Sabtu, 28 Agustus 2010

Iljimae (Episode 6)

Ryung melihat dua orang yang dikenalnya sebagai pelayan Shin Ki Yoon. Kedua pelayan itu berjalan menuju Ryung, namun di tengah perjalanan, mereka berdua melihat Moo Yi sedang memata-matai mereka. Mereka berjalan lagi dengan sikap biasa, namun menggeleng, memberi isyarat pada Ryung agar terus berjalan melewati mereka seperti tidak saling mengenal. Mereka ingin melindungi Ryung.

Ryung menoleh ke arah mereka dengan bingung, namun tiba-tiba ia melihat Moo Yi melewatinya. Ryung terkejut dan akhirnya mengerti. Ia membuntuti Moo Yi dari belakang, tapi sayang ia kehilangan jejak.

Moo Yi menyerang salah satu pelayan Shin Ki Yoon dan membunuhnya. Ia mencari-cari surat di badan si pelayan, tapi tidak menemukan apapun. Ia bergegas mengejar pelayan yang satu lagi. Pelayan yang lain itu terluka di lengannya, berusaha kabur menyelamatkan surat Kwon Do Hyun. Tanpa sengaja, si pelayan menabrak Seung Seung, pelayan Eun Chae.

Moo Yi berhasil mengejar si pelayan di tengah hutan. Dengan sekali tebas saja, Moo Yi langsung bisa menjatuhkan si palayan hingga terluka parah dan merebut surat yang dibawanya. Beruntung saat itu Shi Hoo, yang hendak menjemput Eun Chae, melihat penyerangan itu dan berusaha menolong. Tapi kemampuan bela diri Shi Hoo kalah dari Moo Yi sehingga Shi Hoo kalah dan terluka. Eun Chae dan pelayan-pelayannya masuk ke hutan dan menolong Shi Hoo.

Moo Yi menyerahkan surat Kwon Do Hyun pada Chun.

Eun Chae mengobati luka Shi Hoo. "Kakak, kau terluka seperti ini, bagaimana kau akan mengikuti ujian?"

Shi Hoo malah memarahi Eun Chae karena Eun Chae berani masuk ke hutan di tengah malam.

Ryung bertanya pada Hee Bong apakah dia sudah menemukan orang yang dicari oleh Ryung. Hee Bong tertawa, "Kudengar kau sudah kena tipu dan kehilangan semua uangmu."

"Aku tidak kena tipu." ujar Ryung berbohong. "Aku hanya merasa kasihan pada mereka, karena itu aku memberi mereka sedikit uang. Aku adalah Ryung. Apa kau takut aku tidak punya uang?" Ryung tertawa.

"Benarkah?" tanya Hee Bong. "Kalau begitu, berikan uangnya dulu. Aku akan melakukannya setelah melihat uangnya."

"Baik, baik. Aku akan memberi uang itu. Tapi kau harus menemukan mereka, mengerti?"

Diam-diam Pemburu Jang mendengar percakapan mereka. Ia bertanya pada salah satu polisi apakah Lee Won Ho masih punya keluarga yang masih hidup.

"Aku ingat!" ujar polisi. "Sudah lebih dari 10 tahun kan? Keluarganya? Oh benar! Istri dan putri Lee Won Ho hilang."

Pemburu Jang tersenyum licik.

Ryung berlari berkeliling kota mencari Bong Soon dan Kong He, namun tidak juga menemukan mereka.

Di lain pihak, Kong He sedang bicara dengan seorang wanita. Ia ingin mencarikan Bong Soon seorang suami.

"Kau lihat orang itu?" tunjuk wanita itu. "Garam di tepi laut In Choen semua adalah miliknya. Dia tidak hanya kaya, tapi juga baik hati. Semua orang bilang begitu. Coba lihat itu!" Kong He melihat pria kaya yang dimaksud sedang membantu rakyat miskin mengangkat jerami. "Karena Bong Soon tidak memiliki ibu, maka aku akan mengatur segalanya untuk dia."

Kong He memberi tahu Bong Soon bahwa Bong Soon akan menikah dengan seorang pria kaya. Mereka berkunjung ke rumah pria itu.

"Aku mencari Tuan Muda pemilik rumah ini!" teriak Kong He pada pelayan di rumah si pria kaya.

"Aku sudah bilang. Di keluarga ini hanya punya 3 orang putri dan tidak punya putra." kata pelayan.

"Aku melihatnya sendiri!" Kong He berkata marah.

"Kau ditipu oleh wanita itu dan anaknya." kata pelayan. "Kau adalah orang ketujuh dalam bulan ini."

Bong Soon lemas dan terjatuh. "Uangku... Uang yang sudah tabung seumur hidupku... Uangkuuu!!!"

Ryung menunggu Bong Soon dan Kong He di depan kamar mereka sampai larut malam, namun mereka tidak juga pulang. Ryung menggunakan sedikit tipuan. Ia menulis pesan di pintu kamar mereka yang berisi pemesanan barang oleh Rumah Bordil Wol Hyang. Jika barang tersebut tidak diantar dalam waktu 3 hari, maka mereka akan membeli dari toko lain.

Shi Hoo frustasi mempersiapkan ujiannya. Tangannya kanannya yang terluka tidak memungkinkannya untuk memanah dengan benar. Ia mengamuk dan mematahkan semua panah.

Chun kemudian datang dan menunjukkan cara memanah dengan tangan kiri. "Ini tidak akan mudah." kata Chun. "Kau harus berlatih untuk memperkuat lenganmu dulu."

Shi Hoo terus berlatih memanah dengan tangan kirinya siang dan malam tanpa beristirahat. Lama kelamaan, ia mulai terbiasa memanah dengan baik.

Pancingan Ryung berhasil. Bong Soon datang ke Rumah Bordil Wol Hyang untuk mengantarkan pesanan. "Berikan uangnya!" seru Bong Soon.

"Kaulah yang harus memberikan uang padaku!" kata Ryung, tiba-tiba muncul dari belakang. "Kutangkap kau, Anak Penipu! Kembalikan uangku 200 tael!"

Karena Bong Soon tidak bisa mengembalikan uangnya, maka Ryung membawanya ke kantor polisi dan memenjarakannya.

"Bong Soon! Putriku!" Kong He menangis melihat anaknya di penjara. Ia berlutut di depan Ryung dan memohon. "Aku sudah bilang padamu! Aku kehilangan semua uangku! Aku bangkrut sekarang! Tangkap saja aku!"

Tiba-tiba Swe Dol muncul dari belakang sambil menangis. Ia melihat-lihat isi sel, mencari Ryung. "Ryung, apa yang telah kau lakukan? Kenapa kau dipenjara? Ryuuuunggg...." serunya sambil menangis. Ryung menyembunyikan wajahnya dengan tangan, malu atas kelakuan ayahnya.

Swe Dol melihat Ryung dan berlari memeluknya. "Ryung!!!"

Akhirnya, Ryung dan pihak Kong He mengadakan perjanjian untuk menyelesaikan masalah ini. Ryung membaca surat perjanjian itu. "Ryung berhak mengambil alih semua barang dagangan milik Kong He dan putrinya. Jika penipu Kong He dan putrinya mencoba melarikan diri, masing-masing dari mereka akan dipukul dengan tongkat sebanyak 50 kali. Tertanda, Kepala Departemen Penangkapan Penjahat."

"Cap jempol di sini." kata salah satu aparat polisi.

"Kalau bukan karena ayahku, aku tidak akan mau perjanjian seperti ini!" omel Ryung.

Karena takut Kong He dan Bong Soon kabur, mereka disuruh bekerja di restoran milik ibu Dae Shi sebagai tawanan sampai hutang mereka lunas. Dae Shi dan ibunya protes, namun kalah jumlah dalam berargumen.

Ryung membawa barang dagangan Kong He dan menjualnya. Uang yang diperoleh kemudian diberikan pada Hee Bong.

"Ini uang mukanya, 20 tael." kata Ryung. "Jika kau menemukan mereka, aku akan membayar sisanya."

"Bagus!" ujar Hee Bong senang. "Aku akan mencari mereka sekarang juga."

Hee Bong kembali menemui Pemburu Jang dan putranya, Eun Bok, untuk menagih hutang. Ia menarik Eun Bok untuk dijual sebagai budak. Namun Pemburu Jang berbisik pada Hee Bong. "Ada yang ingin kukatakan padamu."

"Apa?! Dia adalah putra seorang pemberontak melarikan diri?" tanya Hee Bong.

"Jika kau bisa menangkap anak itu, kau akan mendapat hadiah yang besar." kata Pemburu Jang. "Ayo kita bekerja sama, dan kita akan berbagi hadiahnya. Bagaimana menurutmu?"

"Kau mengarang cerita itu karena kau tidak punya uang, kan?" kata Hee Bong tidak percaya.

"Tolong percaya padaku!"

"Aku akan memberimu waktu setengah bulan lagi. Berikan uangnya padaku, mengerti?" Hee Bong mengajak anak buahnya pergi.

Setelah Eun Chae selesai melihat pembangunan penginapan ayahnya, ia dan pelayan-pelayannya berjalan pulang.

"Aku sudah meminta ayahku untuk menambal lampion ini, tapi angin masih bisa masuk." keluh Seung Seung, pelayan Eun Chae, melihat lampion yang dibawanya mati.

Seung Seung ketakutan karena berjalan di tengah kegelapan.

Shi Hoo, seperti biasanya, menjaga Eun Chae diam-diam. Ia melepaskan panah api untuk menyalakan lampion di sepanjang jalan. Seung Seung memanggil Eun Chae agar keluar.

Eun Chae terpesona melihat pemandangan itu. Ia melihat lubang panah di lampion dan mengetahui kalau Shi Hoo-lah yang melakukan itu.

"Yang bisa kulakukan untukmu hanyalah menghidupkan lentera." ujar Shi Hoo dalam hati. "Aku akan selalu berhutang padamu, Eun Chae."

Ryung berjalan seorang diri malam itu. Tiba-tiba pelayan Shim Ki Yoo yang terluka parah muncul dihadapannya. "Paman! Kau tidak apa-apa? Paman!" seru Ryung panik. Namun pelayan itu sekarat hingga tidak sadarkan diri. Ryung mencari surat dibadan si pelayan tapi tidak menemukan apapun.

"Ryung! Ryung!" Dae Shi datang berlari-lari. "Hee Bong menyuruhmu datang ke perkemahan di gunung. Dia ingin memberitahu padamu kalau dia sudah menemukan orang itu."

"Benarkah?" tanya Ryung senang. Ia meminta Dae Shi membawa pelayan Shim Ki Yoon ke tabib dan menjaganya, lalu bergegas pergi dengan kuda.

Chun memberikan surat yang diterimanya dari Moo Yi ke Raja. Raja melihat surat itu. "Ini bukan tulisan Kwon Do Hyun." kata Raja. "Shim Ki Won dan Kwon Do Hyun adalah temanku. Bagaimana bisa aku tidak mengenali tulisan mereka?"

Dae Shi membawa pelayan Shim Ki Yoon ke tabib Song. Pelayan itu terus-menerus memanggil nama Geom dan menunjuk-nunjuk kaos kakinya. Ternyata pelayan itu memalsukan surat Kwon Do Hyun, sedangkan surat yang asli disimpan di dalam kaos kakinya.

Si pelayan meninggal. Tabib Song memanggil tabib istana dan pengawal untuk menginvestigasi kematian pelayan itu. Salah satu pejabat istana masuk. "Apakah dia dari rumah keluarga Shim Ki Yoon?" tanya pejabat itu.

"Ya." kata pengawal.

Tabib istana yang memeriksa menemukan sebuah kertas di kaos kaki yang dipakai si pelayan. Ia memberikan surat itu pada pejabat. Pejabat itu membacanya.

Hee Bong berhasil menemukan kakak Ryung, Yeon. Ia berbisik pada Yeon, "Adikmu sedang mencarimu."

Yeon menoleh sejenak ke arahnya, lalu berkata, "Kau salah orang. Aku tidak punya adik."

"Seseorang bernama Ryung sedang mencarimu." kata Hee Bong. "Ia bilang kau akan mengerti bila aku menyebutkan nama Geom."

"Ge.. Geom?"

Yeon lemas dan terjatuh ke tanah. Tiba-tiba salah seorang penjaga datang dan menarik Yeon. "Apa yang kau lakukan?" teriak Yeon.

Penjaga itu berkata bahwa uangnya hilang dan temannya melihat salah satu dari pelayan wanita disanalah yang mengambilnya.

"Aku harus melihat apakah kau menyembunyikan uang itu ditubuhmu!" seru si penjaga, memaksa Yeon membuka bajunya. Yeon melawan sekuat tenaga.

Hee Bong membantunya. "Maaf menganggu." katanya. "Aku merasa ada masalah dengan udang asin, jadi..." Ia menoleh pada Yeon dan membentaknya, "Kau! Aku sudah ingin pergi! Masuk dan bawa udang itu padaku! Ayo!" Hee Bong hendak mengajak Yeon pergi, namun si penjaga menghentikannya dengan memukul kepala Hee Bong.

"Aku masih bisa menerima jika kau memukulku di tempat lain. Tapi jika kau memukulku di kepala, aku bisa gila!" Hee Bong marah dan menyerang si penjaga. Penjaga yang lain maju dan memukul Hee Bong. "Kalian membuat skenario agar bisa melihat wanita-wanita ini tanpa pakaian, kan?!" seru Hee Bong marah, menghajar kedua penjaga.

Kedua penjaga kabur dan memanggil banyak penjaga lain. Hee Bong dikeroyok hingga babak belur. Yeon maju untuk melindunginya. "Hentikan!"

"Aku akan mengubur orang ini hidup-hidup!" seru penjaga yang memukul kepala Hee Bong.

"Aku akan membuka bajuku!" seru Yeon hendak membuka bajunya, namun ia kemudian berteriak, "Jika kau tidak menemukan uang itu di tubuh para pelayan disini, aku akan mengajukan petisi pada duta besar agar ia bicara pada Tuan Kang. Jika kalian semua membuat kami melepas baju dan tetap tidak menemukan uang itu, itu menunjukkan bahwa Tuan Kang telah melakukan hal yang tidak bisa dipercaya!"

Yeon hendak membuka bajunya lagi, namun kepala penjaga, Tuan Kang, melarangnya. "Baik baik!"

Para penjaga pergi. Yeon mengobati luka Hee Bong. "Maafkan aku karena membuatmu terlibat." kata Yeon.

"Tidak, tidak." ujar Hee Bong cepat. "Sifatku memang begitu, tidak bisa melihat ketidakadilan."

"Kau dan Geom..."

"Kami seperti saudara." kata Hee Bong berbohong. "Tidak ada rahasia diantara kami."

"Benarkah?" Yeon berkata lega, lalu memegang tangan Hee Bong. "Terima kasih."

Hee Bong tersenyum malu. "Tengah malam nanti, pergilah ke dermaga Deok Cheon. Ryung... Ah, bukan... Geom dan aku akan menyiapkan perahu kecil dan menunggumu disana. Jangan khawatir. Kau akan bisa hidup dengan adikmu selamanya."

Malamnya, salah satu penjaga menarik Yeon dan hendak memperkosanya. Namun Yeon memukul kepala penjaga itu hingga pingsan, lalu melarikan diri. Di perjalanan, ia bertemu dengan seseorang yang naik kuda, namun bersembunyi. Orang berkuda itu adalah Ryung, namun Yeon tidak tahu.

Hee Bong bertemu dengan Ryung dan mengajaknya menunggu Yeon di dermaga.

"Aku sudah mendengar tentangmu dari Jang Bong Kyo (si pemburu)." kata Hee Bong. "Mulanya aku ingin memanggilmu kemari dan menyerahkanmu pada polisi untuk mendapatkan hadiah uang. Tapi aku berubah pikiran."

"Kenapa?" tanya Ryung.

"Kenapa? Kau tanya kenapa?" gumam Hee Bong. "Itu karena... karena... karena orang itu... kakakmu... Entah kenapa, aku ingin menolongnya. Dia membuat hatiku berdebar. Ah, aku bisa gila!"

Ryung tersenyum. "Terima kasih."

"Ya, ya, kau hanya bisa berterima kasih." ujar Hee Bong. "Mulai sekarang, panggil aku 'kakak', mengerti."

Ryung mengangguk. "Kakak."

Yeon berlari menuju dermaga, namun dari kejauhan ia melihat banyak pengawal mendekati dermaga kecil itu. Yeon bersembunyi.

Para pengawal bertanya pada Hee Bong dan Ryung.

"Apa kalian melihat seorang wanita mencurigakan?" tanya salah seorang dari mereka. "Ada seorang pelayan yang memukul penjaga kemudian melarikan diri."

Hee Bong menjawab bahwa mereka tidak tahu apa-apa. Para pengawal hendak pergi, namun kemudian kembali lagi karena anjing pelacak berlari ke arah berlawanan. Bau Yeon tercium oleh anjing pelacak.

Ryung melihat kakaknya berlari dari jauh dan hendak berlari menolong. Hee Bong menahannya.

"Lepaskan aku!" teriak Ryung.

"Apa kau ingin mati? Kau ingin mati tragis?"

Ryung menangis. "Kakakku sedang dikejar di sana!"

"Jika kau menolongnya, kau malah akan membahayakan jiwanya!"

Hari sudah terang. Hee Bong mendapat informasi bahwa para pengawal itu tidak berhasil menangkap Yeon. "Dia pasti sudah pergi jauh." kata Hee Bong. "Aku akan menyuruh mata-mataku di Bong Hwa untuk mencarinya. Kau tunggu saja."

"Terima kasih, Kakak." Ryung berkata sedih.

"Jangan khawatir, Nak! Aku akan segera mengirimkan kabar baik."

"Aku pergi." Ryung hendak kembali ke rumahnya.

"Mungkin dia akan pergi ke Hanyang." seru Hee Bong. "Aku mengatakan padanya bahwa kau tinggal di Hanyang."

Ryung senang mendengarnya dan bergegas menaiki kudanya.

"Dia sangat cantik." ujar Hee Bong, tersenyum-senyum sendiri. "Kalian berdua sangat mirip. Kalian pasti akan langsung saling mengenali jika kalian berdua bertemu, karena kalian satu darah."

Ada pengumuman bahwa ujian Ryung akan diadakan besok. Dan Ee membeli kertas untuk Ryung. "Aku ingin membeli kertas."

"Apa Ryung akan mengikuti ujian?" tanya penjual. "Tunggu sebentar. Ini dia, kertas rumput."

Dan Ee melihat kertas itu. "Apa ada kertas yang lebih bagus?"

"Tentu saja ada kertas Ja Moon. Tapi kertas itu terlalu mahal dan hanya anak-anak bangsawan yang biasa menggunakannya."

"Ya." ujar Dan Ee, melihat kertas Ja Moon yang ada di rak.

Swe Dol memegang sapi, menjaga Ryung yang sedang belajar agar tidak kabur. Dan Ee pulang dan menyerahkan kertas pada Swe Dol.

"Aku membantu seseorang menjahit pakaian. Mereka bilang mereka tidak memiliki uang dan memberi kertas tidak terpakai itu padaku." kata Dan Ee berbohong, kemudian masuk ke dalam rumah.

Swe Dol memberikan kertas itu pada Ryung. "Wah, apa ini kertas Ja Moon?" tanya Ryung terkesan. "Ibu! Apa ibu memberikan kertas ini padaku sebagai hadiah? Ini hebat! Aku akan memamerkan kertas ini pada semua orang."

Ryung berlari pergi, namun bukan untuk memamerkan kertas melainkan menanyakan kabar dari Hee Bong.

"Belum ada kabar apapun." kata anak buah Hee Bong.

Ryung kecewa. "Kakak, dimana kau?"

Shi Hoo juga akan mengikuti ujian dan berlatih pedang di rumahnya. Swe Dol mengintip dari tembok pagar dan tersenyum padanya. Shi Hoo keluar untuk menemui Swe Dol, dan menemukan sebuah bungkusan berisi permen gula.

Shi Hoo mengejar Swe Dol, dan melihat ayah angkatnya itu dengan sedih. Swe Dol tersenyum padanya dan memberi isyarat agar Shi Hoo masuk.

Shi Wan bertanya pada ayahnya bagaimana caranya 'lulus ujian'. Untuk menjaga harga dirinya, Byun Shik berkata bahwa Shi Wan harus menggunakan kemampuannya sendiri untuk lolos. Tapi jika, Shi Hoo berhasil lolos sedangkan Shi Wan gagal, Byun Shik akan menghapus nama Shi Wan dari daftar keluarga.

Shi Wan kemudian merencanakan sesuatu untuk membuat Shi Hoo gagal.

Dan Ee berdoa, mendoakan kedua putranya, Ryung dan Shi Hoo. Swe Dol mendekatinya dan berkata bahwa ia menemui Shi Hoo dan memberikan permen gula.

"Kau berdoa untuk siapa?" tanya Swe Dol, tersenyum. "Ryung atau Ja Dol?"

Eun Chae menemui Shi Hoo untuk memberikan penyangga jari untuk memanah. "Ini untuk keberuntunganmu, Kakak."

"Tidak perlu." kata Shi Hoo dingin. "Aku akan menggunakan yang biasanya." Lalu pergi.

Pelayan Shi Hoo mengambil penyangga jari dari tangan Eun Chae dan berlari mengejar Shii Hoo.

Ryung pergi ujian dengan diantar oleh teman-temannya.

"Memangnya aku mau pergi perang?" tanya Ryung malu. "Kau membuatku malu, Ayah. Pergi sana."

Swe Dol dan teman-temannya menyiapkan kejutan untuk membuat Ryung semangat. Mereka menempelkan tulisan di badan mereka dan bertingkah layahnya cheerleaders, "Hidup Ryung! Hidup Ryung!"

Ryung malu setengah mati dan memberi isyarat agar mereka pergi.

Pintu gerbang tempat ujian dibuka. Tiba-tiba Hee Bong datang dan menarik lengan Ryung. "Aku sudah menemukan kakakmu."

Ryung menemui orang yang telah menolong kakaknya. "Aku tidak tahu berapa lama ia kelaparan." kata orang itu. "Ia hampir menjadi pencuri. Dia juga makan tidak berhenti-henti. Ck ck ck.. Apa kau adiknya? Kalian sangat mirip. Dia juga berkata bahwa dia ingin mencari adik dan ibunya di Hanyang."

"Ibu?" tanya Ryung.

"Aku dengar dia dan ibunya sudah berpisah sejak ia masih kecil. Dia ditangkap dan dijadikan budak sementara ibunya dipaksa menjadi wanita penghibur. Dia menangis ketika menceritakan itu. Andai kau datang sedikit lebih cepat."

"Kemana dia pergi?" tanya Ryung cemas.

"Aku memberinya beberapa barang. Mungkin ia berniat mencari ibunya di rumah bordil di Hanyang."

Shi Hoo mengikuti ujian memanah. Ia menggunakan penyangga jari yang diberikan Eun Chae. Dengan mudah Shi Hoo bisa memanah tepat sasaran dan akhirnya lolos. Namun ketika ujian memanah di atas kuda, kuda yang digunakan Shi Hoo kehilangan kendali. Shi Hoo berusaha tetap memanah tepat sasaran.

"Kudengar kau gagal." kata Shi Wan ketika ia mendekati Shi Hoo yang sedang duduk selesai ujian. "Tapi jangan khawatir. Tidak peduli apakah anak haram lolos atau tidak dalam ujian, dia tidak akan pernah bisa bekerja di pemerintahan." Shi Hoo terkejut. "Kau tidak tahu?" tanya Shi Wan, melihat ekspresi Shi Hoo. "Kau pasti tidak tahu."

Eun Chae berusaha menghibur Shi Hoo. "Hasil ujian belum keluar. Tenanglah, kak."

Ibunya masuk dan menyuruh Shi Hoo menjembut Shi Wan yang sedang bersenang-senang di rumah bordir.

Pada saat yang sama, Ryung pergi ke wilayah rumah bordor untuk mencari kakaknya. "Apa kalian melihat seorang gadis penjual barang?" tanyanya pada setiap orang yang lewat. Namun jawaban mereka selalu 'tidak'.

Ryung melihat salah satu rumah bordir yang tertutup. "Yang ini sudah tutup." gumamnya, dan berbalik pergi.

Shi Hoo memasuki rumah bordil yang tutup itu untuk menjemput Shi Wan. Di sana, ia melihat seorang gadis yang menjual barang pada salah seorang pekerja rumah bordil itu. Gadis itu tidak lain adalah Yeon, kakak Ryung.

"Maaf.. apa disini ada wanita penghibur yang sebelumnya adalah pelayan di rumah seorang bangsawan?" tanya Yeon pada gadis rumah bordil. "Umurnya sekitar 40 tahun."

"Sepertinya tidak ada." jawa gadis itu.

Shi Hoo menoleh mendengar percakapan mereka.

"Bisakah kau mengambilkan air?" ujar Yeon pada gadis rumah bordir.

"Tunggu sebentar." gadis itu pergi ke belakang.

Dari luar, terdengar suara orang sedang mencari pelayan yang memukul penjaga lalu kabur. Yeon mendengar itu dan berniat pergi. Melihat Shi Hoo, ia berpura-pura mencari toilet.

Para polisi masuk dan bertanya pada Shi Hoo apa ia melihat seorang gadis mencurigakan.

"Ada masalah apa?" tanya Shi Hoo.

"Seorang pelayan melarikan diri. Dia adalah putri dari seorang pemberontak. Karena itu dia sedang dicari-cari di semua wilayah."

"Aku tidak melihat siapapun." kata Shi Hoo. Ia menoleh dan melihat Yeon bersembunyi.

Shi Hoo pergi. Yeon menatap Shi Hoo dan berpikir sedih, "Jika Geom tumbuh dalam lingkungan yang baik, ia pasti akan menjadi seorang bangsawan seperti laki-laki itu."

Shi Hoo ternyata keluar untuk melihat gambar buronan. Ia mencari lukisan wajah wanita yang dicari-cari polisi. Ternyata benar, itu adalah wanita yang dilihatnya di rumah bordir. Shi Hoo teringat kata-kata Shi Wan yang mengatakan kalau anak haram tidak bisa bekerja di pemerintahan.

Yeon keluar dari rumah bordil itu. Tiba-tiba beberapa polisi mengejar dan menangkapnya. Yeon menoleh, melihat Shi Hoo yang berdiri tidak jauh darinya. Shi Hoo-lah yang melaporkan Yeon pada para polisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar