Sabtu, 28 Agustus 2010

Jejoongwon (Episode 3)

Seok Ran membawa Hwang Jung ke rumahnya untuk diobati oleh Dokter Allen.

Dokter Allen memeriksa Hwang Jung. "Kita harus membawanya ke dalam." katanya.

Mereka membawa Hwang Jung ke kamar.

"Dia tertembak peluru." kata Tuan Yoo.

"Dia kehilangan banyak darah!" Dokter Allen memeriksa Hwang Jung. "Hidupnya dalam bahaya!" Ia mengeluarkan peralatan medisnya.

Dokter Allen menyiramkan alkohol di seluruh tubuh Hwang Jung untuk mencegah infeksi dan agar steril. Setelah itu, Tuan Yoo membantu Allen membius Hwang Jung.

Seok Ran panik. Ia, Mak Saeng dan Chil Bok, pelayannya, mengintip lewat pintu.

Dokter Allen mengeluarkan sebilah pisau operasi untuk membedah perut dan lengan Hwang Jung.

Di sisi lain, Baek Do Yang menemui Watanabe untuk membicarakan rencananya belajar kedokteran di luar negeri.

"Belajar ke luar negeri?" tanya Watanabe. "Rumah sakit pertama di Korea akan segera dibangun. Jika kau berhasil mendapatkan lisensi medismu, aku pasti akan merekrutmu. Apa kau ingin bertemu dengannya? Mungkin dia akan membantumu untuk belajar di Jepang, Baek-san."

Do yang tersenyum berterima kasih.

Dokter Allen membedah perut dan lengan Hwang Jung dengan pisau operasi dengan hati-hati. Darah mengucur keluar dari tubuhnya.

"Kenapa dia tidak berteriak?" tanya Mak Saeng.

"Mungkin dia mati." kata Chil Bok.

"Dia pasti sudah mati!" seru Mak Saeng. "Mereka membedahnya dengan pisau, tapi dia tidak bersuara sama sekali!"

"Itu bukan pisau." kata Seok Ran. "Itu dinamakan scalpel."

Allen mengeluarkan peluru dari tubuh Hwang Jung menggunakan semacam penjepit. Entah namanya apa.

"Semua orang bisa melakukan itu kalau orangnya mati." kata Chil Bok.

"Dia tidak mati." ujar Seok Ran, menahan napas.

Saat itu, Allen sedang menjahit luka Hwang Jung yang terbuka.

Watanabe memperkenalkan Do Yang pada Kim Ok Gyun dan Hong Young Shik.

"Jadi kau dalah putra Tuan Baek Tae Hyun?" tanya Kim Ok Gyun.

"Benar." jawab Do Yang.

"Kenapa kau ingin bertemu denganku?" tanya Ok Gyun lagi.

"Kudengar kau mengirim orang ke Jepang setiap tahun untuk belajar." Do Yang memulai. "Aku ingin bergabung tahun ini."

"Itu ide yang sangat bagus. Tapi aku tidak yakin ayahmu akan mengizinkan hal ini." Ok Gyun menolak dengan halus. "Kau hanya membuang-buang waktu. Pergilah."

"Aku sudah memutus segala ikatanku dengan ayah." kata Do Yang. "Tolong jangan menilaiku hanya karena ayahku. Aku adalah orang yang akan berbagi mimpimu untuk Korea (a.k.a modernisasi Korea)."

"Mimpi?" tanya Ok Gyun. "Kenapa aku harus mempercayai dan membantu orang yang bahkan tidak memiliki kesetiaan pada ikatan darahnya sendiri?"

Do Yang telihat sangat kesal. Ia dan Watanabe peri dari rumah tersebut.

"Tidak menarik jika apa yang kuinginkan didapat dengan mudah." kata Do Yang pada Watanabe, merasa tertantang. "Tunggu dan lihat saja."

Jak Dae a.k.a Lee Gwak menemui ayah Hwang Jung a.k.a So Geun Gae untuk mengabarkan bahwa putranya sudah meninggal. Ayah Hwang Jung berlari ke sungai tempat putranya di bunuh.

"Inikah tempat putraku mati?!" teriaknya sedih. "Anak bodoh itu telah dihukum! Dihukum karena memotong sapi dengan ilegal! Tapi ini terlalu kejam! Dia melakukan itu untuk ibunya! Paling tidak kembalikan mayatnya!"

Jak Dae menangis.

"Jak Dae.." panggil ayah Hwang Jung. "Aku juga harus pergi sekarang. Istri dan putraku sudah mati. Apa gunanya aku hidup seorang diri? Aku ingin pergi juga..."

Ayah Hwang Jung berjalan ke dalam sungai, ingin bunuh diri. Ia berteriak-teriak memanggil putranya, "So Geun Gae! So Geun Gae!"

"Paman! Paman!" Jak Dae mengejar ayah Hwang Jung untuk menghentikan pria itu bunuh diri.

Hwang Jung bermimpi buruk dalam tidurnya. Ia bermimpi Do Yang datang menyuruhnya membedah perut sebuah mayat. Hwang Jung ketakutan. Ia berlari kabur, tapi Jung Po Gyo mengarahkan pistol ingin menembaknya. Hwang Jung mendorong Po Gyo hingga jatuh kemudian berlari lagi. Tapi tiba-tia ia tersandung dan terjatuh. Ia tersandung sebuah mayat. Hwang Jung berdiri. Disekelilingnya terdapat banyak mayat manusia berserakan.

Hwang Jung tersadar dengan kaget. Ia melihat sekeliling dengan bingung.

"Putriku menemukanmu di tepi sungai dan membawamu kemari." kata Tuan Yoo. "Namaku Yoo Hee Suh." Tuan Yoo menunduk untuk memberi hormat.

Hwang Jung menunduk membalasnya.

"Tuan kami adalah Penerjemah Istana dan ini adalah putrinya." kata Mak Saeng memperkenalkan.

Hwang Jung menatap Seok Ran.

"Apa kau ingat?" tanya Seok Ran. "Kita bertemu di dermaga."

Hwang Jung diam saja, kelihatan bingung. Mak Saeng menatapnya prihatin. "Dia sudah pingsan selama 2 hari. Mungkin mempengaruhi otaknya?" tanyanya polos.

"Kau pingsan di tepi sungai. Kau tertembak." kata Seok Ran,membantu Hwang Jung mengingat.

Hwang Jung teringat malam itu ketika Po Gyo menembaknya. "Aku... tidak... terlalu ingat." katanya.

Seok Ran khawatir. "Kau pasti sangat shock."

"Ji.. jika.. ada air.. aku.. ingin..."

Mak Saeng mengambilkan air dan Tuan Yoo membantu Hwang Jung minum.

"Jika bukan karena Nona, kau pasti sudah ada di dunia bawah!" kata Mak Saeng.

"Terima.. kasih." kata Hwang Jung pada Seok Ran.

Dokter Allen datang. "Biar kulihat lukamu." katanya dengan bahasa Inggris.

"Tuan, kau kedatangan tamu!" terdengar suara dari luar, memanggi Tuan Yoo. Tuan Yoo pamit untuk ke luar. Sebelum keluar, Tuan Yoo memberikan papan nama Hwang Jung. Seok Ran mengintip namanya.

Ternyata Do Yang yang datang menemui Tuan Yoo. Ia ingin meminjam uang dari Tuan Yoo.

"2000 Yang emas?" tanya Tuan Yoo. "Kenapa kau ingin meminjam uang sebanyak itu?"

"Ini sangat memalukan." kata Do Yang. "Pamanku berhutang." Ia berbohong. "Aku menyelesaikan masalah ini sendiri, ayahku tidak tahu apa-apa. Tolong pinjamkan aku uang ini."

"Kapan kau butuh?"

"Lebih cepat lebih baik." kata Do Yang.

Tuan Yoo memberitahu Do Yang bahwa Dokter Allen dari Amerika saat ini tinggal di rumahnya. Allen sedang merawat seorang pasien yang tertembak.

Dokter Allen mengobati Hwang Jung. "Apa kau merasa sakit?" tanyanya dalam bahasa Inggris. Seok Ran menerjemahkan apa yang dikatakan Allen pada Hwang Jung.

"Aku.. aku baik-baik saja." jawab Hwang Jung. Ia ragu-ragu sejenak, kemudian berkata pada Seok Ran. "Ma.. maaf... Aku.. aku tidak bisa membayarnya.. Bisakah kau bertanya padanya apa yang harus kulakukan?"

Seok Ran menjawab pertanyaan itu sendiri. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan soal uang. Dokter Allen bukan orang itu." Seok Ran kemudian menerjemahkan untuk Allen.

"Seorang dokter yang tidak merawat semua pasien, bukanlah dokter yang sebenarnya." kata Allen. "Seorang dokter sejati adalah dokter yang menerima semua pasien dalam kondisi apapun."

Hwang Jung menatap Allen dengan pandangan kagum. "Terima kasih." katanya. "Aku tidak akan pernah melupakan ini."

Seok Ran tersenyum. "Polisi akan segera mengunjungimu."

Hwang Jung menjadi sangat cemas.

Dokter Allen selesai mengobati Hwang Jung dan keluar bersama Seok Ran. Do Yang masuk ke kamar Hwang Jung untuk melihat hasil operasinya. Do Yang tidak mengenali Hwang Jung. Hwang Jung terlihat sangat cemas dan memegang sebuah gunting operasi untuk berjaga-jaga kalau-kalau Do Yang mengetahui identitasnya.

"Bolehkan aku melihat lukamu?" tanya Do Yang. Ia membuka baju Hwang Jung untuk melihat luka jahitannya. Do Yang menatap bekas operasi itu dengan kagum. "Ini pasti pertama kalinya kau diobati dengan ilmu kedokteran barat."

"Ini memang pertama kalinya aku diobati sebagai pasien." kata Hwang Jung. "Tapi aku pernah melihat praktek kedokteran barat sebelumnya."

"Apa yang kau lihat?" tanya Do Yang.

"Aku pernah melihat thoracentesis dipraktekkan." kata Hwang Jung. "Dia adalah seorang pasien yang menderita batuk parah. Tapi, penyakitnya berubah menjadi radang selaput paru-paru. Mereka menusukkan sebuah jarum di punggungnya, kemudian mengeluarkan cairan hijau dari tubuhnya."

"Cairan itu pasti nanah." kata Do Yang, mendengarkan dengan seksama. "Radang selaput paru-paru ditemukan oleh seorang dokter German. Walaupun penyakit itu bisa berbahaya, namun bisa juga disembuhkan dengan memberi nutrisi dan beristirahat. Apakah ia keluargamu? Dia pasti sudah meninggal."

"Dia tidak selamat." kata Hwang Jung.

"Menyedihkan."

"Aku.." Hwang Jung melanjutkan. "juga pernah melihat pembedahan manusia."

"Benarkah?" tanya Do Yang, kelihatan sangat tertarik. "Tapi namanya bukan pembedahan, tapi autopsi. Di barat, anatomi manusia sangat penting. Seseorang harus tahu dimana letak organ manusia untuk mengembangkan pengetahuannya."

Hwang Jung memegang guntingnya dengan erat. "Mereka pasti sering melakukannya untuk pendidikan."

"Ya, untuk pendidikan." kata Do yang. Ia menatap Hwang Jung dalam-dalam. "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Kau kelihatan tidak asing." Do Yang berpikir. "Oh benar! Kita pernah bertemu di toko buku! Pantas saja kau banyak mengetahui tentang kedokteran barat. Kuharap kita bisa bertemu lagi. Kita punya banyak kesamaan." Do Yang berkata ramah seraya beranjak pergi.

Hwang Jung menatap kepergian Do Yang dengan banyak emosi berkecambuk.

"Untuk apa seorang dokter Amerika datang ke Korea?" tanya Do Yang pada Tuan Yoo.

"Dia adalah misionaris medis, tapi dia juga punya impian untuk membangun rumah sakit di sini." jawab Tuan Yoo.

Luka Hwang Jung masih parah. Namun karena takut polisi akan memeriksanya, maka dengan diam-diam Hwang Jung pergi dari rumah keluarga Yoo.

Ketika hendak pergi, dari jauh ia mendengar Seok Ran menyanyikan sebuah lagu berbahasa Inggris. Hwang jung menatapnya dari jauh.

Hwang Jung meninggalkan sebuah surat yang mengatakan kalau ia berterima kasih dan harus pergi dari rumah keluarga Yoo.

Ibu Seok Ran marah-marah karena menganggap Hwang Jung tidak tahu berterima kasih.

Hwang Jung pingsan. Ia ditemukan oleh anak-anak jalanan dan ketua mereka. Ketua anak jalanan enggan menolong Hwang Jung, namun anak-anak jalanan bersikeras menolongnya.

Perdebatan di kalangan istana makin memanas. Kim Ok Gyun dan Hong Young Shik adalah dua orang yang menginginkan reformasi dan modernisasi Korea yang dibawa Jepang, sementara pejabat seperti Min Young Ik dan Baek Tae Hyun (ayah Do Yang) tidak menyetujui modernisasi bawaan Jepang.

"Kurasa kau tidak mengerti motif Jepang yang sesungguhnya." kata Min Young Ik pada Kim Ok Hyun, menolak pendapat Ok Hyun. "Mereka ingin nyawa kita, juga nyawa Yang Mulia!." Young Ik berpaling pada Raja. "Yang Mulia, modernisasi Korea memang penting. Namun membuat rival kita melakukan modernisasi pada kita merupakan hal yang tidak bisa diterima! Itu terlalu memberi mereka kekuatan untuk melawan kita!"

Duta Besar Jepang memaksa Kim Ok Gyun untuk melakukan modernisasi apapun yang terjadi. "Modernisasi Korea atau mati!" serunya.

"Maksudmu, kau menyarankan kami melakukan kudeta?" tanya Hong Young Shik.

"Itu tidak bisa diterima!" Young Shik berkata marah.

"Apakah aku bilang sesuatu tentang menjatuhkan raja?" tanya Duta Besar Jepang. "Aku berkata kita harus menyingkirkan Min Young Ik dan semua orang yang menentang modernisasi!"

"Jika aku meelakukan itu, apa kau punya orang untuk membantu?" tanya Ok Gyun.

Young Shik menatap Ok Gyun, terkejut.

"Biaya tersebut kau yang akan menanggungnya." kata Duta Besar Jepang.

Do Yang memberikan sekotak uang emas pada Ok Gyun, berusaha mengubak pikiran Ok Gyun sehingga mengizinkannya ikut serta untuk belajar ke Jepang. Setelah mendengar alasan Do Yang bahwa mimpinya adalah membangun kedokteran barat di Korea dan beberapa alasan lain (ia juga butuh uang), Ok Gyun akhirnya menyetujui permintaan Do Yang.

Sebelum Do Yang pulang, Young Shik memperingatkan Do Yang agar tidak membiarkan ayahnya pergi ke istana besok, karena mereka akan kudeta melawan Min Young Ik dan pejabat lain yang menentang modernisasi bawaan Jepang.

Do Yang kembali ke rumahnya.

Anak-anak jalanan suka sekali melihat bekas operasi Hwang Jung dan sering 'menonton' lukanya itu. Hwang Jung cepat sekali akrab dengan anak-anak jalanan.

Tiba-tiba seorang bangsawan datang dan menawarkan pekerjaan pada ketua anak jalanan. Ia kemudian mengajak Hwang Jung ikut bekerja.

Hwang Jung dan ketua anak jalanan (belum tahu namanya) mengangkat beberapa peti yang sangat berat. Mereka juga tidak mengetahui apa isi kotak tersebut.

Saat hari gelap, Hwang Jung dan ketua anak jalanan memasuki sebuah rumah. Sepertinya sedang diadakan pesta di tempat tersebut. Di sana, Hwang Jung melihat Tuan Yoo.

Mereka meletakkan peti di sebuah tempat tersembunyi. Hwang Jung terkejut mengetahui barang yang berada di peti-peti tersebut adalah senjata dan minyak tanah.

"Aku baru saja mendengar kalau mereka berencana untuk membunuh semua orang yang ada di sana." bisik ketua jalanan pada Hwang Jung.

Orang-orang yang memberi mereka pekerjaan menyiram sekeliling rumah dengan minyak, kemudian membakarnya.

Hwang Jung berlari, ingin memperingatkan Tuan Yoo.

Di tempat lain, Min Young Ik, merasa ada hal yang aneh pada Kim Ok Gyun. Ia curiga bahwa Ok Gyun merencanakan sesuatu yang buruk.

Penyerangan dimulai. Beberapa prajurit bersenjata memasuki rumah itu dan membunuh semua pejabat Korea yang berada di sana.

"Ada apa?!" tanya Young Ik.

"Aku tidak yakin." kata Young Shik. "Tapi disini tidak aman. Kau harus segera pergi." Ia menyuruh Young Ik seraya memberikan pandangan aneh pada Ok Gyun. Rupanya mereka berniat menjebak Young Ik.

Setelah Young Ik ikut bersama mereka, salah seorang prajurit menebasnya dari belakang.

"Inikah yang kalian sebut modernisasi Korea?" tanya Young Ik, kesakitan.

Ketika prajurit hendak membunuh Young Ik, Young Shik berteriak, "Cukup!"

Prajurit itu menebas Young Ik dari depan hingga Young Ik tidak sadarkan diri dan bersimbah darah.

Tuan Yoo melihat dan segera berlari kearahnya, "Tuan Min! Tuan Min!" serunya cemas.

Tiba-tiba seorang prajurit mengangkat pedang hendak menebas Tuan Yoo, namun Hwang Jung menolongnya dan memukuli prajurit itu.

Hwang Jung menggendong Min Young Ik di punggungnya. "Ia adalah keponakan Ratu. Kita harus menyelamatkannya!" kata Tuan Yoo pada Hwang Jung.

Mereka membawa Young Ik ke rumah seorang bangsawan yang terdekat, yaitu rumah Tuan Mok (orang asing). Tuan Yoo menyuruh seseorang untuk memanggil Dokter Allen ke rumah Tuan Mok.

Kim Ok Gyun dan Hong Young Shik menuju istana. Mereka berpura-pura panik dan menyarankan agar Raja dan Ratu segera meninggalkan istana. Jebakan mereka berhasil. Raja dan Ratu bersedia ikut dengan mereka.

Di rumah keluarga Yoo, Seok Ran sedang mengajari Allen bahasa Korea.

Tiba-tiba seseorang datang menjemput Allen untuk mengobati Young Ik. Allen segera membaa peralatan medisnya dan berlari menuju rumah Tuan Mok.

Hwang Jung dan yang lainnya meletakkan Young Ik di sebuah kamar.

"Kenapa pakaianmu seperti itu?" tanya Tuan Yoo.

"Karena aku khawatir ada sesuatu yang terjadi, maka aku menyamar dan masuk ke rumah itu sebagai pelayan." kata Hwang Jung berbohong.

Tuan Yoo menyuruhnya berganti pakaian.

Setelah selesai berganti pakaian, beberapa tabib (tradisional) Korea tiba. Mereka ingin mengobati Young Ik.

Di rumah keluarga Baek, beberapa polisi datang dan mengatakan pada Baek Tae Hyun bahwa Kim Ok Gyun melakukan kudeta. Tae Hyun sangat cemas dan bergegas ingin pergi ke istana. Do Yang menahannya.

"Tolong katakan pada mereka bahwa kau sedang sakit. Aku yang akan mengurus segalanya." kata Do Yang, menahan ayahnya pergi.

"Kau menyuruhku meninggalkan keamanan negara demi keselamatanku sendiri?!" seru Tae Hyun marah.

"Benar. Selamatkan dirimu sendiri, maka kau bisa melanjutkan apa yang saat ini kau lakukan." kata Do Yang bersikeras.

"Itukah yang kuajarkan padamu?!" Tae Hyun bertambah marah. "Aku menyalahkan diriku sendiri karena tidak mendidik putraku dengan benar." Ia melewati Do Yang dan berjalan pergi. "Ayo kita ke istana."

"Ayah! Ayah!" panggil Do Yang, mengejar ayahnya.

"Negara kita sedang dalam bahaya!" teriak Tae Hyun. "Bagaimana bisa aku sebagai pelayan masyarakat diam saja disini?!"

Do Yang menghadang jalannya. Ia menarik sebuah pedang milik polisi dan mengarahkan pedang tersebut pada ayahnya. "Kau tidak akan pergi."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar