Rabu, 28 Juli 2010

Pedang Hati Suci (Jilid 1)


ok …. Tak-tok… tok trok tok … taaak!

Begitulah bunji serentetan beradunja dua batang kaju, terkadang berhenti agak lama, menjusul lantas berbunji pula dengan tjepat.

Tempat itu adalah sebuah kampung Moa-keh-po diluar kota Wan-ling di wilajah propinsi Ouw-lam barat. Didepan tiga buah gubuk jang berderetan itu ada seorang kakek sedang menganjam sepatu rumput. Terkadang dia mendongak mengikuti pertarungan antara sepasang muda-mudi dilapangan djemuran padi sana.

Usia kakek itu kira kira setengah abad namun mukanja sudah penuh keriput, rambutnja lebih separuh sudah ubanan, suatu tanda banjak penderitaan pedjuangan hidup. Tapi waktu itu tampak dia mengulum senjum, ia puas terhadap pertandingan pedang sepasang muda-mudi itu.

Pemudi jang sedang bertanding itu berumur antara 17-18 tahun berwadjah bundar, bermata djeli. Keringatnja sudah membasahi keningnja dan mengutjur pula kepipinja. Ketika ia mengusap keringat dengan lengan badjunja, makin tjantiklah tampaknja gadis itu.

Adapun usia pemuda itu lebih tua dua-tiga tahun daripada si gadis. Berperawakan djangkung, kulitnja hitam, tulang pipinja agak menonjol, tangan kasar, kaki besar, itulah tjiri tjiri khas anak petani.Pedang kaju jang dimainkannja itu tampil sangat tjepat dan lintjah.

Sekonjong-konjong pedang kaju pemuda itu menabas dari atas pundak kiri miring kebawah. Menjusul tanpa menoleh pedangnja berputar dan menusuk kebelakang. Namun si gadis sempat menghindar dengan mendekan kepalanja, habis itu iapun membalas menusuk beberapa kali.

Mendadak pemuda itu mundur dua tindak, habis itu ia bersuit panjang sekali, pedangnja berputar, tjepat ia menebas ke kanan dan kekiri beruntun-runtun tiga kali.

Karena kewalahan, tiba tiba si gadis itu menarik pedangnja dan berdiri tegak tanpa menangkis, bahkan omelnja: “Baiklah anggap kau lihay, sudah boleh engkau membatjok mati aku!”

Sama sekali pemuda itu tak menduga bahwa sigadis bisa mendadak berhenti dan tidak menangkis, padahal tabasan ketiga itu sedang dilontarkan kepinggang lawan.

Dalam kedjutnja, lekas lekas pemuda itu hendak menarik kembali serangannja, namun tenaga jang dikeluarkan itu sudah kadung terlalu kuat, “plek”, sekuatnja ia kesampingkan pedangnja, tapi tidak urung lengan kiri sendiri terketok oleh sendjata sendiri. Dalam kaget dan sakitnja tanpa merasa ia mendjerit sekali.

Gadis itu tertawa geli, katanja: “Huh, malu tidak kau? Tjoba kalau sendjatamu itu adalah pedang sungguhan, bukankah lenganmu itu sudah terkutung?”

Wadjah si pemuda jang kehitam-hitaman itu mendjadi merah, sahutnja: “Aku kuatir tabasanku tadi mengenai badanmu, karena itu tanganku sendiri jang terkena. Kalau benar2 mau bertempur dengan musuh, masakan orang mau mengalah padamu? Suhu, haraplah engkau memberi pendapat jang adil? Apa betul tidak kataku ini?”

Kata terachir ini ia tudjukan pada si kakek jang masih asjik menjelesaikan sepatu rumputnja itu.

Sambil memegangi sepatu rumputnja jang setengah selesai itu, sikakek berbangkit dan berkata: “Di antara 50-an djurus permulaan kalian itu masih boleh djuga, tapi djurus2 belakangan makin lama semakin tak keruan.”

Ia ambil pedang kaju dari sigadis, ia pasang kuda2 dan melontarkan suatu serangan bergaja miring lalu katanja pula: “Ini adalah djurus “Koh-hong-han-siang-lay” (bandjir datang ber-teriak2), menjusul ini adalah “Si-heng-put-kan-ko” (ketemu lintang tidak berani lewat). Karena melintang maka harus menabas dan tidak boleh menusuk kedepan ….”

Sedang kakek itu asyik mentjerotjos dengan teori ilmu pedangnja, se-konjong2 terdengar suara ketawa orang ter-bahak2 dibalik timbunan jerami sana.

Untuk sedjenak sikakek melengak, tapi setjepat panah ia terus melompat kesana. djangan menjangka sikakek sudah ubanan gerak-geriknja ternjata sangat gesit dan tjekatan, sedikitpun tidak kalah daripada anak muda.

Ia mengira suara orang terbahak itu tentu lagi mentertawai tjaranja dia memberi peladjaran ilmu pedang pada muridnja tadi. Tapi demi melihat siapa orang itu ia menjadi tahu duduknja perkara. Kiranja dibalik timbunan djerami itu berduduk seorang pengemis tua yang lagi sibuk mentjari tuma dari badjunja yang rombeng dan berbau itu lantaran tidak pernah ditjutji.

Sembari mentjari tuma, pengemis itu berjemur diri dibawah sinar sang surya. Ketika dapat menangkap seekor tuma, tjepat-tjepat ia masukkan kemulutnja terus dikeletak lalu ia tertawa ter-bahak2 dan berkata:”Huh, lari kemana kau sekali ini. Ha-ha, kembali seekor lagi!”

Kakek itu tersenjum dan putar balik ketempatnja tadi, ia mengulangi pula permainan beberapa djurus Kiam-hoat tadi. Njata permainannja djauh berbeda daripada kedua anak muda, gerakannja tjepat dan gajanja indah, keruan kedua anak muda-mudi itu merasa kagum tak terhingga hingga bertepuk tangan memudji.

Kakek itu kembalikan pedangnja kepada sigadis, katanja:”Kalian boleh melatih sekali lagi. A Hong djangan main kelakar, tadi kalau bukan Suko sengadja mengalah, tentu djiwamu sudah melayang!”

Gadis itu meleset lidah sekali, mendadak pedangnja terus menusuk dengan tjepat luar biasa.

Pemuda itu belum lagi ber-siap2, dalam keadaan kelabakan ia masih sempat menangkis. Tapi karena telah didahului sigadis ia menjadi ketjetjar hingga untuk semenatar tak mapu melantjarkan serangan balasan.

Ketika dia sudah terdesak dan tampaknja segera akan kalah, tiba2 dari arah timur sana ada suara derapan kuda jang ber-detak2. Seorang penunggang kuda tampak mendatang dengan tjepat sekali.

“Siapakah itu jang datang?” kata sipemuda.

“Sudah kalah djangan main belit! Siapapun jang datang tiada sangkut-pautnja dengan engkau!” bentak sigadis dan be-runtun2 ia menjerang tiga kali pula.

Sekuatnja pemuda itu menangkis sambil mendjawab dengan gusar: “Memangnja apa kau sangka aku djeri padamu?”

“Mulutmu jang tidak djeri, tapi hatimu takut!” sahut sigadis sambil menusuk kekanan dan kekiri, dua serangan jang tjepat dan indah.

Tatkala itu sipenunggang kuda tadi sudah dekat dan memberhentikan kudanja, melihat serangan sigadis itu, tak tertahan lagi ia berseru: “Bagus! Serangan hebat! Thian-hoa-loh-put-tjin, Kau-dju-niu-ham-hui!” (bunga dilangit bertebaran, di-mana2 burung terbang mentjari makan).”

Mendengar itu, sigadis bersuara heran sekali dan mendadak melompat mundur untuk mengamat-amati pendatang asing itu. Ia lihat orang berusia antara 23-24 tahun, berdandan perlente sebagai lazimnja putera hartawan dikota.

Tanpa merasa wadjah sigadis mendjadi merah djengah, serunja kepada sikakek: “Tia (ajah), ken………… kenapa dia tahu?”

Memangnja sikakek djuga sedang heran demi mendengar sipenunggang kuda itu dapat menjebut nama2 tipu serangan gadisnja tadi, maka ia bermaksud menegurnja.

Sementara itu, sipenunggang kuda sudah lantas melompat turun dan mendekati sikakek, ia memberi hormat dan berkata: “Numpang tanja, Lo-tiang, di Moa-keh-po sini ada seorang ahli pedang, namanja Djik Tiang-hoat, Djik-loyatju, dimanakah tempat tinggalnja?”

“Aku sendirilah Djik Tiang-hoat,” sahut sikakek itu. “Untuk apakah Toaya (tuan) mentjarinja?”

Segera pemuda gagah itu mendjura ketanah, katanja: “Wanpwe bernama Bok Heng, dengan ini memberi hormat kepada Susiok. Wanpwe diperintahkan Suhu untuk mentjari Djik-susiok.”

“Haha, djangan sungkan2, tak usah banjak adat!” sahut Djik Tiang-hoat dengan tertawa sambil membangunkan pemuda itu.

Ketika tangan memegang tangan, ia sengadja kerahkan sedikit tenaga dalam hingga separoh tubuh pemuda itu mendjadi kaku linu.

Dengan muka merah Bok Heng berbangkit, katanja: “Wah, Djik-susiok telah mengudji Wanpwe, sekali ketemu Wanpwe sudah memalukan.”

“Lwekangmu memang masih kurang kuat,” udjar Tiang-hoat dengan tertawa. “Kau adalah murid keberapa dari Ban-suko?”

Kembali muka Bok Heng merah djengah, sahutnja: “Wanpwe adalah murid Suhu jang kelima. Biasanja Suhu suka memudji Lwekang Djik-susiok sangat tinggi, mengapa baru ketemu sudah gunakan Wanpwe sebagai pertjobaan?”

Djik Tiang-hoat ter-bahak2, katanja: “Apakah Ban-suko baik2 sadja? Sudah belasan tahun kami tidak bertemu.”

“Berkat pudji Susiok, beliau sangat baik,” sahut Bok Heng. “Kedua Suko dan Sutji ini tentunja murid2 pilihan Susiok bukan?”

Segera Djik Tiang-hoat memanggil sipemuda dan sigadis tadi: “A Hun, A Hong, hajo lekas kemari menemui Bok-suko. Nah, ini adalah muridku satu2nja Tik Hun, dan ini adalah puteriku A Hong. Ala, dasar gadis desa, pakai malu2 segala, Bok-suko adalah orang sendiri, kenapa mesti malu?”

Kiranja Djik Hong lagi mengumpet dibelakangnja Tik Hun, dengan likat ia sedang tersenjum sambil mengangguk sadja.

Sebaliknja Tik Hun lantas menjapa: “Bok-suheng, Kiam-hoat jang kau peladjari serupa dengan kami punja bukan? Kalau tidak, masakah sekali lihat engkau lantas dapat menjebutkan tipu serangan Sumoay tadi?”

“Tjuh!” tiba2 Djik Tiang-hoat meludah keras2 ketanah. “Gurumu dan Suhunja adalah saudara seperguruan, Kiam-hoat jang dipeladjari dengan sendirinja adalah sama, masakah perlu tanja lagi?” demikian serunja dengan dongkol oleh ke-tolol2an muridnja itu.

Kemudian Bok Heng mengeluarkan empat matjam hadiah dari dalam rangsal jang tergantung diatas kuda dan dipersembahkan kepada Tiang Hoat, katanja: “Djik-susiok, Suhu mengirim sedikit hadiah ini, harap Susiok sudi menerimanja.”

Tiang-hoat mengutjapkan terima kasih, lalu suruh puterinja Djik Hong menerima barang2 itu.

Waktu Djik Hong membawa barang2 hadiah itu kedalam kamar dan memeriksanja, ia lihat isinja adalah sepotong badju kulit domba rangkap kain sutera, sebuah gelang kemala hidjau, sebuah kopiah beluderu dan sepotong djas tutup laken hitam.

Dengan ketawa2 segera Djik Hong membawa barang2 itu keluar sambil berseru: “Tia, tia! Selamanja engkau tidak pernah memakai badju sebagus ini, kalau dipakai, wah, engkau bukan lagi pak tani, tapi mirip kaum hartawan dan orang berpangkat!”

Melihat barang2 itu, Djik Tiang Hoat djuga terpesona………

Malamnja diadakan perdjamuan sederhana, empat orang mengelilingi sebuah medja. Sebelumnja Tik Hun pergi membeli tiga kati arak diwarung kampung sana, Djik Hong menjembelih seekor ajam gemuk dan memetik pula sajur tanamannja sendiri diladang, ia masak senampan Pek-tjam-khe (ajam masak dipotong2), sepiring Tjay-sim-keh-kiu (ajam goreng sawi). Ketjuali itu ada pula satu mangkok atjar tjabe merah jang besar2.

Waktu Djik Tiang-hoat menanjakan maksud kedatangan Bok Heng.

Segera pemuda itu berkata: “Suhu menjatakan sudah belasan tahun tidak berdjumpa dengan Susiok, beliau sangat kangen dan sebenarnja susah lama ingin bisa mengundjungi tempat tinggal Susiok sini, tjuma Suhu setiap hari harus melatih ‘Soh-sim-kiam-hoat’ hingga tak dapat tinggal pergi …….”

Waktu itu Tiang-hoat sedang angkat mangkok araknja, baru sadja dihirupnja sekali, se-konjong2 ia mendengar utjapan Bok Heng itu, seketika arak jang sudah dihirup kedalam mulut itu dimuntahkan kedalam mangkok lagi dan tjepat menanja: “Apa katamu? Gurumu sedang melatih ‘Soh-sim-kiam’?”

Wadjah Bok Heng ber-seri2, sahutnja: “Ja, tanggal lima bulan jang lalu Suhu telah berhasil menjelesaikan Soh-sim-kiam jang hebat itu.”

Karuan Tiang-hoat bertambah kaget, ia gabrukan mangkok araknja kemedja hingga sebagian isinja muntjrat keluar dan membsahi medja dan lengan badjunja. Ia ter-mangu2 sedjenak, tapi lantas ter-bahak2. Mendadak ia tepuk keras2 diatas pundak Bok Heng sambil berseru: “Ha-ha-ha, dasar Suhumu itu memang sedjak ketjil sudah suka membual. ‘Soh-sim-kiam’ itu bukan sadja kakek-gurumu tidak berhasil melatihnja, bahkan bujut-gurumu djuga tidak bisa, apalagi kepandaian gurumu djuga tjuma begitu sadja, hahaha, djangan kau tjoba menipu Susiokmu, haha! Marilah minum!”

Segera ia angkat mangkoknja tadi dan dituang kedalam kerongkongannja. Menjusul ia tjomot sebuah tjabe merah jang besar terus diganjang mentah2.

Namun Bok Heng tidak terpengaruh oleh kata2 sang Susiok, katanja pula: “Ja, memang Suhu sudah menduga pasti Susiok, takkan pertjaja, makanja tanggal 16 bulan jang akan datang kebetulan adalah ulang tahun Suhu jang ke-50, beliau mengundang Susiok bersama Sute dan Sumoay sudilah datang ke Heng-tjiu untuk menghadiri perdjamuan sederhana. Pesan Suhu kepada Wanpwe agar Susiok betapapun harus berkundjung kesana. Kata Suhu, beliau kuatir ‘Soh-sim-kiam’ jang baru djadi dilatihnja itu mungkin masih ada kekurangannja, maka Susiok diminta suka memberi petundjuk dimana perlu.”

Wadjah Djik Tiang-hoat agak berubah, tanjanja kemudian: “Djika begitu, apakah Dji-susiok Gian Tat-peng djuga sudah kau undang kesana?”

“Djedjak Gian-djisusiok tidak tertentu, maka Suhu sudah mengirim Djisuko, Samsuko dan Sisuko untuk mentjarinja keberbagai pendjuru. Apakah Djik-susiok sendiri pernah mendengar kabarnja Gian-djisusiok?”

Tiang-hoat tidak mendjawab, ia hanja menghela napas, kemudian katanja:” Diantara saudara seperguruan kami bertiga, ilmu silat Djisuhengku jang paling tinggi. Kalau dia jang berhasil mejakinkan ‘Soh-sim-kiam-hoat’ mungkin masih dapat kupertjajai. Tetapi sekarang kau mengatakan Suhumu sudah berhasil mejakinkannja, hehe, aku tidak pertjaja, aku tidak pertjaja!”

Terus sadja ia samber potji arak dan menuang penuh mangkoknja, sambil mengangkat mangkok arak itu, ia tidak lantas meminumnja, tapi mendadak ia berseru: “Baik, tanggal 16 bulan depan aku pasti datang ke Heng-tjiu untuk memberi selamat ulang tahun kepada gurumu sekalian aku ingin lihat matjam apakah tentang ‘Soh-sim-kiam’ jang katanja telah berhasil dijakinkannja itu!”

Habis berkata, kembali ia gabrukan mangkok araknja hingga isinja muntjrat keluar, kembali medja itu bandjir arak lagi.

**********

Tiga hari kemudian sesudah Bok Heng mohon diri pulang ke Heng-tjiu. Pagi itu dengan tjemas Djik Hong membuntuti seekor sampi jang sedang dituntun sang ajah menudju keluar kampung.

“Tia,” demikian kata sigadis dengan suara murung, “kalau Tay Hong (si kuning) engkau djual, tahun depan tjara bagaimana kita harus meluku sawah?”

“Tahun depan adalah urusan tahun depan, tak usah dipikirkan!” sahut Djik Tiang-hoat.

“Tia-tia, bukankah baik2 kita tinggal disini? Biarpun desa, hidup kita aman tenteram. Untuk apakah mesti pergi kekota Heng-tjiu segala? Peduli apa Ban-supek berulang tahun, masakah mesti mendjual Tay Hong guna sangu perdjalanan, kukira tidak perlu kita berbuat begitu.”

“A Hong, ajah sudah berdjandji pada Bok Heng, maka harus berangkat kesana. Seorang laki2 sedjati sekali sudah omong, mana boleh didjilat kembali? Biarlah kubawa kau dan A Hun kesana untuk menambah pengalaman, djangan selama hidup mendjadi gadis desa sadja!”

“Apa djeleknja mendjadi orang desa? Aku djusteru tidak pingin pengalaman apa segala. Sedjak ketjil aku jang mengangon Tay Hong hingga besar, Tay Hong adalah satu2nja kawan kita jang paling setia. Lihatlah, Tia-tia, Tay Hong sedang menangis, ia tidak mau digiring pergi!”

“Nona bodoh! Sampi adalah binatang, dia tahu apa? Hajolah tinggal dirumah sadja kau!”

“Tidak, Tia, Tay Hong djangan kau djual, tentu dia akan disembelih jang membeli, aku tidak tega.”

“Tidak, orang takkan menjembelihnja, tapi orang membelinja untuk meluku sawah.”

“Tia-tia berdusta! Apa jang dibitjarakan sidjagal Ong dengan engkau kemarin? Tentu Tay Hong dibeli olehnja untuk disembelih. Tia, lihatlah itu, Tay Hong sedang menangis. O, Tay Hong, aku tak mau ditinggalkan olehmu. Hun-ko, Hun-ko! Kemarilah lekas, Tia-tia hendak mendjual Tay Hong……..”

“A Hong, sebenarnja ajah djuga tidak tega mendjual Tay Hong. Akan tetapi kita sudah menjanggupi Supekmu untuk datang kesana memberi selamat ulang tahun padanja, dengan sendirinja kita takbisa pergi dengan tangan kosong. Pula engkau dan A Hun djuga perlu mendjahit beberapa potong badju baru agar tidak dipandang hina orang. Supekmu omong besar katanja sudah berhasil mejakinkan ‘Soh-sim-kiam-hoat’, aku djusteru tidak pertjaja dan ingin menjaksikannja dengan mata kepala sendiri. Nah, anak baik, tinggallah engkau dirumah!”

“Tay…….. Tay Hong!” ratap Djik Hong dengan ter-guguk2. “Kalau kau hendak disembelih orang melawanlah dengan tandukmu, lalu lari…… lari kembali sini. Ti…….. tidak! Orang tentu akan mengedjar kemari, lebih baik kau lari se-djauh2nja, ja, lari sadja kegunung……..”

**********

Setengah bulan kemudian, “Tiat-so-heng-kang” Djik Tiang-hoat, sirantai badja melintang disungai, bersama muridnja, Tik Hun dan puterinja, Djik Hong, telah sampai dikota Heng-tjiu.

Waktu ia tanja dimana rumahnja “Ngo-in-djiu” Ban Tjin-san, sitangan pantjawarna, orang jang ditanja mendjawab: “Masakah rumahnja Ban-lo-enghiong jang termasjhur masih perlu tanja? Itu dia gedung jang paling besar, jang pintu gerbangnja bertjat merah!”

Tiang-hoat mengutjapkan terima kasih dan segera menudju kearah jang ditundjuk.

Ia memakai badju kulit baru hadiah dari Ban Tjin-san itu. Tik Hun dan Djik Hong djuga memakai badju baru. Namun demikian ketiga orang itu tidak terlepas dari lagak-lagu orang desa jang ke-tolol2an.

Ketika sampai didepan gedung keluarga Ban itu, tertampaklah gedung itu penuh dihias lampion jang berwarna-warni, tetamu hilir mudik tak ter-putus2. Mereka mendjadi ragu2 untuk memasuki gedung jang mentereng itu.

Selagi Djik Tiang-hoat hendak menanja pendjaga, tiba2 dilihatnja Bok Heng lagi berlari keluar, karuan ia sangat girang, tjepat ia berseru: “Bok-hiantit, aku sudah datang!”

Dengan gembira Bok Heng lantas menjambut kedatangan mereka sambil menjapa: “Hai, Dji-susiok telah tiba! Selamat datang, selamat datang! Memangnja Suhu sedang memikirkan Susiok jang belum djuga kelihatan. Marilah masuk!”

Dan begitu Djik Tiang-hoat melangkah masuk, rombongan musik lantas membunjikan lagu penjambutan. Ketika mendadak terompet ditiup, Tik Hun mendjadi kaget, hampir2 ia berlari keluar lagi. Maklum anak desa!

Sampai diruangan pendopo, tertampaklah seorang tua bertubuh kekar tegap sedang asjik beramah-tamah dengan para tamu.

“Toasuko, aku sudah datang!” segera Djik Tiang-hoat menjapa.

Orang tua tadi tertjengang sekedjap se-akan2 tidak mengenalnja lagi. Tapi segera iapun menjongsong kedatangan sang Sute itu dengan ber-seri2, serunja sambil ter-bahak2: “Ha-ha-ha-ha! Lo-sam, mengapa engkau sudah begini tua nampaknja, hampir2 aku pangling!”

Dan selagi kedua saudara seperguruan itu hendak berdjabatan tangan untuk menjatakan kegembiraan masing2, tiba2 hidung mereka mengendus bau busuk kotoran. Menjusul terdengarlah suara seorang jang mirip gembreng petjah sedang membentak: “Ban Tjin-san, utangmu sepitjis padaku belasan tahun jang lalu, sekarang akan kau bajar kembali tidak?”

Tjepat Djik Tiang-hoat menoleh, maka tertampaklah ada seorang mendjingdjing satu ember kaju jang berisi air kotoran manusia sedang digebjurkan kearah Ban Tjin-san.

Gerak-gerik Djik Tiang-hoat sangat tjepat, segera ia tarik badju kulitnja jang pandjang itu hingga kantjing badju putus semua, menjusul badju itu lantas ditjopot dan setjepat kilat terus dipentang hingga mirip lajar dan dialangkan untuk menahan kotoran jang menghambur tiba itu. Bahkan ia terus dorongkan lajar badju itu kedepan hingga air kotoran itu berbalik hendak menjiram tuannja.

Tjepat orang itu lemparkan ember kotoran jang dilawannja sambil melompat kesamping. Maka terdengarlah suara gemerantang dan gedebukan, ember kaju itu bersama badjunja Tiang-hoat jang penuh kotoran itu djatuh kelantai semua hingga lantai pendopo itu berlumuran kotoran jang berbau batjin. Saking tak tahan, banjak tamu jang terpaksa mesti menekan hidung.

Ternjata orang itu penuh berewok jang pendek kaku, badannja tinggi besar, dengan gagah ia berdiri tegak sedang ter-bahak2 mengedjek: “Hahaha! Ban Tjin-san, djauh2 aku datang kemari untuk memberi selamat ulang tahunmu, karena tidak membawa kado apa2, hanja emas murni berlaksa tahil inilah jang bisa kupersembahkan!” Ia berkata sambil menuding “pisang goreng” dan “leleh kuning” jang penuh berserakan dilantai itu.

Karuan murid2 Ban Tjin-san jang berdjumlah delapan orang itu mendjadi murka. Masakah ruangan perdjamuan jang sudah dipadjang indah itu mendadak dikatjau orang hingga berbau busuk sedemikian rupa. Seketika mereka merubung madju hendak membekuk pengatjau itu untuk dihadjar setengah mati.

Namun Ban Tjin-san keburu membentak: “Berhenti semua!”

Mendengar perintah sang guru itu, kedelapan murid itu tidak berani membangkang. Terpaksa mereka berdiri ditempat masing2 dengan mengepal tangan. Murid kedua, Tjiu Kin, wataknja paling kasar, terus sadja ia memaki kalang kabut dari anaknja sampai kakek-mojang delapanbelas keturunan orang itu ditjatjinja habis2an.

Namun Ban Tjin-san telah dapat mengenali asal-usul siberewok itu, katanja: “E-eh, kukira siapa, tak tahunja adalah Lu-toa-tjetju dari Thay-heng-san jang telah sudi berkundjung kemari. Agaknja paling achir ini Lu-toa-tjetju telah mendjadi orang kaja mendadak, emas intan dirumah sudah ber-lebih2an, maka selalu membawa pula untuk sangu setiap kali bepergian.”

Mendengar bahwa siberewok itu adalah Lu-toa-tjetju dari Thay-heng-san, para tamu jang hadir itu mendjadi gempar dan ramai membitjarakannja.

Kiranja siberewok itu bernama Lu Thong, seorang begal besar sangat lihay di Thay-heng-san, terutama kepandaiannja Liok-hap-to dan Liok-hap-kun sangat disegani kaum Kangouw di sekitar lembah Hongho.

Maka terdengarlah Lu Thong sedang berkata sambil mendjengek: “Hm, 10 tahun jang lalu, tatkala kami bersaudara sedang melakukan pekerdjaan biasa di kota Thay-goan, tapi ada orang jang diam2 telah melapor kepada jang berwadjib hingga usaha kami gagal. Bahkan saudaraku Lu Ho tertangkap dan djiwanja melajang. Dan barulah tiga tahun jang lalu aku dapat mengetahui bahwa pelapor jang budiman itu tak-lain-tak-bukan adalah engkau orang she Ban ini. Nah, bitjaralah betul tidak?”

“Betul! Memang akulah jang telah melaporkan perbuatan kalian itu,” sahut Tjin-san dengan tenang. “Kita orang Kangouw mentjari sesuap nasi dengan djalan merampok dan membegal masih dapat dimengerti. Tetapi saudaramu Lu Ho telah memperkosa anak gadis orang dan sekaligus membunuh empat orang tak berdosa. Hal ini biarpun siapa djuga akan murka, maka aku orang she Ban tidak bisa tinggal diam.”

Kembali para tamu gempar pula oleh keterangan itu. Be-ramai2 mereka memaki: “Bangsat jang terkutuk!” ~ “Perampok andjing, tangkap sadja dia!” ~ “Maling tjabul, berani kau berlagak kerumah Ban-loenghiong sini?”

Namun Lu Thong tidak menghiraukan makian orang banjak itu, mendadak ia melompat kedepan ruangan, ia ajun sebelah tangannja terus memotong keatas pilar, maka terdengarlah suara gemuruh, pilar kaju jang bulat tengahnja belasan senti itu telah dipatahkan olehnja hingga atap rumah itu ambruk sebagian, seketika debu pasir bertebaran diruangan itu.

“Ban Tjin-san, djika engkau benar2 laki2 sedjati, hajolah madju, mari kita tentukan siapa jang akan mati dan hidup!” terdengar Lu Thong berteriak menantang.

Melihat Lu Thong pamerkan kepandaiannja “Tiat-pi-kang” atau ilmu tangan badja, semua orang terkesiap. Mereka terbajang bagaimana djadinja kalau orang kena dihantam oleh pukulan sakti itu.

Namun Ban Tjin-san telah mendjawab dengan tertawa dingin: “Wah, sepuluh tahun tidak bertemu, ternjata kepandaian Lu-toa-tjetju sudah djauh lebih madju. Tjuma sajang manusia matjam kau ini, semakin tinggi kepandaianmu, semakin banjak kedjahatan jang kau lakukan. Meskipun orang she Ban sudah tua bangka djuga ingin minta peladjaran padamu.” ~ sembari berkata, dengan kalem terus sadja ia melangkah madju.

Tapi tiba2 diantara orang banjak itu menerobos keluar seorang pemuda bermata besar dan beralis tebal, diam2 pemuda itu mendekati belakangnja Lu Thong, sekali kedua tangannja bergerak, tjepat sekali ia gantol kedua tangan lawan sambil tangannja menjikap tengkuk orang. Bahkan pemuda itu terus berteriak: “Kau telah bikin kotor badju baru guruku, lekas kau memberi ganti!”

Ternjata pemuda itu adalah Tik Hun, murid tunggal Djik Tiang-hoat.

Segera Lu Thong pentang lengannja dengan maksud hendak mementalkan pemuda jang menjingkapnja dari belakang itu, namun sia2 sadja usahanja, tak terduga olehnja bahwa dasar tenaga pembawaan Tik Hun teramat hebat, apalagi dengan mati2an pemuda itu menjikap sekuatnja.

Untuk menjerang pemuda itu dengan Tiat-pi-kang jang lihay itu terang tidak dapat, sebab pukulan itu harus dilontarkan kedepan atau kesamping, tapi Tik Hun kini menjikapnja dari belakang. Dalam keadaan kepepet dan gusar, mendadak tangan kanan Lu Thong merogoh keselangkangan Tik Hun sambil membentak: “Lepaskan tidak!”

Karuan Tik Hun kaget, kalau serangan musuh kena sasarannja, kan bisa kelengar dia. Terpaksa ia melepaskan musuh.

Lu Thong ternjata sangat tjekatan, begitu terlepas dari sikapan lawan, sekali putar tubuh, kontan ia menghantam dengan tipu “Oh-liong-tam-hay” atau naga hitam masuk kelaut, dada Tik Hun jang diintjar.

Namun Tik Hun sempat melompat mundur sambil berseru: “Aku tidak ingin berkelahi dengan kau. Tapi badju guruku jang baru itu telah kau bikin kotor, badju itu baru pertama kali ini dipakai, kau harus ganti……….”

“Anak dogol mengotjeh apa2an?” bentak Lu Thong dengan gusar.

Tapi Tik Hun tetap tidak mau terima, ia menubruk madju pula sambil berteriak lagi: “Kau mau ganti atau tidak?”

Sebagai anak tani umumnja, ia paling sajang terhadap setiap harta-benda berasal dari hasil keringatnja sendiri itu. Ia lihat badju baru sang guru jang diperolehnja dengan mendjual sampi piaraannja, tapi kini telah dibikin kotor begitu rupa, karuan sadja ia sangat gegetun. Iapun tidak peduli ada perselisihan apa diantara Lu Thong dan Ban Tjin-san, jang dia pikir tjuma badju baru sang guru itu harus mendapat ganti.

“Harap mundur, Tik-hiantit, badju gurumu itu biar nanti aku jang ganti!” segera Tjin-san membudjukinja.

“Tidak, dia jang harus mengganti, kalau dia nanti menggelojor pergi dan engkau djuga tidak mengaku utang, kan rugi Suhu,” demikian kata Tik Hun. Sambil berkata, kembali ia hendak mendjambret dada Lu Thong.

Sudah tentu Lu Thong tidak gampang lagi dipegang, “blang”, kontan Tik Hun malah kena digendjot sekali didadanja hingga pemuda itu ter-hujung2 hampir roboh.

“Hiantit mundur sadja!” seru Tjin-san pula, nadanja sudah agak keras.

Namun Tik Hun sudah kadung kesakitan, matanja mendjadi merah, bentaknja kepada Lu Thong: “Kau tak mau ganti badju orang, sekarang malah menghantam orang pula, kau tahu aturan tidak?”

“Huh, mau apa kalau kuhadjar anak dogol matjammu?” sahut Lu Thong tertawa.

“Akupun balas hadjar kau!” bentak Tik Hun sambil dojongkan tubuhnja kedepan sedikit, tapak tangan kiri pura2 memotong miring, tahu2 tapak tangan kanan jang menjodok kedepan dari bawah.

Lu Thong rada heran djuga, pikirnja: “Ilmu pukulan anak dogol ini masih boleh djuga.” ~ Segera iapun keluarkan silatnja untuk balas menjerang.

Serang-menjerang kedua orang dilakukan tjepat lawan tjepat, maka dalam sekedjap sadja sudah berlangsung belasan djurus.

Sedjak ketjil Tik Hun mendapat didikan Djik Tiang-hoat, setiap hari selalu berlatih dengan sang Sumoay, jaitu Djik Hong, maka pengalamannja dalam hal bertempur sudah banjak baginja. Karena itu, meski Lu Thong adalah seorang tokoh kalangan bandit jang lihay, untuk sesaat djuga takbisa mengalahkan pemuda itu.

Beberapa kali Lu Thong mengeluarkan Tiat-pi-kang untuk memukul, namun selalu dapat dihindarkan Tik Hun dengan gesit, dua kali pundak pemuda itu kena digebuk olehnja, namun dasar kekar kuat dan keras tulang Tik Hun, maka dianggap sepi sadja hantaman2 itu.

Setelah beberapa djurus pula, Lu Thong mendjadi gopoh, ia pikir djauh2 dirinja datang kemari hendak membalas sakit hati, tapi seorang muda kerotjo pihak lawan sadja tak mampu merobohkannja, kalau kedjadian ini tersiar, kemana mukanja harus disembunjikan? Segera Lu Thong ganti ilmu pukulannja, tiba2 ia tjampurkan Kau-kun dan lain2 gaja pukulan kedalam Liok-hap-kun kebanggaannja itu. Ia mentjakar, meraup, meraih, menarik dan menendang; lalu ditambah lagi dengan gaja kutjing andjlok, andjing lari, kelintji mentjolot, elang mabur, kuda mendepak dan gaja lain2nja jang serba aneh dan lutju perubahannja.

Karuan Tik Hun bingung karena tidak pernah menjaksikan permainan silat aneh itu, ber-ulang2 ia kena didepak dua kali dipahanja.

Melihat pemuda itu sudah pasti bukan tandingan musuh, kembali Ban Tjin-san membentak lagi: “Mundurlah Tik-hiantit, engkau tak dapat menangkan dia!”

Namun watak Tik Hun sangat bandel, teriaknja: “Tak bisa menang djuga mesti lawan dia!”

Tapi “blang”, kembali dadanja kena digendjot sekali lagi.

Menjaksikan sang Suko berulang kali dihadjar musuh, Djik Hong mendjadi ikut kuatir, segera iapun berseru: “Suko, berhentilah kau, biar Ban-supek jang bereskan keparat itu!”

Akan tetapi Tik Hun masih terus menjeruduk madju dengan mati2an sambil mem-bentak2: “Aku tidak takut, aku tidak takut!”

“Tjrot”, batang hidung Tik Hun tepat kena ditojor musuh, karuan sadja terus keluar ketjapnja.

Ban Tjin-san mengkerut kening melihat kebandelan pemuda itu, katanja kepada Djik Tiang-hoat: “Sute, dia tidak mau menurut perintahku, harap engkau suruh dia mundur.”

“Biar, dia tahu rasa dulu, sebentar aku jang madju untuk melajani Djay-hoat-toa-tjat (badjingan perusak wanita) itu!” sahut Tiang-hoat.

Pada saat itulah tiba2 dari luar berdjalan masuk seorang pengemis tua jang bermuka kotor, badju dekil dan rambut kusut, sebelah tangannja membawa sebuah mangkok butut, tangan lain memegang tongkat bambu dengan suaranja jang serak2 lemah sedang me-minta2: “Kasihan, tuan! Hari ini tuan besar ada hadjat, sudilah memberi sedekah barang sesuap nasi!”

Tapi karena perhatian semua orang sedang ditjurahkan untuk mengikuti pertarungan Tik Hun jang mati2an sedang melawan Lu Thong, maka tiada seorangpun jang gubris pada pengemis tua itu

“Kasihlah, tuan! Hamba sudah kelaparan. Kasihlah tuan!” demikian pengemis itu me-rintih2 pula sambil madju lebih dekat.

Se-konjong2 pengemis itu terpeleset oleh kotoran jang berlumuran dilantai itu, ia mendjerit dan djatuh kedepan, tangannja kelabakan se-akan2 dipakai menahan kelantai, dan karena itu mangkok dan tongkat bambu jang dipegangnja itu ikut mentjelat dari tjekalannja.

Aneh djuga dan setjara sangat kebetulan, mangkok itu dengan tepat kena timpuk di “Tji-sit-hiat” ditengkuk Lu Thong, sedangkan tongkat bambu itu djuga menutuk “Kiok-tjoan-hiat” dibalik lutut.

Seketika Lu Thong merasa kakinja mendjadi lemas dan tekuk lutut kelantai, berbareng antero tubuhnja terasa linu pegal se-akan2 kehabisan tenaga.

Kesempatan itu tidak di-sia2kan oleh Tik Hun, kedua kepalannja bekerdja susul-menjusul, “blang-bleng” dua kali, badan Lu Thong segede kerbau itu kena dihantam mentjelat dan tepat djatuh tengkurap ketengah petjomberan jang dibawanja sendiri tadi.

Perubahan itu sungguh diluar dugaan siapapun djuga hingga semua orang ternganga heran.

Sementara itu Lu Thong telah merangkak bangun dengan malu, tanpa menghiraukan lagi badannja jang bersemir “emas” itu, dengan sipat kuping ia berlari pergi.

Semua tetamu ter-bahak2 geli, be-ramai2 merekapun mem-bentak2: “Tangkap dia. Djangan lepaskan!”

“Tjegat badjingan itu, tangkap!”

Sudah tentu gemboran orang2 itu hanja sebagai gertakan belaka, tapi Tik Hun sangka sungguh2, iapun ikut berteriak: “Bangsat, ganti dulu badju guruku!”

Sembari berteriak, terus sadja ia hendak mengedjar benar2. Tapi baru dua langkah, tiba2 lengannja terasa dipegang orang dengan kuat hingga takbisa berkutik. Waktu berpaling, ia lihat orang jang memegangnja itu adalah sang guru.

“Kemenanganmu hanja setjara kebetulan, masih kau hendak mengedjar apa?” kata Djik Tiang-hoat.

Djik Hong lantas keluarkan saputangannja untuk mengusap darah dimuka Tik Hun. Ketika melihat badju baru sendiri djuga penuh berlepotan darah, Tik Hun mendjadi kuatir, serunja: “Wah, tjialat, badjuku djuga kotor!”

Dalam pada itu sipengemis tua tadi tampak sedang berdjalan keluar sambil mengomel: “Minta nasi tidak dapat, malahan kehilangan mangkok!”

Tik Hun tahu sebabnja bisa menangkan Lu Thong tadi adalah berkat djatuhnja pengemis itu. Maka tjepat ia merogoh keluar segenggam mata uang, ia lari mendekati pengemis itu dan taruh uangnja ditangan sipengemis.

“Terima kasih, terima kasih!” kata pengemis itu sambil berdjalan pergi.

Malamnja Ban Tjin-san mengadakan perdjamuan makan besar2an untuk menghormati tamu jang datang dari berbagai tempat.

Ditengah perdjamuan sudah tentu banjak orang membitjarakan kedjadian lutju disiang hati itu. Semuanja menjatakan redjeki Tik Hun sangat baik, sudah terang akan kalah, kebetulan datang seorang pengemis dan djatuh terpeleset hingga perhatian Lu Thong terkatjau dan kena dirobohkan Tik Hun.

Ada pula jang memudji njali Tik Hun sangat besar, meski semuda itu, namun sudah berani menempur berpuluh djurus melawan seorang tokoh terkemuka seperti Lu Thong itu. Sudah tentu ada djuga jang menjatakan kemenangan siang tadi adalah berkat Ho-ki tuan rumah jang pandjang umur, kalau tidak, masakah begitu kebetulan datang seorang pengemis dan terpeleset djatuh, lalu musuh dapat dienjahkan.

Dan karena semua orang ramai membitjarakan kemenangan Tik Hun itu, dengan sendirinja membikin kedelapan muridnja Ban Tjin-san merasa risih. Kedatangan Lu Thong itu sebenarnja hendak menuntut balas kepada Ban Tjin-san, tapi anak murid keluarga Ban tidak madju, sebaliknja seorang murid Susiok jang ke-tolol2an model anak desa itu telah madju dan melabrak musuh. Diam2 hati kedelapan murid Ban Tjin-san itu sangat mendongkol, tapi toh tidak terlampiaskan.

Kedelapan murid Ban Tjin-san itu menurut urut2an masing2 bernama Loh Kun, Tjiu Kin, Ban Ka, Sun Kin, Bok Heng, Go Him, Pang Tan dan Sim Sia. Maka sesudah Ban Tjin-san sendiri menjuguhkan arak kepada para tetamu, kemudian bergiliran anak muridnja jang menjuguhkan arak kepada tetamu2 itu semedja demi semedja.

Murid ketiga jang bernama Ban Ka itu adalah puteranja Ban Tjin-san sendiri. Ia berperawakan djangkung, mukanja agak kurus, tapi tjakap hingga mirip seorang pemuda hartawan, berbeda seperti Toasuheng dan Djisuhengnja jang lebih gagah dan kekar.

Setiba kedelapan murid Ban Tjin-san itu dimedjanja Djik Tiang-hoat, habis mereka menjuguhkan arak kepada sang Susiok, kemudian gilirannja Tik Hun menerima suguhan mereka.

Kata Ban-ka: “Hari ini Tik-suheng telah banjak berdjasa bagi ajahku, maka sebagai penghormatan, Tik-suheng harus menerima suguhan kami berdelapan masing2 setjawan!”

Dasarnja Tik Hun memang tidak biasa minum arak, djangankan delapan tjawan, biarpun setjawanpun sudah tjukup membuatnja sinting. Tjepatan sadja ia gojang2 kedua tangannja sambil berseru: “Tidak, tidak, aku tidak biasa minum!”

“Siang tadi ajahku berulang tiga kali suruh Tik-suheng mundur. Tapi Tik-suheng sama sekali tidak gubris, anggap suara ajahku seperti angin lalu sadja, sekarang Tik-suheng tidak sudi pula menerima arak suguhan kami, bukankah engkau terlalu memandang hina kepada keluarga Ban?”

Tik Hun mendjadi bingung, sahutnja gelagapan: “Aku…… aku ti……. tidak ….”

Mendengar nada utjapan Ban Ka itu rada tidak benar, tjepat Tiang-hoat menjela: “Hun-dji, minumlah arak mereka!”

“Tapi……….tapi aku tidak biasa,” sahut Tik Hun.

“Minum!” kata Tiang-hoat pula dengan suara tertahan.

Terpaksa Tik Hun menerima suguhan mereka, seorang setjawan hingga genap delapan tjawan. Karuan mukanja mendjadi merah seketika bagai kepiting rebus, telinganja men-denging2 dan pikiran kabur……………

Malam itu dalam keadaan lajap2 diatas tempat tidurnja, Tik Hun merasa dada, pundak, paha, tempat2 jang terkena pukulan dan tendangan Lu Thong itu, semuanja terasa bengkak kesakitan.

Sampai tengah malam, tiba2 terdengar suara orang mengetok daun djendela dan suara orang memanggil: “Tik-suheng, Tik-suheng!”

“Siapa?” tjepat Tik Hun terdjaga bangun.

“Siaute adalah Ban Ka, ada sesuatu ingin kubitjarakan dengan Tik-suheng, harap keluar,” demikian sahut orang diluar djendela.

Tik Hun tertegun sedjenak, lalu iapun bangkit dari tempat tidurnja dan mengenahkan badju serta sepatu. Waktu ia membuka djendela, tertampaklah diluar sudah berdiri delapan orang berdjadjar, setiap orangnja menghunus pedang. Itulah kedelapan muridnja Ban Tjin-san.

“Ada apakah memanggil aku?” tanja Tik Hun dengan heran.

“Sebab kami ingin beladjar kenal dengan ilmu pedang Tik-suheng,” sahut Ban Ka dengan djemawa.

“Tapi aku sudah dipesan Suhu agar djangan bertanding dengan anak muridnja Ban-supek,” kata Tik Hun.

“Ha, rupanja Djik-susiok tahu diri djuga,” djengek Ban Ka.

“Tahu diri, apa maksudmu?” tanja Tik Hun dengan gusar.

“Sret-sret-sret”, se-konjong2 Ban Ka melontarkan tiga kali tusukan, udjung pedangnja selalu menjambar lewat ditepi pipi Tik Hun, selisihnja tiada satu senti djauhnja.

Tik Hun merasakan pipinja dingin2 silir, ia terkedjut dan sikapnja agak lutju.

Karuan anak murid Ban Tjin-san jang lain ter-kekeh2 geli.

Tik Hun naik darah djuga achirnja. Tanpa pikir lagi ia samber pedang jang tergantung didinding dan melompat keluar djendela.

Ia lihat kedelapan murid paman gurunja itu berwadjah djahat semua, diam2 ia mendjadi ragu2 lagi, teringat pula pesan Suhunja agar djangan sekali2 tjetjok dengan anak murid Supek.

Maka dengan heran iapun menegur: “Sebenarnja kalian mau apa?”

“Tik-suheng,” kata Ban Ka sambil sabetkan pedangnja keudara hingga mengeluarkan suara mendengung, “hari ini kau sengadja menondjolkan diri, apa barangkali kau sangka keluarga Ban kami sudah kehabisan orang atau kau anggap tiada seorang pun diantara keluarga Ban jang lebih pandai daripada engkau?”

“Hajo, madjulah anak desa!” edjek Ban Ka.

Tanpa bitjara lagi pedang Tik Hun terus menusuk.

Tik Hun menggeleng kepala, sahutnja: “Aku hanja minta ganti kerugian kepada bangsat jang telah bikin kotor badju baru Suhuku itu, ada sangkut-paut apa dengan kau?”

“Hm, dihadapan para tamu kau telah djundjung tinggi namamu dan memperoleh pudjian hingga kami berdelapan saudara kehilangan muka, djangankan lagi hendak mentjari makan dikangouw, sekalipun dikota Hengtjiu ini djuga nama kami sudah rusak. Tjoba, perbuatanmu harini itu tidakkah keterlaluan?”

Tik Hun mendjadi heran, sahutnja bingung: “Mengapa bisa begitu? Aku………. aku tidak tahu.” ~ Pemuda tani seperti dia sudah tentu ia tidak mengarti seluk-beluk alasan orang.

Loh Kun, itu murid tertua dari Ban Tjin-san, mendjadi tidak sabar, katanja: “Samsute, botjah ini pura2 dungu, buat apa banjak bitjara dengan dia? Berikan sadja hadjaran padanja!”

Terus Ban Ka menusukan pedangnja kearah pundak kirinja Tik Hun. Namun Tik Hun tahu serangan itu tjuma pura2 sadja, maka diantapi sadja tanpa bergerak dan tidak menangkis.

Benar djuga Ban Ka lantas menarik kembali pedangnja. Tapi ia mendjadi gusar karena maksudnja diketahui lawan, bentaknja: “Bagus, djadi engkau tidak sudi bergebrak dengan aku ja?”

“Suhu telah pesan agar djangan tjektjok dengan anak muridnja Supek,” sahut Tik Hun.

“Bret”, se-konjong2 Ban Ka menusuk pula dan sekali ini telah kena lengan badju Tik Hun hingga sobek satu lubang pandjang.

Sebagai pemuda tani jang hidupnja sederhana dan hemat, maka terhadap setiap harta bendanja Tik Hun selalu mendjaganja dengan baik, terutama badju barunja jang baru dibikin dan baru pertama kali ini dipakai, tapi kini telah dirobek orang.

Karuan ia mendjadi naik darah djuga. “Kau berani merusak badjuku? Hajo, kau harus ganti!” bentaknja tak tahan lagi.

Namun Ban Ka mendjawabnja dengan tertawa dingin sambil menusuk pula dengan pedangnja kelengan badju jang lain.

Tjepat Tik Hun menangkis dengan pedangnja. “Trang”, ia sampok tusukan lawan, menjusul iapun balas menjerang.

Dan sekali kedua pemuda itu sudah mulai bergebrak, segera tertjadilah tjepat lawan tjepat. Ilmu pedang jang dipeladjari kedua orang itu berasal dari satu sumber jang sama, setelah belasan djurus lagi, semangat tempur Tik Hun semakin kuat, setiap serangannja selalu mengintjar tempat bahaja ditubuh Ban Ka.

Melihat itu, Tjiu Kin mendjadi kuatir, serunja: “Hai! Apa kau benar2 hendak mengadu djiwa? Samsute, tidak perlu lagi kau sungkan2!”

Tik Hun terkesiap oleh teguran itu, pikirnja: “Ja, pabila ketelandjur aku membunuh dia, kan bisa runjam!” ~ Karena pikiran itu, daja serangannja mendjadi kendor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar