Senin, 30 Agustus 2010

Jejoongwon (Episode 13)

Kim Don memukulkan palu ke kepala Hwang Jung.

"Tuan!" terdengar suara Gwak memanggil.

Kim Don menoleh. Hwang Jung mendorongnya dan Gwak menendangnya. Kim Don terjatuh.

Dalam kondisi terjepit, ia melemparkan bom asap ke arah Hwang Jung dan Gwak, kemudian kabur.

Di Jejoongwon, Dr. Horton memeriksa Nang Rang.

"38 derajat celcius." kata Seok Ran, membaca nilai di termometer.

"Nang Rang, apa yang terjadi padamu?" tanya Miryung, menangis. Ia hendak menyentuh Nang Rang, namun Seok Ran menahannya.

"Penyakitnya menular." ujar Seok Ran. "Pakailah masker."

"Nona, aku merindukanmu." ujar Nang Rang lemah.

"Aku juga." balas Miryung. "Jangan khawatir. Kami pasti akan menyembuhkanmu."

"Aku terkena cacar. Aku pasti mati." kata Nang Rang putus asa.

"Tidak! Tidak semua orang yang terkena cacar mati!" seru Miryung. "Maafkan aku, Nang Rang. Aku tidak bisa melindungimu."

"Jangan berkata bergitu." ujar Nang Rang.

Hwang Jung masuk ke ruangan tersebut.

"Darimana kau tahu bahwa palu itu milik Kim Don?" tanya Hwang Jung pada Nang Rang.

"Saat aku hendak membersihkan kamarmu." jawab Nang Rang.

"Sepertinya, ketika ia mau meletakkan palu di kamarku, kau melihatnya. Ia kemudian menuduhmu mencuri obat agar kau dikeluarkan." ujar Hwang Jung berkesimpulan.

"Brengsek!" seru Miryung marah. Ia teringat ketika sedang melayani Watanabe. "Ah, itu dia! Aku sudah curiga bahwa wajahnya tidak asing lagi. Dia adalah laki-laki yang sering datang ke rumah birdir bersama Dokter Watanabe." kata Miryung. "Ah, seharusnya aku mengenalinya lebih awal!"

Hwang Jung menemui Dr. Allen, Chung Hwan dan Kyu Hyun untuk menceritakan mengenai Kim Don.

"Kenapa ia mengincarmu?" tanya Allen.

"Kurasa, ia diperintahkan oleh Watanabe." jawab Hwang Jung. "Aku tidak yakin, tapi... aku pernah mencegah Watanabe membunuh Tuan Min dengan obat bius. Maaf, seharusnya aku memberitahu lebih awal."

"Jadi begitu!"seru Kyu Hyun. "Jadi Watanabe memerintahkan Kim Don agar membuat keributan di Jejoongwon. Dia mencari tahu obat-obatan apa yang kita gunakan, kemudian mencurinya! Kim Don adalah pencuri obat-obatan!"

"Ini semua salahku. Aku seharusnya mempercayai Nang Rang. Akulah yang menyebabkan Nang Rang terkena cacar." ujar Allen menyesal.

"Jangan merasa bersalah pada Nang Rang!" kata Kyu Hyun. "Semua itu tidak direncanakan. Selain itu, ini semua dimulai karena Hwang Jung." Mulai lagi nyalahin Hwang Jung. "Bahkan Do Yang terluka karena dia!"

Hwang Jung diam saja.

Hwang Jung keluar. Gwak mendekatinya. Melihat raut wajah Hwang Jung, Gwak tahu bahwa kedua pengelola itu menyalahkan Hwang Jung lagi.

"Mereka menyalahkanmu lagi, kan?" tanya Gwak. "Mereka tidak mau meminta maaf pada Nang Rang, kan?"

Hwang Jung menatap Gwak.

"Aku tidak mencuri dengar." kata Gwak cepat. "Tapi itu bisa ditebak! Jika mereka tahu bahwa kau tukang jagal, mereka pasti akan membunuhmu!"

"Sudahlah. Tidak apa-apa." ujar Hwang Jung sabar. "Hari ini aku melihat ayah. Sepertinya berat badannya turun." Hwang Jung sedih.

"Jangan kehilangan keberanian!" seru Gwak memberi semangat. "Kau bukan lagi So Geun Gae. Kau adalah Hwang Jung! Masih terlalu dini untuk bertemu dengan ayahmu. Tujuan utamamu sekarang adalah menjadi dokter. Kau bisa bertemu dengan ayahmu setelah kau sudah menjadi dokter. Konsentrasilah belajar. Aku akan mengurus segalanya. Mengerti?"

"Mengerti."

Do Yang sudah bisa bangun dari tidur. Ia masuk ke kelas bersama teman-temannya.

"Aku punya berita buruk." kata Allen. "Aku takut bubuk nanah yang kita gunakan hanya berpengaruh sedikit. Bubuk itu sudah tua."

"Aku sudah tahu itu!" seru Je Wook. "Hidungku masih sakit karena menghisap bubuk itu!"

"Apa kau berniat membunuh kami? Jika kami mati, siapa yang akan bertanggung jawab pada kedokteran negara ini?!"

"Jejoongwon sekarang penuh dengan pasien cacar!"

Murid-murid protes pada Allen.

"Kita tidak boleh memilih-milih pasien." kata Allen.

"Ya, kita tidak boleh memilih-milih pasien." Seok Ran berkata setuju. "Kita harus menerima siapapun yang sakit..."

"Siapa kau?!" bentak seorang murid. "Beraninya seorang wanita bicara! Hanya laki-laki yang bicara!"

Do Yang marah, namun Je Wook menahannya.

"Nona Seok Ran adalah asisten Dr. Horton." kata Hwang Jung membela Seok Ran. "Dia adalah pegawai disini dan punya hak untuk bicara."

"Siapa kau berani membelanya?!"

"Cukup." Allen menengahi. "Semua orang punya hak untuk bicara. Jika kalian menggunakan masker dan mencuci tangan dengan baik, maka kalian akan terlindung dari penyakit cacar."

Murid-murid sangat mengkhawatirkan keluarga mereka. Hwang Jung menyarankan pada Allen agar membiarkan murid-murid pulang ke kampung halaman masing-masing. Selain bisa menjenguk keluarga masing-masing, mereka juga bisa mengajarkan cara mencegah penyakit cacar. Dr. Allen setuju. Terlebih lagi, Tuan Yoo akan membawa bubuk nanah yang baru besok.

Seok Ran dan Mak Saeng memandikan seorang gadis cilik jalanan (salah satu anak buah Mong Chong) yang bernama Ggotnim.

"Aku tidak ingin terkena cacar." kata Ggotnim.

"Tentu saja kau tidak akan terkena cacar." ujar Seok Ran menenangkan.

"Bolehkan aku menjenguk Nang Rang?" tanya Ggotnim.

"Kau boleh menjenguknya saat kondisinya sudah baik." jawab Seok Ran.

"Tapi, orang yang sudah terkena cacar akan mati." kata Ggotnim sedih.

"Dia tidak akan mati, karena ia ingin bermain denganmu." hibur Seok Ran.

Para dokter dan murid Jejoongwon membagikan masker dan sabun pada para warga, serta mengajarkan mereka bagaimana cara menggunakannya.

Duta Besar Jepang lewat dan melihat keramaian di Jejoongwon dengan pandangan marah.

Duta Besar tiba di Kedutaan. Di sana, ia memarahi Watanabe dan Kim Don karena rencana dan pekerjaan mereka yang tidak pernah berhasil. Duta Jepang suka sekali menendang kaki orang jika ia merasa marah.

"Ini kesempatanmu yang terakhir!" seru Duta Jepang pada Kim Don. "Bubuk nanah akan datang besok. Pastikan bahwa barang-barang itu tidak sampai di tujuan! Jika kau gagal, kau akan membayarnya dengan nyawamu!"

"Baik, Tuan!" seru Kim Don.

Para murid Jejoongwon berjalan dan melihat keadaan desa. Kondisi di desa sangat menyedihkan.

Ketika sedang berjalan, para murid bertemu dengan beberapa dukun/pengusir setan.

"Minggir!" seru murid Jejoongwon.

"Kami tidak akan minggir! Setan Mama akan memakan kalian lebih dulu!" seru si dukun mengancam. Setan Mama maksudnya adalah Setan cacar.

Murid Jejoongwon sedikit ciut dan merasa takut.

"Setan Mama yang agung!" seru si dukun, berdoa. "Orang-orang bodoh ini berani mengumpat kekuatanmu!"

"Ayo pergi dari sini!" bisik seorang murid Jejoongwon.

Do Yang muncul dari belakang si dukun dan sengaja menjatuhkan krincingan yang dibawa dukun.

"Mengumpat?" tanya Do Yang merendahkan. "Beraninya kalian membodohi warga! Apakah orang-orang itu kelihatan seperti sekantung uang bagi kalian?!"

"Apa maksudmu?!"

"Kau takut pelangganmu akan berkurang karena kami." Do Yang menantang mereka. "Aku tidak akan membuang-buang tenagaku! Minggir dari sini!"

"Jika kami tidak mau, apa yang akan kau lakukan?" tanya si dukun.

Do Yang mengambil sebuah tongkat kayu dari tanah. "Kami akan melawan kalian!"

"Ingat! Setan Mama tidak akan melepaskan kalian semua!" ancam si dukun, kemudian pergi bersama rombongannya.

Je Wook mendekati Do Yang. Ia melihat punggung Do Yang berair.

Do Yang kembali ke Jejoongwon. Dr. Allen memeriksa luka dipunggung Do Yang. Ternyata bernanah karena Do Yang terlalu banyak bergerak.

"Aku akan membersihkan nanahnya." kata Hwang Jung.

"Tunggu!" ujar Allen. Ia meminta Seok Ran membawakan ulat/belatung.

Ulat-ulat tersebut digunakan untuk menyembuhkan luka Do Yang agar lebih cepat sembuh. Ulat/belatung bisa memakan nanah.

Chung Hwan dan Kyu Hyun berjalan melewati desa. Mereka sangat takut tertular penyakit cacar.

"Lihat disana!" Chung Hwan menunjuk ke arah pohon. "Apakah itu wanita yang dicampakkan? Menurut tradisi, kita berkewajiban menolongnya."

"Menolongnya?" tanya Kyu Hyun.

"Ya." jawab Chung Hwan.

"Laki-laki pertama yang melihat wanita yang dicampakkan, berkewajiban untuk menolongnya?" tanya Kyu Hyun. Chung Hwan mengiyakan. "Ayo kita menghindarinya! Jika kita harus menolongnya, maka semuanya menjadi rumit. Jika ia terkena cacar, maka kita harus membayar biaya pemakamannya jika ia mati!"

Namun mengambil jalan memutar sangat jauh dan membutuhkan waktu yang lama. Akhirnya mereka memutuskan untuk lewat dan pura-pura tidak melihat.

Wanita tersebut memanggil dan membalikkan tubuh mereka. "Ayo kita pergi. Kalian akan ke Jejoongwon kan?"

Wanita tersebut tidak lain adalah wanita yang pernah menjambak rambut Dr. Horton.

Seok Ran datang bersama Ggotnim. Begitu melihat Hwang Jung, Ggotnim langsung berlari untuk memeluknya.

Seok Ran berkata bahwa 20 pasien penderita cacar datang hari ini dan jumlah yang sama meninggal.

Seok Ran dan Hwang Jung menjenguk para penderita cacar, kemudian meminta perawat menyuapi para penderita cacar tersebut. Setelah itu, mereka menjenguk Nang Rang. Nang Rang sudah mulai sembuh. Bintik-bintik di tubuhnya sudah banyak berkurang dan demamnya juga sudah turun.

"Kerja yang bagus." puji Seok Ran pada Miryung, yang telah merawat Nang Rang.

Tuan Yoo dan beberapa pelayannya berjalan di jalan setapak hutan. Mereka hendak menuju Jejoongwon setelah mendapatkan vaksin cacar.

Kelompok Kim Dom menyerang rombongan Tuan Yoo.

Chil Bok menyelamatkan Tuan Yoo ketika para perampok hendak menusuknya dengan pedang. Para perampok berhasil kabur bersama vaksin setelah melemparkan bom asap pada mereka.

Mong Chong dan anak-anak jalanan sedang makan bersama. Tiba-tiba, Ggotnim pingsan.

"Badannya panas sekali!" seru Mong Chong panik. Ia bergegas menggendong Ggotnim dan membawanya ke ruang perawatan Jejoongwon.

Ggotnim terkena cacar. Kakaknya, Samdol, menjadi sangat khawatir.

Seok Ran menyuapi obat pada Ggotnim, namun Ggotnim menolak karena obat tersebut terlalu pahit.

"Aku akan memaksanya minum." kata Mong Chong menawarkan.

"Tidak, kita tidak boleh memaksanya." ujar Seok Ran tidak setuju.

Hwang Jung berpikir, kemudian mengajak Seok Ran ke belakang.

Hwang Jung punya ide. Ia ingin mencampurkan obat dengan madu agar terasa manis.

"Kenapa aku tidak berpikir ini?" gumam Seok Ran. "Aku pernah membaca bahwa di barat, mereka mencampurkan obat dengan sirup untuk anak-anak."

"Itu karena aku tidak menyukai rasa pahit." kata Hwang Jung. "Aku selalu memikirkan madu jika sedang minum obat."

Seok Ran tertawa.

Ggotnim mau meminum obat setelah dicampurkan dengan madu. "Aku tidak akan mati, kan?" tanya Ggotnim.

"Tentu saja tidak." hibur Seok Ran. "Nang Rang akan menjagamu."

"Ini tidak akan meninggalkan bekas kan?" tanya Ggotnim lagi.

"Tentu saja tidak." kata Hwang Jung. "Ggotnim-ku yang cantik tidak akan memiliki bekas cacar."

"Janji?" Ggotnim menunjukkan jari kelingkingnya.

"Janji." Hwang Jung membalasnya dengan melingkatkan kelingkingnya pada kelingking Ggotnim.

Tuan Yoo kembali ke Jejoongwon dalam kondisi terluka. Tuan Yoo menceritakan bahwa para perampok itu menggunakan penutup wajah dan meledakkan bom asap ketika kabur. Hwang Jung teringat Kim Don. Pihak Jepanglah yang mencuri vaksin mereka.

Pada akhirnya, Allen, Hwang Jung, Seok Ran dan Do Yang bertekad untuk membuat sendiri vaksin cacar.

Seok Ran, Hwang Jung dan Do Yang mulai mempelajari langkah-langkah pembuatan vaksin dengan menggunakan cacar sapi.

Mereka berdiskusi dengan Dr. Allen mengenai metode pembuatan vaksin.

"Pertama, kita harus menanam bisul dari anak yang diberi vaksin dari virus cacar sapi." kata Allen.

"Ya, setelah itu, kita mengambil cairan bisul dan menginjeksikan pada anak sapi, maka kita akan mendapatkan vaksin cacar sapi." tambah Do Yang.

"Kedengarannya memang mudah, tapi dimana kita bisa menemukan seorang anak yang diberi vaksin virus cacar sapi?" tanya Allen. "Kita tidak punya vaksin cacar sapi. Kita juga tidak punya perlengkapan yang bisa digunakan untuk menanamkannya pada pasien."

"Satu-satunya orang yang memiliki vaksin itu adalah dokter Jepang." ujar Do Yang. "Aku akan mendapatkan itu darinya. Serahkan saja padaku."

"Kalau begitu, aku akan membuat perlengkapan vaksin." ujar Hwang Jung.

"Bagus. Lalu dimana kita bisa menemukan anak sapi?" tanya Allen.

"Aku sudah menghubungi ibuku." ujar Seok Ran. "Ia akan mencarikan untuk kita."

Do Yang dan Seok Ran membujuk Samdol agar mau diberi vaksin.

"Kenapa kalian tidak memberikan vaksin itu pada Ggotnim?" tanya Samdol menangis sedih. "Ggotnim bisa mati! Aku tidak mau diberi vaksin!"

"Maka kau akan tertular cacar." kata Do Yang. "Teman-temanmu juga akan tertular."

"Kakak, pergilah." pinta Ggotnim, membuat Samdol melunak.

Samdol pergi bersama Miryung ke Kedutaan Jepang untuk diberi vaksin. Watanabe menyukai Miryung, maka mereka yakin akan mendapatkan vaksin tersebut.

Miryung dan Samdol sampai di Kedutaan Jepang. Sebelum Watanabe setuju untuk memberi vaksin pada Samdol, ia meminta Miryung di-vaksin terlebih dahulu. Kesempatan Watanabe untuk melihat lengan Miryung yang telanjang.

Setelah itu, Samdol di-vaksin. Tinggal menunggu bisul ditubuh Samdol tumbuh, lalu Allen dkk akan mengambil cairan bisul tersebut.

Hwang Jung pergi ke sebuah pembuat pisau di desa. Ia menunjukkan gambar perlengkapan vaksin pada pria pembuat pisau.

"Apakah ini jarum cacar sapi?" tanya si pria.

"Apa kau tahu?" tanya Hwang Jung penuh harap. "Kau pernah membuat ini sebelumnya?"

"Tolong tunggu sebentar." si pria masuk dan mengambil sebuah kotak berisi perlengkapan pembuat vaksin. Ada cawan petri dan dua buah jarum. "Jika kau menginginkan ini, aku akan menjualnya dengan harga yang bagus."

"Apakah ada seseorang yang pernah memesan ini?" tanya Hwang Jung.

"Benar. Tapi orang tersebut dibuang ke propinsi Jeolla." kata si pria. "Kau bisa membelinya jika mau. Orang yang memesan ini merupakan seorang ahli cacar sapi. Ia men-vaksin aku dan anak-anakku sehingga kami semua sehat sampai saat ini. Kurasa ia menulis buku tentang itu juga. Ia bahkan pernah tinggal di desa para tukang jagal untuk membuat cacar sapi."

Hwang Jung teringat masa kecilnya. Dulu, ia pernah melihat seorang pria bekerja membuat vaksin cacar sapi. Pria tersebut bernama Ji Suk Young, seorang ahli vaksin cacar.

Hwang Jung kembali ke Jejoongwon.

Di sana, Tuan Yoo bercerita mengenai seorang tukang jagal yang pernah membantu Ji Suk Young membuat vaksin. Tukang jagal tersebut bernama Ma Dang Gae, yang tidak lain adalah ayah Hwang Jung.

Ma Dang Gae bersedia mengantar dan menunjukkan dimana tempat Ji Suk Young dulu membuat vaksin cacar sapi. Hwang Jung sedikit cemas.

Do Yang dan Seok Ran mempelajari cacar sapi bersama. Seok Ran mengemukakan pendapat dan idenya pada Do Yang, namun Do Yang kelihatan tidak tertarik dan tidak memperhatikan Seok Ran. Ia tidak menghargai pendapat yang dilontarkan Seok Ran. Seok Ran sedikit kesal pada sikapnya itu.

Hwang Jung menjenguk Ggotnim. Keadaan Ggotnim belum juga membaik, justru semakin parah.

Nang Rang bilang Samdol belum juga pulang. Hwang Jung mencarinya, dan menemukan Samdol sedang menangis di depan sebuah pohon. Ia meminta dewa-dewa mengampuni dan menyembuhkan adiknya.

Keesokkan harinya Ggotnim meninggal.

Adat di Korea sangat aneh. Jika seorang anak meninggal karena cacar, maka jenazahnya harus diikatkan di atas pohon. Jika tidak, maka anak-anak yang lain akan terkena cacar. Begitulah kepercayaan Korea zaman dahulu.

Samdol menangisi kematian adiknya, demikian pula Seok Ran, Hwang Jung, Gwak dan Mong Chong.

Bisul Samdol sudah tumbuh. Hwang Jung mengambil nanah/cairan dari bisul tersebut kemudian menyimpannya dalam tabung reaksi.

"Jika berhasil, apakah anak-anak lain tidak akan terkena cacar?" tanya Samdol. "Kemudian aku bisa mengubur Ggotnim di tanah?"

"Benar." kata Hwang Jung, mengangguk.

Hwang Jung, Do Yang, dan Seok Ran pergi untuk menemui Ma Dang Gae. Ma Dang Gae akan mengantar mereka ke desa tukang jagal.

"Apakah kau merasa nyaman seperti itu?" tanya Seok Ran, melihat Hwang Jung memakai maskernya. "Kenapa kau tidak memakai maskermu nanti saja?"

"Aku terkena flu." jawab Hwang Jung. "Aku tidak ingin menghirup udara dingin."

"Jika kau kurang sehat, kau boleh kembali." Do Yang menawarkan, namun Hwang Jung menolak.

"Aku baik-baik saja." katanya.

Hwang Jung, Do Yang, dan Seok Ran menunggu Ma Dang Gae di sebuah toko daging.

Ma Dang Gae datang dengan kaki terpincang-pincang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar