Sabtu, 28 Agustus 2010

Jejoongwon (Episode 6)

Gwak mengintip ke rumah keluarga Yoo, mencari Hwang Jung.

"Meow.. meow.." Gwak memberi isyarat pada Hwang Jung.

Hwang Jung mencari asal suara.

Gwak marah-marah karena Hwang Jung pergi sendiri, meninggalkannya.

Hwang Jung meminta maaf, kemudian memberikan sebuah kartu yang diberikan Min Young Ik padanya. "Ini adalah kartu Tuan Min Young Ik. Jika kau menunjukkan ini, kau akan mendapatkan makanan dan penginapan gratis."

"Benarkah?" tanya Gwak.

Dokter Allen memanggil Hwang Jung. Hwang Jung pergi meninggalkan Gwak.

Gwak sangat senang mendapat kartu tersebut. Tiba-tiba ada seseorang yang mengambil kartunya dan memukul Gwak hingga pingsan.

Jung Po Gyo membawa Gwak ke sebuah gubuk dan memukuli Gwak di sana.

"Bagaimana seorang tukang jagal bisa mendapat sesuatu seperti ini?" tanya Po Gyo, menunjukkan kartu Young Ik. "Ia menyuruhmu mengatakan apa pada Tuan Min?"

"Tidak! Ia hanya mengatakan bahwa aku bisa mendapatkan makanan dan penginapan gratis dengan kartu itu." kata Gwak. Hidungnya berdarah.

"Beraninya kau berbohong padaku!" Po Gyo menendangi Gwak.

"Aku tidak bohong!" kata Gwak. "Tolong jangan pukuli aku lagi!"

Tuan Yoo meminta tolong pada Seok Ran agar membantunya mencarikan obat-obatan untuk klinik yang akan dibuka Allen.

Tidak lama kemudian, Do Yang datang. Ia meminta izin untuk ikut ke pembukaan klinik Dokter Allen agar bisa meminta maaf padanya. Tuan Yoo setuju.

Sebelum pulang dari rumah keluarga Yoo, Do Yang meletakkan sebuah kertas di pohon, kemudian pergi.

Beberapa saat kemudian, Seok Ran mengambil kertas tersebut. Ia teringat masa kecilnya.

"Jika aku mengaku membuat kesalahan tapi kau tidak memaafkan aku, harga diriku akan terluka." kata Do Yang kecil. "Aku tidak pandai meminta maaf. Jadi suatu saat nanti, aku meletakkan kertas di sini jika melakukan kesalahan. Jadi, selama aku mencoba belajar bagaimana caranya minta maaf, kau harus belajar bagaimana caranya memaafkan."

Seok Ran tersenyum. Do Yang melihatnya dari kejauhan.

Hwang Jung membantu Dokter Allen menyiapkan segala persiapan pembukaan klinik barunya.

"Meow meow.." terdengar isyarat Gwak. Hwang Jung keluar dan menjari Gwak.

Di sana, ia menemukan Po Gyo sedang mengarahkan pistolnya ke kepala Gwak.

Tuan Yoo tiba di klinik Dokter Allen bersama Do Yang dan Seok Ran.

Do Yang meminta maaf pada Allen. Allen tersenyum.

"Dimana Tuan Hwang?" tanya Do Yang.

"Aku tidak melihatnya." kata Allen.

Seok Ran cemas. Ia menyuruh Chil Bok mencari Hwang Jung.

"Apakah kau menemukannya?" tanya Seok Ran.

"Aku tidak menemukannya dimana pun." kata Chil Bok.

Dokter Allen bingung. Kalau Hwang Jung tidak ada, lalu siapa yang akan membantunya mengobati pasien-pasien?

Do Yang maju. "Biar aku yang membantumu." katanya.

Po Gyo membawa Hwang Jung dan Gwak ke gubuk, kemudian memukuli Hwang Jung habis-habisan.

"Apakah kau membunuh Menteri (ayah Do Yang) untuk balas dendam?" tanya Po Gyo, mengarahkan pistol ke kepala Hwang Jung.

"Tidak, aku mencoba menyelamatkannya." kata Hwang Jung. "Ampuni aku."

"Jika aku mengampunimu, mungkin kau akan memotongku juga." kata Po Gyo.

"Tidak.."

"Diam!" bentak Po Gyo seraya memukul kepala Hwang Jung.

Min Young Ik dan Raja tiba di klinik. Raja datang ke sana dengan menyamar. Tuan Yoo mengenalinya. Young Ik memberi isyarat pada Tuan Yoo agar tidak membocorkan identitas Raja.

Raja melihat Allen mengobati para pasien.

"Kita harus membedah ini. Nanahnya harus dibuang." kata Allen pada Do Yang. "Siapkan scalpel." Scalpel adalah pisau bedah.

"Tidak!" kata si pasein menolak. "Aku datang kesini untuk diobati, bukan dipotong!" Si pasien malah marah-marah, kemudian pergi.

Di gubuk.

"Tuan Muda ingin membuka identitasmu." kata Po Gyo. "Tapi jika itu terjadi, aku yang akan disalahkan. Menteri mati karena aku tidak membunuhmu hari itu. Lebih baik kau mati di sini sekarang! Selamat tinggal."

Po Gyo mengarahkan pistol ke Hwang Jung.

Hwang Jung memejamkan mata, pasrah.

Mendadak Gwak melompat dan menerjang Po Gyo. Po Gyo terjatuh, kepalanya terkena kayu.

"Ayo pergi!" kata Gwak.

"Dia akan mati..." ujar Hwang Jung. "Ada satu hal yang kuinginkan." Hwang Jung teringat kata-kata Allen. "Seorang dokter tidak boleh meninggalkan pasiennya."

"Jika kita meninggalkan dia, dia akan mati." kata Hwang Jung. "Kita harus menyelamatkannya."

Gwak protes. Ia menarik tangan Hwang Jung, namun Hwang Jung menghempaskan tangannya.

Po Gyo sekarat, setengah sadar. Hwang Jung memeriksa nadinya.

"Kita harus menyelamatkannya!" kata Hwang Jung tanpa ragu. Ia menggendong Po Gyo di punggungnya, kemudian membawanya ke klinik Dokter Allen.

Pasien yang datang ke klinik Allen hanya mengidap penyakit-penyakit yang ringan. Raja sepertinya tidak begitu terkesan.

"Dr. Allen, apa kau punya pasien yang lebih sakit dari ini?" tanya Young Ik. "Penyakit pasien-pasien ini tidak terlalu menarik."

"Aku tidak bisa mendatangkan pasien sekarat begitu saja." kata Allen.

"Tuan Min, ayo kita kembali." kata Raja. Ia bangkit dari duduknya, hendak pergi.

Tiba-tiba Hwang Jung datang berlari-lari panik.

"Polisi Jung!" seru Do Yang.

Hwang Jung menidurkan Po Gyo di ranjang. "Kepalanya... kepalanya terkena batu!" kata Hwang Jung.

"Ada darah di kepalany!" kata Allen. "Kita harus melakukan operasi! Tuan Hwang, siapkan perlengkapanku dan kokain!"

"Ya." kata Hwang Jung.

Po Gyo sedikit tersadar. "Tuan Muda..." gumamnya lemah. "Dia... Identitas aslinya..." Po Gyo menunjuk Hwang Jung.

"Siapa dia?" tanya Do Yang. Namun Po Gyo pingsan lagi, keadaannya sangat kritis.

Allen memeriksa Po Gyo. "Jantungnya berhenti."

"Kau harus menyelamatkannya! Kau harus menghidupkan dia kembali!" seru Do Yang.

Allen memukuli dada Po Gyo.

"Kenapa kau memukuli dadanya?" tanya Hwang Jung.

"Jantungnya akan berdetak lagi jika dia menerima kejutan." Allen menjelaskan.

"Kejutan?" pikir Hwang Jung. Ia melihat ke arah langit yang saat itu sedang mendung.

Hwang Jung mendapat ide. Ia mengeluarkan dinamo listrik.

"Dia sudah meninggal." kata Allen pada Do Yang.

Hwang Jung memutar dinamo.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Do Yang.

"Kita harus memberi kejutan pada jantungnya." kata Hwang Jung.

"Kau tidak bisa melakukannya!" kata Allen.

"Cukup!" seru Do Yang.

Hwang Jung tidak menggubris mereka. Ia menyetrum dada Po Gyo.

Do Yang marah dan mendorong Hwang Jung menjauh dengan kasar.

Dokter Allen berpikir. "Tuan Hwang, lakukan lagi!" katanya.

"Apa katamu?" tanya Do Yang.

"Lakukan lagi! Kita tidak punya banyak waktu!" seru Allen.

Hwang Jung bergegas menyetrum Po Gyo lagi. Allen memukuli dadanya.

Allen memutar dinamo listrik sampai berasap, sementara Hwang Jung menyetrum Po Gyo.

"Apa yang kau lakukan? Dia sudah mati!" seru Do Yang.

Allen memeriksa detak jantung Po Gyo. "Dia hidup! Dia tidak mati lagi!" kata Allen senang. "Dia hidup!"

Do Yang mendekatkan kepalanya ke Po Gyo, tidak percaya. Namun memang benar. Po Gyo memang hidup lagi.

Raja terkesan. "Apa yang terjadi?" tanyanya pada Young Ik.

"Itu adalah kekuatan petir." Seok Ran menjelaskan. "Listrik bisa juga disebut petir."

"Seok Ran!" Tuan Yoo melarang putrinya bicara.

"Tidak apa-apa." kata Raja. "Lanjutkan."

"Kau bisa menggunakan alat itu untuk menciptakan listrik. Itu seperti petir yang ada di langit, dan kurasa kekuatannya bisa membuat jantung berdetak lagi."

Raja mengangguk. "Listrik... Kau gadis yang cerdas."

"Maafkan putriku. Sepertinya aku terlalu memberikan kebebasan padanya."

"Seorang wanita juga perlu pendidikan." kata Raja, tersenyum.

"Siapa dia?" tanya Seok Ran, berbisik pada ayahnya.

"Aku akan memberitahukanmu nanti."

Gwak mendoakan agar Po Gyo mati.

Allen mengoperasi kepala Po Gyo. Ia membedah kepala Po Gyo dengan alat seperti pemutar. Entah apa namanya.

Orang-orang di sana menatap dengan terkejut.

Operasi selesai.

Allen terkesan pada ide Hwang Jung. "Dari mana kau dapat ide itu?" tanyanya.

"Saat aku memegang alat itu, tubuhku terkejut dan jantungku menjadi berdebar. Jadi..." Hwang Jung menjelaskan.

"Bagus sekali." puji Allen.

"Tuan Hwang." panggil Do Yang. "Sudah lama tidak bertemu. Ayo kita pindahkan pasien ke dalam."

Raja bangkit dari duduknya, hendak pulang. Ia tersenyum. "Laki-laki yang membawa dan menyelamatkan nyawa pasien itu membuatku sangat terkesan." kata Raja. Laki-laki yang dimaksud adalah Hwang Jung.

"Aku setuju, Yang Mulia." kata Young Ik.

Seok Ran terkejut. "Yang... Yang Mulia?"

"Seok Ran, ini adalah Yang Mulia Raja." kata Tuan Yoo.

Seok Ran langsung berlutut. "Yang Mulia, aku kesalahan besar. Maafkan aku."

Raja tersenyum dan meminta Seok Ran bangun. "Modernisasi membawa cahaya baru." kata Raja. "Labih baik dua orang yang belajar dibanding satu orang. Dan lebih baik bagi laki-laki dan perempuan yang dididik, dibandingkan hanya laki-laki saja. Kau harus belajar dengan giat."

"Terima kasih, Yang Mulia."

Do Yang dan Hwang Jung membawa Po Gyo ke dalam kamar.

"Kau bersalah karena membunuh orang." kata Do Yang tajam. "Tapi sekarang kau menjadi asisten Dokter Allen. Apa kau melakukannya karena konsuler hukum?"

"Maafkan aku." kata Hwang Jung.

"Ada saat ketika kau bisa meminta maaf, dan ada juga yang tidak." Do Yang berkata sinis. "Apa yang terjadi padamu dan polisi Jung?"

"Saat aku ke pasar, polisi terlihat perkelahian dengan bandit." kata Hwang Jung berbohong. "Lalu.. karena merasa polisi sedang dalam bahaya, aku juga terlibat dalam perkelahian. Kemudian... kepalanya terluka."

Do Yang tersenyum. "Cukup." katanya, tahu bahwa Hwang Jung berbohong. "Semuanya akan terungkap begitu dia bangun."

Do Yang pergi keluar karena Seok Ran dan Tuan Yoo ingin pulang.

Hwang Jung menunggui Po Gyo. Gwak masuk, hendak menarik Hwang Jung pergi. Namun tiba-tiba Do Yang datang lagi. Ia ingin menunggu Po Gyo sampai sadar.

Gwak bersembunyi di bawah tempat tidur.

Lama sekali Po Gyo tidak sadar-sadar.

Ketika hari malam Paman Do Yang, Kyu Hyun, dan sahabat Do Yang, Je Wook, datang. Do Yang keluar menemui mereka.

Saat Do Yang keluar, Po Gyo sadar. "Apa kau menyelamatkan aku?" tanya Po Gyo pada Hwang Jung. "Kenapa? Kenapa kau menyelamatkan aku?"

"Aku hanya ingin." jawab Hwang Jung.

"Walaupun dengan begitu kau akan kehilangan nyawamu?" tanya Po Gyo. "Kau sangat aneh."

Do Yang, Allen, Je Wook dan Kyu Hyun masuk. Do Yang tersenyum senang melihat Po Gyo sadar.

"Polisi Jung, apa yang ingin kau katakan sebelum kau pingsan?" tanya Do Yang.

Po Gyo ragu, teringat saat Hwang Jung menolongnya. "Tuan Hwang... adalah orang yang baik."

"Apa?!" tanya Do Yang.

"Bukankah ia menyelamatkan nyawaku?" tanya Po Gyo. Dokter Allen mengiyakan.

"Kau bicara soal identitasnya yang sebenarnya." kata Do Yang, mulai marah.

"Benarkah?" tanya Po Gyo. Ia berpura-pura mengingat. "Maafkan aku... Ingatanku... Ini pertama kalinya aku bertemu dia, bagaimana aku bisa tahu identitasnya?"

Do Yang terus-menerus memojokkan Po Gyo. Po Gyo memegangi kepalanya, berpura-pura kepalanya sakit.

"Tuan Baek, cukup!" perintah Allen.

Keesokkan harinya, Jung Po Gyo menghilang begitu saja. Ia telah pergi entah kemana dan tidak akan kembali lagi.

Raja memanggil Dokter Allen ke istana. Ia meminta Allen menjadi menjadi pengurus rumah sakit yang akan didirikannnya, rumah sakit pertama di Korea.

"Aku akan menamakan rumah sakit itu Kwang Hae Won." kata Raja.

Menghilangnya Po Gyo membuat Do Yang kesal bukan main. Do Yang mengemukakan kecurigaannya tentang Hwang Jung pada Tuan Yoo. Namun Tuan Yoo tidak sependapat. Ia meminta Do Yang melupakan masa lalu.

"Ini bukan saatnya memilirkan masa lalu." kata Tuan Yoo. "Rumah sakit yang selalu kau impikan akan segera dibangun di Korea. Bukankah impianmu adalah menjadi seorang dokter? Dokter Allen berkata bahwa ia butuh asisten lagi. Kenapa kau tidak melanjutkan pendidikanmu dengannya?"

"Bersama orang itu?" tanya Do Yang. "Tuan Yoo, biar aku jelaskan. Tuan Hwang dan aku seperti minyak dan air. Satu dari kami mungkin selamat, tapi kami tidak akan bisa bersama."

Min Young Ik membawa Allen ke rumah pemberontak Hong Young Shik, yang seluruh keluarganya sudah di hukum mati. Di tempat itulah rumah sakit mereka akan didirikan.

Mereka merapikan tempat tersebut.

Di sisi lain, orang-rang Jepang, termasuk Duta Besar dan Watanabe, kembali lagi ke rumah kedutaan mereka. Rumah tersebut sudah hancur berantakan. Watanabe menangis melihat obat-obatannya hancur.

Watanabe suka sekali pergi ke rumah bordir. Ada seorang gadis yang ia sukai di sana. Ia menyukai gadis itu karena mirip sekali dengan cinta pertamanya, Fumiko. Gadis itu nantinya akan menjadi perawat di Jejoongwon.

Rumah Hong Young Shik telah dirapikan. Allen ingin memotret Hwang Jung di depan rumah sakit.

Anak-anak kecil melihat mereka dengan penasaran. Hwang Jung mengajak mereka berfoto bersama.

"Cheese.." kata Allen. "Smile."

"Chezu." kata anak-anak. Rupanya mereka susah mengucapkan kata cheese.

Hwang Jung menyarankan agar mereka berkata kimchi.

"Kimchi!" kata anak-anak.

Warga melihat foto itu dan terkesan.

"Tapi, kenapa wajah-wajah mereka buram?" tanya seorang warga.

Seorang pihak Jepang bernama Kim Don, atas perintah Watanabe, membuat desas-desus palsu tentang foto itu. "Itu karena jiwa mereka meninggalkan tubuhnya. Kalian tahu, para orang asing mencuri jiwa anak-anak dan memakannya. Lihat! Karena itulah gambar menjadi buram!" kata Kim Dom menakut-nakuti.

Warga menjadi panik. "Orang asing brengsek!" seru mereka marah.

Malam itu, Raja tidak bisa tidur. Ia memikirkan nama rumah sakit yang ia berikan tidak pas. Setelah menimbang-nimbang dan dengan sarah Ratu, akhirnya Raja memutuskan mengganti nama rumah sakit itu menjadi 'Jejoongwon', yang kurang lebih artinya 'Rumah Penolong Semua Orang'.

Akhirnya, rumah sakit pertama di Korea didirikan dengan nama Jejoongwon.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar