Senin, 30 Agustus 2010

Jejoongwon (Episode 15)

Hwang Jung berhadapan langsung dengan Seok Ran.

"Tuan Hwang, kenapa kau ada di desa tukang jagal?" tanya Seok Ran.

"Aku memberikan obat oles pada Ma Dang Gae." jawab Hwang Jung, mencoba bersikap biasa.

"Jadi ini rumah Ma Dang Gae?" tanya Seok Ran.

"Benar." kata Hwang Jung.

"Bukankah kau bilang sudah memberikan obat oles sewaktu di vaksin center?" tanya Seok Ran lagi, curiga.

"Yang itu.. sudah hampir habis." jawab Hwang Jung.

"Jadi begitu. Aku melihatmu membawa obat oles, jadi aku mengikutimu." kata Seok Ran. "Kau orang yang sangat luar biasa, Tuan Hwang. Kau sangat baik pada pasien sehingga membuat orang lain mencurigaimu."

"Benarkah?"

"Benar!" kata Seok Ran cepat. "Kau bisa datang kemari saat siang."

"Aku kemari karena ingat akan kondisinya." kata Hwang Jung.

"Lihat, kan? Aku salah paham padamu karena kau datang kesini malam hari." Seok Ran berkata jujur. Ia tersenyum pada Hwang Jung.

Seok Ran dan Hwang Jung berjalan pulang berdua.

Keesokkan paginya, Jang Geun membangunkan Hwang Jung. Hwang Jung bangkit dari tidurnya dengan memegang dadanya, kesakitan.

"Hwang, apa kau sakit?" tanya Jang Geun cemas. Ia membawa Hwang Jung untuk diperiksa oleh Dr. Allen.

"Kau terkena herpes zoster." kata Dr. Allen. "Jika kau pernah terkena cacar, maka virusnya masih ada di dalam. Ketika kondisi tubuhmu lemah, maka ia akan muncul lagi. Pasti sangat menyakitkan."

"Ya, terasa sakit jika aku bergerak." kata Hwang Jung.

"Tidak ada obat untuk penyakit ini." kata Dr. Allen.

"Apakah ia akan mati?" tanya Nang Rang cemas.

"Tidak usah cemas." Dr. Allen menenangkan. "Setelah satu minggu, bintiknya akan pecah dan rasa sakitnya akan menghilang. Kau harus beristirahat dari tugasmu."

"Tidak, aku ingin melakukan tugasku." Hwang Jung menolak.

"Ini perintah yang kuberikan padamu." Dr. Allen bersikeras.

Dr. Allen dan murid-murid melakukan perputaran untuk menjenguk pasien.

"Apa para perawat tidak hadir lagi?" tanya Dr. Allen.

"Mereka sedang tidak enak badan." kata Miryung, satu-satunya perawat yang hadir.

"Mereka selalu sakit jika akan perputaran." kata Allen kesal. "Hwang Jung sedang sakit, jadi untuk sementara ia tidak bisa menjadi asistenku. Tuan Baek, kau akan membantuku untuk sementara waktu."

"Ada apa dengannya?" tanya Do Yang.

"Dia memiliki bintik di lengannya dan tidak bisa bergerak dengan mudah." kata Jang Geun. "Dia punya cacar sewaktu masih kecil."

"Ia pasti terkena herpes zoster." gumam Do Yang. "Aku akan melakukan yang terbaik, Dokter."

"Selamat, Tuan Baek!" kata Miryung.

"Kau pasti bermimpi indah tadi malam, Do Yang!" Je Wook bertepuk tangan untuk menyelamati Do Yang. Namun tidak ada murid lain yang ikut bertepuk tangan.

"Dia pasti kelelahan saat membuat vaksin cacar sapi." kata seorang murid.

"Hwang bekerja sangat keras. Dia harus beristrirahat." kata murid yang lain.

Murid yang lain mengangguk menyetujui.

"Sejak kapan kalian peduli pada Hwang?" tanya Je Wook.

Di dapur, Seok Ran bercerita pada Mak Saeng bahwa tadi malam Hwang Jung pergi ke desa tukang jagal.

"Itu tidak hanya aneh, tapi sangat aneh." kata Mak Saeng menanggapi. "Kenapa ia tidak datang pada siang hari?"

Gwak muncul. Ia meminta permen yang dimakan Seok Ran, dan menyembunyikan satu dibajunya.

"Bagus kau kemari." kata Mak Saeng. "Aku ingin bertanya sesuatu. Jika seseorang pergi ke desa tukang jagal malam hari, itu aneh atau tidak?"

"Tentu saja aneh." jawab Gwak. "Kenapa ia pergi ke sana malam hari sendirian? Memangnya siapa yang melakukannya?"

"Siapa lagi? Majikanmu, Tuan Hwang!" jawab Mak Saeng.

"Sudah kubilang dia kesana untuk memberikan obat oles." kata Seok Ran, membela Hwang. "Tuan Hwang tidak akan membiarkan pasien sakit tidak diobati!"

Gwak setuju pada Seok Ran. Tapi Mak Saeng menambahkan, "Lagipula dari mana dia tahu rumah Ma Dang Gae?"

Seok Ran berpikir. Gwak memohon diri untuk pamit.

Gwak mengajak Hwang Jung ke perpustakaan dan bicara di sana. Hwang Jung berniat menceritakan hal yang sebenarnya pada Seok Ran, sebelum Seok Ran mengetahuinya dari orang lain. Namun Gwak melarangnya.

Hwang Jung berjalan keluar dari perpustakaan.

Di luar, seorang nenek dan cucu laki-lakinya memanggil Hwang Jung.

"Permisi." kata si nenek. "Apakau kau murid kedokteran disini?"

"Benar, Nenek." jawab Hwang Jung.

"Terima kasih banyak. Karena kau, cucuku tidak terkena cacar." kata Nenek, ia menyuruh cucunya berterima kasih juga. "Ucapkan terima kasih pada dokter."

"Terima kasih." kata cucu.

Hwang Jung tersenyum.

"Tolong terima ini." Nenek menyerahkan beberapa buah telur pada Hwang Jung. "Ini telur segar yang keluar tadi pagi."

"Tidak perlu, Nek." kata Hwang Jung. "Berikan saja pada cucumu."

"Kalau begitu..." Si nenek memecahkan sebuah telur diujungnya. "tolong dimakan satu telur."

"Terima kasih." Hwang Jung menerima telur itu dan menghisap sedikit. Ia melirik ke arah si cucu yang sepertinya menatap dengan kepingin. "Ayo kita makan bersama." kata Hwang Jung.

Seok Ran melihat mereka dari jauh dan tersenyum.

"Wah, sangat enak." kata Hwang Jung.

"Tuan, aku punya satu permintaan." kata nenek. "Aku tidak tahu berapa lama lagi aku hidup. Mataku juga sudah rabun. Jika aku sudah tidak ada di dunia ini, tolong jaga cucuku ketika ia sakit."

"Tuan Hwang." tiba-tiba Seok Ran berjalan mendekati. "Kenapa kau tidak menjawab nenek? Dia meminta tolong padamu." Seok Ran tersenyum dan beralih ke nenek. "Nenek, aku akan menjadi saksi."

"Nenek, aku akan menjadi seorang dokter yang hebat dan menjaga cucumu." kata Hwang Jung.

Nenek menggenggam tangan Hwang Jung. "Terima kasih banyak. Sekarang aku bisa mati dengan tenang."

Ketika nenek dan cucunya sudah pergi, Seok Ran mengatakan pada Hwang Jung bahwa ia akan merahasiakan kejadian tadi malam. Hwang Jung tidak perlu khawatir.

Ketika Gwak dan Miryung sedang berbincang, tiba-tiba Mong Chong datang membawa seorang pria dan ayahnya yang terluka parah. Miryung berlari membantu Mong Chong, kemudian mereka mambawanya ke ruang operasi.

"Ada apa?" tanya Dr. Allen.

"Mereka diserang oleh babi liar." jawab Mong Chong. "Babi liar itu datang ke desa karena tidak mendapat makanan di gunung."

"Arterinya putus. Kita harus segera melakukan operasi." kata Dr. Allen, memeriksa kondisi si pria terlebih dahulu.

"Tolong selamatkan ayahku!" kata si pria tersebut, kesakitan.

Dr. Allen bergegas memeriksa ayah si pria.

"Dia kehilangan banyak darah." kata Do Yang.

"Panggil Dr. Horton." perintah Allen.

"Dr. Horton sedang keluar bersama Nona Seok Ran untuk kunjungan rumah." jawab Miryung.

"Kalau begitu panggil Tuan Hwang!" seru Allen.

"Aku juga bisa menjahit." kata Do Yang.

"Ya, Tuan Baek, kau bisa menjahit dengan baik." Miryung mendukung.

"Tuan Baek belum siap." kata Allen. "Aku butuh Tuan Hwang!"

Do Yang kecewa.

Mendadak Hwang Jung datang berlari-lari. "Ada apa?" tanyanya.

"Tuan Hwang, aku senang kau kemari. Tolong rawat pasien ini." kata Allen.

"Dokter, tolong rawat ayahku." kata pria yang terluka. "Aku baik-baik saja."

"Tapi arterimu terputus." kata Allen.

"Aku tidak peduli. Tolong selamatkan ayahku."

"Tuan Hwang adalah salah satu orang terbaik Jejoongwon." Allen berkata menenangkan.

Hwang Jung bersiap melakukan operasi. Ketika hendak menjahit, lengan Hwang Jung terasa sakit karena herpes zoster.

"Hwang, kau tidak apa-apa?" tanya Do Yang.

"Aku baik-baik saja." jawab Hwang Jung.

"Tuan Hwang, apa kau kesakitan?" Allen melihat dengan cemas.

"Aku baik-baik saja." Hwang Jung bersikeras.

"Tuan Hwang, kau hanya akan membuat nyawa pasien lebih dalam bahaya." Allen melarang. "Kau harus pergi." Ia berpaling ke Do Yang. "Tuan Baek, cobalah hentikan pendarahannya. Aku akan menjahit lukanya ketika aku sudah selesai disini."

Hwang Jung keluar, mengintip dari jendela.

Allen menjahit luka si pria terlebih dahulu karena arteri pria tersebut terluka.

Do Yang mencoba menghentikan pendarahan ayah si pria. Ia memeriksa nadi dan kemudian menjahit si ayah.

"Tuan Baek, apa yang kau lakukan?!" seru Allen khawatir.

Do Yang tidak mendengarkan dan terus menjahit.

Setelah Allen selesai dengan pasien pria, ia bergegas melihat pekerjaan yang dilakukan Do Yang. "Tuan Baek, biar kulihat."

"Sudah hampir selesai." kata Do Yang. ""Urat yang terputus sudah disambung dan lukanya sudah dijahit."

"Kau melakukan pekerjaan bagus." ujar Allen. Ia melihat sesuatu, kemudian terkejut dan memeriksa nadi si ayah.

Do Yang menoleh.

"Dia sudah meninggal." kata Allen.

Do Yang terkejut dan merasa terpukul.

Dr. Allen, Do Yang dan Hwang Jung menunggu si pria bangun.

"Bagaimana ayahku?" tanyanya cemas. "Dimana dia?"

"Dengarkan baik-baik." Allen mencoba menenangkan. "Ayahmu meninggal satu jam yang lalu ketika sedang dioperasi."

"Apa maksudmu?! Kau berjanji akan menyelamatkannya!"

"Akulah yang melakukan operasi." ujar Do Yang. "Tapi dia kehilangan terlalu banyak darah."

Si pria menangis. "Ayah..." Dia bangkit dari tidurnya.

"Aku ikut berbela sungkawa." ujar Do Yang.

Si pria menarik baju Do Yang. "Pembunuh! Apa yang sudah kau lakukan?! Aku mendengar dokter melarangmu melakukan operasi, tapi kau bilang kau yang melakukan operasi itu?!"

"Tenanglah." kata Hwang Jung. "Tuan Baek melakukan operasi dengan baik."

"Benar." tambah Allen. "Tidak ada yang salah dengan operasi itu.'

"Lalu kenapa ayahku mati?! Jika operasi berjalan lancar, kenapa ayahku mati?!"

"Dia kehilangan banyak darah." kata Do Yang.

"Aku tidak ingin mendengar alasanmu! Aku akan melaporkanmu pada pihak berwajib!"

Do Yang menghempaskan tangan pria itu dengan kasar. "Laporkan aku jika kau mau!" teriaknya. "Kau mencoba menghentikan pendarahanmu sendiri, tapi kau tidak melakukan apapun untuk ayahmu! Itu artinya kaulah yang bertanggung jawab karena ayahmu kehilangan banyak darah!" Do Yang berjalan keluar ruangan.

Pria itu terdiam, merasa terpukul atas apa yang diucapkan Do Yang.

Allen dan Hwang Jung mengejar Do Yang.

"Kembalilah dan minta maaf padanya!" seru Allen.

"Aku tidak akan minta maaf! Kau yang bilang sendiri bahwa aku tidak melakukan kesalahan!" teriak Do Yang. "Aku melakukan semua yang kubisa untuk menyelamatkan nyawanya!"

"Kami tahu itu." Hwang Jung berkata dengan tenang. "Karena itulah kau harus kembali. Kau harus meminta maaf padanya untuk menunjukkan bahwa kau peduli."

"Benar." ujar Allen. "Kau harrus menunjukkan empatimu pada mereka."

"Emosi pasien belum stabil sehingga dia tidak percaya bahwa ayahnya meninggal karena kehilangan banyak darah." tambah Hwang Jung. "Kau harus mengerti, Tuan Baek."

"Kenapa dia tidak percaya pada kenyataan?!" Do Yang tetap bersikeras.

"Kau juga tidak percaya." kata Allen. "Kau tidak ingat?"

Do Yang teringat ketika ia menuduh Hwang Jung membunuh ayahnya. "Jangan bandingkan dengan kejadian saat itu. Hwang bukan murid kedokteran saat itu."

"Tuan Baek, biar aku katakan satu hal." kata Allen. "Kau tidak akan pernah menjadi dokter yang baik dengan sikap seperti itu!"

Do Yang terdiam, kemudian berjalan pergi meninggalkan mereka. Hwang Jung mengejarnya.

"Tuan Baek!" panggil Hwang Jung.

Do Yang menoleh, dimatanya tersirat kesedihan. Hwang Jung terdiam, dan membiarkannya pergi.

Malamnya, Do Yang mabuk-mabukkan. Seok Ran menemukannya di jalan, kemudian membawanya pulang.

"Aku pernah mendengar bahwa di barat, mereka memberi transfusi darah untuk menyelamatkan nyawa seseorang." kata Do Yang. "Aku harus melakukan penelitian."

"Aku juga pernah membaca di sebuah buku." kata Seok Ran. "Tapi banyak sekali efek sampingnya."

"Karena itulah aku ingin melakukan penelitian. Jika kita tidak menemukan jawaban, maka akan ada lebih banyak orang lagi yang mati karena kehilangan darah seperti hari ini." kata Do Yang.

Salju turun. Hwang Jung, Gwak, dan anak-anak jalanan lain membuat layangan.

"Apa kita bisa menerbangkan layangan saat kondisi seperti ini?" gumam Hwang Jung.

"Saljunya akan berhenti sebentar lagi." kata Gwak.

Tiba-tiba Mong Chong datang, menunjukkan jarinya yang ditusuk. "Ada apa dengan Tuan Baek itu? Dia mengambil darah semua orang yang ia lihat. Dia bilang, ia ingin tahu jenis darah yang kita punya."

"Kau tidak bisa berbohong soal darah." kata Gwak menanggapi. "Bangsawan punya darah bangswan dan rakyat jelata punya darah rakyat jelata. Mungkin itu yang ingin dia tahu."

Hwang Jung penasaran. Ia mengintip ke laboratorium tempat Do Yang melakukan penalitian.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Je Wook dari belakang Hwang Jung. Ia kemudian mendorong Hwang Jung untuk masuk.

"Aku sedang melakukan penelitian tentang darah." kata Do Yang. "Bisakah aku meminta sedikit darahmu?"

Mulanya Hwang Jung menolak, namun Je Wook memaksanya.

Do Yang memeriksa darah Hwang Jung. "Darahmu tidak bercampur dengan darahku, tapi bercampur dengan darah Je Wook." katanya.

"Apa artinya itu?" tanya Hwang Jung.

"Darahmu tidak cocok dengan darah milik Do Yang, tapi cocok dengan darahku." Je Wook menjelaskan.

"Jadi darahku normal?" tanya Hwang Jung.

Do Yang bingung. "Apa maksudmu normal?"

"Darahku tidak berbeda?" tanya Hwang Jung.

"Ah, apa kau menganggap darahmu spesial?!" seru Je Wook.

Hwang Jung sangat senang. Itu berarti darah tukang jagal tidak berbeda dengan darah manusia yang lain.

Hwang Jung, Gwak, dan anak-anak jalanan bermain layangan di pinggir danau yang beku. Di sana, Hwang Jung melihat Seok Ran sedang belajar ice skating bersama Dr. Horton.

Setelah bermain layangan, mereka bermain meluncur di danau yang beku, bergabung dengan Seok Ran dan Dr. Horton.

Ketika sedang bermain, tiba-tiba Hwang Jung dan Seok Ran bertubrukan, kemudian terjatuh. Anak-anak menertawakan mereka.

Hwang Jung langsung duduk dari jatuhnya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Seok Ran dan Hwang Jung bersamaan.

Secara tidak sadar, Hwang Jung memegang tangan Seok Ran, kemudian buru-buru melepasnya. "Maafkan aku."

Mendadak Dr. Horton menubruk Hwang Jung dari belakang. Hwang Jung jatuh menimpa Seok Ran.

"Maafkan aku!" seru Dr. Horton.

Begitu selesai bermain, mereka kembali ke Jejoongwon bersama-sama.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Hwang Jung, melihat Seok Ran.

"Tidak apa-apa, tapi sepatunya terlalu kecil. Ayahku tidak tahu ukuran sepatuku." kata Seok Ran.

Hwang Jung menawarkan bantuan untuk membesarkan sepatu Seok Ran.

Seok Ran melihat Hwang Jung mengerjakan sepatunya.

"Jika masih belum pas, beritahu aku." kata Hwang Jung.

"Ya, terima kasih." kata Seok Ran, tersenyum.

Gwak memandang mereka dengan aneh.

Do Yang memberitahu hasil penelitiannya mengenai darah pada Dr. Allen.

Jika darah cocok, maka tidak akan menggumpal sehingga bisa ditansfusikan. Namun jika darah tidak cocok, maka akan menggumpal.

"Hal itu masih belum bisa dipastikan." kata Allen.

"Kita bisa memastikannya. Tolong izinkan aku melakukan transfusi darah pada pasien yang kehilangan banyak darah. Kita bisa menggunakan darah pada murid untuk menguji kecocokannya." Do Yang mengajukan teorinya dengan sangat bersemangat.

"Tidak bisa." kata Allen menolak.

"Kenapa tidak?"

"Di barat, ada seorang dokter bernama James Blundell yang melakukan penelitian sama dengan yang kau utarakan. Ada satu pasien yang selamat, namun banyak pasien lainnya yang menderita dan mati."

"Itu karena dia tidak menguji kecocokkannya." kata Do Yang meyakinkan.

"Darah manusia tidak sesederhana itu." kata Allen. "Aku tidak bisa melakukan percobaan pada nyawa manusia."

"Jadi kau hanya akan duduk disini dan melihat mereka mati?" tanya Do Yang kehilangan kesabaran.

"Aku mengerti perasaanmu. Tapi kau tetap tidak bisa mengizinkanmu melakukan tranfusi darah. Selama aku menjadi direktur disini, aku tidak bisa membiarkanmu melakukan penelitian yang berbahaya."

Malamnya, Do Yang melakukan penelitian sendiri pada temannya Je Wook. Ia melakukan transfusi darah padanya.

Keesokkan harinya, Je Wook kejang-kejang dan badannya demam. Do Yang bergegas membawanya ke Dr. Allen.

"Darahmu pasti terlalu bangsawan untukku." gumam Je Wook.

"Darah? Apa maksudmu?" tanya Allen.

Je Wook pingsan. Allen melihat Je Wook mengeluarkan urin berwarna hitam.

"Apa kau melakukan transfusi darah?" tanya Allen.

"Kami mentrasfusikan darah kami satu sama lain." kata Do Yang. "Aku baik-baik saja, tapi kelihatannya ia mengalami efek samping."

"Tuan Baek, aku sudah melarangmu melakukannya!" Allen memarahi Do Yang. "Kau hampir membunuh temanmu sendiri! Jangan melakukan hal seperti ini lagi! Kau mengerti?!"

Do Yang tidak menjawab.

"Kenapa kau tidak menjawabku?!" Allen membentak Do Yang. "Jawab aku!"

Do Yang tetap tidak mengatakan apa-apa dan berjalan pergi.

Do Yang menuju ke laboratorium, merasa frustasi disana. Hwang Jung mengikutinya.

"Ini semua terjadi karena direktur melarangku melakukan transfusi darah pada pasien!" seru Do Yang.

"Kau tidak boleh mengorbankan nyawa untuk sebuah penelitian." kata Hwang Jung.

"Tapi dengan mengorbankan satu nyawa, kita bisa menyelamatkan banyak nyawa!" seru Do Yang.

"Sebuah nyawa harus dilindungi, walaupun banyak nyawa yang akan mati." kata Hwang Jung. "Semua nyawa sangat berharga dan nyawa hanya ada satu."

"Pemikiranmu sangat sempit." kata Do Yang. "Kau.. Kenapa kau ingin menjadi dokter? Itu karena kau ingin membantu orang sakit. Lalu kenapa kau tidak memilih untuk menyelamatkan banyak orang dibandingkan sedikit?"

"Aku berpikir bahwa jauh lebih baik jika aku melindungi nyawa seseorang yang ada dihadapanku." kata Hwang Jung tanpa ragu.

Dr. Allen membawa Je Wook ke kamarnya.

"Aku tidak akan mati, bukan?" tanya Je Wook.

Je Wook mengatakan pada Allen agar tidak terlalu keras pada Do Yang. "Do Yang lahir sebagai anak tunggal dari keluarga bangsawan, tapi ia tumbuh dengan sangat kesepian. Ia memang kelihatan keras kepala, namun itu bukan sifatnya yang sebenarnya."

"Aku tahu." kata Allen pengertian.

Hari tahun baru.

Do Yang pergi menemui Dr. Watanabe dan bertanya mengenai penelitian yang sedang dilakukannya.

Pemikiran Dr. Watanabe sangat berbeda dari Dr. Allen. Ia berkata pada Do Yang bahwa Do Yang harus menjaga tubuhnya sendiri. Jika ingin melakukan penelitian, lakukanlah pada orang lain. Banyak orang di Korea, katanya.

Dr. Horton dan nang Rang pergi bersama keluarga Yoo ke istana.

Seok Ran dan Dr. Horton akan mempertunjukkan kemampuan ice skating mereka di depan Ratu.

Dr. Allen, Kyu Hyun, Chung Hwan, Tuan Yoo dan Do Yang juga ingin pergi ke istana menemui Raja. Namun harus ada seseorang yang berjaga di tempat ice skating kalau-kalau ada yang cedera. Hwang Jung menawarkan diri.

"Tapi kau belum pernah bertemu Raja." kata Allen.

Chung Hwan dan Kyu Hyun menyuruh Hwang Jung cepat pergi.

"Kau bisa pergi setelah menyapa Raja." kata Tuan Yoo.

"Tidak apa-apa." kata Hwang Jung. "Aku akan pergi sekarang."

Di tempat lain, Seok Ran, bersama dengan Dr. Horton dan beberapa orang asing lain, mempertunjukkan permainan ice skating di depan Ratu. Nang Rang menonton mereka dengan kagum.

Setelah beberapa lama bermain, Seok Ran terpeleset hingga membuat lapisan es beku pecah. Dr. Horton, yang saat itu ada di belakangnya, tidak sengaja mengenai tangan Seok Ran dengan besi sepatunya, kemudian terpeleset dan jatuh.

Seok Ran tenggelam di bawah lapisan es. Dr. Horton tidak bisa membantu karena punggungnya terkilir sehingga tidak bisa bergerak.

Tangan Seok Ran berdarah.

Nang Rang panik dan memanggil Hwang Jung. "Tuan Hwang! Nona Seok Ran terjatuh ke dalam air!"

Hwang Jung terkejut dan bergegas berlari.

Di tempat lain, Dr. Allen dan yang lainnya menemui Raja. Raja memuji mereka atas keberhasilan mereka membuat vaksin cacar.

Mendadak seornag pria masuk dan berkata bahwa ada seseorang yang terjatuh di bawah lapisan es. "Ia adalah gadis penerjemah." kata pria itu.

Do Yang terkejut dan bergegas berlari.

Hwang Jung masuk ke dalam air untuk menyelamatkan Seok Ran.

Beberapa orang membantunya naik dengan menggunakan tali.

Hwang Jung membawa Seok Ran ke permukaan. Seok Ran pingsan.

"Dia tidak bernafas!" seru Hwang Jung panik. "Dr. Horton, ia tidak bernafas!"

"Dia butuh CPR!" teriak Dr. Horton. CPR adalah nafas buatan.

Hwang Jung melakukan nafas buatan seperti yang pernah diajarkan Dr. Allen.

Saat Hwang Jung memberi nafas buatan pada Seok Ran, Do yang datang dan melihat mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar