Sabtu, 31 Juli 2010

Malaikat Masa Kecilku


Pandanganku mantap pada rel yang akan dilewati kereta yang menjemputku. Kuhabiskan waktu menatap arlojiku berkali-kali menunggunya tiba. Aku belum sempat berpikir bahwa akhir perjalanan yang aku tempuh ini adalah sebuah pemberhentian. Entah mengapa dalam perjalanan ini aku merasa lain dari petualangan-petualangan yang aku jalani sebelumnya. Mungkin karena tujuan yang kupastikan dalam kepergianku ini bukan untuk memenuhi hasratku pada rasa penasaran. Mungkin lebih tepatnya lagi karena rasa lelahku pada keadaan. Maksudku bukan lari dari kenyataan.

Orang berlalu-lalang. Manusia-manusia mengantri seperti ekor ular. Puntung rokok terurai-burai dimana-mana. Pengemis menampang wajah melas di emper-emper. Pengamen terdengar bernyanyi cempreng dengan lagu seadanya. Pedagang asongan menerobos dalam kerumunan. Kumpulan manusia berjalan bermacam arah, ada karyawan, ada guru, ada kyai, ada pengusaha, ada pencopet, ada jambret, ada pula yang tak tahu siapa dirinya. Bermunculan di lautan manusia muka yang penuh serat-serat menggambarkan keresahan dan ketidaksabaran. Kesiur angin kering menampar wajah-wajah dengan hembusan panas yang dibawanya. Orang-orang makin berjejal dipenuhi wangi parfum yang bercampur bau sengak keringat.

Aku duduk di sebuah bangku yang menghampar panjang di sisi sebuah ransel yang dipegang erat oleh seorang laki-laki bersama bocah yang kukira itu anaknya. Kereta yang sedari tadi aku pesan belum tiba juga. Jidatku yang telah berkerut-kerut berpeluh diserang surya yang menyengat. Rupanya aroma sore di stasiun lebih menyesakkan paru-paru daripada menghirup udara di rumah sempitku di Jakarta.

Kepulanganku kali ini belum terkirakan benar. Aku sendiri juga heran mengapa harus pulang yang menjadi jalan pilihanku. Apa aku harus menyangkal bahwa tiap akhir tujuan petualangan adalah pulang ke tanah kelahiran? Tapi entahlah, aku juga tak tahu apa aku masih pantas disebut orang yang kembali ke rumah. Sebab kodratku adalah jalanan. Aku pun tak ingat sudah berapa lama hidup dalam tualang ini. Berbagai macam profesi pernah aku geluti dalam perjalanan hidupku. Dari kernet truk, pedagang asongan, pencopet, hingga jadi seorang gembong.

Aih, getir rasanya mengingat-ingat kecongkakanku pada Sang Pencipta di masa lalu.

“Kelak di akhirat, tiap air wudhu yang membasahi muka kita akan menjadi malaikat yang menjadi penjaga dan saksi kalau kita seorang hamba yang taat beribadah. Maka jangan kamu seka air wudhu yang membasahi wajahmu. Biar nanti malaikat-malaikat itu bersaksi dihadapan Allah”. Abah Hasan menata kembali posisi duduknya.

Hanya sampai segitulah sepotong tausiah Abah Hasan yang bisa aku sadap. Tentang malaikat yang melekat di wajahku kala kuberwudhu. Malaikat yang tak boleh aku usap dari mukaku. Kisah yang hanya aku yang memperolehnya, mengenai malaikat itu, saat langgar mulai sepi dari teman-teman sebayaku. Saat ngaji sorogan Quran telah disudahi pada batas isya’ menjelang. Tangan kecilku yang berjari lunak memijit-mijit kaki Abah Hasan yang tampak benar guratan usianya. Kaki Abah kering dan kecil tapi kelihatan kokoh sekali. Tampaknya Abah Hasan dari mudanya adalah seorang yang gemar bepergian berjalan kaki. Meski tubuhnya kecil, dari otot-otot tubuhnya tampak benar jika Abah Hasan muda adalah orang yang kuat.

Pijatanku berhenti sebab suasana telah luruh oleh kumandang isya dengan bermacam suara yang lantang mengawang di langit. Aku bergegas mengambil malaikatku di sumur samping langgar. Kubasuh mukaku melalui padasan yang darinya mengalir air yang jernih. Mengingat kata Abah Hasan yang baru saja dikatakan, kedua telapak tanganku menengadah di bawah muka berharap agar malaikatku tak jatuh. Jika meleleh maka akan kukembalikan membasahi muka lagi.

“Alhamdulillah isya ini masih ada satu shaf makmum yang ikut berjamaah.”

Aku dengar suara lirih itu dari bibir tua Abah Hasan. Hanya aku yang mendengarnya, suara yang lebih mirip keluh itu. Tapi memang saat aku menoleh ke shaf belakang tak ada satu pun yang berdiri di sana. Hanya satu shaf tempat dimana aku berdiri. Selain aku, shaf tunggal ini pun cuma diisi para orang tua seperti Mbah Sarban, Mbah Paidi, Pak Modin dan dua orang berumur senja dari dusun sebelah yang tidak aku tahu namanya siapa.

“Shalat jamaah itu istimewa, pahalanya dua puluh tujuh derajat dibanding shalat munfarid,” kata Abah Hasan.

“Dalam shalat jamaah, ada makhluk gaib yang ikut shalat bersama kita entah itu jin muslim atau malaikat. Dalam shalat munfarid tidak bisa dijamin dalam shalat itu kita bisa khusyuk. Namun dalam shalat jamaah jika imam tidak khusyuk Maka pahala orang jamaah itu didapat dari salah satu makmum yang khusyuk, jika imam dan makmum tak ada satu pun yang khusyuk, maka pahalanya diperoleh dari makhluk lain yang ikut shalat bersama kita, baik itu jin muslim maupun malaikat,” imbuh Abah Hasan lagi. Kudengarkan dengan seksama.

Abah Hasan adalah orang tua asuhku. Ia merawatku seperti anaknya sendiri. Ia pula yang menyekolahkanku. Aku menumpang dirumahnya yang sempit ini sejak orang tuaku meninggal. Sebelum aku dipungutnya, ia tinggal seorang diri. Istrinya meninggal terkena serangan stroke. Anaknya tiga orang. Semuanya telah berkeluarga tetapi tak ada satu pun yang hidup bersamanya. Bahkan salah satu putranya telah meraih gelar doktor dan tinggal di Malaysia.

Tempat tinggal Abah Hasan selalu sepi. Jika dilihat dari luar terlihat senyap. Rumahnya berbentuk joglo tua. Dindingnya dari kayu. Setahun sekali saja rumah itu tampak berpenghuni. Semua anaknya akan pulang padanya di hari lebaran saja. Selebih dari waktu itu jarang yang berkunjung kecuali aku yang memang tinggal di rumahnya. Abah Hasan telah kuanggap seperti kakekku sendiri. Kadang aku kasihan melihat Abah Hasan di umurnya yang telah memikul angka tujuh puluh tahunan, ia harus jauh dari anak-anaknya. Ia bekerja keras sendirian untuk merapatkan nasi dengan dapur. Aku sempat berpikir itu sangat kontras dengan kesuksesan yang telah diraih anak-anaknya.

Suatu ketika aku bercengkerama dengan Abah Hasan, sebagaimana biasanya aku akan mengeluh padanya mengenai banyak hal. Tentang teman-temanku yang curang main betengan, mengenai aku yang kalah jika bertanding egrang, atau tentang layanganku yang selalu putus jika diadu dengan milik si Abdul. Abah Hasan akan menjadi satu-satunya pendengar setiaku. Aku berceloteh seperti penyiar radio amatir, Abah Hasan hanya tersenyum-senyum mendengarnya. Sesekali ia bertanya dan berkomentar. Kami sering berkelakar bersama di belakang rumahnya sambil Abah Hasan membuatkanku mainan dari bambu.

“Seperti apa wajah malaikat itu, Bah?” tanyaku pada Abah Hasan.

“Malaikat itu tak ada rupanya, ia terbentuk dari cahaya, cahaya yang amat benderang dengan ribuan sayap, dengan kehendak Allah ia bisa menyerupai apa saja, seperti wajah manusia pun bisa, ada yang ditugasi memikul langit, ada yang diberi amanah bertasbih hingga kiamat, ada yang bertugas menyampaikan peringatan Allah kepada manusia”.

Aku terdiam membayangkan ucapan Abah Hasan. Membayangkan malaikat yang diceritakannya. Selain sepuluh malaikat yang dikenalkan dalam pelajaran tauhid di Ibtidaiyahku, ternyata ada malaikat lain, yang tak pernah dikenalkan guruku.

“Ada pula malaikat yang menyerupa tetesan dalam tiap air wudhumu,” tambahnya.

Makanya Abah Hasan menganjurkanku untuk selalu menjaga wudhu; agar aku senantiasa dijaga malaikat, katanya.

Aku dan Abah Hasan mempunyai persamaan hidup; sama-sama hidup sebatang kara. Bedanya, ia masih punya anak yang jadi bagian dari keluarganya. Sedangkan aku tak punya siapa-siapa lagi, saudara ayah dan ibu pun aku tak tahu sama sekali.

Tak terdengar reriuhan di rumah ini. Senyap.

“Hidup di alam barzah itu seperti apa rasanya, Bah?”

Abah diam. Tapi bukan sedang berpikir.

Abah Hasan belum menjawab. Seolah ia sudah menyiapkan jawabannya. Ia hanya tersenyum. Tangannya menepuk sebentar pundakku. Ia seperti lega aku melontarkan pertanyaan itu. Seakan ia telah menunggu dalam waktu yang sangat lama untuk mendengar aku bertanya demikian. Seperti ada kalimat, Aku tahu, Akhirnya kamu akan menanyakannya juga, di lingkaran matanya.

“Kelak kau akan tahu,” jawabnya.

Jawaban itu sudah cukup membuatku terbungkam. Logikaku sudah tak lagi mencari-cari jawaban yang lebih dalam. Memang mati bukan hak manusia untuk mengetahui kapan dan dimana. Ajal sudah menjadi rahasia Sang Pencipta sejak zaman Azali. Tapi bodohnya, manusia sering mendahului. Dengan alasan putus-asalah, tak ada harapanlah, Tuhan tak adil padanyalah, atau bermacam alasan lainnya. Padahal manusia bersikap seperti itu sudah cukup menjadi bukti, kalau manusia yang demikian itu tak mau melihat sisi lain atas apa yang dialaminya.

Tumben. Hari begitu diam. Sepi ini tidak seperti sepi biasanya. Tiap sudut yang aku layangi pandangan terasa begitu beku. Bahkan angin seperti sedang beristirahat. Jalanan pun lengang dari hilir-mudik. Biasanya akan kulihat ibu-ibu yang berduyun-duyun menuju pasar. Tukang kaki lima sudah mendentingkan mangkuk untuk menarik perhatian pembelinya. Bahkan anak-anak sebayaku juga tak tampak sedang berkejar-kejaran, bermain-main, atau sekadar bersenda gurau di dahan pohon mangga.

Batas senja memberi pertanda saatnya Abah Hasan menyudahi sibuknya pada urusan dunia. Dalam remang itulah ia akan pulang memintaku mandi secepatnya dan mengajakku berjama’ah ke langgar. Namun, kala itu menjadi pengalaman terpahit dalam hidupku. Angin tak sedikit pun berhembus mengabari bahwa itu detik terakhir. Orang tua itu tiba-tiba jatuh di hadapanku. Tanpa kata pamit terlebih dahulu, ia meninggalkanku.

Aku bergidik melihat tubuh Abah Hasan telah kaku. Mukanya masih basah oleh basuhan air wudhunya. Nuraniku terkoyak. Badanku merinding. Aku gemetar bukan sebab takut melihat jasad laki-laki tua ini di depan mataku. Tapi karena ingatanku pada sebuah pertanyaan yang malam sebelumnya kutanyakan padanya. Pertanyaanku mengenai alam kematian. Tempat setelah manusia dicabut nyawanya. Aku takut ucapankulah yang menjadi karma yang menimpa Abah Hasan. Malaikat yang kusaksikan di air wudhunya bukan malaikat yang sering kali diceritakannya, tapi malaikat yang hadirnya untuk mengakhiri nafas manusia. Izrail.

“Ya, Allah…Ya Tuhanku, kenapa tidak Engkau sertakan saja aku bersama Abah Hasan. Aku tak punya siapa-siapa lagi, kemana lagi engkau akan membuangku,” Aku masih tak percaya atas apa yang baru saja terjadi. Kutangisi jasad didepanku. Aku merintih sejadi-jadinya. Jika Allah mengehendaki aku ingin membagi sisa umurku di dunia pada Abah Hasan.

Empat puluh hari setelah kematian Abah Hasan , anak-anaknya sepakat menjual rumah reyot itu. Aku sadar diri aku bukan siapa-siapanya, aku hanya anak pungut. Hidupku menumpang padanya. Sebelum mereka berkata padaku keputusanku sudah bulat untuk meninggalkan rumah itu. Kenanganku mengenai Abah Hasan, mengenai malaikat di mukaku, dan mengenai pertanyaanku pada Abah Hasan tentang alam kematian kusimpan rapat dan tak akan lagi aku buka.

***

Ibukota. Ia sudah cukup memberiku banyak pelajaran. Tentang dunia hitamnya yang memenuhi sekujur tubuhku. Kuhabiskan hampir tiga perempat masa hidupku terkungkung dalam dosa. Mulanya aku menggelandang, pikiran awamku, kukira dengan merantau kesana hidup akan berubah menyenangkan. Pekerjaan ringan akan mendatangkan banyak uang, apalagi saat itu aku masih sangat belia, tenagaku masih cukup banyak daya untuk bekerja.

Setibanya pertama kali, keadaan telah suram. Aku hanya bisa luntang-lantung. Untungnya, ada beberapa orang yang kukenal di jalanan mau membawa serta diriku. Aku mengamen, mememetakan terminal demi terminal di Jakarta. Hingga entah dari siapa aku jadi ikut bergabung dengan komplotan pencopet. Hasilnya lumayan tapi aku tak pernah merasa puas dengan yang aku peroleh. Salah satu temanku yang bernama Z, menawariku bekerja sebagai kurir ganja. Upah yang ditawarkan Z menggiurkan. Dari situlah dunia yang lebih hitam kumasuki. Satu, dua, dan beberapa kali aku berhasil tanpa tercium polisi. Keberhasilanku membuat semakin lupa diri, pertemuan dengan M tampaknya itu peringatan dari Sang Kuasa untukku. Kukira M yang aku temui tempo hari adalah pelanggan, ternyata ia polisi yang menyamar. Mengawasi sepak terjangku beberapa kali. Aku tertangkap basah. Sialnya lagi, ulah nakalku berakhir di jeruji besi.

***

Aku sudah bosan melumat pahit ulahku. Aku ingin kembali. Tapi kembali kemana? Bukankah aku memang dari lahir tak punya tempat tujuan? Biarlah perjalanan yang kutempuh ini berakhir tanpa harus kutahu di belahan bumi yang mana. Meski tak bisa putih seutuhnya, paling tidak hidupku tidak hitam legam.

Dari tadi keretaku tak tampak juga. Pemandangan yang ada pun sama. Hanya yang berseliweran saja yang berganti. Jarum jam di arlojiku terasa berjalan pelan sekali. Lelaki dan bocah di sampingku sudah beranjak entah sejak kapan. Rupa-rupa manusia lain telah datang lagi. Kulit mukaku terasa makin mengering.

Abah Hasan. Malaikat di tetesan air wudhu. Masa kecilku. Ah, semuanya seperti terjadi kemarin.

Waktu membiusku sampai-sampai aku lupa asal-muasalku. Aku mendengar gema di langit yang pernah aku lantangkan di masa kecilku. Seruan azan, baru kali ini aku merasa berbeda dengan yang aku dengar saat aku lalai. Kumasuki sebuah mushola kecil di stasiun ini. Aku mengingat-ingat kembali bagaimana caranya wudhu. Kepala tua yang memutih ini sudah tak mampu mengingat. Aku mengamati musafir-musafir lainnya yang hendak mengerjakan shalat ashar, kulihat bagaimana mereka bersuci. Dalam waktu itu kuhafalkan lagi. Seperti dulu saat kecilku diajari berwudhu oleh guru fiqihku.

Aku ikut jamaah. Bukan di barisan depan tetapi paling belakang. Aku malu jika gerakan sholatku salah dan dilihat orang. Aku lupa sudah berapa ratusan ribu rakaat telah aku tinggalkan. Aku telah mantap berniat shalat. Meski aku merasa agak kikuk awalnya. Sebisa mungkin kuberusaha untuk khusyuk. Di tengah shalat, saat aku bangun dari sujud, terdengar suara menggema dari gerbong yang lama aku tunggu. Pikiranku terbuyar. Keretaku telah datang.


Catatan
Padasan: Pancuran dari tanah liat untuk mandi atau berwudhu
Sorogan : Ngaji Quran ada seorang ustad yang menyimak untuk mengoreksi
Munfarid : Sholat sendirian
Betengan: Permainan tradisional Jawa yang berupa kejar-kejaran
Egrang : Permainan tradisional Jawa yang berupa berjalan dengan dua tongkat bambu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar