Selasa, 27 Juli 2010

Kisah Cinta Si Nona Anggrek (Part 2)


Musim Gugur

Musim gugur bunga teratai mewangi
Nona Anggrek setiap malam bermimpi memegang dupa
Siang hari tak berani melihat wajah Ayah dan Ibu

“Sudahlah, Ibu. Lekas masukkan barang itu kembali ke kotaknya dan kembalikan!” sahut Yulan kesal. Sejak tadi Nyonya Chen tak henti-hentinya memandang dengan takjub sebuah jepit rambut giok berbentuk bunga anggrek pemberian Zhao Erlang.
“Yulan, sayang sekali kalau kau mengembalikan jepit rambut ini. Lihatlah. Cantik sekali. Ukirannya sangat halus. Tuan Zhao memang perhatian. Dia memberi sesuatu yang sesuai dengan namamu.”

Yulan tak tahan lagi. Dia meraih jepit rambut tersebut dari Nyonya Chen, memasukkannya ke dalam kotak lalu menutupnya.

“Jepit rambut ini bisa saja terbuat dari giok palsu. Apalagi hati pemberinya-mungkin juga palsu.”

Nyonya Chen terperanjat. “Yulan! Teganya kau berkata seperti itu tentang Tuan Zhao.”

Yulan menyerahkan kotak berisi jepit rambut tersebut kepada mak comblang utusan Zhao Erlang. Mak comblang itu sudah sebulan gigih memanas-manasi Tuan dan Nyonya Chen. Kata-katanya begitu manis tentang Zhao Erlang, nama si tetangga baru di belakang rumah keluarga Chen. Bahwa dia putra kedua sebuah keluarga kaya di Xi’an. Bahwa tahun ini usianya dua puluh lima, masih lajang dan seorang wirausahawan sukses.

Yulan meyakinkan diri tidak akan pernah terhasut kata-kata mak comblang atau siapapun mengenai Zhao Erlang. Sejak pertama kali bertemu, Yulan sudah tak menyukainya. Akan tetapi, belakangan ini Ayah-Ibunya sudah mulai terpengaruh. Sepertinya kata-kata Ibunya mengenai ‘terlalu pemilih sehingga mendapat menantu lelaki yang buruk’, bisa menjadi kenyataan.

Mak comblang protes dengan sikap Yulan. Mulutnya yang lincah mencoba meyakinkan, “Haiya… Nona. Tuan Zhao akan memarahiku kalau jepit rambut ini dikembalikan padanya.”

“Kalau begitu untukmu saja!” Yulan berkata ketus. Setelah itu dia keluar ruangan dan berlari ke bagian samping rumahnya. Tempat separuh dahan-dahan kedua pohon pir keluarga Lin merambat.

Sesampainya di sana, mendadak amarah Yulan mereda. Angin sepoi-sepoi mendinginkan kepalanya. Yulan bersandar pada salah satu batang pohon pir. Daun-daun pohon itu telah menguning sesuai musim. Warna kuning sinar mentari beradu dengan daun-daun yang akan gugur. Indah sekali. Yulan merasa damai. Dia memejamkan mata hingga suara seseorang mengejutkannya.

“Seekor rusa meloloskan diri dari jaring para pemburu. Dia lari ke taman pir, berubah wujud menjadi gadis cantik. Tak ada seorang pun-hanya aku, yang tahu kalau dia jelmaan peri rusa.”

Juxiong berdiri sambil tersenyum malas di jendela kamar belajarnya. Sebelah tangannya memangku dagu.

“Dari mana kau memperoleh syair barusan?” Yulan bertanya heran.”Aku belum pernah mendengarnya.”

“Aku mengarangnya sendiri,” jawab Juxiong. Dia mengamati Yulan dari atas hingga bawah. “Kau seperti baru lolos dari perangkap. Itu mengilhamiku.”

“Kau mengejek!” semburat hangat menjalar di pipinya. Yulan buru-buru memalingkan wajah. Juxiong melompat keluar jendela. Menghampiri tempat Yulan berdiri. Mereka hanya dipisahkan sebuah pagar bambu setinggi dada orang dewasa.

“Katakan padaku Nona Anggrek,” ujar Juxiong menirukan suara mak comblang. “Apa yang membuatmu menolak Tuan Zhao yang tampan, kaya serta baik hati?”

“Hentikan!” Yulan berseru setengah geli. “Kau tampak menyebalkan dengan gaya seperti itu!”

“Dia sangat murah hati, memberimu ini dan itu. Tapi mengapa kau masih belum mau menerima cintanya?” suara Juxiong semakin menjadi-jadi.

Yulan terdiam sesaat sebelum dia berkata, “Hatiku tak bisa dibeli. Hatiku mengatakan sejak awal kalau cintanya itu palsu.”

Juxiong terdiam sesaat. “Tapi kau anak perempuan yang harus menikah. Orang tuamu pasti senang kalau yang menikahimu kelak seorang pria mapan.”

“Tapi aku…,” Yulan tidak melanjutkan kata-katanya. Juxiong tengah memandanginya. Keduanya saling pandang dan diam. Dalam hati Yulan, kata-kata lain mendesak keluar, “Lin Juxiong, bawalah aku pergi. Aku hanya mau bersamamu.”

Yulan malu saat mendengar suara hatinya sendiri. Di masa itu mana ada gadis yang berani menyatakan cinta terhadap pemuda yang dikasihinya? Jika Yulan benar-benar mengucapkan kata-kata dalam hatinya, apa anggapan Lin Juxiong? Jika ternyata Juxiong tak berperasaan sama dengannya, pemuda itu pasti menganggapnya gadis tidak tahu malu. Dan untuk seterusnya, Yulan akan menanggung beban malu itu seumur hidupnya.

“Aku juga memikirkan masa depanku,” ujar Juxiong tiba-tiba. “Tinggal aku satu-satunya anak lelaki. Ibuku semakin tua dan aku khawatir tidak bisa lulus ujian Kerajaan sesuai harapan mendiang Ayahku.”

Yulan lega karena Juxiong tidak lagi membicarakan masalah pernikahannya. Akan tetapi, melihat kekhawatiran Juxiong ketika membicarakan masa depannya, Yulan ikut resah. Kalau kau merasa cemas, Yulan membatin, lebih-lebih aku.

***

Tanggal lima belas bulan delapan merupakan pertengahan musim gugur. Orang-orang di Baisha saling mengunjungi untuk bertukar kue bulan di siang hari. Lalu menikmati bulan purnama di malam hari.

Siang itu Yulan membawa sekeranjang kue bulan ke rumah Lin. “Bibi,” sapanya sewaktu Nyonya Lin yang membuka pintu. “Ibuku membawa bingkisan untukmu.”

“Ibumu baik sekali,” ujar Nyonya Lin ramah. “Masuklah, aku akan menukar isi keranjangmu.”

Yulan masuk ke pekarangan rumah dan melihat sekitarnya sepi.

“Juxiong sedang pergi ke kantor desa untuk membayar pajak,” kata Nyonya Lin seolah mengetahui Yulan mencari-cari Juxiong. Yulan tersipu. Dia mengikuti Nyonya Lin terus masuk ke dalam rumah.

Sesampainya di ruang tamu, Nyonya Lin terus menuju dapur sementara Yulan tetap tinggal. Pandangan Yulan berkeliling-sampai dia menemukan pintu kamar belajar yang menghadap kebun tempat kedua pohon pir tumbuh, terbuka.

Tergelitik rasa ingin tahu, Yulan masuk ke sana. Ruang belajar itu bersih dan segar. Jendela yang menghadap kebun terbuka sedikit. Samar-samar ada aroma dupa cendana. Dua buah lukisan pemandangan karya almarhum Jumeng terpajang di dinding. Pada satu sisi, sebuah rak dipenuhi buku-buku yang berjajar rapi.

Tapi kemudian, perhatian Yulan tertuju pada selembar kertas memanjang di atas meja belajar. Sebuah lukisan. Yulan menghampiri meja tersebut dan mendapati lukisan itu terbentang menunggu catnya kering. Beberapa perlengkapan melukis seperti kuas dan tempat tinta tergeletak di samping lukisan.

Lukisan itu berupa setangkai anggrek berwarna merah keunguan-tertanam pada sebuah pot giok hijau. Anggrek beserta potnya ada di atas meja menghadap jendela. Di luar jendela, bulan purnama bersinar kuning terang.

Lukisan itu dilukis dan diwarnai dengan gaya amat halus. Pada bagian kanan, terdapat dua baris puisi:

‘Anggrek dalam wadah giok mendambakan sinar rembulan.
Dia mengagumi cahayanya. Dia mengagumi keindahannya.’

Anggrek dan wadah giok. Lan dan Yu. Yulan terperanjat. Lukisan itu, puisi itu, samar-samar menyebut namanya.

“Sedang apa kau di sini?”

Yulan segera berpaling. Wajah Lin Juxiong perlahan-lahan berubah pucat. Dia menghambur ke meja, menghalangi pandangan Yulan terhadap lukisan dengan tubuhnya.

Kebingungan, Yulan melangkah mundur. Wajah Juxiong kini merah-padam.

“Keluar dari sini…”

“Juxiong….”

“Keluar!”

Begitu Yulan keluar dari ruang belajar, Juxiong langsung menutup pintu dan menahannya dengan punggungnya.

“Juxiong! Juxiong!” seru Yulan sambil menggedor-gedor pintu. Tapi Juxiong tidak peduli dan tetap tak membuka pintu. Dalam hati, dia memaki dirinya sendiri.

“Sial! Setelah sekian lama kusembunyikan, yang paling pertama tahu justru Yulan!”

***
Pada malam perayaan musim gugur, semua orang semestinya bergembira. Tapi tidak dengan Yulan. Sepulang dari rumah Lin, Yulan selalu merasa resah. Kalau memang Juxiong juga menyukainya, kenapa pemuda itu tak ingin dia tahu?

Pada malam perayaan musim gugur, orang-orang keluar rumah melihat bulan purnama sambil menikmati kue bulan dan minum teh. Tapi Yulan tinggal di kamarnya dengan alasan tidak enak badan. Saat sendirian di kamar itu dia menengok ke rumah sebelah. Kamar belajar Juxiong gelap. Yulan menerka-nerka apakah pemuda itu keluar mengikuti perayaan-atau karena peristiwa sore tadi telah membuatnya tidak berkeinginan untuk belajar malam itu.

Keesokan harinya, ditemani pelayannya Yanhong, Yulan pergi ke pabrik pemintalan Ayahnya untuk mengambil beberapa stok benang dan kain. Di perjalanan pulang dia melihat Lin Juxiong, yang sepertinya telah menunggunya di tempat itu sejak tadi. Juxiong memegang segulung kertas putih. Pasti lukisan itu, pikir Yulan.

Yulan menyuruh Yanhong pulang lebih dulu. Setelah mereka tinggal berdua saja, Juxiong menyerahkan gulungan kertas tersebut kepada Yulan.

“Ambillah. Aku memang membuatkan ini untukmu.”

Yulan menerimanya dengan ragu-ragu.

Juxiong menatap Yulan dalam. Sejurus kemudian dia mencelos. “Kamu tahu?” katanya. “Sejak dulu aku mengagumimu tapi aku hanya bisa memandangmu dari jauh.”

“Meski kau sesungguhnya begitu dekat, aku merasa dirimu tak mudah dijangkau. Aku tak berani bermimpi bersanding denganmu. Keluargaku dulunya mantan pejabat-tapi aku hanya petani. Meski sekarang aku berusaha meniti karir menjadi pria mandiri, aku tidak berani memintamu menunggu hingga aku sukses dan melamarmu pada Ayahmu. Jadi Nona Anggrek, kau cukup tahu tentang perasaanku hingga peristiwa kemarin saja. Setelah lukisan ini kuserahkan padamu, aku akan melupakanmu. Aku mendoakanmu. Siapa pun kelak suamimu, kalian berdua akan bahagia sampai tua.”

Ingin rasanya Yulan menangis mendengar perkataan Juxiong. “Kamu tahu?” suara Yulan tercekat. Dia berseru, “Kamu tak melukis ini pun, aku tetap selalu mengasihimu.”

“Kau tak bicara panjang lebar seperti tadi pun, aku tetap mengasihimu!”

Bulir-bulir air mata mulai mengalir di kedua pipi Yulan. Hatinya diliputi emosi campuran antara kecewa, marah dan sedih. Tak tahan berdiri lebih lama di situ, Yulan berlari meninggalkan Juxiong. Bersembunyi di antara semak dan pepohonan. Menangis lalu mengeringkan air mata. Juxiong mencarinya namun tak berhasil menemukannya. Bukankah pemuda itu bilang akan melupakannya? Jadi mengapa repot-repot mencarinya?

Setelah perasaannya lebih tenang, Yulan berjalan pulang ke rumahnya dengan lunglai. Dia tak tahu. Kejutan besar hari itu bukanlah pengakuan Lin Juxiong.

Sesampainya di rumah, Yulan melihat banyak orang yang sedang bertamu. Rupanya mereka adalah para tetua adat Baisha. Yulan masuk lewat pintu samping. Di dalam rumah, dilihatnya beberapa pelayan wanita sedang berkumpul dekat tirai ruang tamu mendengar pembicaraan para tetua dengan Tuan Chen.

Sewaktu melihat Yulan, para pelayan itu tampak senang. “Ah, Nona. Selamat untukmu!” mereka menyambut Yulan. “Sebentar lagi kabar baik menghampirimu!”

“Kabar baik apa?” Yulan keheranan.

Salah satu pelayan menjawab,”Para Tetua Adat datang mewakili Tuan Zhao untuk melamarmu. Dan Tuan Besar baru saja menyetujui pertunanganmu dengan Tuan Zhao!”

Gulungan lukisan terjatuh. Yulan terkejut bukan kepalang-bak disambar petir siang hari.

***
Sisa hari itu Yulan menangis di kamarnya. Lukisan Juxiong tergeletak di atas meja. Yulan tak memedulikannya. Kini dia hanya bisa meratapi nasibnya. Keputusan Ayahnya sudah tak bisa dirubah. Ayah yang dulu dianggap paling pengertian oleh Yulan, kini seolah menjerumuskannya.

Malam itu tidur Yulan tak nyenyak. Maka ketika dia tetap di kamarnya pagi keesokan harinya, seisi rumah memaklumi. Akan tetapi sekitar pukul sepuluh pagi, pelayannya, Yanhong tergesa-gesa masuk kamar.

“Nona, bangun!” Yanhong mengguncang bahu Yulan. “Di bawah terjadi sesuatu!”

Yulan membuka mata dengan enggan. “Ada apa?”

“Di bawah…, ada tamu…,” ucap Yanhong tak sabar. “Pria, wanita serta sepasang anak lelaki dan perempuan.”

“Siapa mereka?” Yulan mulai berminat.

Yanhong menggeleng. “Aku hanya tahu yang wanita… Katanya… dia istri Tuan Zhao!”

Yulan sontak bangkit. “Apa kau bilang? Istri Zhao Erlang?”

Yanhong mengangguk. Yulan bergegas turun dari tempat tidurnya hendak berganti pakaian.

“Lekas bantu aku berdandan. Aku harus menemuinya. Semuanya pasti hadir. Zhao Erlang, Ayah, Para Tetua… Akan kukatakan kepada mereka kalau aku tak mungkin menikahi pria beristri!”

Yanhong lekas-lekas menyiapkan air untuk membasuh wajah Yulan. Dia juga menyiapkan sebuah kain yang telah dicelup dalam air hangat untuk mengompres mata Yulan yang bengkak sehabis menangis semalaman. Setelah berdandan rapi, bergegas Yulan turun ke bawah. Dari balik tirai pembatas ruang tamu, Yulan melihat keempat tamu itu: seorang pria usia tiga puluhan, sepasang anak perempuan dan lelaki berusia lima dan empat tahun serta seorang wanita. Usia wanita itu mungkin dua puluh tiga atau dua puluh satu. Cantik dan langsing. Keempat-empatnya mengenakan pakaian berkabung putih-putih.

Seperti dugaan Yulan, ruang tamu rumahnya kini dipenuhi orang-orang. Ayah-Ibunya, yang kemarin berseri-seri, kini muram. Juga Para Tetua. Tidak lama, muncullah Zhao Erlang. Dia masuk ke dalam rumah dengan sikap congkaknya yang khas. Wajah menengadah ke atas dan kipasnya terbentang. Tapi ketika melihat keempat orang tamu tersebut, Zhao Erlang terkejut bukan main.

“Ayah!” kedua anak lelaki dan perempuan kecil itu berseru memanggilnya. Mereka menghambur menyambutnya tapi mundur sejurus kemudian karena tatapan tajam Zhao.

“Kalian! Kenapa bisa kemari?” bentaknya.

Pria yang bersama wanita dan kedua anak itu maju. “Kau sungguh tak berbudi! Di saat Ayah kita meregang nyawa, kau malah merencanakan pernikahanmu lagi di sini!”

Pria itu adalah kakak Zhao Erlang yang bernama Dalang. Zhao Dalang merengkuh kedua keponakannya mundur dari Ayah mereka sambil berkata, “Kau melupakan keluargamu di Xi’an. Kau beralasan hendak berdagang di tempat jauh tapi ternyata hanya menghambur-hamburkan harta istrimu!”

Para Tetua terkesima. Mereka menanyai Zhao Dalang. “Nyonya yang bersama Anda. Dia ini….”

“Dia ini adik iparku, Nyonya Shi,” jawab Dalang. “Keluarga Zhao kami sebenarnya hanya keluarga pekerja biasa di Xi’an. Suatu keberuntungan, adikku Erlang bisa menikahi Nona Shi-putri tunggal keluarga Shi yang kaya-raya. Keluarga Shi memperlakukan adikku seperti putra mereka sendiri. Dia bahkan mempercayakannya mengelola usahanya.”

“Nyonya Shi wanita baik. Meski berasal dari keluarga kaya, dia memperlakukan kedua orang tua kami dengan amat berbakti. Beberapa bulan lalu, adikku mohon pamit dengan alasan dia akan pergi berbisnis ke selatan. Mertuanya memberinya sejumlah besar uang. Tapi sejak itu dia menghilang tanpa kabar-berita.”

“Ayah kami yang sudah tua, jatuh sakit tak lama setelah kepergiannya. Sakitnya parah dan menjelang ajalnya selalu menyebut nama Erlang. Dia meninggal sebulan lalu. Tapi peti matinya tak bisa diangkat menuju kuburan. Para cenayang memberi tahu kalau Ayah menunggu Erlang. Kami lalu mencarinya. Setelah sekian lama, akhirnya kami menemukannya di Baisha.”

Para Tetua bergumam. Mereka mengangguk lalu saling berbisik-bisik. Nyonya Shi yang semula duduk diam perlahan berjalan menghampiri Zhao Erlang.

“Suamiku,” kata Nyonya Shi dengan suara bergetar. “Pulanglah. Jenazah Ayah tak bisa dikuburkan sebelum kau tiba. Aku berjanji padamu, setelah pemakaman, kau bisa kembali kesini dan menikahi gadis pilihanmu… Aku tak keberatan…”

“Tunggu sebentar!” Yulan mendadak muncul di ruangan itu. “Kalau kau tidak keberatan, akulah yang keberatan.”

Yulan berjalan menghampiri Nyonya Shi. Setelah berhadapan, dia menggenggam tangannya dan berkata, “Kau wanita yang begitu baik, mana mungkin aku tega menjadi pengacau rumah tanggamu? Kau telah menempuh perjalaan demikian jauh dari Xi’an ke Baisha. Kau pasti bisa membawa suamimu pulang untuk menguburkan Ayahnya.”
“Dan setelah pemakaman pun aku berjanji dia tetap menjadi suamimu,” Yulan berkata sungguh-sungguh. Dia lalu berputar ke arah Zhao Erlang, “Tuan Zhao, pria sejati tak mengabaikan keluarganya. Pria sejati berbakti kepada orang tuanya. Pulanglah ke Xi’an. Makamkan Ayahmu dan hidup rukun dengan keluargamu. Kau adalah pria beruntung karena mendapat seorang istri berjiwa besar seperti Nyonya Shi.”

Zhao Erlang tidak berkata apa pun. Kepalanya tertunduk malu.

Yulan menghampiri Tuan dan Nyonya Chen. “Ayah, Ibu. Kalian tentunya tak mau mempermalukan putrimu ini. Aku lebih rela tidak menikah seumur hidup asal tidak dicap sebagai pengganggu rumah tangga orang lain.”

Tuan Chen yang dari tadi berwajah keruh kini angkat bicara. “Tuan Zhao, jangan bilang aku tidak memegang janji. Kaulah yang semula menipu kami dengan statusmu yang masih lajang itu. Baiklah, aku putuskan untuk membatalkan perjodohan ini. Sebaiknya sekarang, kau lekas kembali ke Xi’an bersama keluargamu.”

Yulan lega sekali. Dalam hati tak henti-hentinya dia bersyukur kepada Lao Tian.

***
Tapi kelegaan Yulan tidak lama bertahan. Setelah Zhao Erlang beserta keluarganya berlalu, Para Tetua berkata kepada Tuan Zhao.

“Putrimu akan bertunangan dan mendadak dibatalkan. Hal ini kurang baik. Kau harus segera mencarikannya calon suami lain sebelum aib menimpa keluargamu.”

“Benar,” kata yang lain. “Kali ini jangan ditunda. Kau harus menikahkan putrimu secepatnya, Tuan Chen. Baisha ini desa kecil. Kau boleh percaya atau tidak, aib sekecil ini bisa membuat dewata menurunkan bencana besar bagi seluruh desa kita.”

“Menikahkan putriku secepatnya?” Tuan Chen bertanya. “Tapi dengan siapa? Aku tak bisa mencarikannya calon suami lain lagi dalam waktu singkat.”

Salah satu Tetua berkata, “Mengapa kau tidak menyerahkan urusan ini kepada Langit?”

Seluruh mata tertuju kepada pria tua tersebut. “Maksudmu, saudaraku? Apa kau punya cara?”

“Cara ini dulu biasa dipakai. Mungkin kau bisa menggunakannya juga sekarang, Tuan Chen. Kumpulkan semua pemuda yang belum menikah di Baisha. Kau bisa menentukan batas usia mereka, Tuan Chen. Lalu, putrimu bisa melempar bola bersulam. Pemuda mana yang mendapatkan bola itu akan menjadi suaminya.”

“Apakah ini tidak terlalu beresiko? Bagaimana kalau pria itu tidak cocok dengan putriku?”

“Jika kau percaya padanya, Langit tak mungkin salah memilihkan calon suami bagi putrimu.”

Para Tetua lain menyetujui pendapat rekan mereka. Meski agak enggan, Tuan Chen akhirnya menyetujui usul itu. Tapi bagi Yulan, ini menimbulkan kecemasan baru. Ibarat baru lepas dari sarang harimau yang satu, terlempar ke sarang harimau lain. Bagaimana kalau ternyata bola bersulam itu jatuh ke pria yang lebih buruk dari Zhao Erlang?

Sayang sekali Tuan Chen tidak mengindahkan protes Yulan. “Cepat atau lambat kamu pasti akan menikah. Aku dan Ibumu nyaris memutuskan calon yang salah buatmu. Kali ini, biarlah Langit yang memilihkannya untukmu.”

Semuanya diputuskan cepat. Acara pelemparan bola bersulam akan berlangsung besok pagi disambung dengan upacara pernikahan. Nyonya Chen dan beberapa pelayan wanita lekas-lekas membuat bola. Mereka menjahit kain berbentuk lingkaran yang kemudian diisi dengan jerami. Bagian luarnya, disulam beberapa motif bunga dan dijahit rumbai-rumbai hingga tampak semarak.

Malam itu Yulan tidak tidur. Dia terjaga sepanjang malam. Setiap kali melihat bola bersulam yang ditaruh di atas meja, Yulan merasa tertekan. Dia hanya sekali berjalan ke arah jendela menengok rumah sebelah. Akan tetapi seperti kemarin, ruang belajar Juxiong malam itu kembali gelap.

Yan Hong memasuki kamar Yulan pukul tujuh keesokan harinya. Didapatinya nonanya itu duduk di atas ranjang, tepekur dengan lingkaran gelap sama-samar pada kedua matanya.

Yanhong mengambil sebuah gaun merah yang paling elok dari peti. Gaun itu dibuat Yulan berbulan-bulan lalu sebagai gaun pernikahannya kelak. Kini, gaun itu dibawa ke hadapannya.

“Nona,” ujar Yanhong. “Saatnya hampir tiba…”

***
Di ruang tamu rumah keluarga Chen telah dipasang altar merah untuk menghormati Langit. Tuan Chen dan Para Tetua bersembahyang di sana, memohon yang terbaik bagi si Nona Anggrek. Sebuah pengumuman di kertas besar tertempel di dinding rumah keluarga Chen memberitahukan khalayak ramai tentang peristiwa ini. Dalam waktu tidak kurang dari dua jam, orang-orang telah ramai berkerumun di sana.

Menjelang acara pelemparan bola bersulam, sekelompok pria pendatang tengah berjalan-jalan di Baisha. Mereka keheranan melihat rombongan-rombongan orang berjalan ke sebuah rumah.
Di antara mereka, terdapat seorang pemuda berusia dua puluh tahun. Parasnya sangat tampan. Dia bertanya keheranan, “Orang-orang itu hendak kemana? Mengapa mereka begitu tergesa-gesa?”

Salah satu pria di kelompok itu mencegat seseorang. “Tuan, aku lihat kau dan orang-orang itu terburu-buru ke suatu tempat. Kalian akan kemana?”

Orang yang dicegat itu menatap mereka. Sejurus kemudian dia berkata, “Kalian pasti bukan orang Baisha. Hari ini, Tuan Besar Chen si pedagang sutra itu akan melaksanakan acara pelemparan bola bersulam untuk mencarikan suami bagi putrinya.”

“Tuan Chen akan langsung menikahkan putrinya dengan pemuda yang berhasil menangkap bola bersulam itu,” kata orang itu sebelum dia buru-buru mohon pamit.

“Melempar bola untuk mencari suami? Aku belum pernah melihat yang seperti itu di Beijing,” ujar pria lain di kelompok itu.

“Ya, aku juga…,” sahut yang lain.

“Kita harus melihat acara itu. Ini hal langka.”

“Tapi di sana banyak orang. Terlalu beresiko bagi keselamatan Tuan Besar.”

“Tapi bukankah Tuan Besar keluar untuk melihat-lihat kehidupan rakyat jelata? Dan ini merupakan hal yang belum pernah Beliau lihat sebelumnya.”

Satu pria di tengah-tengah kelompok itu, yang berpakaian paling bagus dan mengenakan topi sutra hitam-dari tadi hanya diam saja. Tapi dia menyimak pembicaraan dan perdebatan orang-orangnya sambil merentangkan kipas lipatnya. Pria itu berusia pertengahan lima puluhan. Punggungnya tegak dan tampanganya berwibawa.

Akhirnya, pemuda yang paling tampan dan pertama kali berbicara itu menanyai pria tersebut.

“Tuan Besar, apakah Anda mau melihat keramaian itu?”

Pria mengipas pelan sambil berpikir. Sesaat kemudian dia tersenyum. “Hidup hanya sekali. Mengapa kita harus melewatkan hal semenarik ini?”

Maka kelompok itu pun berjalan menuju rumah keluarga Chen.

***
Menjelang pukul sepuluh, orang-orang ramai berkerumun di depan rumah keluarga Chen. Tidak terkecuali sekelompok pria pendatang itu. Meski tidak bermaksud ikut ambil bagian dalam pelemparan bola, mereka berdiri di sebuah tempat yang bisa melihat acara itu dengan jelas.

Sekitar pukul sepuluh pagi, Tuan Besar Chen muncul di depan pintu rumahnya dan mengumumkan, “Saudara-saudaraku, hari ini putriku, Chen Yulan akan melempar bola bersulam untuk mencari suami. Siapa pun pemuda bujangan berumur delapan belas hingga dua puluh lima tahun boleh mengikuti acara ini. Tapi jika bola jatuh kepada pria yang sudah beristri atau usianya tidak memenuhi syarat, putriku berhak melempar bola sekali lagi.”

Tidak lema kemudian, Yulan muncul di atas loteng depan rumahnya. Dia tampak cantik sekali dalam balutan gaun merah dan dandanan apiknya hari itu. Tangannya memegang bola bersulam.

Meski sapuan bedak dan pemerah pipi menghiasi, Yulan tetap tak mampu menghilangkan kecemasan yang timbul di wajahnya. Dia mengedarkan pandangannya berkeliling. Ada begitu banyak orang. Sebagian besar begitu antuasias dengan melompat-lompat dan menyeru-nyerukan namanya. Namun di tengah kerumunan orang banyak itu, sesuatu seperti magnet berhasil menarik pandangan Yulan. Lin Juxiong berdiri di antara kerumunan, dekat dengan sekelompok pria yang sepertinya pendatang. Ekspresi wajahnya datar dan kedua tangannya terlipat ke dada.

Yulan segera mengarahkan bolanya ke Juxiong. Tahu maksud Yulan, dengan ragu-ragu Juxiong malah mundur selangkah. Awalnya, Yulan agak kecewa. Tapi kemudian dia berpikir, “aku tahu perasaanmu yang sesungguhnya. Jika bola bersulam ini betul jatuh ke tanganmu, kau pasti tak bisa menolakku lagi.”

Diangkatnya kedua tangannya. Bola bersulam siap dilempar. Dalam hati Yulan berdoa, “Lao Tian, jika Engkau bermurah hati kepada hamba, ijinkanlah bola ini jatuh kepada Lin Juxiong.”

Bola terlempar, bergelinding jatuh ke arah keramaian. Orang-orang bersorak-sorak. Ada yang berusaha menangkap bola, ada pula yang menepuk atau melempar bola ke arah lain sehingga menjadikan acara ini lebih seru. Bola bersulam ditepuk beberapa kali, menggelinding berkali-kali hingga akhirnya…

Lin Juxiong berusaha mengelak ketika sebuah bayangan datang hendak mengenainya. Dengan sigap dia menangkap bayangan itu, memeluknya erat hingga terjatuh. Ketika hendak berdiri, barulah Juxiong sadar kalau bayangan itu merupakan sebuah benda. Orang-orang sekitarnya mendadak berhenti berteriak. Pandangan mereka berpusat pada Juxiong. Dan Juxiong terpengarah-ketika merasakan benda yang dipegangnya empuk. Bola bersulam itu! Lin Juxiong mendapatkan bola bersulam itu!

Pemuda tampan dari kelompok pendatang itu menghampiri Juxiong. Sambil menepuk bahu Juxiong dia berkata, “Wah, selamat! Kau rupanya yang menjadi suami Nona Chen. Siapa namamu?”

Juxiong menjawab dengan kikuk. “Lin…,” dia menelan ludah. “Namaku Lin Juxiong.”
Pemuda tampan itu bersorak dan bertepuk tangan. “Jadi, calon suaminya adalah Lin Juxiong!”

Kebahagiaan menguar pada diri Yulan begitu melihat Juxiong menggenggam bola bersulamnya. Saking bahagianya sampai dia hendak menangis. Langit telah mendengar serta mengabulkan doanya.

Tuan Chen juga sudah sampai di tempat Juxiong menangkap bola. “Kau?” dia tercekat. “Kau yang menangkap bola itu?”

”Memangnya kenapa Tuan Chen?” tanya si pemuda tampan. ”Apakah kau keberatan dengannya?”

Tuan Chen tak bisa menjawab. Salah satu dari kerumunan orang berteriak, ”Lin Juxiong itu tetangga keluarga Chen. Rumah mereka bersebelahan.”

”Memangnya kenapa kalau Lin Juxiong adalah tetangga Tuan Chen? Tuan Chen tidak bilang kalau tetangganya tidak boleh mengikuti acara ini,” sahut si pemuda tampan. ”Saudara Lin, berapa usiamu? Apakah kau sudah menikah?”

”Tahun ini usiaku dua puluh satu dan belum menikah.”

”Nah, dia pemuda yang syaratnya sesuai dengan pengumuman Tuan Chen. Apanya lagi yang salah?”

Orang lain di kerumunan itu berteriak lagi, ”Jangan-jangan, ini hanya akal-akalan saja. Mungkin semua sudah diatur Tuan Chen agar yang menikahi putrinya adalah tetangganya sendiri. Ini tidak adil! Bolanya harus dilempar sekali lagi.”

Mendadak seluruh kerumunan berteriak, ”Ya, bolanya harus dilempar sekli lagi! Harus!”

Juxiong mengalah. Dengan sedikit kecewa, dia menyerahkan kembali bola tersebut kepada Tuan Chen. ”Mintalah Yulan untuk melempar bolanya sekali lagi, Tuan. Aku sadar tak pantas bersanding dengannya. Aku hanya pemuda biasa. Untuk mengurus diri dan Ibuku yang telah tua pun masih pas-pasan-mana mungkin aku berpikir macam-macam untuk menikahi putrimu?”

Tuan Chen merasa amat sayang. Dari atas loteng, Yulan menyaksikan semua itu dengan kecewa. ”Aku tak mau melempar lagi!” serunya. ”Aku tak mau melempar lagi sekalipun kalian semua memaksaku!”

Sambil menangis, dia berlari masuk ke dalam rumah.

Kerumunan menjadi geger. Sampai semua menjadi senyap kembali ketika pria yang mengepalai kelompok pendatang itu berseru,

”Saudara-saudara sekalian, harap tenang!”

Hening seketika. Semua orang memandang ke arah pria yang suaranya tegas dan berwibawa itu.

”Aku melihat tak ada yang salah pada Lin Juxiong. Dia pemuda yang memenuhi syarat seperti yang diminta Tuan Chen.”

Pria itu lalau berkata kepada Juxiong, ”Lin Juxiong, dari nada bicaramu kau sepertinya terpelajar. Tidakkah kau ingin mengikuti ujian kerajaan untuk meniti karir di pemerintah?”

Juxiong menjawab, ”Saya pernah mengikuti ujian tingkat kabupaten empat tahun lalu dan lulus. Akan tetapi tidak bisa mengikuti ujian kerajaan di ibukota tahun berikutnya karena Ayah saya meninggal.”

”Rupanya begitu,” gumam pria tersebut. “Tuan Fu,” katanya kepada salah satu pengikutnya. ”Berikan hadiahku kepada Lin Juxiong.”

Seorang pria paruh baya maju. Dari tangannya dia menyerahkan dua tael uang emas. Seluruh penonton di kerumunan langsung berdecak kagum.

“Lin Juxiong,” panggil pria yang bernama Tuan Fu itu. “Ini hadiah dari Tuan kami. Terimalah sebagai mas kawinmu. Kelak setelah menikah tetaplah belajar dengan giat. Setelah itu datanglah ke Beijing musim dingin nanti untuk mengikuti ujian kerajaan.”

Lin Juxiong ragu-ragu menerima pemberian tersebut. ”Aku...”

”Anak muda,” ujar Tuan Fu lagi. ”Tuanku adalah orang penting di Beijing. Dia akan merasa tidak senang jika kebaikan kecilnya ini kau tolak.”

Lin Juxiong berkowtow mengucapkan terima kasih lalau mengambil kedua tael emas itu dari Tuan Fu.

Pria yang disbut ’orang penting’ itu lalu melihat kepada Tuan Chen. ”Tuan Chen, apakah kau mempunyai kuas, tinta dan sebuah kertas panjang?”

Menyadari kalau-kalau para pendatang ini adalah pejabat Manchu yang tengah menyamar, Tuan Chen segera menyahut, ”Ada. Akan segera kuambilkan.”

Tak lama, ketiga barang tersebut pun muncul. Salah seorang pengikut pria penting itu membungkukkan badan. Kertas panjang digelar di atas punggungnya. Pengikut lainnya menahan kertas dan si pria penting mulai menulis empat buah huruf kaligrafi.

’Pernikahan yang direstui Langit’.

Keempat huruf kaligrafi itu begitu elok. Terakhir, si pria penting membubuhkan capnya lalu kertas itu diberikan kepada Tuan Chen.

”Anggap ini hadiah pernikahan dariku.”

Gugup, Tuan Chen menerima kertas itu. Dia berkowtow sambil menghaturkan terima kasih. ”Tuan,” katanya kemudian. ”Bagaimana saya memanggil Anda?”

Pria penting itu tersenyum simpul. ”Aku biasa dipanggil Tuan Ai.”

“Oh, Tuan Ai, kalau begitu mari masuk dan mengikuti upacara pernikahan ini,” ajak Tuan Chen.

Tangan Tuan Ai melambai menandakan penolakan. ”Kau baik sekali, Tuan Chen. Tapi kami hanya mampir dan masih ada urusan lain,” katanya sambil tertawa.

Setelah itu Tuan Ai berkata kepada kelompoknya,”Kita sudah cukup melihat-lihat, mari pergi!”

Semuanya lalu bertukar salam perpisahan dan kelompok Tuan Ai itu pun berlalu.

Kerumunan orang-orang pun tak ada yang berani memprotes lagi. Tuan Chen membimbing Juxiong memasuki rumahnya sambil berkata, ”Mari, menantuku. Upacara pernikahanmu akan segera dimulai.”

Dari atas loteng Yanhong dan beberapa pelayan wanita menyaksikan semuanya. Mereka bersukacita berlari menemui Yulan di kamarnya sambil berseru,

”Nona Anggrek, berhentilah menangis. Langit telah memilihkan calon suami yang tepat bagimu. Dialah Lin Juxiong.”


TAMAT


Sumber :
http://merlinschinesestories.blogspot.com

Merlin's Chinese Stories, Merlin Penyihir Penasihat Raja Arthur.
Blog yang memuat hasrat-hasrat terpendam akan cerita-cerita China klasik dan segala cita-cita, impian dan gairah akan kisah-kisah China.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar