Sabtu, 28 Agustus 2010

Iljimae (Episode 17)

Shi Wan dan kedua anak buahnya mengantarkan seseorang yang diangkat dengan tandu pada Shi Hoo. Ia menunduk dan bersalah. "Kita tidak tahu apa yang dia dengar." ujar Shi Wan, melihat iba ke orang yang tertutup kain itu.

Shi Hoo membuka penutup kain. "Ayah!" serunya seketika ketika melihat Swe Dol sekarat dan babak belur. Ia mendongak marah pada Shi Wan. "Apa maksud semua ini?!"

"Aku.. aku tidak tahu." kata Shi Wan.

"Ayah!" Shi Hoo bergegas membawa dan membopong Swe Dol di punggungnya. Shi Wan membantunya.

Ryung kembali ke markas persembunyiannya, dan terkejut melihat kertas target yang ada di dinding menghilang. Baju hitamnya yang digantung pun ikut menghilang. Di sana, ia juga melihat pembuka gembok tergeletak di meja.

Ryung teringat peristiwa saat ia menyandari pintu dan terjatuh, kemudian bagaimana ayahnya mengajarinya membuka gembok

"Ayah!" serunya, lalu berlari keluar.

"Aku tidak bisa bernafas..." gumam Swe Dol ketika Shi Hoo menggendongnya.

"Bertahanlah sebentar lagi." kata Shi Hoo cemas. "Aku akan membawamu ke tabib."

"Jangan! Bawa aku pulang." kata Swe Dol. "Aku ingin melihat Dan Ee. Bawa aku pada Dan Ee."

Shi Hoo menangis.

"Ja Dol, jangan terlalu keras pada ibumu." kata Swe Dol. "Ibumu tidak melakukan sesuatu yang salah. Salahkan saja semuanya padaku."

"Jangan bilang begitu, Ayah." tangis Shi Hoo. "Bicara akan membuatmu makin lelah. Tolong jangan katakan apa-apa lagi."

"Ja Do, Ryung bergantung padamu." kata Swe Dol, berusaha sekuat tenaga untuk bicara. "Tolong jaga dia. Dia adalah anak yang sangat malang. Ja Dol... dan Ryung... kalian berdua adalah putraku. Kalian adalah saudara kandung. Bersikaplah seperti saudara kandung. Jangan bertengkar. Kalian berdua harus saling menyayangi."

Ryung berlari menuju rumah Suh Young Soo. Di sana, ia mendengar kedua pelayan di rumah tersebut berbincang. "Beraninya dia menyamar menjadi Iljimae kita." kata seorang pelayan. "Dia hanyalah seorang maling yang pendek dan ompong."

Ryung menjadi cemas bukan main dan menemui Shi Wan. Shi Wan ikut merasa sedih untuknya. "Cepatlah pulang dan lihat apa yang terjadi." katanya pada Ryung.

Shi Hoo membawa Swe Dol pulang.

"Ada apa?" tanya Dan Ee pada Shi Hoo. Ia melihat orang yang dibawa Shi Hoo, kemudian panik. "Bagaimana? Bagaimana bisa?"

Mereka membawa Swe Dol masuk ke rumah.

"Aku akan memanggil tabib." kata Dan Ee. Shi Hoo memegang tangan Dan Ee untuk menahannya, kemudian menggeleng.

"Kau pasti masih sangat sibuk." ujar Swe Dol pada Shi Hoo, berusaha mengerahkan kekuatannya untuk bicara. "Kembalilah."

Shi Hoo menangis. "Ayah..."

"Aku tidak akan mati. Jangan khawatir. Aku... ingin mengatakan sesuatu pada ibumu."

"Aku akan datang lagi besok." kata Shi Hoo seraya beranjak pergi.

Dan Ee mengenggam tangan Swe Dol.

"Dan Ee-ku yang cantik..." Swe Dol tersenyum. "Maafkan aku. Aku selalu menginginkan kau, Ryung dan aku... hidup bahagia... sampai hembusan nafas kita yang terakhir."

"Kita akan hidup bahagia selamanya." kata Dan Ee meyakinkan.

"Maafkan aku... Aku sungguh minta maaf.. Aku telah membuatmu hidup dalam kesengsaraan selama ini..."

"Jangan bilang begitu." Dan Ee menangis. "Kau tidak pernah melakukan hal yang salah. Akulah... Akulah yang tidak pernah memperlakukanmu dengan baik."

"Tuan itu... Tuan itu..." Swe Dol mulai tidak bisa membuka matanya. Tuan yang dia maksud adalah Lee Won Ho. "Tuan itu tidak memerintahkan siapapun untuk membunuhmu. Dia bahkan memberiku uang... kemudian menggenggam tanganku erat... dan berkata bahwa kau sangat berharga. Dia juga menyuruhku membawamu pulang dan hidup bahagia bersamamu..." Swe Dol kehilangan napasnya sejenak, kemudian melanjutkan. "Tapi aku tidak pernah mengatakannya padaku.. karena... aku takut kau tidak akan pernah membuka hatimu untukku... Aku minta maaf.. Aku benar-benar minta maaf..."

"Itu tidak penting lagi... Hanya ada kau di hatiku... Sudah lama aku merasa seperti itu..."

"Dan Ee..."

"Aku takut.." tangis Dan Ee makin merebak. "Aku takut jika berpikir mungkin kau akan pergi meninggalkan orang seperti aku... Jika kau meninggalkan aku... entah akan menjadi seperti apa aku..."

"Terima kasih... Terima kasih karena sudah hidup bersama orang tidak berguna sepertiku... Dan Ee yang cantik... Dan Ee-ku yang cantik..."

Dan Ee panik melihat Swe Dol mulai kehabisan napas dan memejamkan matanya. "Jangan tidur.. Tolong jangan tidur!" serunya. Dan Ee dengan panik mengambil lipstik dan mengenakannya. "Lihat! Lihatlah bibirku! Bibirku.. Apakah bibirku cantik?"

Swe Dol tidak menjawab. Ia mengangkat tangannya untuk menghapus air mata Dan Ee.

"Ya.. kau cantik... kau sangat cantik..." ujar Swe Dol berbisik. "Apa kau sudah memasak nasi kering?"

"Apa?"

"Ryung... Saat ia pulang besok pagi, ia pasti ingin makan nasi kering."

"Aku tahu." ujar Dan Ee menenangkan. "Aku akan memasak nasi untuk Ryung."

"Ya... Anakku yang sangat malang... Dua anakku yang sangat malang... Aku akan membawa semua kesalahanku ke dunia lain..."

Swe Dol meninggal.

Hari sudah cerah. Shi Hoo datang lagi ke rumah Swe Dol dan menangis mengetahui ayahnya itu sudah meninggal. Ketika mendengar Ryung tiba, ia bersembunyi.

Ryung berlari pulang ke rumah. Ia menyembunyikan perasaannya dan berteriak dengan suara serak, "Ayah! Dan Ee! Aku lapar!"

Tidak ada jawaban dari dalam. Ryung bergegas berlari masuk dan ketakutan melihat Swe Dol berbaring diam tak bergerak.

"Ayah!" panggil Ryung seraya menggoncang-goncangkan tubuh Swe Dol untuk membangunkannya. "Ayah! Apa yang terjadi padamu? Kenapa dengan wajahmu?"

Ryung menggoncang-goncangkan tubuh Swe Dol makin keras. "Ayah! Buka matamu!" Ryung menangis semakin keras. "Ayah, bangun! Kenapa kau masih tidur saat matahari sudah terbit? Tolong bangun, ayah! Bangun... Bangun, ayah..."

Ryung memeluk ayahnya dan menangis sangat keras. Dan Ee memeluk Ryung untuk menenangkan.

Di tempat yang berbeda, Raja (pura-pura) menangisi kematian putranya. "Putraku!" teriaknya sedih.

Dan Ee dan Ryung membawa pergi jenazah Swe Dol.

Dae Shi, Kong He, Bong Soon, ayah Heung Kyun dan teman-teman Swe Dol yang lain mengantar kepergian Swe Dol.

"Mereka menuduhnya memberontak." kata Ayah Heung Kyun, menangis. "Mereka juga tidak mengizinkannya untuk dimakamkan dengan layak."

"Kenapa mereka begitu kejam?" tanya Ayah Seung Seung menangis menatap kepergian Swe Dol.

"Swe Dol!" teriak Ayah Heung Kyun. "Swe Dol!"

"Paman..." Dae Shi menangis sedih, memegangi Deok yang terjatuh lemas.

Shi Hoo menatap kepergian Swe Dol dari jauh.

Dan Ee terpuruk dalam kesedihan, namun mencoba bersikap tegar di depan orang lain.

Shi Hoo menatap ibunya dengan sedih, namun tidak bisa menghiburnya.

Shi Wan menemani dan mencoba menghibur Ryung dengan mengajaknya minum. Namun Ryung tidak bisa melupakan ayahnya dan terus menangis.

Nyonya Han mengantarkan minum pada mereka dan melihat Ryung menutupi wajahnya sambil menangis. Penasaran, namun Nyonya Han tidak bisa bertanya.

Nyonya Han kemudian mengantarkan minuman pada Shi Hoo, yang juga minum di tempat yang sama, namun beda kamar.

Di kamar itu, Shi Hoo juga menangis.

"Ada apa, Tuan Muda?" tanya Nyonya Han.

"Maafkan aku, Ayah... Maafkan aku..." gumam Shi Hoo.

Ryung mabuk berat dan tertidur. Shi Wan mencoba membangunkannya, namun Ryung tidak bergerak sama sekali. "Teman baikku, aku minta maaf. Aku lupa mambawa uang." gumamnya. Ia mencari-cari uang di badan Ryung dan menemukan sebuah perhiasan di dalam baju Ryung.

"Apa ini?" gumamnya. Ia berpaling pada gadis menghibur. "Apa ini bisa dipakai sebagai pembayaran? Aku akan membawa uangnya nanti."

"Ya, tentu saja." jawab si gadis penghibur itu, menerima perhiasan milik Lee Won Ho.

Shi Wan menggendong Ryung dipunggungnya dan hendak pulang. Nyonya Han tiba-tiba memanggil mereka. "Tuan, tunggu sebentar. Di luar sangat dingin dan berangin. Tolong pakai ini." Nyonya Han menyampirkan sebuah mantel di badan Ryung.

Ryung terbangun keesokan hari di kamarnya. Saat bangun ia sudah melihat sebuah meja berisi makanan di sampingnya. Ryung melihat makanan itu. Ada nasi, sup, sayur, lauk dan nasi kering. Melihat nasi kering itu, Ryung teringat masa kecilnya ketika Swe Dol menyuapinya nasi kering. Ryung memakan nasi kering tersebut dan menangis.

"Kenapa kau membunuh ayahku?" tanya Ryung, bicara pada dirinya sendiri. "Memang apa yang ayahku dengar? Aku tidak akan melepaskan tangamu, Ayah!"

Ryung menusukkan pisau ke kertas target di dinding. Jenderal Suh Young Soo.

Malamnya, Iljimae menyusup ke rumah Suh Young Soo, namun menemukan pria itu sudah mati. Suh Young Soo memang tidak tahu-menahu tentang kematian Swe Dol.

Ketika Iljimae menyadari bahwa Suh Young Soo sudah mati, para penjaga memergokinya sehingga mereka berpikir Iljimae-lah yang telah membunuh Tuan Besar mereka.

Keesokkan harinya, sebuah kertas pengumuman di tempel. Di sana tertulis, 'Iljimae Pembunuh Suh Young Soo'.

"Kita semua dibodohi!" seru Dae Shi. "Dia bertindak seolah-olah dia adalah pencuri berbudi, seorang pahlawan."

"Bukankah kau pernah bilang kalau Iljimae adalah pahlawan di hati masyarakat?" tanya Ryung.

"Memangnya aku pernah bilang?" tanya Dae Shi mengelak.

"Aku yakin mereka salah menuduh pahlawan kita!" kata Ayah Heung Kyun.

Ryung bingung dan berpikir keras. "Siapa yang membunuhnya?" pikirnya. "Aku menemukan orang yang membunuh ayahku, tapi... Siapa yang membunuhnya?"

Ryung berlari untuk menemui Shi Wan agar ia bisa ikut melihat jenazah Suh Young Soo. Di sana, Ryung terkejut melihat lambang Jeonwoohoe di dada kiri Suh Young Soo.

"Setelah membuatnya kaku," Shi Hoo menjelaskan. "Dia membunuhnya dengan menusuk titik daerah vital di dada."

Flashback. Chun membunuh Suh Young Soo.

"Dia adalah pembunuh profesional." kata tabib yang memeriksa jenazah Suh Young Soo.

"Kita hanya melempar satu batu, namun kita berhasil membunuh dua burung." ujar Byun Shik, tertawa menang.

Raja tersenyum sinis. "Kita akan membuka topeng Raja para rakyat itu." Ia berpaling pada Chun. "Sa Chun, bawa Lee Kyung Sub kemari."

Lee Kyung Sub masuk dan berlutut di depan Raja.

"Aku sudah mecoba untuk membujuk Suh Young Soo, namun is tidak mau mendengar." kata Lee Kyung Sub ketakutan. "Yang Mulia, kau harus percaya pada kesetiaanku."

"Aku juga mendengarnya." ujar Raja. "Aku tidak akan menyakitimu. Jangan khawatir. Mereka semua mati karena mengkhianatiku. Situasi menjadi seperti ini, aku juga merasa sedih. Orang yang memuatku marah saat ini bukan kau, melainkan Iljimae. Kita harus menangkapnya agar hati masyarakat menjadi tenang. Kau harus membantuku.

"Ya, Yang Mulia."

"Kau boleh pergi!" ujar Raja. Ia berpaling pada Chun. "Chun..."

"Ya, Yang Mulia. Aku sudah menyiapkan anak buahku." kata Chun, mengerti yang dimaksud Raja.

Shi Hoo berpikir di perpustakaan dan mencoba memecahkan teka teki lambang yang terukir di dada kiri para anggota Jeonwoohoe korban pembunuhan.

Shi Wan masuk ke perpustakaan itu dan melihatnya. Tiba-tiba seorang pengawal memanggil Shi Hoo dan mengajaknya keluar.

Shi Wan memanfaatkan kesempatan ini untuk melihat kertas yang sedang ditulis oleh Shi Hoo.

Shi Wan membawa kertas tersebut keluar dan menunjukkannya pada Ryung.

"Aku benar-benar tidak mengerti!" kata Shi Wan. "Dia melihat gambar ini dan berpikir dalam-dalam. Aku yakin pasti ada sesuatu pada gambar ini."

Ryung berpikir, kemudian tersenyum. "Aku juga tidak tahu."

Malam harinya, Iljimae menyusup ke rumah Lee Kyung Sub, satu-satunya anggota pusat Jeonwoohoe yang masih hidup.

Lee Kyung Sub tahu Iljimae akan datang. Ia kemudian masuk ke dalam baju perang yang dipajang di ruangan itu, hendak menangkap Iljimae agar nyawanya diampuni Raja.

Iljimae menuju ruang penyimpanan senjata dan mencari pedang dengan lambang. Mulanya ia tidak menyadari kalau Lee Kyung Sub bersembunyi di dalam baju perang yang dipajang di ruangan itu dan memata-matainya. Namun ia akhirnya tahu dan mengganjal kotak tempat baju perang dipajang agar Lee Kyung Sub tidak bisa keluar.

Iljimae tidak menemukan pedang yang dimaksud. Ia kemudian mencuri salah satu barang berharga dan kemudian pergi.

Di lain sisi, Shi Hoo masih terus berpikir tentang lambang di dada kiri para korban pembunuhan. Ia berniat pergi menemui anggota pusat Jeonwoohoe yang tersisa, yaitu Lee Kyung Sub.

Dengan diam-diam, Iljimae membuka ganjalan kotak baju perang. Lee Kyung Sub keluar dan Iljimae mengarahkan pedang padanya.

"Kenapa kau membunuhnya?" tanya Iljimae.

"Siapa?" tanya Lee Kyung Sub bingung.

"Pencuri yang masuk ke rumah Suh Young Soo saat kau ada di sana!" seru Iljimae. "Memangnya kesalahan apa yang sudah dilakukannya?!"

Lee Kyung Sub diam-diam mengambil pedang dan bertarung dengan Iljimae.

Pelayan Lee Kyung Sub, yang merupakan anak buah Chun, memata-matai mereka dan sudah bersiap dengan pedang di tangannya. Pelayan itu berlari menemui Moo Yi.

"Apa kau sudah membunuhnya?"tanya Moo Yi.

"Aku baru mau membunuhnya, tapi tiba-tiba Iljimae muncul." kata pelayan itu.

Moo Yi berniat mengambil tindakan.

"Apa kau tahu bahwa dia adalah orang yang sangat penting untukku?!" seru Iljimae pada Lee Kyung Sub ditengah-tengah pertarungan mereka. Iljimae menyerang Lee Kyung Sub dengan membabi-buta. "Dia adalah tanganku! Dia adalah kakiku! Dia adalah jantungku! Dia segalanya bagiku!" Pada kenyataannya memang Lee Kyung Sub tidak tahu apa-apa.

Iljimae menyerang Lee Kyung Sub dan tidak sengaja merobek bajunya. Ia melihat lambang di dada kiri pria itu, kemudian menunjukkan lambang di dada kirinya sendiri.

"Jadi, kau adalah... putra Lee Won Ho..." Lee Kyung Sub terkejut dan hendak mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba sebuah pisau melayang dari belakang mereka dan membuat Lee Kyung Sub terbunuh.

Iljimae mengejar si pembunuh.

Shi Hoo melihat Iljimae lari dan kemudian mengejarnya.

Terjadi pertarungan antara Moo Yi dan Iljimae. Dengan mudah, Iljimae bisa mengalahkan Moo Yi, namun Moo Yi lari bersembunyi. Ditambah lagi masalah baru muncul. Shi Hoo tiba-tiba datang dan menyerang Iljimae sehingga mmebuat Moo Yi punya kesempatan untuk kabur.

Iljimae melawan Shi Hoo. Kemampuan bela diri Ryung berada jauh di atas Shi Hoo dan berhail mengalahkannya.

Ryung menatap benci pada Shi Hoo, teringat bahwa Shi Hoo-lah yang telah menyebabkan kematian kakaknya. Terbesit keinginan kuat untuk membunuh Shi Hoo, namun Ryung menahan keinginan tersebut dan mengampuni Shi Hoo, lalu berjalan pergi.

Shi Hoo tidak bisa terima. Ia mengambil pedang dan menyerang Ryung dari belakang. Ia menebas dada Ryung dan tanpa sengaja memotong tali ikatan topeng Ryung.

Ryung memegang topengnya yang hampir terjatuh dan bergegas lari sebelum Shi Hoo sempat melihat wajahnya.

Ryung melarikan diri ke tengah hutan. Di sana, ia bertemu dengan Pemburu Jang.

"Ryung!" seru Pemburu Jang, melihat Ryung. Ryung segera memasang topeng yang dipegangnya, namun terlambat. "Ryung! Geom!"

Ryung berniat lari, namun Pemburu Jang menahannya. "Jangan khawatir." katanya. "Aku tidak akan menyerahkanmu. Kau telah menyelamatkan putraku, Eun Bok. Kau adalah penyelamat kami. Aku tidak melihat apapun." Pemburu Jang menyentuh dada Ryung. "Darah! Apa kau sedang dikejar? Cepat lari ke arah sana!"

Beberapa saat kemudian, Shi Hoo muncul dan bertanya apakah ia melihat seseorang berpakaian hitam. Pemburu Jang menunjuk ke arah yang berlawanan dengan arah Ryung pergi. Namun sayang sekali, Eun Bok datang dan dengan polosnya berkata, "Tapi tadi aku melihat orang berpakaian hitam ke sebelah sana!" Tunjuknya ke arah jalan Ryung pergi.

Pemburu Jang memberi isyarat pada putranya yang bodoh itu agar diam, tapi Eun Bok terus bicara. "Ia jalan terpincang-pincang. Aku sangat takut."

"Itu pasti babi liar." kata Pemburu Jang. "Kau pasti salah lihat."

Shi Hoo bergegas berlari ke arah yang ditunjuk Eun Bok.

Pemburu Jang memukul kepala putranya.

Ryung sekarat dan merasa tidak mampu bertahan. Ia terjatuh di tanah.

"Ryung! Ryung!" terdengar sebuah suara dari alam bawah sadarnya. Itu adalah suara Dan Ee. "Ryung, bertahanlah. Kau tidak boleh mati di sini."

"Ibu..." Ryung berusaha berdiri.

Shi Hoo melihatnya dari belakang dan mengikutinya diam-diam.

Ryung, masih dengan memakai kostum Iljimae, sampai di rumahnya saat matahari sudah muncul. Dan Ee keluar dan melihatnya.

"Ryung! Ryung!" teriak Dan Ee panik. "Bangun, Ryung!"

Shi Hoo terkejut melihat Iljimae yang diikutinya ternyata adalah Ryung.

Dan Ee membawa Ryung masuk dan mengganti bajunya. Ia hendak menyembunyikan baju Iljimae, namun Shi Hoo muncul di hadapannya.

"Ja Dol..."

"Ibu, serahkan dia padaku." ujar Shi Hoo, menggenggam erat pedangnya.

Dan Ee melihat darah di pedang Shi Hoo. "Ja Dol, jangan lakukan itu! Tolong jangan lakukan itu!" Dan Ee menghalangi Shi Hoo membawa Ryung.

"Minggir, Ibu! Apa kau tahu hukumannya bila menyembunyikan pencuri ini!"

"Ja Dol, aku mohon padamu, jangan lakukan ini!" teriak Dan Ee. "Tolong ampuni Ryung!"

"Kau memperlakukan anak ini dengan baik dan menganggapnya sebagai anakmu sendiri!" seru Shi Hoo. "Ayahku mati karena dia! Alasan kenapa ayah memakai pakaian hitam dan menyusup ke rumah itu... Akhinya aku mengerti! Dia melakukannya untuk melindungi anak ini!"

"Ja Dol.."

Shi Hoo mengempaskan ibunya. "Minggir! Jika kau tidak mau minggir, aku akan membunuhnya di sini sekarang juga!" Shi Hoo mengangkat pedanganya.

"Dia adalah adik kandungmu!" teriak Dan Ee panik. "Kau dan anak ini... memiliki darah yang sama."

Shi Hoo menurunkan pedangnya. "Bukankah kau bilang bahwa kau mengadopsi dia?"

Dan Ee tidak menjawab. Ia memanggil tabib Song untuk mengobati Ryung. Setelah tabib Song pergi, Dan Ee bicara dengan Shi Hoo.

"Kau pikir aku akan mempercayai kata-katamu?" ujar Shi Hoo. "Pertama, kau bilang aku anak bangsawan Byun Shik. Setelah itu, kau bilang aku anak Swe Dol. Sekarang... kau bilang bahwa aku adalah anak seorang pemberontak. Siapa pemberontak itu?"

"Aku tidak bisa mengatakannya." jawab Dan Ee. "Ini untuk kebaikanmu sendiri. Juga untuk kebaikan anak itu."

"Apapun yang terjadi, kau selalu memperhatikan anak itu."

"Dia adalah anak yang sangat malang." kata Dan Ee sedih.

"Ayah juga bilang dia anak yang sangat malang!" Shi Hoo mulai merasakan kemarahan yang lebih dalam dirinya.

"Kau harus menjaga anak itu."

"Menjaganya?" Shi Hoo memandang ibunya. "Dengar baik-baik ibu, dia adalah pencuri paling dicari di Chosun, dan aku adalah pengawal Istana Terlarang. Hanya dengan menangkapnya, maka aku bisa menjadi seorang bangsawan seperti yang kau inginkan."

"Dia adik kandungmu."

"Sejak kau mencampakkan aku, aku bukan lagi putramu, tapi aku adalah putra bangsawan Byun Shik. Hari ini aku akan mengampuninya. Tapi jika ia mencuri dan aku menangkapnya lagi, maka aku akan membunuhnya tanpa ragu!"

Shi Hoo berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Iljimae lagi-lagi dituduh melakukan pembunuhan. Kali ini ia dituduh membunuh Lee Kyung Sub.

Kong He melihat papan pengumuman dengan curiga.

Saat itu, Moo Yi dan Chun sedang berjalan di kota. Moo Yi melihat Kong He dari jauh dan mendekatinya (Chun tidak melihat Kong He).

Chun mendengar pembicaraan dua orang pengawal yang memasang pengumuman. Mereka berkata bahwa Iljimae lebih baik dibanding Raja yang sekarang.

Chun marah mendengarnya. "Beraninya kau menertawai Tuhan-ku!" seru Chun seraya membunuh kedua pengawal itu.

Kong He membersihkan kandang kuda. "Kenapa kau hidup seperti ini?" tanya Moo Yi. "Kau meninggalkan istana untuk hidup seperti ini?"

Kong He tertawa. "Memangnya ada yang salah dengan hidupku?"

"Ayo kita kembali ke istana bersama." ajakr Moo Yi. "Yang Mulia pasti sangat senang."

"Bagiku, ini adalah istanaku." tolah Kong He.

"Kakak!" protes Moo Yi.

"Ayah! Kemari!" panggil Bong Soon dari jauh.

"Aku akan kesana!" jawab Kong He. Ia berpaling lagi pada Moo Yi. "Pergilah. Aku tidak ingin putriku melihatmu."

"Dia adalah gadis yang waktu itu?" tanya Moo Yi. "Apa dia tahu bahwa kita telah membunuh kakaknya? Jika dia tahu dan tetap bersedia tinggal bersamamu..."

"Pergi! Jangan pernah menemuiku lagi. Aku yang dulu sudah lama mati."

Bong Soon mendengar pembicaraan mereka. "Apa yang dia katakan?" tanya Bong Soon shock. "Membunuh kakakku?"

"Bong Soon..."

"Ayah, jadi kaulah orang yang membunuh kakakku?" tanya Bong Soon, menatap Kong He dalam-dalam. "Dan ingin membunuhku juga? Membunuh ayahku? Ibuku? Warga desa? Mereka semua dibunuh olehmu?"

Kong He menunduk.

"Kenapa?!" teriak Bong Soon menangis. "Kenapa kau membunuh mereka semua?"

Ryung akhirnya sadar. "Benar!" serunya, mulai menyadari duduk permasalahan. "Orang yang telah membunuh ayah, adalah orang yang sama dengan yang membunuh mereka semua!"

Ryung bergegas bangkit dari tidurnya dan menemui Shi Wan.

"Kudengar Iljimae membunuh lagi?" tanya Ryung. "Apa ada saksi mata?"

"Ya." jawan Shi Wan. "Pelayannya melihat pembunuhan itu. Katanya, Iljimae menusuk Lee Kyung Sub dengan sebuah pisau kecil."

"Apa pisau itu langsung menusuk lurus?" tanya Ryung.

"Pisau itu miring."

"Aku mencium sesuatu di sini." Ryung memberi petunjuk.

"Mencium apa?" Shi Wan mencium tangan dan bajunya.

Ryung mengajak Shi Wan untuk memperagakan teknik melempar pisau. "Lihat, Tuan!" kata Ryung. "Yang ini adalah posisi pisau jika ditusukkan langsung, sedangkan yang ini adalah posisi pisau jika pisau tersebut dilempar dari jauh. Jika pisau yang ditusukkan langsung, maka pisau tersebut akan menusuk lurus ke dalam. Apalagi jika kau memang berniat membunuh seseorang. Kau pasti akan menggunakan seluruh kekuatanmu."

Ryung menunjuk ke pisau yang satu lagi. "Sedangkan pisau yang dilempar, tidak peduli sehebat apapun si pembunuh dalam melempar, ia pasti tidak akan bisa menusuk sedalam pisau yang ditusukkan langsung."

"Oh!" Shi Wan akhirnya mengerti. Ia menjelaskan trik tersebut di depan seluruh aparat kepolisian dan pengawal.

"Kau!" tuding Shi Wa pada pelayan Lee Kyung Sub. "Kenapa kau berbohong dan mengatakan bahwa Iljimae-lah yang membunuh Lee Kyung Sub?"

Pelayan itu ketakutan.

"Kau, kan? Kaulah yang telah membunuh Tuan Lee Kyung Sub."

"A.. a.. aku hanya melakukan apa yang diperintahkan." kata si pelayan gemetaran. Sebelum pelayan itu sempat bicara lebih jauh, sebuah pisau melayang dari belakang dan membunuh pelayan tersebut.

Shi Hoo dan yang lainnya mengejar si pembunuh keluar. Ryung mendekati pelayan itu.

"Siapa yang menyuruhmu?!" tanya Ryung.

"Byun... Shik..." jawab si pelayan, kemudian meninggal.

Ryung kembali ke markas persembunyiannya. Dilihatnya sejenak sapu tangan milik Eun Chae, lalu membuang sapu tangan tersebut ke perapian. "Dia.. adalah putri musuhku.."

Ryung melempar panah ke kertas target di dinding. Byun Shik.

Iljimae mengirim kertas berlukiskan bunga Mae Hwa ke rumah Byun Shik, pertanda bahwa ia akan mencuri di rumah itu.

Ia kemudia pergi melihat pohon Mae Hwa besar dan mengingat kenangannya bersama Eun Chae. Ia memanggil Eun Chae agar datang ke sana.

"Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?" tanya Eun Chae, tersenyum senang karena melihat Iljimae.

"Kita tidak akan saling bertemu lagi mulai sekarang." kata Iljimae dingin.

"Maaf?" tanya Eun Chae tidak mengerti.

"Kupikir kau adalah seorang putri bangsawan yang cerdas, tapi ternyata maksudku yang begini saja kau tidak mengerti." kata Iljimae, menatap Eun Chae tajam. "Yang ingin kukatakan adalah bahwa kau sudah tidak berguna lagi untukku."

"Kenapa kau bersikap aneh seperti ini?"

"Apa kau benar-benar percaya bahwa aku adalah seorang pahlawan?" Iljimae terus berkata sinis. "Luka ditanganku saat itu, akulah yang membuatnya sendiri. Aku melakukannya untuk melihat buku di kamarmu. Kau mengerti sekarang? Aku hanya ingin memanfaatkan putri bangsawa Byun Shik."

"Jadi.. hatimu.. juga kebohongan?"

"Dari awal memang tidak ada yang nyata." jawab Iljimae acuh. "Aku hanya ingin bermain denganmu untuk bersenang-senang. Kupikir putri bangsawan Byun Shik yang cerdas pasti sulit didapatkan, tapi ternyata sangat mudah."

Eun Chae mengepalkan tangan dan meneteskan air matanya.

"Terima kasih." Iljimae melanjutkan. "Berkat kau, aku berhasil mendapatkan uang yang sangat banyak."

Iljimae pergi.

Eun Chae menangis.

Shi Wan dan para pengawal menjaga rumahnya. Eun Chae sampai ke rumah dan bertanya pada kakaknya apa yang terjadi.

"Iljimae akan datang." jawab Shi Wan.

Byun Shik menjaga barang-barang berharganya dengan hati-hati, kemudian bersembunyi di sebuah ruangan rahasia.

Iljimae menyusup masuk dan berhasil menemukan ruangan rahasia tempatnya bersembunyi. Ia mengarahkan pedang ke leher Byun Shik.

"Kelelawar..." gumam Byun Shik ketakutan. "Tolong ampuni nyawaku. Aku akan memberikan semua barang berhargaku. Tolong ampuni nyawaku..."

Eun Chae mencari ayahnya di kamarnya, namun Byun Shik tidak ada di sana. Ia mengambil pedang dan bergegas menuju ruangan rahasia.

"Kenapa kau membunuh orang-orang itu?" tanya Iljimae.

"Membunuh? Apa maksudmu?" tanya Byun Shik ketakutan.

"Suh Young Soo, Lee Kyung Sub!"

"Kau... Siapa kau sebenarnya?"tanya Byun Shik. "Tunjukkan wajahmu yang sebenarnya!"

"Shim Ki Yoon, Kwon Do Hyun dan Kim Ik Hee!" Iljimae menyebut nama para anggota Jeonwoohoe yang terbunuh. "Kau membunuh mereka semua, bukan?"

Byun Shik mencoba kabur, namun Iljimae menjatuhkan dan kemudian menginjaknya agar tidak bisa bergerak.

"Dan Lee Won Ho... apa kau juga membunuhnya?!" teriak Iljimae.

"Lee... Lee Won Ho..." Byun Shik bergumam, gemetaran. "Kau... kau..."

Iljimae mengarahkan pedang ke leher Byun Shik.

"Benar.. Benar.. Aku menyuruh orang untuk mengubur surat darah di rumahnya. Tapi saat itu, aku hanya menjalankan perintah orang lain."

"Jangan berbohong!"

"Walaupun aku sangat tamak, tapi aku bukan pembohong!" ujar Byun Shik, berbohong. "Aku mengatakan yang sebenarnya."

"Siapa yang memerintahkanmu?!"

"Itu... Itu..."

"Siapa yang memerintahkanmu?!!!" teriak Iljimae tidak sabar.

Tiba-tiba sebuah pedang terarah ke leher Iljimae. Eun Chae-lah yang mengarahkan pedang itu padanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar