Sabtu, 28 Agustus 2010

Iljimae (Episode 13)

Pembangunan penginapan milik Eun Chae akhirnya selesai dan dilakukan acara pembukaan penginapan tersebut. Duta Besar Cing, Jung Myung Seo, dan putranya, Jung Ji Yong, yang menyebalkan datang juga ke pembukaan tersebut. Seung Seung sangat kesal melihat sikap Jung Ji Yong yang angkuh.

"Wajahnya yang menyebalkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan laki-laki yang sering datang kemari (Ryung)." kata Seung Seung mengomel. "Saat dia (Ryung) datang kemari, aku ingin sekali menendangnya keluar, tapi dia sudah lama tidak datang, aku jadi merindukannya. Kau penasaran juga kan, Nona?" Seung Seung bertanya pada Eun Chae ketika melihat wajah Eun Chae menunduk.

"Apa?" Eun Chae bertanya, pura-pura acuh.

"Kudengar dia sedang pergi ke gunung untuk belajar dan mempersiapkan ujian." kata Seung Seung. "Apa mungkin dia menyukaiku? Apa dia sedang jatuh cinta?"

Eun Chae tertawa. "Apa masih tidak ada kabar dari Iljimae?"

"Tidak. Banyak gosip berbeda di masyarakat. Ada yang mengatakan Iljimae sudah mati atau ada juga yang mengatakan kalau Iljimae sudah pergi ke Cing." jawab Seung Seung muram.

Eun Chae sedih dan khawatir mendengar itu.

Ryung masih terus dilatih oleh Kong He dan Shi Hoo masih dilatih oleh Chun. Ryung dan Shi Hoo makin meningkat kemampuan bela dirinya, namun apa yang diajarkan oleh kedua guru mereka berbeda.

Kong He mengajarkan Ryung bahwa bertarung bukanlah untuk membunuh, melainkan untuk mempertahankan diri dan menyelamatkan orang lain. Sedangkan Chun mengajarkan Shi Hoo bahwa bertarung adalah membunuh.

Shi Hoo masih berlatih memanah hingga larut malam. Eun Chae berjalan mendekatinya. Karena Shi Hoo bersikap dingin padanya, Eun Chae meminta Shi Hoo mengajarinya memanah.

Kong He mengajari Ryung memanah. Kong He menyuruh Ryung memanah seekor kelinci sedang panah tumpul, sehingga kelinci tersebut tidak akan terbunuh.

Chun juga mengajarkan Shi Hoo memanah seekor kelinci, namun Chun dan Shi Hoo menggunakan panah sesungguhnya sehingga kelinci tersebut mati terpanah.

"Ini adalah pedang yang pernah aku gunakan." kata Chun seraya memberikan pedang pada Shi Hoo. "Jika mereka berdiri di jalanmu, bunuh mereka semua."

"Apa ini?" Ryung menatap pedang yang diberikan Kong He padanya dengan bingung.

"Itu pedang." jawab Kong He. "Itu adalah hartaku yang paling berharga. Aku khusus meminta pandai besi membuatkannya untukku."

"Kenapa kau membuat pedang ini tidak tajam, Paman?" tanya Ryung. "Mana ada pedang yang seperti ini?"

"Bukankah aku gurumu? Kau memanggilku Paman lagi setelah kau selesai berlatih denganku?" tanya Kong He mengomel. Namun tiba-tiba wajahnya menjadi serius. "Ryung, ada dua jenis pedang di dunia ini. Yang satu digunakan untuk membunuh...

Ryung terdiam. Ia teringat seseorang pernah berkata hal yang sama seperti ini sebelumnya. Ayahnya.

"Sedangkan yang satu lagi digunakan untuk menyelamatkan seseorang." Ryung teringat Lee Won Ho pernah berkata. "Aku berharap kau tidak akan pernah menyentuh pedang seumur hidupmu. Namun jika itu terjadi, kau harus menggunakan pedang untuk menyelamatkan dan membebaskan orang lain. Kau mengerti?"

"Kau mengerti?!" teriak Kong He.

Ryung tersadar dari lamunannya. "Ya. Aku mengerti, Guru."

"Walau pedang itu tidak tajam, namun masih tetap bisa membunuh jika kau memang berniat membunuh." kata Kong He. "Membunuh tidak bergantung pada senjata, namun pada hati seseorang." Kong He berjalan pergi.

Ryung menatap pedang pemberian Kong He. "Ayah, aku akan terus mengingat kata-katamu untuk selamanya. Aku tidak akan pernah melupakannya."

Ryung kembali pulang ke Nam Mun sementara Kong He memutuskan untuk tinggal lebih lama. Kong He bertanya pada pria pemulik kapal yang mengantarkan Ryung, "Apa Iljimae sudah muncul?"

Pria pemilik kapal mengatakan bahwa Iljimae sudah lama tidak muncul.

Kong He melirik Ryung dengan pandangan penuh arti dan berkata bahwa ia yakin Iljimae mempunyai motif terselubung dibalik aksi pencuriannya.

Ryung menunduk, tidak berani menatap mata Kong He.

Bong Soon mengumumkan pada semua orang bahwa Ryung akan kembali. Ia pergi ke pasar membeli sayuran untuk Ryung dan bertemu dengan Nyang Soon.

"Pita ini bagus kan?" tanya Nyang Soon. "Suamiku yang memberikannya."

"Suami?" gumam Bong Soon kesal. "Anak ini..."

Di saat yang sama Putra Duta Besar Cing, Jung Ji Yong, minum dan mabuk.

"Apa kau yakin bisa mengendarai kuda dengan kondisi seperti itu?" tanya salah seorang pengawal Jung Ji Yong saat itu. "Bagaimana kalau terjadi sesuatu?"

"Apa kau tidak tahu siapa ayahku? Ayahku adalah Duta Besar Cing. Bahkan Rajamu saja memberi hormat padanya." ujar Jung Ji Yong sombong. "Percayalah padaku."

Jung Ji Yong dan para pengawalnya mengendarai kuda dengan kecepatan tinggi melewati pasar.

Bong Soon dan Nyang Soon saat itu sedang ribut-ribut berebutan Ryung. Pita Nyang Soon terjatuh di tengah jalan. Nyang Soon menunduk untuk mengambilnya.

Jung Ji Yong melihat Nyang Soon di tengah jalan dan berniat untuk melompati Nyang Soon dengan kudanya, namun gagal. Kuda Jung Ji Yong menabrak Nyang Soon dan membuat gadis kecil itu meninggal saat itu juga.

Jung Ji Yong dan para pengawalnya kabur. Bong Soon marah besar dan mengejar Jung Ji Yong. "Berhenti! Berhenti kau, Bajingan!" teriak Bong Soon.

Jung Ji Yong tiba di istana dan bersembunyi di sana.

"Buka pintu!" teriak Bong Soon.

Ryung sudah tiba di Nam Mun. Ia berteriak-teriak di sepanjang jalan, "Ryung yang Menawan dari Nam Mun sudah kembali!" Namun keadaan pasar saat itu sangat sepi. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan bingung.

Tiba-tiba ia melihat kerumunan orang dan berjalan mendekati. Dilihatnya pita merah jambu milik Nyang Soon tergeletak di tengah jalan.

Ryung menerobos ke keramaian itu dan melihat Nyang Soon sudah berbaring tak bernyawa.

Ryung sangat terkejut dan bergegas berlari ke gerbang istana. Di sana, ia melihat Bong Soon mencoba masuk namun dihalangi oleh pengawal.

"Serahkan pembunuh itu!" teriak Bong Soon. "Serahkan orang itu!"

Ryung menarik tangan Bong Soon dan mengajaknya pergi, namun Bong Soon menolak. "Bajingan yang membunuh Nyang Soon sedang bersembunyi di dalam!" ujar Bong Soon, menangis. "Apa kau tahu kenapa Nyang Soon mati? Karena dia mengambil pita yang kau berikan padanya! Kenapa kau tidak punya hati?"

Ryung menarik Bong Soon dengan paksa, namun Bong Soon menahan sekuat tenaga dan menghempaskan tangan Ryung.

Ia berjalan perlahan dan duduk di depan gerbang. "Aku tidak akan pergi dari sini sampai bajingan itu keluar." katanya.

Ryung menahan tangisnya dan berkata acuh. "Baik! Terserah padamu! Aku pergi."

Bong Soon duduk di depan gerbang siang dan malam tanpa bergerak sedikitpun. Beberapa warga membawakan makanan untuknya. "Makanlah sedikit." ujar mereka, namun Bong Soon tetap tidak bergerak.

Ryung mengawasinya dari jauh. "Walau dia duduk disana selamanya, tidak akan ada yang memperhatikannya." gumam Ryung. Ia menoleh dan kaget melihat beberapa warga berdatangan.

Orang tua Nyang Soon datang dengan gerobak, membawa jenazah putrinya. Heung Kyun, Dae Shi, Ibu angkat Dae Shi dan ayah Heung Kyun ikut dalam rombongan itu.

"Tolong katakan pada orang yang telah membunuh putri kami agar keluar dan meminta maaf pada kami." kata ibu Nyang Soon, menangis. "Ia hanya perlu mengatakan maaf. Kami tidak mau arwah putri kami menjadi tidak tenang."

Mereka duduk di samping Bong Soon.

Ryung berjalan menuju rumahnya. Saat itu Swe Dol sedang cemas menunggu putranya datang. "Ryung sudah datang!" seru Swe Dol senang ketika melihat Ryung. Ia bergegas berlari dan memeluk Ryung.

Dan Ee keluar dan membawakan makanan untuk Ryung. Walaupun bersikap dingin, namun terlihat bahwa Dan Ee senang Ryung telah kembali.

Ketika Ryung makan, Swe Dol dan Dan Ee bergegas pergi, ingin bergabung dengan Bong Soon untuk meminta keadilan atas kematian Nyang Soon.

Makin banyak warga yang bergabung dengan Bong Soon, duduk di depan gerbang istana. Eun Chae pun datang ikut serta.

Jung Ji Yong mengintip takut-takut lewat celah pintu gerbang.

"Jangan khawatir." kata Jung Myung Seo. "Kembalilah ke kamarmu."

"Tapi mereka sangat banyak." ujar Jung Ji Yong takut.

Jung Myung Seo mendatangi Byun Shik. "Ini bukanlah masalah besar, tapi mereka meributkan hal ini." katanya. "Tampaknya kami butuh bantuan istana untuk menyelesaikan hal ini."

Byun Shik sedikit kesal dan hendak menolak dengan halus. Namun Jung Myung Seo mengingatkan Byun Shik bahwa ia telah banyak menolongnya dan dengan menggunakan sedikit ancaman, Byun Shik terpaksa menyetujui permintaannya.

Para pengawal istana diperintahkan keluar dan menjaga gerbang. Warga mulai ricuh dan memaksa masuk.

"Kalian para pengawal! Kalian melindungi penjahat yang telah membunuh anak ini!" Eun Chae maju diantara kericuhan itu. "Bagaimana bisa kalian melakukan ini pada orang-orang tidak berdosa! Keinginan warga adalah keinginan langit yang tidak bisa ditentang! Yang harus dilakukan pembunuh itu hanyalah membungkukkan kepalanya dan meminta maaf!"

Para pengawal terdiam. Bong Soon bangkit dan menatap Eun Chae.

Shi Wan masuk ke istana dan melihat Jung Ji Yong sedang berjudi bersama teman-temannya. Ia menatap Jung Ji Yong dengan pandangan muak.

Byun Shik memerintahkan kepala pengawal untuk menangkap para pemimpin aksi protes dan menyiksa mereka.

"Pukuli mereka!" perintah kepala pengawal.

Para pengawal ragu sejenak, namun kemudian maju dan menghajar pada protestan.

Bong Soon, Swe Dol, Heung Kyun, Dae Shi dan yang lainnya di ikat dan dipukuli.

Dan Ee dan ibu angkat Dae Shi tiba-tiba datang dengan membawa gerobak berisi alat-alat persenjataan amatir seperti sapu lidi, penggorengan, dan cangkul.

Para warga mengambil senjata itu dan berbalik memukuli para pengawal.

Gagal dengan rencana yang satu, Byun Shik menjalankan rencana yang lain, yaitu memanggil semua anggota geng di kota itu untuk turun tangan.

Anggota geng Ajik datang ke depan gerbang istana dengan persenjataan lengkap.

Para warga berdiri, mulai panik dan ketakutan.

"Teman-teman, hajar mereka!" teriak Hee Bong memerintahkan para anggota gengnya.

"Sam Deok!" tiba-tiba terdengar suara marah seorang wanita.

"Ibu!" Sam Deok terkejut melihat ibunya. "Kenapa ibu disana? Cepat kemari! Sangat berbahaya disana!"

"Kemari kau anak nakal!" panggil ibunya. "Bukankah kau warga kota ini? Kenapa kau ada di sana?!" Ibu Sam Deok marah dan menjewer telinga anaknya.

"Kang Woo!" panggil seorang pria tua.

"Kakek..." laki-laki anggota geng bernama Kang Woo mundur ketakutan dan bersembunyi di balik punggung Hee Bong. Si kakek menjewer telinga Kang Woo dan mengajaknya ke pihak para warga desa.

"Yoo Kam!", "Bong Da!"

Demikian seterusnya. Ayah, Ibu, Kakek dan keluarga para anggota geng satu per satu diajak ke pihak warga desa.

Hee Bong diberitahu oleh seseorang bahwa ini bukanlah tindakan pemberontakan.

"Byun Shik kurang ajar! Dia menipu kita!" ujar Hee Bong marah. "Teman-teman! Kita bergabung dengan warga desa!"

Gagal lagi rencana Byun Shik. Ia merencanakan rencananya yang lain.

Saat warga desa sedang makan dan beristirahat, tiba-tiba pasukan misterius bercadar keluar dan memukuli warga desa habis-habisan dan tanpa ampun.

Ryung, yang saat itu sedang menyelinap ke dalam istana untuk melihat keadaan, keluar dan menolong para warga desa, namun sayang tidak ada satu orang pun warga desa yang menyadari keberadaannya saat itu karena suasana sedang sangat kacau.

Para warga terluka parah dan terpaksa mundur sementara waktu untuk mengobati luka mereka.

"Kau bodoh!" ujar Dan Ee, mengobati Swe Dol yang terluka parah karena melindunginya. "Jika kau mati, aku juga tidak bisa hidup lagi." Dan Ee hampir menangis dan beranjak menolong yang lain.

Swe Dol tersenyum senang.

"Maafkan aku." kata Eun Chae pada Dan Ee. "Aku satu-satunya yang tidak terluka."

"Jangan salahkan dirimu, Nona." ujar Dan Ee.

"Tolong pinjamkan aku bajumu. Aku merasa tidak nyaman dengan pakaian ini." ujar Eun Chae.

Ryung kembali ke markas persembunyiannya untuk membuat sesuatu dari besi dan baja. Ia hendak membuat persenjataan, baju dan topeng.

"Tunggu saja." gumam Ryung. "Lihat apa yang akan aku ambil kali ini."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar