Sabtu, 31 Juli 2010

Sakau


Entah apa yang sedang aku alami sekarang. Selama delapan tahun aku nyantri, tak pernah seganjil ini. Tubuhku terasa ringan untuk berpindah dari sudut ke sudut, dari waktu ke waktu, melintasi peristiwa dan tragedi yang banyak orang tak ingin tahu. Tanpa ada niat, tiba-tiba aku sudah berada di kamar Abah Yai. Melihat pulasnya beliau tidur, wajahku berpaling, dan aku sudah di perempatan jalan yang tak tahu namanya. Aku mencoba mengendalikan diri, namun tubuhku terpelanting ke tengah lautan. Aku tenggelam. Kembali, aku di atas pesujudan malam. Fiuh...!

“Kenapa, Gus?” Mereka terheran-heran melihat tubuhku basah kuyup.

Tanpa sepatah kata, aku membersihkan tubuh ke telaga biru, sebelah pondok. Pakaianku asin. Batinku. Ini sepertiga malam, jelas sunyi gelap yang ada. Aku tetap saja di sana, masih sibuk menyeka tubuh. Kepalaku tetap tak bisa menjawab apa yang barusan aku alami, namun tiba-tiba aku berada di sebuah kamar mandi dengan berbagai fasilitas, lengkap beserta peralatan mandi.

“Di mana lagi ini?” Aku berusaha senyaman mungkin dengan kondisiku. Sepetinya aku sedang berada di sebuah hotel elite. Aku sadar sepenuhnya, ini bukan mimpi. Barangkali ini permainan yang harus aku ikuti. Kugunakan saja peralatan mandi itu, untuk menyegarkan tubuh, agar bau asin lenyap.

Lama kunikmati mandi. Aku ingin kembali ke jeruji para resi itu. Dan, “laph…” aku sudah sampai dengan satu kedipan mata.

Tiga bulan ini tak ada yang mengetahui keadaanku, bahkan keluarga Abah Yai. Kusimpan dalam diriku, untuk kurenungi, kunikmati. Aku seperti berada dalam film Jumping, yang bisa sesuka hati melintasi dunia, tanpa alat transportasi apapun. Hanya dengan dengusan nafas, seketika bisa di Washington, kemudian pindah ke Mesir, China, Brazil, Malaysia, Belanda, India dan kota-kota penting di dunia, sesukaku. Aku manusia, namun punya keahlian bak jin Ifrit dalam cerita Nabi Sulaiman, yang mampu memindahkan istana dengan satu kedipan mata.

***

Yang banyak orang pondok tahu, aku penggoda santri putri. Banyak kesempatan bagiku untuk sekadar ngobrol dengan para santriwati di dapur. Betul, ketika ngaji, ada satir pemisah laki-laki dan perempuan. Namun, aturan itu tak berlaku di dapur. Di sana, semua berlaku dlarury. Kata Mbah Ismail, guru senior Ushul Fiqh itu, al-dlarurah tubihul mahdlurah, yang darurat menjadikan semua yang terlarang boleh. Dapur adalah praktik dari kaidah ushul itu.

Ndalem membutuhkan banyak tenaga untuk memasak kebutuhan makan para santri setiap hari. Ada santri khusus yang kebal hukum, yaitu santri ndalem, santri yang khidmah kepada keluarga kiai dan santri. Santri ndalem tidak pernah kena sangsi pelanggaran aturan pondok. Mereka adalah santri bebas bin merdeka. Ketika aturan pondok menyatakan para santri tidak boleh membawa hape, mereka jutru penggila game hape. Rambut gondrong dilarang, namun ada yang punya ukuran rambut se-meter. Malam hari santri biasa hanya boleh keluar hingga jam 10, namun mereka sampai subuh nonton teve ke rumah tetangga pun, no problem. Tak ada aturan. Tidak adil, namun mengasyikkan bagiku. Aku termasuk di antara dua puluh santri ndalem itu. Di kala banyak santri lain dilarang berduaan dengan lain jenis, mereka malah punya soulmate masing-masing. Dapur adalah tempat paling nyaman untuk memperkuat tali silaturrahim–meminjam istilahnya Pak Masyhudi (guru haditsku)–antar santri ndalem, putra dan putri.

Boleh dikata, parasku lumayanlah. Tak mengecewakan bila dibandingkan dengan Pasha Ungu atau Ariel Peterpan. Apalagi aku termasuk “minal gawagis” (Golongan Gus) yang gampang mendapatkan hormat. Seandainya aku mendekati seorang santriwati, menolak baginya adalah pilihan paling jelek di antara yang terhina–itu menurutku. Namun, aku bukan santri yang se-semelekethe itu. Meski sering menggoda santri putri yang ayu, aku tipe orang yang selektif. Tidak mudah menjatuhkan pilihan. Ternyata, di antara para gadis yang kukenal selama dua puluh empat tahun, hanya dia yang membuatku tak berdaya. Aku semangat kerja di dapur karena dia, Rosa. Dia tak secantik Luna Maya, namun pesona matanya membuatku tak berpaling.

Kenapa baru sekarang dia ngabdi di ndalem? bisikku suatu ketika.

Dia ternyata santri kesayangan Mbah Putri, ibu dari Abah Yai. Selama ini ia tidak ditempatkan di ndalem karena harus merampungkan hafalan Quran-nya dulu. Betul, semua yang ditempatkan di ndalem adalah para santri senior, atau mahasantri, yaitu mereka yang telah lulus madrasah diniyyah atau telah wisuda tahfidz Al-Quran. Tugas belajar mereka, untuk sementara, dianggap rampung. Mereka diangkat menjadi santri ndalem sebagai bentuk pengabdian. Minimal setahun. Tak ada batas maksimal. Jadi, yang ada di dapur adalah yang tidak punya taklif furudlat al-taklim (beban kewajiban belajar). Kecuali aku. Aku belum tamat diniyyah, apalagi wisuda tahfidz, maaf. Namun, aku dibiarkan Abah karena menurut beliau, aku kelak memiliki kekhususan yang tidak didapatkan santri-santri pada umumnya. Masih terekam benar dalam ingatanku kata Abah ketika baru sebulan di pondok: “Gus, jenengan adalah titisan Mbah Wali.”

Mbah Wali adalah julukan bagi salah satu leluhurku. Sebutan itu sangat terkenal di tempat aku tinggal. Aku tak pernah ziarah ke makamnya. Aku mengenalnya dari cerita saudara-saudaraku di rumah. Konon, Mbah Wali adalah sosok sakti mandraguna, hurdug jumuah wage. Tapi yakin, aku tidak menjadi orang sepertinya. Makanya, ketika mulai berminat nyantri, aku lebih memilih pondok pesantren kitab atau Al-Quran daripada kanuragan. Kebetulan, karena Abah Yai adalah teman segothaan dengan bapakku, di pondok dulu, akhirnya aku dilempar ke pondok ini; Bahjatul Wasail, nama tabarrukan dari sebuah kitab kuning. Kedekatan emosional Abah serta keyakinannya kepadaku itu, membuat aku bebas dari segala aturan pondok. Termasuk membuka kesempatan menjalin mahabbah dengan Rosa, yang dalam hukum normatif pondok, jika itu terjadi, harus dikeluarkan. Mardud Abadan. Santri murtad.

***

Rosa Malika. Begitu nama lengkap dari orang tuanya. Pernah aku bertanya, dua kata dalam namanya adalah adaptasi bahasa, antara Jawa dan Arab. Rosa artinya Roso (kuat) dan Malika artinya penguasa. Jadi, Rosa Malika bermakna penguasa yang kuat. Rosa hanya perempuan biasa dengan tampilan yang juga biasa, tetapi memiliki mimpi yang luar biasa, sebagaimana namanya, penguasa yang tak terkalahkan.

Ia membuat aku, Ubab, harus mengangkat topi untuk mengatakan uhibbukum (aku cinta kalian) di sebuah warung tetangga pondok, waktu itu. Aku tidak mengatakan “aku cinta padamu” (uhibbuki), tetapi “aku cinta pada kalian” (uhibbukum), menggunakan dlamir jama. Dalam alam ideaku, tak mungkin misi cinta akan mencapai kesempurnaan jika hanya mencintainya, tanpa mencintai lingkungan dan kaluarganya. Bukan berarti mendua, hanya ingin agar jalinan silaturrahhim berbasis cinta itu berjalan realistis dan apa adanya, nihil syarat, sebab, serta hilang dari kebutaan.

“Ubab tidak mempercayai adanya cinta pertama. Yang pertama hanyalah suka, bukan cinta. Ingat pameo “cinta itu dari mata turun ke hati”, bukan? Dalam goresan ini Ubab hanya ingin mengatakan bahwa cinta yang sejati itu diciptakan, bukan ditemukan. Jangan kau salahkan Ubab mencintaimu, karena itu tumbuh dari Tuhan. Cinta Ubab kepadamu adalah cinta titik, bukan cinta koma. Cinta sesungguhnya bukan cinta karena, bukan cinta apabila, juga bukan cinta walaupun. Cinta Ubab, cinta titik.”

Itu goresan yang kutuliskan yang membebaskan dari jawaban. Tidak ada tuntutan baginya untuk menjawab, karena luapan kata itu bukanlah pertanyaan. Hanya pernyataan. Seandainya aku bertanya misalnya, apakah kau mencintaiku, jelas menuntut sebuah jawaban. Aku tak mau membuat orang yang aku cintai terbebani. Hanya respon darinya yang ada dalam asaku. Entah respon membahagiakan atau tidak, aku selalu berlari-lari antara ketenangan dan kecemasan.

Lama demonstrasi cintaku terdiam dalam sudut arahan tak pasti. Sebulan ini Rosa tidak memperlihatkan kesibukan di dapur ndalem. Yang biasanya setiap pagi ia menyapu halaman ndalem, kini tidak ada. Azzah, Shofa, Hani, teman-teman se-ghotaan Rosa tak mengeluarkan sepatah kata ketika aku tanya keberadaannya. Pernah sekali aku silturrahim ke rumahnya di Grobogan. Meskipun hanya sebentar aku bercengkerama dengan abahnya, sudah terbangun rasa cinta kepada keluarganya. Aku mencintai keluarganya juga.

Untuk kedua kalinya aku datang ke rumah sederhana itu, untuk mencari di mana ia berkelana.

“Sekarang dia di Tegalsambi, Nak,” jawab abahnya, Haji Ahmad.

“Berapa lama?”

“Bapak tidak bisa memastikan, dia hanya diutus Abah Yai untuk khidmah di pondok pesantren salaf di sana. Dia diminta mengajar fiqih. Tepatnya sejak sebulan lalu, Abah Yai datang ke sini sendiri untuk meminta keikhlasan dibolehkannya Rosa mengajar di sana selama beberapa waktu.”

***

Meski aku tidak mengharapkan jawaban, namun jujur, hati kecilku tetap berharap mendapatkan respon positif darinya. Dua puluh empat tahun adalah usia yang cukup matang untuk meluruskan niat membangun bahtera rumah tangga. Sayyidina Ali saja menikah pada usia 21 tahun, kurang tiga tahun dari umurku sekarang. Keyakinanku untuk mendampinginya tercipta sebelum riyadlah shalat istikharah selama seminggu. Meski guru hadits pernah mengatakan bahwa shalat tersebut hanya dilakukan ketika kita dalam keadaan ragu-ragu, namun aku tetap melakukannya, untuk takid dan tayid (penguataan).

Aku hanya ingin menegaskan agar mahabbah-ku kepadanya tidak beralih dari taraf yaqin (kepercayaan bulat) menuju syak (ragu-ragu) atau jutru wahm (percaya di bawah lima puluh persen). Aku tak pernah bermimpi usai shalat itu, tingkat kepercayaan yang semakin meninggi yang aku rasakan. Aku tidak ingin menuntut agar Tuhan mengirimkan “mimpi hijau” kepadaku. Sama arti dengan mendikte Tuhan. Guru tasawwuf-ku pernah berkata begitu. Untuk menjaga stabilitas perasaan ini, habis shalat maktubah, kukirim doa kepada sedulur papat limo pancer-nya. Hanya ingin memastikan Rosa dalam keadaan baik-baik saja, kendati ia berada jauh di sana. Bukan dia yang kukirim doa, namun sedulurnya, yang dalam bahasa Nabi disebut Qorin (yang menemani). Orang jawa menyebutnya Batur atau Batir. Dialah yang merawat kita, anak manusia, sejak lahir hingga menuju liang lahat. Dia yang menjaga, yang mengetahui perkembangan kita semua.

Tak ubahnya iman, aku harus menjaga tumbuhnya keyakinanku kepadanya dengan dzikir (mengingat) kepadanya, mengenalnya. Nabi pernah mengatakan: jaddidu imanakum biqauli la ilaha illah; perbaharuilah iman kalian dengan mengucapkan la ilaha illa Allah. Aku ingin memperbaharui cinta itu dengan mengenal karakternya, kepada teman-teman, ketika ada kesempatan ngobrol di dapur.

“Dia itu tak pernah memiliki rasa dendam kepada kawannya. Tak pernah bermaksud mencela teman-temannya, meskipun ia punya hak untuk melakukannya,” terang Shofa kepadaku.

“Rosa orangnya pintar bergaul dengan siapa saja, hanya di pondok saja dia itu membatasi pergaulan, karena aturannya memang demikian. Aku pernah main ke rumahnya, semua orang menyambutnya dengan hangat, hingga Pak De dan Bu De-nya ikut menyediakan hadiah khusus pas pulang dari pondok. Dia terlalu disayang keluarga. Maklumlah, putri pertama yang paling cantik. Hehehe….” Hanik membuatku terkesima.

Santri putri asal Jepara ini banyak bercerita tentang Rosa kepadaku. Rupanya dia yang paling dekat dengan Rosa. Dia sebenarnya mengetahui keberadaan Rosa selama sebulan ini, namun pantang memberitahukannya kepadaku, atas pesan Rosa sendiri. Kepada teman-teman yang lain, Rosa berpamitan boyong, namun tetap berpesan agar tidak membuka mulut kepadaku.

Tubuhnya memang tidak berada di sini, namun aku merasakan sebuah kedekatan. Dengan mengenalnya; menjaganya dengan doa. Perkenalanku kepada Rosa datang setelah kata cinta. Barangkali itu adalah hikmah. Kalau boleh diibaratkan, cinta adalah doktrin, sementara proses mencintai adalah hikmah. Aku mencintai Rosa bukan karena sebab, bukan juga karena ada syarat. Anjing dalam doktrin Islam adalah najis, adapun penemuan adanya bakteri membahayakan bagi manusia dalam tubuh binatang tersebut, itu adalah hikmah tersendiri yang dicapai dalam perkembangan teknologi. Cintaku kepada Rosa mengandung hikmah, kendati ia belum memberikan respon balik.

Aku menceritakan itu kepada keluargaku. Ada keyakinan yang terbangun bahwa Rosa akan menjadi pendamping hidupku. Kepada Bapak aku meminta persetujuan.

“Bapak menyerahkan pilihan kepadamu, Nang. Yang penting dia memiliki nasab yang baik.”

“Kenapa harus nasab yang Bapak syaratkan? Bukankah Nabi pernah mengatakan kalau memilih zaujah itu yang alim agama, fadzffar lidzati diniha taribat yadaka; carilah yang pintar agama, kamu akan beruntung.”

“Dalam hadits itu Nabi sebenarnya tidak mengharuskan pintar agama, namun hanya menyatakan kalau kebanyakan perempuan itu dinikahi laki-laki imma limaliha aw lijamaliha aw linasabiha (adakalanya karena hartanya, kecantikannya atau nasabnya). Kemudian Nabi meneruskan, fadzfar lidzati diniha taribat yadaka.”

“Berarti ada prioritas yang ahli agama. Bukan begitu, Bapak?”

“Kamu lihat bagaimana Nabi menggunakan kata imma (adakalanya). Hadits tersebut sangat manusiawi, Nang. Orang kaya pasti mencari orang kaya, orang terhormat kebanyakan ingin mendapatkan yang sederajat. Fiqih kan mengajarkan agar kita mencari pasangan yang sekufu, sepadan. Bapak ingin mencari yang nasabnya baik karena garis keturunan itu tidak bisa diciptakan. Kalaupun bisa, membutuhkan waktu yang melintasi abad. Masalah harta itu bisa dicari bersama. Kalau mementingkan kemolekan dan kecantikan itu hal yang relatif, anakku. Toh, kecantikan itu sementara. Agama juga bisa dipelajari. Kalau keturunan, mau cari ke mana, Nang?”

“Luwih apik gawe nasab daripada golek nasab, kata Abah Yai begitu?”

“Saiki nek awakmu ra iso piye, nang?” Aku termenung.

“Nasab yang baik itu yang bagaimana?”

“Ya pokoknya yang nenek moyangnya tidak ada yang tersohor sebagai pelanggar syariat. Seandainya yang kau dapatkan itu pintar, kaya dan cantik, hafal Quran lagi, namun kakeknya ada yang terkenal ahli zina, pemabuk, pencuri misalnya, bagi Bapak lebih baik mencari yang lain saja. Bapak tidak ingin punya keturunan yang berpotensi meniru kakek-neneknya. Bapak ingin agar anak-cucu Bapak menjadi keluarga terhormat.”

“Ubab mencintai keluarganya.”

“Ya wis, nek mantep, teruske. Diwulang, dididik.”

“Bapak tidak istikharah untuk Ubab?”

“Kamu ini sebetulnya sudah mantap atau belum, Nang? Nek mantep ya tak usah ada istikharah. Itu namanya ngeles pengeran.”

“Tapi dia belum jelas menyatakan sikapnya, Bapak!” keluhku.

Bapak diam.

???

***

Sebulan kepergian Rosa ternyata tidak hanya untuk mengajar, ada misi lain yang dimaksudkan Abah Yai, yaitu pingitan. Begitu kabar yang aku dapatkan dari Hanik.

“Dipingit untuk apa?”

“Entah,” jawab Hanik.

Kalau memang dia harus dipingit, mengapa yang melakukan bukan Abahnya sendiri? Kenapa harus Abah Yai? Pertanyaan itu tak pernah terjawab dalam alam ideku.

Hari-hariku di pondok hanya terpenuhi oleh lamunan dan bayangan Rosa. Tak ada yang mengetahui rasa cintaku kepadanya. Santri di dapur tak ada yang menaruh curiga terhadap gelagat tingkahku. Penasaranku kepada Rosa dianggap sebatas mengenal kawan lebih dekat. Aku mengimbangi pertanyaan tentang Rosa dengan melempar pertanyaan serupa kepada teman-teman dekatnya.

Barangkali persepsi yang terbangun di benak para santri ponpes Bahjatul Wasail, aku adalah gawagis alim, namun mbeling, yang tidak mungkin terjerembab dalam “cinta rendahan”.

“Apa ada cinta rendahan? Bukankah yang rendah itu nafsu?” batinku berteriak.

Ah, terserah orang menafsirkan. Aku hanya ingin meluapkan rasa cinta ini dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Sejak mengenal Rosa, hatiku terlalu mudah untuk sekadar meneteskan air mata. Rasioku sulit untuk melakukan yang bukan terbaik bagiku. Dia adalah tujuan hidupku. Jalan pencerahanku. Aku hanya mengenalnya, itu saja. Tidak pernah bersentuhan fisik dengannya, kalau tidak perlu, apalagi mencandainya, sebagaimana muda-mudi kota. Aku sadar syariat.

Aku menyibukkan diri dengan memperbanyak nafilah, ibadah tambahan. Boleh orang menyatakan, itu hanya pelampiasan perasaan yang tak berujung itu. Aku tidak menampik dikatakan demikian. Aku merasakan kenyamanan dan ketenteraman hati di atas sajadah bututku. Puasa adalah riyadlah yang mengasyikkan. Kepekaan yang kian meningkat mempermudah aku memahami ayat-ayat Al-Quran. Ini benar-benar di luar kebiasaan. Aku mudah menerima pengetahuan dari lembaran kuning yang berserakan di rak buku pondok pesantren. Bahkan aku bisa membacanya tanpa harus mengeja, menggunakan perangkat bahasa yang njelimet; nahwu, sharaf, maani, bayan, badi, mantiq dan juga ilmu syair Arab, arudl. Seperti tak ada gelap dalam ideaku. Aku menjadi begitu pandai dan cerdas, serta rajin ber-nafilah, tanpa kusadari. Semoga ini bukan istidraj, sebuah keistimewaan yang diberikan dengan ancaman, sebagaimana kisah Kiai Barsesa yang terkenal itu.

“Gus Ubab sedang njandab. Dia tidak pernah menyentuh kitab kuning, tapi pandai bersilat lidah dalam bahtsul masail,” bisik para santri yang aku dengar.

Memang, baru sekali ini aku memberanikan mengikuti kegiatan bahtsul masail fiqhiyyah. Salama delapan tahun nyantri, hanya sekali aku mengikuti, itu pun karena pakewuh dengan Abah Yai saja. Aku mengikuti kegiatan usbuiyyah itu hanya untuk menambah wawasan semata. Tak dinyana, banyak orang menyebutku punya ilmu ladunni, ilmu kanugrahan, bukan kanuragan. Argumenku mematahkan tabir (referensi) yang dibawa para ustadz senior yang menjadi perumus solusi masalah. Sejak itu, aku menjadi santri yang disegani di antara seribu santri yang mukim di pondok Bahjah ini. Aku bertanya dalam diri, kekuatan apa yang membuatku seperti ini. Apakah karena ketulusanku kepada Rosa??

Aku semakin larut dalam kesibukan mengolah rasa ketika Rosa benar-benar menjadi Bu Nyai. Dia dipingit Abah Yai selama sebulan karena akan dijadikan zaujah. Abah Yai menjalankan akad nikah keduanya itu di aula masjid pondok, disaksikan ratusan santri, kerabat dan sahabat dekat. Aku merintih dalam kesedihan. Namun, tak ada yang bisa aku salahkan. Abah tak mungkin aku laknat, karena beliau juga tidak tahu hakikat rasa cintaku kepada istri barunya itu. Rosa juga tak pantas aku jauhi, karena dia kubebaskan untuk tidak menjawab perasaanku. Aku berkabung dalam pesta pernikahan kedua orang yang aku cintai.

Rosa yang dulu santri, kini menjadi Ibu Nyai yang harus kuhormati. Dia bukan santri sekarang, melainkan istri dari guru yang sudah aku anggap orang tuaku sendiri. Tak ada lagi kebebasan berbicara dengannya. Rosa yang dulu dengan yang Rosa yang sekarang, beda.

Entah apa maksud Abah Yai menikahi Rosa, bukan kepada yang lain. Padahal Abah Yai pernah mengatakan tidak setuju dengan poligami. Bu Nyai Anis, istri pertama Yai, hanya memberikan dua keturunan, perempuan semua. Sekarang sudah berkeluarga dan bertempat tinggal di luar kota. Dua menantunya tak cukup memadahi untuk menggantikan Yai, karena mereka kurang pandai agama. Kalau ingin mencari keturunan anak laki-laki, kenapa Abah Yai tidak mencari orang lain yang bukan santrinya? Aku berusaha husnuddzan, entah karena pengaruh kearifan dan kebijaksanaan Yai atau karena kecintaanku kepada Rosa.

Aku terlarut dalam kecintaan kepada Tuhan.

***

Sekarang ini, aku tidak lagi mengenal, siapa Ubab dan di mana dia sekarang. Aku seperti manusia nomaden yang hobi berpindah-pindah tempat. Bukan untuk berburu musim, namun untuk mengenali kembali diriku. Sejenak aku di Piramida Mesir, sejengkal kemudian aku berada di Tembok Berlin, Menara Eiffel, Kabah atau Taj Mahal untuk kembali ke Borobudur. Setiap hari aku wisata gratis. Ubab bukan lagi manusia yang membutuhkan kapal terbang, kapal laut dan kereta untuk berpindah tempat. Aku melakukannya seusai menikmati ektase persenggamaan dengan Tuhan, di atas pesujudan malam, ketika kebanyakan santri menikmati hiburan mereka dalam mimpi.

Usia Abah Yai yang melebihi kepala enam, membuat semakin tak berdaya mengajar di pondok, baik kitab maupun Al-Quran. Jadwal talaqqi beliau, semenjak terserang stroke dua bulan terakhir, kini banyak digantikan oleh ustadz-ustadz senior. Aku yang anak Kiai, sudah lama mondok di sini, dan katanya berilmu ladunni, tidak pernah ditarik menjadi badalsak karepe dewe. Ah, tak usah memusingkan itu, toh setiap malam aku bisa jalan-jalan bebas sendirian, tanpa ikatan identitas sebagai guru ngaji. (pengganti) Abah Yai. Barangkali karena aku yang bandel dan suka

“Gus, jenengan ditimbali Abah Yai.”

Pagi yang mengagetkan. Tiga bulan tak menyapa, tiba-tiba ada acara pemanggilan tak terduga. Dag-dig-dug, perasaan tak menentu bergelayut. Dalam tradisi pondok, Abah Yai tidak akan memanggil santri kalau tidak ada urusan yang penting.

“Ada apa ya, Kang?” tanya yang tak mungkin dapat jawaban.

Sejenak aku berganti gamis. Dengan pakaian rapi aku menghadap Abah Yai yang terbaring lemah.

“Gus, kamu sakau, kamu mabuk Tuhan,” suara tua itu menghenyakkan. Aku masih menundukkan kepala.

“Tolong dikendalikan!”

“Afwan, Abah.”

“Abah tahu perkembangan terakhirmu, meskipun kau tidak mengetahuinya. Abah juga tahu perasaanmu kepada istri muda Abah. Abah sengaja menikahinya untukmu.”

“Ya, Gus, Abah menjauhkan wanita yang kau cintai, selama sebulan, dan kemudian menikahinya hanya untuk megukur seberapa besar cintamu kepadanya dibanding kepada Allah.”

“Kenapa harus menikahinya?”

“Karena dengan begitu kau tidak akan berani bertanya kepada Abah.”

Hening menenangkan pembicaraan. Aku masih tertunduk dengan ketegunan dan keterkejutan bercampur kekecewaan.

“Abah melihat sakaumu kepada Rosa tertuang dalam sakaumu kepada Allah. Kau membuka pintu makrifat melalui perempuan dan khusnudzdzan kepada gurumu. Ketulusan hatimu tak bermuara pada kemarahan kepada orang lain. Abah berikan Rosamu, untukmu.”

“Hamba semakin tidak mengerti maksud Abah.”

“Iya, tiga bulan lalu, Abah menikahinya, sekarang Abah ceraikan ia. Kuserahkan sepenuhnya untuk kau nikahi. Aku thalaq bain ia. Jaga dia ya, Gus.”

Aku diam, sungguh tak paham.

“Sekarang juga kau nikahi Rosa. Abah hanya merawatnya utukmu. Tidak ada kewajiban iddah untuknya, karena Abah belum dukhul kepadanya. Dia masih perawan. Belum Abah sentuh. Tapi Abah minta, setelah menikahi mantan istri muda Abah itu, kau harus menjadi badal Abah untuk meneruskan perjuangan Islam di pondok Bahjatul Wasail ini. Kau bukan anak Abah, juga tidak mungkin menjadi menantu Abah. Agar ada ikatan darah-batin, Abah menikahi Rosa untukmu, anakku. Gus Ubab akan menjadi suami dari mantan istri Abah.”

Aku tercenung. Aku akan menjadi keluarga ndalem, bukan santri ndalem lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar