Senin, 30 Agustus 2010

Jejoongwon (Episode 14)

"Ma Dang Gae, bagaimana kabarmu?" tanya Seok Ran ramah.

"Aku baik-baik saja, Nona." jawab Ma Dang Gae.

"Terima kasih sudah memgingat hari ulang tahun ayahku."

"Hari ulang tahuan Tuan Yoo sama dengan putraku. Ia sudah meninggal satu tahun yang lalu." kata Ma Dang Gae.

"Kudengar dia sangat pandai." kata Seok Ran, prihatin.

"Bagaimana rakyat rendah seperti kami bisa pandai?" Ma Dang Gae merendahkan diri sendiri.

"Kita bicara terlalu banyak." potong Do Yang. "Ayo cepat menuju rumah pembuatan vaksin."

"Ba.. baik." ujar Ma Dang Gae seraya bangkit. Ia bangkit dengan sulit, seperti sedang sakit atau terluka. "Tolong ikuti aku."

Hwang Jung melihat ayahnya dengan sedih. Ia memperhatikan Ma Dang Gae berjalan terpincang-pincang.

Saat mereka berjalan ke desa tukang jagal, seorang dukun melihat mereka lewat.

Hwang Jung mengkhawatirkan ayahnya. Ia mendekati Seok Ran. "Ku.. Kurasa, kaki tukang jagal itu terluka." bisik Hwang Jung.

"Ah, benar." ujar Seok Ran. "Ma Dang Gae! Sepertinya kakimu terluka."

"Oh, benar, Nona." jawab Ma Dang Gae. "Aku menginjak sebuah paku beberapa hari yang lalu."

Seok Ran menunduk. "Buka sepatumu. Biar aku melihat lukamu." ujar Seok Ran.

"Seok Ran!" seru Do Yang melarang.

"Bagaimana aku berani menunjukkan kakiku pada Nona?" Ma Dang Gae berkata tidak enak.

"Kita kemari bukan sebagai dokter sukarela!" seru Do yang. "Kita punya tugas yang harus dikerjakan!"

Hwang Jung hampir menangis. Akhirnya Seok Ran menyerah, dan meminta Ma Dang Gae memeriksakan kakinya ke Jejoongwon.

Do Yang menutup hidungnya. "Apakah kau mandi satu tahun sekali?" tanya Do Yang merendahkan.

Ma Dang Gae meminta maaf.

Seok Ran menoleh pada Do Yang dengan pandangan tajam. "Sikapmu sangat buruk!"

Hwang Jung meneteskan air mata.

Ma Dang Gae mengantarkan Hwang Jung, Do Yang dan Seok Ran melewati desa tukang jagal menuju ke tempat pembuatan vaksin.

Hwang Jung melewati rumahnya, dan teringat ibunya.

"Tuan Hwang, apa yang kau lakukan?" panggil Seok Ran. "Cepat kemari!"

Ma Dang Gae berjalan, namun tiba-tiba terjatuh. Dengan spontan, Hwang Jung membantunya, namun Ma Dang Gae menghempaskan tangannya. Seorang bangsawan tidak pantas menyentuh rakyat rendahan seperti dirinya.

Mereka tiba di vaksin center. Ma Dang Gae memohon diri pamit, sementara Do Yang dan Seok Ran menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk membuat cacar sapi. Anak sapi yang mereka butuhkan belum diantar oleh tukang jagal.

Dengan diam-diam, Hwang Jung mengejar Ma Dang Gae keluar dan menyerahkan obat oles padanya.

"Sepertinya kakimu terluka." ujar Hwang Jung, merubah suaranya. "Gunakan obat oles ini."

"Tidak, Tuan." tolak Ma Dang Gae. "Bagaimana aku bisa menggunakan obat yang sangat berharga ini?"

"Ambillah."

"Tidak usah, Tuan."

"Kubilang ambil!" Hwang Jung sedikit membentak Ma Dang Gae.

"Aku tidak pantas menggunakan obat ini, Tuan." tolak Ma Dang Gae.

"Beraninya kau!" bentak Hwang Jung. "Mungkin karena itulah kalian rakyat rendah begitu tidak berguna. Kalian tidak pernah mendengar apa yang kami katakan!" Hwang Jung memaksa Ma Dang Gae menerima obat itu.

"Baik.. baik, Tuan." Ma Dang Gae menyerah dan menerima obat tersebut. "Terima kasih."

Ma Dang Gae berjalan pergi, kemudian tersenyum sebagai ucaoan terima kasih. Hwang Jung meneteskan air matanya.

Beberapa saat kemudian, beberapa tukang jagal datang dan mengantarkan anak sapi yang mereka butuhkan.

Do Yang dan Hwang Jung memulai pekerjaan mereka.

Pertama-tama, mereka harus mencukur bulu-bulu di bagian perut anak sapi.

"Bagaimana bisa kita mencukur bulu perut dengan pisau berkarat?" tanya Seok Ran, karena mereka hanya memiliki sebuah pisau berkarat.

"Tunggu sebentar." ujar Hwang Jung. Ia mengasah pisau tersebut.

"Kau adalah laki-laki yang punya banyak bakat." puji Seok Ran, tertawa.

"Aku tidak terkejut lagi saat dia melakukan sesuatu." tambah Do Yang, tersenyum.

Setelah selesai mengasah pisau, Hwang Jung mencukur bulu-bulu perut sapi. Do Yang mempersiapkan bahan yang lain, yakni nanah cacar sapi yang akan diinjekkan.

Ketika Hwang Jung telah selesai mencukur, Seok Ran membersihkan perut anak sapi dengan alkohol.

"Di buku tertulis, kita harus membuat 60 titik berbeda pada perut sapi." kata Do Yang pada Hwang Jung. "Kita masing-masing akan membuat 30 titik dengan berpola."

Hwang Jung mengangguk. Ia dan Do Yang menusuk perut anak sapi. Jika mereka berhasil, maka dari titik-titik tersebut akan tumbuh bisul.

Beberapa lama setelah mereka selesai, para dukun berteriak-teriak dari luar, memanggil mereka.

Do Yang berjalan keluar.

"Ini dia! Si bangsawan yang peduli pada mayat-mayat!" kata seorang dukun.

"Untuk apa kalian kemari?" tanya Do Yang.

"Akulah yang seharusnya bertanya padamu. Kau adalah seorang bangsawan, kenapa kau ada di sebuah desa miskin?"

"Itu bukan urusanmu!" seru Do Yang. "Pergi dari sini sebelum kau mendapat masalah!"

Setelah membereskan perlengkapan vaksin, Hwang Jung dan Seok Ran menyusul Do Yang keluar.

"Lebih baik kau berlutut dan memohon pengampunan padaku!" teriak dukun.

"Beraninya kau bicara seperti itu padaku!" bentak Do Yang, mulai kehilangan kesabaran.

"Ada sesuatu yang harus kau tahu!" teriak dukun. "Mayat-mayat datang dan keluar dari tempat ini, namun tidak ada seorang pun yang peduli!"

Seok Ran maju untuk bicara. "Tolong tenanglah. Pasti ada kesalahpahaman disini. Kami hanya ingin mempelajari bagaimana cara menyembuhkan penyakit cacar. Itu saja."

"Itu benar." ujar Hwang Jung. "Kalian akan selamat dari cacar apabila kami berhasil."

"Tidak ada gunanya bicara pada mereka!" kata Do Yang.

Si dukun memerintahkan anak buahnya menyerang Do Yang, Hwang Jung dan Seok Ran.

Do Yang dan Hwang Jung berkelahi dengan mereka. Tiga lawan banyak.

"Hwang! Bawa Seok Ran pergi!" seru Do Yang.

"Tidak!" seru Hwang Jung menolak. "Aku tidak bisa melakukan itu!"

"Dengarkan aku! Pergi sekarang!" teriak Do Yang.

"Kita bertemu lagi di Jejoongwon." kata Hwang Jung. Ia mengajak Seok Ran pergi.

"Tidak! Tuan Muda!" seru Seok Ran cemas.

Hwang Jung dan Seok Ran melarikan diri melewati hutan.

"Nona, lewat sini!" kata Hwang Jung.

"Tidak, tadi kita datang lewat sana!" Seok Ran lari, namun bebrapa dukun mencegatnya.

"Nona!" Hwang Jung berlari melindungi Seok Ran. Ia berkelahi dengan para dukun. "Nona, lari!"

Seok Ran melarikan diri. Tiba-tiba ia tersandung dan terjatuh. Koper terbuka dan isinya berantakan keluar. Seok Ran buru-buru membereskannya.

Hwang Jung berlari menyusul Seok Ran. Kaki Seok Ran terluka, Hwang Jung menggendongnya.

Tiba-tiba, Hwang Jung tidak sengaja menabrak Tetua tukang jagal.

"So Geun Gae...?" seru Tetua terkejut.

"Beraninya kau melihat kami!" bentak Hwang Jung.

"Maafkan aku, Tuan!" Tetua bersujud pada Hwang Jung.

Seok Ran memandang Hwang Jung dengan pandangan bertanya. Mungkin, ia heran karena tidak biasanya Hwang Jung bersikap kasar seperti itu.

Hwang Jung dan Seok Ran beristirahat.

"Apakah Tuan Muda akan baik-baik saja?" tanya Seok Ran cemas.

"Aku yakin ia baik-baik saja." jawab Hwang Jung menenangkan.

"Kita harus segera kembali." ujar Seok Ran. Ia melihat kakinya yang terluka.

Hwang Jung hendak membersihkan darah di lukanya, namun Seok Ran mencegah. "Biar aku saja." kata Seok Ran. Seok Ran membersihkan lukanya, dan meringis kesakitan.

"Biar aku saja yang melakukannya." Hwang Jung menawarkan.

"Bisakah kau memberiku obat oles?" tanya Seok Ran.

Hwang Jung terdiam sejenak. "Aku memberikan obat itu pada tukang jagal untuk mengobati kakinya yang terluka." ujar Hwang Jung.

Seok Ran tersenyum. "Bagus."

"Kau bisa memakai ini." Hwang Jung mengambil sebuah botol berisi bubuk. "Akan terasa sedikit perih."

Hwang Jung menaburkan bubuk tersebut di luka Seok Ran. Seok Ran kesakitan.

Hwang Jung meniupi luka Seok Ran agar tidak terasa terlalu sakit lagi. Ia kemudian membalut luka Seok Ran dengan kain pakaiannya.

Seok Ran tersenyum, menatap Hwang Jung dengan pandangan kagum.

Hari sudah malam, Hwang Jung, Do Yang dan Seok Ran tidak juga kembali ke Jejoongwon. Tiba-tiba Do Yang datang dengan terpincang-pincang dan luka di tubuhnya.

Do Yang menceritakan segalanya. Murid-murid mengambil perlengkapan perang mereka (Lebay).

"Apa kau yakin tongkat ini cukup? Apakah kita perlu mengambil pistol atau semacamnya?" tanya Je Wook.

"Lihat saja kami! Kami akan mengurus mereka!" ujar Gwak, siap tempur.

"Beraninya mereka menyerang murid-murid Jejoongwon!" seru Mong Chong emosi.

"Apa semua sudah disini?" tanya Do Yang. "Ayo kita pergi!"

Mereka semua keluar dari gerbang Jejongwon. Di sana, Hwang Jung dan Seok Ran baru saja tiba. Do Yang menarik napas lega.

Dr. Horton mengobati luka Seok Ran.

Seok Ran mengembalikan kain Hwang Jung. Do Yang melihat mereka dengan pandangan cemburu.

"Bagaimana dengan anak sapi?" tanya Seok Ran pada Do Yang.

"Aku tidak bisa membawanya bersamaku." jawab Do Yang.

"Bagus." Seok Ran tersenyum. "Kau mungkin bisa terluka jika melakukannya."

"Benar." ujar Hwang Jung. "Kita masih memiliki sisa nanah, jadi kita bisa menginjeknya pada anak sapi yang lain."

"Dimana nanahnya?" tanya Do Yang.

Seok Ran menunjuk koper. Hwang Jung mengambil kotak tempat nanah. Ternyata botol tempat nanah sudah pecah.

"Ini semua salahku." kata Seok Ran bersalah. "Aku menjatuhkannya ketika kita lari."

Hwang Jung dan yang lainnya melaporkan masalah tersebut pada Dr. Allen.

Mereka berpikir, kemudian memutuskan untuk mengambil nanah di bisul Miryung, walaupun Miryung bukan anak-anak. Sudah kepepet sih!

Sayang sekali rencana itu juga gagal. Bisul Miryung sudah pecah karena ia menggaruknya.

Untuk saat ini, tidak ada yang bisa mereka lakukan.

Di desa tukang jagal, Ma Dang Gae mengoleskan kakinya yang terluka dengan obat oles. Tetua Baektae mengatakan bahwa ia melihat seseorang yang mirip sekali dengan So Geun Gae. Bukan hanya wajahnya yang mirip, suaranya pun adalah suara So Geun Gae.

Ma Dang Gae tidak percaya. Ia berkata bahwa Tetua pasti salah lihat.

Beberapa saat kemudian, beberapa tukang jagal membawa anak sapi yang diinjek oleh murid Jejoongwon pada Ma Dang Gae.

Keesokkan harinya, Ma Dang Gae mengantar sapi tersebut ke rumah Tuan Yoo.

Tuan Yoo hendak memberikan uang pada Ma Dang Gae sebagai ucapan terima kasih, namun Ma Dang Gae menolak.

"Kenapa kau tidak butuh uang?" tanya Tuan Yoo. "Tidakkah kau butuh uang untuk menikahkan putramu?"

"Ayah!" Seok Ran mengingatkan ayahnya.

"Oh, benar. Kau bilang bahwa putramu So Geun Gae sudah meninggal." kata Tuan Yoo menyesal.

Seok Ran terkejut. Ia teringat saat pria tua memanggil Hwang Jung dengan sebutan So Geun Gae.

Tuan Yoo memaksa Ma Dang Gae menerima uang tersebut, kemudian memintanya mengantar anak sapi itu ke Jejoongwon.

Seok Ran dan Mak Saeng ikut bersama Ma Dang Gae untuk mengantar anak sapi.

Melihat kedatangan Ma Dang Gae, Gwak bergegas memperingatkan Hwang Jung.

Mereka berdebat di perpustakaan.

Seok Ran tiba-tiba masuk. Ia bertanya pada Hwang Jung kenapa pria tua kemarin memanggilnya So Geun Gae (anjing kecil). Nama putra tukang jagal juga So Geun Gae.

"Mulanya aku tidak tahu arti kata itu." ujar Seok Ran. Ia menganggap pria yang kemarin mencaci Hwang Jung.

Hwang Jung memohon diri untuk pergi. Dengan diam-diam, ia melihat ayahnya dari jauh.

Beberapa hari kemudian, bisul di perut sapi sudah tumbuh. Usaha mereka mambuat vaksin cacar sapi berhasil. Murid-murid Jejoongwon bersedia menjadi orang pertama yang diberi vaksin, walaupun tidak semuanya sukarela. Ada juga yang terpaksa melakukannya. Hehehe...

Malamnya, Go Jang Geun merasa tidak enak badan. Tubuhnya panas.

Hwang Jung memaksanya memperlihatkan tempat Jang Geun diinjeksi vaksin cacar. Ada bisul di sana.

"Bisulnya sudah tumbuh!" seru Hwang Jung senang.

"Apa itu artinya aku kebal terhadap cacar?" tanya Jang Geun.

"Ya! Kau tidak akan pernah terkena cacar.

Jang Geun sangat bahagia, kemudian memeluk Hwang Jung.

Karena percobaan pada murid-murid berhasil, maka Jejoongwon mulai melakukan vaksin pada para warga.

Keberhasilan Jejoongwon ini membuat Kedutaan Jepang sepi pasien, dan tentu saja, membuat Duta Besar Jepang marah bukan main pada Watanabe.

Kali ini Watanabe bersikap tenang. Ternyata, ia mendapat sebuah surat dari pemerintah Jepang yang mengatakan bahwa ia menugaskan Watanabe mempelajari genetik dengan tujuan agar rakyat Korea bisa menerima Jepang.

Duta Besar diwajibkan menolong Watanabe. Kini, Watanabe bisa melawan dan menentang Duta Besar.

Dr. Allen menemui Raja untuk melaporkan keberhasilan Jejoongwon membuat vaksin cacar. Raja menganugerahi Allen kenaikan pangkat yang setara dengan kanselor.

Dr. Horton dan Seok Ran mengunjungi Ratu.

Dr. Horton menceritakan mengenai ice skating. Ratu ingin sekali melihatnya. Dr. Horton berjanji bahwa ia dan Seok Ran akan mempertunjukkan ice skating di depan Ratu.

Seok Ran terkejut. Ia sama sekali belum pernah belajar ice skating.

Mereka kembali ke Jejoongwon. Mendengar kenaikan pangkat Dr. Allen, Baek Kyu Hyun dan Oh Chung Hwan merasa tidak senang.

Orang-orang Jejoongwon membuat banyak kimchi untuk merayakan keberhasilan mereka.

Di pihak lain, Hwang Jung, Mong Chong, Nang Rang dan Samdol menguburkan jenazah Ggotnim di tanah.

Malam tiba.

Gwak mengatakan bahwa kaki Ma Dang Gae terluka dan sepertinya agak parah. "Haruskah kita menjenguknya dan membawakan obat?" tanya Gwak.

Dr. Horton mengajari Seok Ran cara meramu obat.

Do Yang belajar menjahit (untuk operasi) dengan menjahit bantal.

Seok Ran mendekatinya, kemudian mengobati luka bakarnya.

"Aku senang kita bisa mengatasi cacar." kata Do Yang. "Kau melakukan kerja bagus."

Seok Ran tertawa. "Jika bukan karena kau, kita pasti masih dipenuhi penderita cacar." ujarnya. "Tuan Hwang juga berkerja dengan baik."

"Ya." kata Do Yang setuju, tersenyum. "Dia sangat pandai menggunakan tangannya. Aku baru tahu sekarang saat aku belajar menjahit."

"Lalu kenapa kau selalu mencurigainya?" tanya Seok Ran.

"Ada banyak hal yang aneh pada dirinya." kata Do Yang, berpikir. "Dia muncul dengan luka tembakan. Kemudian ia mengoperasi seseorang. Lalu saat ujian masuk, keahliannya dalam membedah bisa membuat semua tukang jagal menjadi malu."

"Tukang jagal?" tanya Seok Ran.

"Ya, dia seorang bangsawan, tapi keluarganya sangat miskin sehingga ia harus melakukan segalanya untuk mendapatkan uang. Mungkin karena itulah ia menjadi cerdas dan pandai."

Seok Ran berpikir.

Do Yang menambahkan, "Mungkin, kita berhasil membuat vaksin karena ketenangan dan ketelitiannya."

Diam-diam, Hwang Jung masuk ke apotek untuk mengambil obat oles. Ia berjalan keluar dengan hati-hati seakan tidak ingin diketahui siapapun.

Secara tidak sengaja, Seok Ran melihatnya, kemudian mengikutinya dari belakang.

Hwang Jung menuju ke desa para tukang jagal. Ia meletakkan obat oles di depan rumah Ma Dang Gae secara sembunyi-sembunyi.

Ketika hendak berbalik dan berjalan pulang, Seok Ran muncul di hadapannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar