Kamis, 26 Agustus 2010

Beethoven Virus (Episode 10)

Beethoven Virus's picture

Kang Gun Woo Junior mencari Maestro Kang. Ada bagian dari lagu yang dia ingin tanyakan. Saat sampai di depan pintu ruangan dia melihat Du Rumi sedang berbicara dengan Maestro Kang. Maestro Kang melihat Gun Woo yang menunggu di luar. Dia keluar dan membawa Gun Woo masuk ke hadapan Du Rumi.
"Ayo katakan apa yang tadi kau katakan padaku", tantang Maestro Kang pada Du Rumi
Du rumi terhenyak. Gun Woo bingung.
"Dia tadi mengatakan tidak suka padamu tapi kepadaku!", kata Maestro Kang
Tapi Gun Woo malah bengong, dia mengira Maestro Kang asal bicara. (
Gun Woo kasian polos banget nih)
Maestro Kang lalu mengambil dokumen dari Rumi yang harus dia tanda tangani dan menyuruh dia segera pergi, karena dia akan berdiskusi dengan Gun Woo.

Berita buruk datang lagi, kali ini dari grup paduan suaranya. Saat hari-H mereka ingin melakukan mogok karena selama ini kcewa pada Maestro Kang yang akan mencajadi konduktor mereka di konser (saat mereka latihan bersama Gun Woo). Maestro Kang ingin Gun Woo tetap bisa berkonsentrasi pada debutnya nanti di bagian pertama pertujukkan.

Instrumen berukuran besar akhirnya berhasil diantarkan sampai ke gedung. Tapi masih banyak masalah di gedung. Para pengungsi bencana badai topan menghalang-halangi penurunan dan masuknya instrumen orkestra ke gedung.Mereka tersinggung melihat orang akan bermusik dan bernyanyi di tengah penderitaan orang yang kehilangan rumah akibat bencana. Mendengar hal ini Maestro Kang pun langsung bergerak ke luar gedung. Maestro Kang berusaha berbicara tegas kepada pengungsi tapi dia malah mendapat tinju dari seorang pengungsi. Maestro Kang terhuyung , lengannya terbentur mobil dan mukanya lecet dan bernoda darah. Maestro Kang sedikit mengancam bahwa dia akan melaporkan mereka karena tidak kekerasan atau mereka mengijinkan instrumen masuk ke dalam gedung.

Maestro Kang menelepon Du rumi, bahwa dia agar jangan bicara yang aneh-aneh tentang perasaan cinta padanya atau bahkan mengatakan hal itu pada Gun Woo.
"Saat ini adalah debut perdananya sebagai konduktor, kau jangan mengacaukan dia! Dan jangan bicara ;agi perasaan cina padaku. kau perlu tahu kadang perasaan cinta itu hanya masalah hormornal belaka. kalau kau kuat kau bisa mengatasi hal itu"

Gun Woo berusaha menghubungi pimpinan paduan suara. Karena batere hpnya lemah dia meminjam hp Du RUmi.
Du RUmi memperhatikan Gun Woo yang tengah berusaha menghubungi paduan suara. Posisinya agak menjauh dari Gun Woo seperti menggambarkan perasaannya saat ini terhadap Gun Woo. Gun Woo lalu teringat Rumi sempat bicara pada mestro Kang tadi
"Apa yang tadi kamu bicarakan pada Maestro Kang di ruangannya tadi?"
Rumi agak gugup menjawabnya, tapi dia tahu tidak boleh mengatakan apa-apa dulu kepada Gun Woo.
"Oh itu masalah konser", kata Rumi berbohong.
"Kamu sepertinya berbohong ya?"kata Gun Woo yang melihat gelagat Rumi agak aneh. Tapi kemudian Gun Woo disibukkan oleh urusannya.



Saat para pemain bersiap-siap untuk pertunjukkan, Ha Yi Deun menemui Gun Woo. Yi Deun mulai melihat Kakek Kim bertingkah aneh lagi. Kakek Kim memanggil Yi Deun dengan nama orang lain yang tampaknya seperti nama kekasihnya dulu. Dia pun memanggil Gun Woo dengan sebutan guru. Mereka berusaha menyadarkan Kakek Ki kembali. Gun Woo bicara baik - baik dengan Kakek, bahwa keinginan kuat itu dapat melawan penyakit.
Kakek sepertinya mengerti betul maksud ucapan Gun Woo.
GUn Woo lalu bersiap-siap memakai tuxedonya tapi tiba-tiba dia merasa ragu.

Kesulitan rupanya tak sampai hanya di sana. Ruangan pertunjukkan ternyata sepi penonton, setengah jam sebelum jam pertunjukkan kursi masih banyak yang kosong. Sekertaris walikota ternyata mendapat info bahwa tiket konser ternyat a di borong satu perusahaan yang diketahui milik pesaing politik walikota.

Maestro Kang kembali ke ruangannya, dia melihat anak menyelinap ke dalam ruangannya. Rupanya dia salah seorang pengungsi dia sepertinya lapar dan ingin memakan rotinya. Maestro Kang membiarkannya dan lalu menemui dan mengembalikan anak itu pada orang tuanya. Ayah anak itu rupanya seorang pengungsi yang tadi berkelahi dengannya. Ayah anak itu malu , dia memarahi anaknya yang tak punya harga diri. Ayahya marah karena walau susah dan kealaparan dia tak mau anaknya jadi pengemis atau minta dikasihani. Sang Ayah berusaha membayar roti sandwich yang dimakan anaknya. Maestro kang menolaknya, sebagai gantinya dia meminta mereka datang saja melihat konser.
Namun pengungsi itu menanggapinya negatif, dia merasa para pengungsi hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kursi yang kosong dan menganggap Maestro Kang tidak pernah mengerti penderitaan orang yang tengah terkena bencana. Tetapi tak disangka maestro Kang lalu bercerita bahwa saat anak-anak dia pun pernah mengalami bencana serupa kehilangan rumah, dan keluarganya hanya dia dan ibunya yang terluka parah. Dia pun kerap mendapat perlakuan buruk (
bullying) dari anak-anak yang lebih besar.

Maestro Kang lalu menuju ruangannya kembali, di koridor dia heran melihat Bae Yon Gi memakai baju Tuxedo milik Gun Woo. Gun Woo pura-pura menyuruh Bae Yong Gi mencoba Tuxedo nya lalu pergi meninggalkan gedung seni. Maestro Kang marah karena Gun Woo melepaskan debut pertamanya untuk menjadi konduktor di bagian pertama konser ini. Gun woo pergi meminjam mobil Rumi dan melaju di tengah derasnya hujan untuk membujuk para anggota paduan suara agar mau tampil di konser ini. Dia minta Rumi menghubungi Gun Woo tapi Gun Woo dengan sengaja menutup teleponnya.

Maestro Kang terpaksa bersiap-siap untuk menjadi konduktor di bagian pertama konser. Saat dia membuka jasnya untuk berganti baju , Rumi mendapati bahwa lengan maestro kang sakit dan bengkak (karena tadi terbentur mobil).
Rumi berusaha peduli tapi Maestro Kang malah mengusirnya.

Ha Yi Deun cemas akan kakek Kim, dia mengawasi Kakek kemanapun kakek pergi. Saat kakek Keluar dari toilet dia mengamati Kakek Kim terlihat jalan terpincang-pincang. Yi Deun curiga dia meminta kakek Duduk dan ingin melihat keadaanya. Saat dia buka sepatunya, ada 2 kerikil yangjatuh dari sepatu.
"Ini hanya untuk pijat refleksi", kata Kakek. Kakek melakukan itu agar ingatannya tetap terjaga.
Tapi Yi Deun masih curiga, dia membuka kaos kakinya dan terkejut mendapati telapak kaki kakek yang terluka karena kerikil itu.
"Tidak apa-apa, aku bisa menahannya, aku telah bermain konser selama puluhan tahun dan kali ini tak ingin gagal"
Yi Deun bersimpati pada Kakek, dia lalu menuntun kakek menuju ruangan.

Gun Woo mendatangi sekertariat paduan suara dan menemui pemimpin paduan suara. Dia berusaha membujuk pemimpin paduan suara agar anggotanya mau datang untuk tampil di pertunjukkan.
"Masih ada waktu, karena paduan suara akan tampil di bagian ke dua", kata Gun Woo
Namun anggotanya sudah terlanjur tidak suka pada Maestro Kang.
"Masalahnya bukan ada padamu, tapi pada Maestro Kang", kata pemimpin paduan suara menghibur Gun Woo. Dia tahu Gun Woo sebenarnya tulus.
Gun Woo lalu berlutut dan memohon. Dia berkata bahwa selama hidupnya dari sekolah sampai dia menjadi polisi dia t idak pernah berbuat maksimal dan asal-asalan dalam karir atau hidupnya. Dia berkata bahwa Maestro Kang lah yang berhasil mengubah dirinya untuk memperjuangkan apa yang menjadi cinta-citanya.
"Aku mengerti apa yang kau rasakan, tapi semua anggota sudah terlanjur pulang ke rumah masing-masing", kata pemimpin paduan suara itu menyesal.

Maestro Kang jadinya harus memimpin bagian pertama konser ini. Saat sebelum tampil Dia merasakan tangannya sakit dan tak sengaja menjatuhkan tongkat konduktornya.
Namun dia berusaha tetap kuat dan kembali memagang tongkatnya erat-erat.
Penampilan kali ini, pesaing politik walikota sengaja mengundang kritikus seni yang tak kenal kompromi. Dia memang berusaha menjatuhan image walikota yang sekarang yang akan jadi musuh potlitiknya di pemilu yang akan datang. Sang kritikus di awal penampilan sudah bisa menebak ada ketidakberesan yang terjadi pada orkestra ini. Peralatan terlihat rusak (
karena masalah pengangkutan di tengah badai), pemain terlihat tidak siap dan terlihat tidak sempat menyetel alat musik masing-masing.

Bagian pertama sudah selesai. Maestro Kang beristirahat di ruanganya, dia juga meminta Gun Woo dipanggil ke ruangannya begitu dia kembali. Gun Woo menghadap maestro Kang. Maestro Kang kesal, dia menghampiri Gun Woo dan memukul kepala Gun Woo dengan buku partiturnya.
Gun Woo meminta maaf, karena kesalahannya.Dia juga berkata berusaha mendatangi tempat paduan suara tetapi mereka semua sudah pergi.

Bagian ke dua, mereka akan memainkan komposisi Beethoven Symphony no 9 Choral. Komposisi ini diciptakan untuk dimainkan bersama paduan suara. Tapi mereka kehilangan paduan suaranya dan rasanya komposisi ini menjadi tidak mungkin dibawakan. Para anggota sudah banyak yang pesimis dan tidak percaya diri. Mereka berharap pertunjukkan ini dibatalkan saja.
Namun Maestro Kang membangkitkan semangat dan kepercayaan diri para anggotanya.

Saat berdua saja, Gun Woo menghampiri Maestro Kang. Dia sudah diberitahu RUmi bahwa tangan maestro Kang bengkak. Dia lalu memegang tangan maestro Kang, maestro Kang langsung kesakitan.
"Anda masih pura-pura tidak terjadi apa-apa? Anda menahan dan menyembunyikan ini semua dengan sempurna ya", kata Gun Woo
Gun Woo sedikit memaksa menggulung lengan baju maestro Kang dan menempelkan koyo yang telah disiapkan Rumi.

Bagian ke 2 konser di mulai. Para pemain tampil lebih siap dan percaya diri walau tanpa paduan suara yang datang. Maestro Kang juga melakukan conducting dengan semangat sambil berusaha melawan kaku dan nyeri di lengannya. Kriktikus aneh dengan keganjilan penampilan ini, komposisi ini tak mungkin dimainkan tanpa choral (paduan suara). Walikota mulai panik. Pertunjukkan ini disiarkan pula ke ruangan pada pengungsi lewat sebuat televisi. Berepa orang pengungsi tetep tidak senang, mereka ingin masuk dan mengacau ruang pertujukkan. Si anak yang tadi menyelinap akhirnya benar-benar percaya dan terkesan bahwa orang yang dia temui tadi adalah seorang konduktor. Sang Ayah ingat pembicaraannya dengan maestro Kang tadi. Bahwa saat maestro kang kecil sedang terpuruk dan putus asa dia mendengarkan komposisi musik klasik yang indah di sebelah ruangannya yang membuat tergugah. Dia lalu memasuki ruangan itu dan seperti melihat dirinya masa depan bahwa dialah yang menjadi konduktornya nanti.
Sang Ayah lalu mengajak anaknya masuk menonton ke ruang pertunjukkan.

Pada saat yang menentukan, tak disangka-sangka paduan suara masuk dan jalan ke atas panggung sambil bernyanyi. Komposisi musikpun jadi telihat sempurna, para pemusik semakin bersemangat dan juga terharu.
Penampilan pun selesai dengan meyakinkan, dan di akhir pertunjukkan mereka mendapat tepuk tangan yang meriah juga standing applause dari para penonton. Termasuk dari anak penyelenap tadi dan ayahnya. Para pengungsi yang tadinya berniat mengacau malah tersentuh dengan pertunjukan itu.

Walikota sangat puas dan bangga. Maestro Kang kembali ke ruangannya dengan sangat kelelahan karena menahan sakit. Gun Woo diberi tugas untuk memanggil Maestro Kang untuk beramah tamah dengan VIP dan para wartawan. Gun Woo masuk ke ruangan maestro Kang, dia mendapai maestro Kang yang tampak tertidur karena kelelahan. Namun Gun Woo akhirnya terkejut mendapati bahwa maestro Kang ternyata pingsan.

Maestro Kang langsung dibawa dan dirawat di rumah sakit. Dia ternyata tak sadarkan diri selama 36 jam. Gun Woo dengan setia menunggui Maestro Kang dan tidur di rumah sakit. Saat Maestro Kang sadar, di ruangan itu pemimpin paduan suara sedang menjenguknya.

Maestro Kang terlalu lama pingsan dia tidak ingat apa yang terjadi saat konser itu.
"Apa paduan suara itu benar-benar datang saat itu?" tanya maestro Kang.
"Aku menghubungi para anggota yang sudah pulang, sebagian besar dari mereka sempat datang menyusul ke gedung petunjukkan. Anda harus bersyukur, semu aini bisa terjadi karena Anda telah mendapatkan murid baik yang berbakti", kata pemimpin paduan suara sambil menunjuk Gun Woo yang sedang tertidur di ruangan itu.

Grup orkestra merayakan keberhasilan mereka dengan mengadakan pesta barbeque suatu malam di kompleks latihan mereka. Mereka semua bangga akan keberhasilan konser kali ini dan membahas konser mereka yang mendapat respon positif dari media, termasuk RUmi dan Gun Woo yang juga membahasnya berdua. Mereka juga membicarakan Maestro Kang yang menolak diinterview media.

"lebih baik mereka tidak mewawancarainya, nanti jangan-jangan setiap kamera dia tunjuk dan dikatainya seonggok kotoran", sahut Rumi menggosip tentang maestro Kang bersama Gun Woo

Rumi lalu pergi ke ruangan Maestro Kang karena ada yang meminta CD. Maestro Kang sedang menerima telepon dari seorang kritikus. Kritikus ini adalah teman dari rival walikota. Namun kali ini dia seperti mengancam bahwa dia mengetahui kejanjilan para anggota orkestra yang ternyata beberapa di antara mereka bahkan tidak berpengalaman tetapi bisa masuk dalam city orkestra. Dia juga berkata bahwa dia mengetahui mengenai skandal lenyapnya uang rakyat sebesar 30 juta itu (
saat awal Du Rumi memegang koordinator orkestra) dan mengancam akan memberikan aduan ke pihak yang berwajib. Maestro Kang terhenyak dia cemas ahwa Du Rumi lah orang yang paling pertama akan terkena masalah ini. Mengeluarkan Du Rumi dari orkestra mungkin salah satu cara melindungi Du Rumi terlibat masalah ini.

Di halaman, Gun Woo dipanggil teman-temannya dan bibinya Jung Hee Yun untuk membahas sesuatu. Mereka menganggap Gun Woo terlalu polos dalam merayu wanita. Mereka tahu Gun WOo malah belum merayakan hari jadian dia dengan du rumi yang ke seratus hari (
sepertinya di korea ada kebiasaan itu ya, aku pertama kali tahu di drama Kim Sam Soon).
Mereka ingin membantu Gun Woo menyiapkan kejutan spesial untuk Du Rumi. Gun Woo sebenarnya risi dan malu tapi teman-temannya memaksanya.

Maestro Kang lalu memanggil Du Rumi.
"Kamu sudah melakukan konsermu dan kamu sebaiknya sekarang keluar dari orkestra"
Du Rumi tak menyangka Maestro Kang mengusirnya lagi.
Maestro Kang beralasan bahwa dia tidak puas.
"Lagi pula aku tak tahan ada orang yang merayu ke sana kemari sedangkan orang itu masih berkencan dengan orang lain", sindir Maestro Kang.
"Kau pikir aku mau jadi seseorang yang dianggap mencuri cinta muridnya sendiri?!. Saya malu mempunyai seseorang seperti mu di orkestra saya! Saya tunggu surat pengunduran dirimu dalam seminggu ini", usir maestro Kang. (dia ini seperti pengen ngelindungi Du rumi tapi paling suka juga ngehina du rumi jangan2 beneran suka nih maestro Kang juga)
Du rumi ke luar ruangan, dia sedih karena mestro Kang selalu bersikap buruk padanya. dia menangis di bangku sendirian.


Bae Yong Gi datang mencari Du Rumi. Dia telah "bersekongkol" memberi kejutan dan buru-buru mengajak Du RUmi ke bawah dengan alasan Kakek Kim menderita sakit lagi. Saat Du Rumi turun, sebagian dari mereka memainkan musik romantis dan menyalakan kembang api. Para anggota menggiring GUn Woo dan Du RUmi untuk saling bertemu. Mereka menyoraki GUn Woo untuk mengatakan sesuatu.
"Rumi, apa kau marah padaku karena tidak merayakan hari jadi kita yang ke 100?" tanya Gun Woo kikuk. Teman-temannya menyoraki Gun Woo yang kurang romantis. Gun Woo risi dia lalu mengulurkan setangkai bunga mawar pada Du Rumi.
Du rumi hanya terdia mematung.
"Cepat ambil aku malu", kata Gun Woo yang masih mengulurkan tangannya
Tapi Rumi tak mengambilnya dia hanya bisa mengucapkan terimakasih lalu menitikkan air mata, lalu menangis dan menangis semakin sedih.
Teman-temannya heran mula-mula mereka mengira Rumi terharu tapi mengapa dia sampai menangis begitu sedih. Namun Gun Woo langsung sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Cinta Du Rumi tidak untuknya.

Pada saat yang sama Maestro Kang turun, dia menanyakan mengapa dia tidak kebagian daging panggang. Melihat Maestro Kang, Gun Woo tiba-tiba sadar apa yang telah terjadi sebenarnya. Dia menjatuhkan bunganya dan langsung pegi dari sana dengan kesal di hatinya. Saat melewati Maestro Kang, Maestro Kang memegang lengannya menahannya.
"Tahan dulu"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar