Sabtu, 28 Agustus 2010

Jejoongwon (Episode 5)

"Aku akan membunuhmu!" teriak Do Yang.

"Hentikan!" kata Seok Ran. Ibunya dan Mak Saeng memegangi Seok Ran, menghalanginya ikut campur.

Do Yang mencekik Hwang Jung.

"Tuan Hwang tidak menyebabkan kematian ayahmu!" seru Dokter Allen, menarik Do Yang. "Ayahmu meninggal bukan karena operasi! Operasi berjalan dengan sangat baik."

Do Yang berhenti memberontak. "Lepaskan aku!"

Hwang Jung duduk, terkejut mendengar pernyataan Allen.

"Jika operasi berjalan dengan baik, ayahku tidak mungkin mati!" seru Do Yang pada Allen.

"Tuan Baek, kita sudah terlambat." Allen mencoba menjelaskan. "Ayahmu sudah tua dan kehilangan banyak darah.

Do Yang menoleh pada Hwang Jung dengan pandangan marah. "Aku tidak akan membunuhmu sekarang. Tapi aku akan memastikan bahwa kau akan mendapat hukuman. Ikat dan kurung dia!"

Para pelayan menarik Hwang Jung dan mengikatnya, kemudian mengurungnya di sebuah ruangan. Gwak juga ikut dikurung.

"Kenapa kalian melakukan ini?" tanya Gwak. "Dokter bilang itu bukan salahnya!"

"Diam!" bentak Kyu Hyun seraya menendang Gwak. "Kalian berdua akan menghabiskan sisa hidup kalian di dalam penjara!"

Hwang Jung hanya diam, tidak bergerak.

Seok Ran cemas bukan main. Ia berlari ingin menolong Hwang Jung, tapi ibunya dan Mak Saeng melarangnya.

"Awalnya Tuan Hwang menolak untuk melakukan operasi." Seok Ran berusaha menjelaskan. "Tuan Baek-lah yang memaksanya melakukan itu!"

"Apa maksudmu?" tanya Nyonya Yoo. "Aku melihatnya! Tuan Hwang itu memperalatmu! Benar, kan, Mak Saeng?"

"Aku tidak tahu apa-apa." jawab Mak Saeng, tidak ingin ikut campur.

"Tuan Hwang bukan orang seperti itu!" bantah Seok Ran.

"Masuk ke rumah!" perintah Nyonya Yoo pada Seok Ran, menarik Seok Ran pergi.

Do Yang menangis, menatap ayahnya yang sudah tidak bernafas.

"Tuan Muda." panggil Seok Ran. "Aku ingin bicara denganmu."

Namun Do Yang tidak menanggapi Seok Ran.

Seok Ran berpikir. Jika polisi datang, maka Hwang Jung akan dituduh sebagai pembunuh.

Ia akhirnya memutuskan.

Seok Ran diam-diam menuju ruangan tempat Hwang Jung dan Gwak dikurung.

"Kau harus pergi jauh dari sini." kata Seok Ran seraya melepaskan ikatan Hwang Jung. "Cepatlah! Polisi akan segera datang!"

"Aku tidak akan pergi." kata Hwang Jung.

Seok Ran terkejut.

"Apa maksudmu?" tanya Gwak. "Dia ingin kau pergi!"

"Aku tidak mau mnyusahkanmu." kata Hwang Jung lemah.

"Dokter Allen bilang sendiri bahwa operasinya berjalan dengan baik." bujuk Seok Ran. "Dia bilang Tuan Baek terlalu banyak kehilangan darah."

Hwang Jung tidak bergeming. "Tapi... mungkin aku melakukan kesalahan."

"Berarti, ada alasanmu untuk tetap hidup." kata Seok Ran. "Kau harus menemukan apa kesalahan yang kau buat. Kau harus bisa menemukannya, jadi kau akan bisa menyelamatkan nyawa orang lain kali."

Hwang Jung mendongak menatap Seok Ran.

"Jika kau tetap bersikeras, aku juga akan mengaku dan menerima hukumanku." kata Seok Ran.

"Kau tidak boleh melakukannya. Aku yang bertanggung jawab untuk semuanya." kata Hwang Jung, menolak.

"Dan aku bertanggung jawab untuk menolongmu!"

Di saat yang hampir sama, Do Yang dan para polisi datang, melihat bahwa Hwang Jung dan Gwak sudah melarikan diri.

Hwang Jung akhirnya setuju untuk pergi.

"Aku mengkhawatirkanmu." kata Hwang Jung pada Seok Ran.

"Aku akan baik-baik sana." Seok Ran berkata. Sebelum pergi, Seok Ran memberikan hiasan yang tergantung dibajunya. "Jika kau butuh uang, jual ini."

"Tidak.. Aku tidak bisa menerimanya..."

Tanpa berkata apa-apa, Gwak menerima hiasan itu untuk Hwang Jung. Mereka berdua bergegas pergi.

Do Yang mencari-cari Seok Ran, dan menemukannya dekat gerbang.

"Seok Ran, mengapa kau lakukan ini padaku?" tanya Do Yang.

"Aku tidak bisa membuatnya dituduh membunuh." kata Seok Ran cemas. "Dia hanya mencoba membantu. Jika kau masih menyalahkannya, kau juga harus menyalahkan aku. Aku membantunya. Dan pamanmu yang menyuruh kami."

"Apa? Pamanku?" tanya Do Yang. "Jadi maksudmu, kalian melakukannya karena dipaksa? Biar aku tanya satu hal padamu. Jika kau mengenal seseorang yang ingin menaiki tali seperti di sirkus, sedangkan dia belum pernah melakukannya, apa kau akan mengizinkan?"

Seok Ran ragu, kemudian berkata, "Tidak. Itu berbahaya."

"Dia bisa melakukannya." kata Do Yang. "Jika dia jatuh, maka dia sendiri yang akan mati. Tapi tidak dengan pengobatan! Karena orang lainlah yang akan mati! Karena itu adalah pembunuhan!"

"Itu terlalu berlebihan." kata Seok Ran.

"Berlebihan?" tanya Do Yang. "Kau sudah mengenalku selama 10 tahun, tapi lebih perhatian padanya? Kau lebih cemas tentang apa yang akan kulakukan padanya! Aku... baru saja kehilangan ayahku."

Kim Ok Gyun dan grup pemberontak berhasil diketahui oleh Ratu. Mereka meminta bantuan Cing untuk mengalahkan kelompok pemberontak dan pasukan Jepang.

Hong Young Shik dihukum mati.

Kedutaan besar Jepang dilempari batu oleh warga. Mereka terpaksa pergi dari sana. Kim Ok Gyun bersembunyi di dalam peti, yang dibawa oleh Watanabe, untuk melarikan diri.

Tuan Yoo memarahi Seok Ran karena menyuruh Hwang Jung. "Tuan Hwang telah menyelamatkan nyawaku dan nyawa Tuan Min. Kau pikir aku tidak akan membantunya? Apa yang kau lakukan malah akan membuat situasi sulit untuknya!"

"Maafkan aku, Ayah."

"Aku memberimu kebebasan lebih dari keluarga yang lain," kata Tuan Yoo. "Agar kau bisa berpikir secara bebas, bukan bertindak gegabah! Kau akan tinggal di rumah dan berpikir tentang kesalahanmu."

Dokter Allen datang ke rumah keluarga Yoo untuk mengambil supply obat-obatan.

"Apakah Tuan Hwang ditangkap?" tanya Allen pada Seok Ran.

Mak Saeng menjawab bahwa Seok Ran melepaskan Hwang Jung.

"Bagus sekali." kata Allen. "Andai saja aku datang lebih awal, ini semua tidak akan terjadi pada Tuan Hwang."

"Jika kau datang lebih awal, kaulah yang akan ditangkap." kata Mak Saeng.

"Jika pasien mati saat aku merawatnya, aku tidak akan terlena masalah di bawah hukum Korea." kata Allen.

"Kenapa?" tanya Seok Ran.

"Ini dinamakan konsuler hukum." kata Allen menjelaskan. "Kami, orang Amerika, dilindungi oleh hukum Amerika dan tidak bisa dihukum dengan hukum Korea. Kedua negara sudah menyetujui hal ini."

Gwak mengajak Hwang Jung pergi ke tempat yang jauh. Saat hendak menaiki perahu, Hwang Jung menatap hiasan pemberian Seok Ran. Ia teringat saat Seok Ran menyuruhnya mencari tahu kesalahan yang dibuatnya.

Gwak naik ke perahu. Perahu sudah akan berlayar.

"Jak Dae." panggil Hwang Jung. "Aku tidak bisa pergi. Maafkan aku."

Hwang Jung berlari pergi. Gwak memanggil-manggil Hwang Jung dari dalam perahu.

Do Yang dan keluarganya melakukan pemakaman ayahnya, Baek Tae Hyun.

Hwang Jung berlari, menuju toko buku. Di sana, ia membaca dan mempelajari buku-buku kedokteran sampai larut malam, lalu sampai keesokkan harinya lagi, tanpa berhenti.

"Tubuh manusia memiliki 3 bagian darah. Kehilangan satu bagian, bisa menyebabkan kematian." Hwang Jung membaca buku itu. "Ya, dia kehilangan lebih dari satu bagian." pikir Hwang Jung dalam hati.

"Pembiusan menurunkan tekanan darah." Hwang Jung membaca buku itu lagi.

Tiba-tiba ia menutup bukunya dan berlari pergi.

Dengan diam-diam, Hwang Jung menemui Seok Ran.

Hwang Jung mengatakan bahwa ia sudah membaca sebuah buku. Di sana dituliskan bahwa pembiusan bisa menyebabkan tekanan darah menurun.

"Saat itu, tekanan darah Tuan Baek sudah sangat rendah, dan aku memberikannya obat bius. Tekanan darahnya pasti menurun lebih lagi." kata Hwang Jung, merasa bersalah. Kesimpulan yang diambilnya adalah memang ia yang menyebabkan kematian Tuan Baek.

Namun Seok Ran belum yakin.

"Jika ini memang kesalahanku," Hwang Jung berkata. "Aku akan menyerahkan diriku ke polisi."

"Lalu bagaimana jika ini bukan kesalahanmu?" tanya Seok Ran.

"Jika ini bukan kesalahanku, maka aku ingin menyelamatkan nyawa orang." kata Hwang Jung.

Seok Ran meminta Hwang Jung bertanya langsung pada Dokter Allen. "Jika hal itu bukan kesalahanmu, mintalah padanya agar kau diizinkan menjadi asistennya."

"Asisten?"

"Jika kau menjadi asistennya, konsuler hukum akan melindungimu." kata Seok Ran. "Kau tidak perlu melarikan diri lagi."

Baek Do Yang menemui Jung Po Gyo dan memerintahkannya untuk membunuh seseorang bernama Hwang Jung.

"Hwang Jung?" tanya Po Gyo.

"Kenapa? Apa kau mengenalnya?" tanya Do Yang.

"Tidak. Tapi sepertinya nama itu tidak asing." kata Po Gyo.

"Dia berpura-pura menjadi dokter barat dan menyebabkan kematian ayahku." kata Do Yang. "Dia pernah ditemukan terluka karena tembakan."

"Tembakan?" tanya Po Gyo, terkejut.

"Apa kau mengenalnya?" tanya Do Yang. Po Gyo menjawab bahwa ia tidak mengenal Hwang Jung. "Banyak hal aneh dalam dirinya. Temukan dia, dan laporkan padaku."

Po Gyo curiga. Ia teringat saat ia menembak So Geun Gae.

Hwang Jung menemui Dokter Allen di rumah Tuan Mok. Ia bertanya perihal operasi yang dilakukannya pada Tuan Baek.

"Saat itu, Tuan Baek kehilangan kesadarannya, dan kami memutuskan untuk melakukan operasi." kata Hwang Jung.

"Pasien akan pingsan saat ia kehilangan banyak darah." kata Allen menjelaskan.

"Lalu, aku membiusnya dan menutup pembuluh darah." kata Hwang Jung. "Tekanan darahnya sudah rendah karena kehilangan banyak darah, dan pembiusan pasti membuat tekanan darahnya lebih rendah lagi. Jadi aku... aku... bertanggung jawab atas... kematiannya?"

"Tidak." jawab Allen. "Jika pembuluh darah sudah ditutup, maka tekanan darah tidak akan turun lagi. Dia mati bukan karena itu. Tuan Hwang, apakah kau masih berpikir bahwa kaulah yang membunuh Tuan Baek?"

Hwang Jung terdiam.

"Operasi tidak selalu bisa menyelamatkan seseorang." Dokter Allen menjelaskan. "Aku juga tidak yakin bisa menyelamatkan Tuan Baek. Ini bukan salahmu."

"Apa kau yakin, Dokter?" tanya Hwang Jung. "Aku tidak membunuhnya, kan?"

"Ya, kau tidak membunuhnya." jawab Allen.

Hwang Jung merasakan kelegaan yang luar biasa. Matanya berkaca-kaca. "Aku ingin menjadi dokter." katanya. Hwang Jung berlutut di hadapan Allen. "Aku ingin menyelamatkan nyawa orang. Aku ingin menjadi asistenmu. Tolong terima aku."

"Tidak bisa." jawab Allen. "Tuan Hwang, kau punya kemampuan untuk menjadi dokter yang baik. Tapi, hal itu membuatku gugup karena kau ada disampingku. Kita tidak bisa bersama setiap waktu, dan aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan jika aku tidak ada. Jika sesuatu seperti ini terjadi lagi, maka akan menjadi tanggung jawabku."

"Aku akan melakukan apapun yang kau katakan." kata Hwang Jung.

"Aku adalah orang asing. Jika ada masalah karena kau, maka aku mungkin harus meninggalkan negara ini. Aku yakin kau akan memiliki peluang yang lain."

Tiba-tiba dari dalam rumah seseorang memanggil Dokter Allen. Young Ik menggigil. Allen menyuruh orang untuk menghangatkan ruangan.

"Dia harus dipijat." kata Allen. Hwang Jung bergegas memijatnya. "Terima kasih."

Allen mengeluarkan sesuatu dari koper obat-obatan.

"Apakah itu brandy?" tanya Hwang Jung.

"Ini akan membantunya." kata Allen, menyuapkan brandy pada Young Ik. "Tiga sendok setiap kali jam berbunyi, dan dia akan baik-baik saja."

Hwang Jung mengangguk.

Hari sudah malam. Allen tertidur. Jam sudah berbunyi, namun Allen tidak bangun dari tidurnya.

"Jangan bangunkan dia." kata Young Ik pada Hwang Jung. "Kau bisa memberiku tiga sendok brandy, kan? Tidurnya sangat nyenyak. Biarkan saja dia."

Hwang Jung mengambil brandy dan menyuapkan tiga sendok pada Young Ik.

"Tolong berikan aku brandy lagi." Young Ik meminta.

"Aku tidak bisa, Tuan. Ini adalah obat, bukan minuman." tolak Hwang Jung.

"Dan aku meminta obat lagi. Badanku sangat kedinginan."

"Maafkan aku, aku tidak bisa melakukannya." Hwang Jung menolak.

Young Ik mulai marah. "Aku hanya ingin agar rasa sakitku berkurang! Kenapa kau tidak mau memberikan itu padaku?"

Allen terbangun mendengar teriak Young Ik. Ia mengintip sedikit, dan pura-pura masih tidur.

"Terlalu banyak brandy mungkin akan berbahaya untukmu." kata Hwang Jung.

"Tidak apa-apa. Aku tahu kondisi tubuhku. Lagipula, tadi hanya setengah sendok." Young Ik mencoba memaksa Hwang Jung.

Hwang Jung menjauhkan botol brandy dari Young Ik. "Maafkan aku."

"Aku memberimu perintah! Berikan brandy itu!"

"Maafkan aku. Aku akan memberimu satu jam lagi. Tolong bersabar." kata Hwang Jung.

"Kenapa kau begitu keras kepala?! Ah, aku hampir mati karena kesakitan!"

Sepanjang malam, setiap jam berbunyi, Hwang Jung memberikan tiga sendok brandy pada Young Ik.

Keesokkan harinya, Allen memeriksa Young Ik. Kondisinya sudah stabil, dan Allen meminta Hwang Jung pergi.

Dengan berat hati, Hwang Jung berjalan keluar. Tiba-tiba Allen mengejarnya.

"Apa kau masih ingin menjadi asistenku?" tanya Allen.

"Ya, aku ingin." kata Hwang Jung. "Sebut saja ada derajat yang berbeda antara bangsawan dan rakyat jelata. Siapa yang akan kau obati terlebih dahulu?"

"Orang yang lebih sakit." kata Hwang Jung tanpa ragu.

"Dan jika ada orang baik dan orang jahat?"

"Juga, orang yang lebih sakit." kata Hwang Jung.

"Hanya ada satu hal yang kuminta, seorang dokter tidak boleh meninggalkan pasiennya."

"Aku tidak akan pernah lupa." kata Hwang Jung dengan mata berkaca-kaca.

"Mulai saat ini, kau adalah asistenku." kata Allen, tersenyum. "Kau bisa menjadi dokter yang baik."

Hwang Jung menangis. "Terima kasih."

Allen memeluk Hwang Jung. Hwang Jung sangat terharu dan senang.

Hwang Jung segera menceritakan hal tersebut pada Seok Ran. Seok Ran ikut senang.

Saat kembali ke rumah Tuan Mok untuk melihat keadaan Young Ik, Allen dan Hwang Jung menemukan bibir bagian kiri Young Ik kaku.

"Kenapa dengan bibirmu?"

"Sejujurnya, aku juga tidak yakin." kata Young Ik.

Hwang Jung melihat botol brandy dan isinya sudah kosong.

"Wajahmu kaku karena brandy." kata Allen.

Young Ik panik. "Apa yang harus kulakukan?" tanyanya dengan sebelah bibir. "Apakah aku akan hidup seperti ini selamanya?"

"Kami akan mengobatinya, jangan khawatir." kata Allen menenangkan.

Allen dan Hwang Jung mengantar Young Ik, yang akan kembali ke istana.

"Kau bisa datang ke rumahku untuk mengobatiku." kata Young Ik.

"Tidak." kata Allen. "Kau boleh datang ke klinik di rumahku. Aku tidak bisa pergi ke rumah semua pasien. Aku akan bisa membantu pasien lebih banyak jika mereka datang ke rumahku."

"Oh, begitu. Aku tidak pernah melakukan itu sebelumnya." Young Ik tertawa aneh. Ia menyuruh pelayannya untuk memberikan sebuah kartu pada Hwang Jung dan Allen. Kartu itu bisa memberi apapun yang dibutuhkan oleh mereka, termasuk makanan, penginapan dan rumah bordir.

Allen mengajak Hwang Jung ke rumahnya untuk menunjukkan dinamo listrik, yang akan dipakainya untuk mengobati Young Ik.

Hwang Jung menyentuh dinamo itu dan tersetrum. "Apa itu?" tanyanya terkejut.

"Ini listrik." jawab Allen. Karena Hwang Jung tidak mengerti, Allen memberi tahu bahwa itu adalah sesuatu seperti petir.

"Aku sangat terkejut sampai jantungku berdebar-debar." kata Hwang Jung. Ini point penting bagi Hwang Jung kelak.

Min Young Ik berkunjung menemui Raja dan Ratu. Raja ingin sekali bertemu dengan dokter yang telah menyelamatkan Young Ik.

"Dia akan membuka klinik baru beberapa hari lagi." kata Young Ik.

"Klinik?" tanya Raja. "Aku ingin sekali melihatnya.

Young Ik datang ke rumah Allen untuk mendapat perawatan. Hwang Jung dan Allen menyetrum wajah Young Ik untuk menyembuhkannya.

"Rasanya aneh." kata Young Ik, bibirnya hampir kembali normal. "Pasti sangat bagus jika digunakan untuk menginterogasi penjahat."

"Ini untuk pengobatan. Tidak baik jika kau berpikir seperti itu." kata Allen.

Do Yang sangat marah ketika mengetahui bahwa Hwang Jung menjadi asisten Dokter Allen. Ia pergi menemui Po Gyo.

"Apakah kau sudah menemukannya?" tanya Do Yang.

"Aku..."

"Siapa yang menemukanmu memohon di jalan dan membuatmu menjadi polisi?" tanya Do Yang tajam.

"Anda, Tuan Muda." jawab Po Gyo. "Aku sangat berterima kasih."

"Berterima kasih? Inikah caramu berterima kasih? Apa yang kau lakukan saat Hwang Jung menemui Dokter Allen?"

"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Po Gyo. "Haruskan aku membunuhnya tanpa diketahui orang lain?"

"Tidak." kata Do Yang. "Aku ingin tahu lebih banyak tentang dia."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar