun tiba-tiba seseorang datang dan membuat dia pingsan lagi.

Swe Dol mencari Ryung di tempat Dae Shi dan Heung Kyun. Mereka adalah teman dekat Ryung. Dae Shi bekerja sebagai pembuat topeng dan Heung Kyun bekerja sebagai pembuat sepatu.

"Apa Ryung kemari?" tanya Swe Dol.

Ryung pingsan. Saat sadar, ia sudah berada di tengah-tengah danau yang beku. Tangannya diikat dengan tali dan kakinya diikatkan pada sebongkah batu besar. Moo Yi muncul dihadapannya.

"Siapa kau?" tanya Ryung ketakutan.

"Apa kau Lee Geom, adak Lee Won Ho?" tanya Moo Yi, memegang tombaknya.

Ryung bingung. "Bukan. Kau salah orang." jawab Ryung.

Moo Yi menusuk sedikit lapisan permukaan danau yang beku.

"Jangan bergerak. Lapisan es ini sangat tipis. Kita bisa jatuh ke dalam danau kalau kau mengunakan kekuatanmu walau hanya sedikit." ujar Ryung ketakutan.

Moo Yi menusuk lapisan es diantara dia dan Ryung hingga lapisan itu retak.

"Apa yang kau lakukan?" seru Ryung panik, merengek-rengek.

Moo Yi memotong lapisan es membentuk lingkaran di sekitar Ryung. "Apa kau Geom?"

"Namaku Ryung." Ryung berkata takut. "Tolong selamatkan aku."

"Kalau kau adalah Geom, paling tidak aku tidak akan membunuhmu."

Ryung tertawa senang. "Benar, benar. Aku adalah Geom."

"Benarkah?"

"Ya, ya.." seru Ryung, mengangguk-angguk. "Tapi kau bilang, kau tidak akan membunuh Geom, kan? Atau jangan-jangan kau ingin membunuhnya. Aduh, aku bingung!"

"Mau kau adalah Geom atau bukan, aku tidak peduli." kata Moo Yi seraya menusuk lapisan es hingga retak.

Ryung terjatuh ke dalam danau dan tenggelam karena batu yang ada di kakinya. Ia mncoba melepaskan ikatan di tangannya dan berhasil. Ia kemudian melepas ikatan tali dikakinya. Ryung hendak berenang ke permukaan, namun Moo Yi masih berjaga disana. Ryung terpaksa bertahan di dalam air yang dingin. Lama kelamaan ia tidak tahan dan pingsan.

"Ryung seharian ini tidak datang ke kasino." kata Dae Shi.

Swe Dol berpikir. "Tunggu dulu!" Ia teringat tanah yang menempel di baju Shi Wan.

"Apa yang kau pikirkan, Paman? tanya Heung Kyun.

Swe Dol, Heung Kyun dan Dae Shi kemudian menculik Shi Wan dan mengancamnya dengan pisau.

"Dimana Ryung?" tanya Heung Kyun, mengarahkan pisau ke leher Shi Wan.

"Apa maksudmu?"

Swe Dol menarik kerah baju Shi Wan. "Pelayan di sekolah sudah mengaku! Apa yang kau lakukan padanya? Apa yang kau lakukan pada putraku?"

Ryung pingsan.

"Kau harus tetap hidup." suara itu terdengar lagi dari pikiran bawah sadar Ryung. "Katakan padaku bahwa kau akan terus hidup."

Ryung membuka matanya dan segera berenang ke permukaan. Ia kesulitan naik karena permukaan es sangat licin. Si pemburu menyelamatkannya.

Eun Chae tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang sangat baik hati. Sedangkan Shi Hoo tumbuh menjadi pemuda yang kuat. Walaupun tahu bahwa Eun Chae adalah adiknya, namun ia sepertinya menyukai Eun Chae lebih dari sayang kakak kepada adiknya.

Setelah melakukan survei pada bangunan yang hendak dibangun ayahnya, ia naik tandu dan melakukan perjalanan pulang. Salju mulai turun, Eun Chae turun dari tandu dan berkata pada pelayan perempuannya agar bergantian dengannya naik tandu.

Shi Hoo mengikuti mereka dengan diam-diam dari belakang.

Shi Hoo teringat masa kecilnya. Shi Wan menyuruh Shi Hoo menjepret seorang gadis miskin tidak bersalah dengan batu. Bukannya menjepret gadis kecil itu, Shi Hoo malah menjepret Sho Wan. Hal itu membuatnya dihukum pukul oleh ibu Shi Wan. Eun Chae, yang mengetahui hal sebenarnya, mengobati kaki Shi Hoo. "Yang dihukum seharusnya adalah kak Shi Wan. Aku akan selalu ada disisimu, Kakak."

Shi Hoo mengikuti dan menjaga Eun Chae diam-diam dari belakang. Ia menunduk, melihat jejak kaki Eun Chae di tumpukan salju. Ia kemudian berjalan di samping jejak kaki itu, sehingga seakan-akan tampak ia dan Eun Chae berjalan berdampingan.

Eun Chae sampai di rumah, dan tidak lama ia melihat Shi Hoo juga baru tiba.

"Kau masih di luar, Kakak?" tanyanya, tersenyum.

Ibu Eun Chae muncul dari dalam rumah dan menyuruh Eun Chae masuk. "Shi Wan belum pulang." kata Ibu Eun Chae sinis pada Shi Hoo. "Cari dia."

Shi Hoo diam, menggangguk.

"Kudengar kau mendaftar untuk mengikuti ujian militer." kata Ibu Eun Chae lagi. "Lolos ujian itu bukan hal buruk juga. Tapi ingat, gunakan kemampuanmu sendiri. Jangan pernah bermimpi kau bisa menggunakan nama keluarga agar bisa lolos."

Shi Wan menunjukkan arah dimana ia meninggalkan Ryung. Karena kesal dan marah pada Shi Wan, Swe Dol memukul dan menendangi Shi Wan.

"Disana!" kata Heung Kyun, menunjuk sebuah lubang. Namun Ryung sudah tidak ada di sana.

Shi Wan mencoba kabur. Swe Dol dan yang lainnya mengejar dan menghajar Shi Wan.

"Tenang, Paman!" seru Heung Kyun.

Swe Dol sangat marah dan menyeret Shi Wan, hendak menjatuhkan Shi Wan ke dalam lubang. Tiba-tiba Shi Hoo datang dan menyelamatkan Shi Wan. Mulanya Swe Dol melawan, namun begitu sadar bahwa Shi Hoo adalah Ja Dol, putra angkatnya, Swe Dol tidak melakukan apapun dan membiarkan mereka pergi.

Shi Hoo dan Shi Wan pulang ke rumah. Byun Shik memarahi Shi Wan habis-habisan. "Kau hanya bisa bermain wanita dan mabuk-mabukan!" omelnya. "Anak tidak berguna! Memiliki anak sepertimu membuatku malu pada diriku sendiri. Tidak masalah kau tidak lolos ujian utama, tapi kau juga tidak bisa lolos ujian Sung Yoon!"

"Aku.. Kecuali penampilan, semua yang ada padaku mirip dengan ayah!" Shi Wan berkata tidak mau kalah.

"Apa katamu? Penampilan fisikmu juga diturunkan dariku!" kata Byun Shik. "Semua orang bilang kita mirip. Kecuali otakmu!"

"Ayah juga tidak ada bedanya!" Shi Wan berkata menantang. "Semua orang tahu. Kartu yang kau gunakan untuk lolos ujian sebenarnya kau dapat dari menyogok!"

Byun Shik tidak bisa berkata apa-apa. Ia melepas sepatunya dan memukuli Shi Wan. Ia menunjuk Shi Hoo. "Shi Hoo juga anakku. Tapi ia begitu pengertian dan pintar. Kebodohanmu pasti diturunkan dari ibumu!"

Ibu Shi Wan memukul Byun Shik. Ia dan anaknya menatap Shi Hoo dengan marah.

Seorang pejabat istana masuk ke ruangan penyimpanan dan menemukan sebuah peti berisi surat bertuliskan darah serta perhiasan milik Lee Won Ho yang diberikan pada putranya. Pria tua itu mengambil perhiasan dan menyimpannya.

Ryung sadar dari pingsannya. Ia terkejut karena berada di rumah seorang bangsawan. "Siapa kau, Tuan?" tanya Ryung.

"Apa kau adalah Lee Geom?" tanya bangsawan itu. Bangsawan itu bernama Shim Ki Yoon, yang merupakan anggota parlemen.

"Apa lagi ini?" tanya Ryung takut. "Kau ingin membunuhku lagi?"

Ki Yoon tersenyum. "Tidak. Aku hanya ingin mengetahui kebenaran. Walaupun kau Geom atau bukan, aku tidak akan membunuhmu."

"Namaku Ryung dari NamMun." kata Ryung tenang.

"Benarkah?" tanya Ki Yoon ragu. "Aku kemari bukan untuk menyakitimu. Ayahmu dan aku adalah sahabat baik, jadi kau tidak perlu takut. Aku ingin menceritakan padamu bagaimana ayahmu mati dengan tidak adil."

"Ayahku masih hidup dan sehat." kata Ryung, meyakinkan.

"Aku juga tahu dimana ibu dan kakakmu. Apa kau tidak ingin bertemu mereka?"

Ryung menatapnya bingung. "Ah, aku benar-benar akan jadi gila!" seru Ryung mengusap kepalanya. "Ibuku ada di rumah dan aku adalah anak tunggal!"

"Benarkah?" tanya Ki Yoon, masih ragu. "Kalau begitu aku pasti salah orang. Kau boleh pergi sekarang."

Ryung berjalan pergi. Si Pemburu bertanya pada Ki Yoon dan pengawalnya. "Kenapa kalian membiarkan dia pergi?"

"Beraninya kau memberi informasi salah!" kata Pengawal marah. Namun si Pemburu bersikeras bahwa Ryung mengatakan sendiri bahwa dirinya adalah Geom.

Ki Yoon memerintahkan pada pengawalnya untuk mengawasi gerak-gerik Ryung. "Ada yang aneh dengan anak itu. 13 tahun yang lalu, jelas yang mati itu bukan Geom."

"Kenapa kau ingin mencari anak Lee Won Ho, Tuan?"

"Aku baru saja menemukan bahwa rencana pemberontakan Lee Won Ho dibuat oleh orang lain." kata Ki Yoon. "Jika putra Lee Won Ho masih hidup dan saat itu melihat sesuatu..."

Ryung bersembunyi di kamar Dae Shi. Ia meminta De Shi dan Heung Kyun agar mengatakan bahwa mereka menemukan Ryung di tempat berjudi.

Swe Dol datang sambil membawa sekop. Ia mengejar Ryung, ingin menghajar anak ini. "Kemari kau!" teriak Swe Dol. "Aku akan menguburmu di sini!"

"Ampun, Ayah!" teriak Ryung seraya mencoba melarikan diri. "Ampun! Ampun!"

"Apa benar Tuan Muda ingin membunuhmu?" tanya Swe Dol ketika ia sudah tenang dan makan bersama Ryung.

"Dia sangat menyukai." ujar Ryung berbohong. "Aku tahu bagaimana berpakaian dan bicara."

"Kalau begitu, mungkin saat itu Tuan Muda sedang mabuk dan bicara yang tidak benar." kata Swe Dol.

"Ayah.." Ryung mencoba bicara hati-hati. "Bisakah aku tidak pergi ke sekolah?"

Swe Dol memukul kepala Ryung. "Jika sudah selesai makan, ayo pergi! Cepat!"

Ryung pergi menemui Kong He, meminta uangnya dikembalikan. Namun Kong He menolak. Ryung menggunakan berbagai macam cara untuk membujuknya, mulai dari bujuk rayu sampai tipu menipu. Karena kesal, Kong He akhirnya bersedia mengembalikan uang Ryung.

Kong He melihat beberapa pria mengeroyok seorang pedagang lemah. Ia pura-pura menyenggol salah satu pria hingga jatuh. Tentu hal itu membuat para pria itu marah. Kong He pura-pura bodoh, mengelak setiap serangan para pria itu dan membuat mereka menjadi 'senjata makan tuan' sehingga kalah dengan sendirinya.

Shi Wan melapor pada polisi tentang tindak kekerasan yang dilakukan oleh Swe Dol padanya sehingga Swe Dol ditangkap.

"Kami akan memotong tangannya!" kata aparat polisi pada Ryung.

"Memotong tangannya?" seru Ryung kaget. Ia berlutut pada aparat polisi itu. "Tuan! Tuan! Tolonglah! Tuan Muda itu berpikir bahwa aku sudah mati dan membuangku di lubang."

"Orang rendahan! Kau masih bisa berkata omong kosong di sini?! Jika kau ingin menolong ayahmu, kau harus menemui Tuan Muda itu dan memohon maaf padanya. Hanya itu caranya."

Swe Dol dikurung dalam penjara. Dan Ee mengunjunginya dan menyalahkan Ryung.

Swe Dol berkata bahwa semua ini bukan salah Ryung. "Berhentilah menyalahkan dia."

"Kenapa hatimu begitu lembut?" tanya Dan Ee. "Kenapa kau selalu berkorban demi anak orang lain? Apa kau bodoh?"

Swe Dol tersenyum. "Aku bertemu dengan Ja Dol. Walaupun saat itu gelap, tapi aku bisa melihat bahwa ia sudah tumbuh dewasa."

Dan Ee pergi meninggalkannya tanpa bicara apapun. Ia bertemu dengan Ryung di perjalanan pulangnya. "Kau puas sekarang?" tanyanya, menatap tajam pada Ryung.

Ryung datang menemui Shi Wan dan memohon padanya untuk mengampuni Swe Dol. Shi Wan sedang berjudi bersama teman-temannya.

"Baik." kata Shi Wan. "Aku akan mengampuni ayahmu jika kau memberiku uang. Aku butuh uang sekarang, jadi berikan padaku."

"Hanya ini uang yang kupunya."" kata Ryung, menyerangkan sedikit uang pada Shi Wan. "Beri aku sedikit waktu, aku akan..."

"Besok." Shi Wan memotong kata-katanya. "Aku akan membawamu ke tempat dimana kau bisa mendapatkan uang."

Shi Hoo mengetahui masalah yang menimpa Swe Dol. Ia kemudian menarik Shi Wan. "Kau berencana membunuh anaknya." ujar Shi Hoo. "Kaulah yang berbuat salah terlebih dulu!"

"Aku? Kapan? Apa kau bermimpi?"

Shi Hoo marah dan hendak memukul Shi Wan, namun menahan niatnya. "Orang itu adalah... orang yang pernah mengasuhku."

"Apa?" Shi Wan tersenyum sinis. "Sangat menarik. Ayo, pukul aku! Aku akan membuat Swe Dol bukan hanya kehilangan tangannya, tapi kepalanya juga."

Shi Hoo melepas Shi Wan.

"Dia bukan ayah kandungmu, namun kau masih sangat menyayanginya." Shi Wan terus memanas-manasi Shi Hoo. "Inikah wajah aslimu? Kau sangat bersabar selama ini. Semakin jahat seseorang, maka karakternya akan semakin sabar. Mungkin ini karena pengaruh darah ibumu?"

Shi Hoo menahan kemarahannya dan berjalan pergi.

Eun Chae mendengar pembicaraan kedua kakaknya dan memohon pada ayahnya untuk mengampuni Swe Dol.

"Kau tidak usah ikut campur." kata Byun Shik. Namun Eun Chae terus membujuknya.

Shi Wan mengajak Ryung ke tempat pelatihan bela diri. Tempat itu adalah persiapan seseorang untuk ikut pertandingan adu kekuatan.

"Dia akan bertanding di ring." kata Shi Wan. "Berikan aku uangnya."

"Dia sangat tidak berguna. Deokba bisa menjatuhkannya dengan sekali pukulan." jelas Hee Bong, pemilik tempat itu sekaligus ketua gang.

"Jika dia mati, tidak akan ada yang minta pertanggungjawaban." kata Shi Wan.

"Benarkah?" tanya Hee Bong. "Jika dia mati, kami tidak akan bertanggung jawab? Baik, aku mengerti. Semua orang takut pada Deokba. Karena itulah ring menjadi kosong. Dia cukup bertanding satu babak. Ini uangnya."

Shi Wan tersenyum. Ia menemui Ryung dan berkata, "Jika menang, kau akan mendapatkan hadiah 200 perak. Berikan uang itu padaku. Jika kau kalah, maka ayahmu akan..." Shi Wan memegang tangannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar